
"Lakukan saja jika kau bisa," Ujar Adam dengan tenang. Tak ada satupun guratan cemas di wajah tampan penguasa itu.
"Apa maksudmu? Jangan meremehkan aku!" Pekik Yang penuh amarah, Adam hanya menyeringai menatap pria itu dengan mata dingin.
Terdengar keributan dari arah belakang yang langsung membuat Yang menoleh, beberapa pria bertopeng iblis merah sedang menyerang anak buahnya dengan brutal.
"Sial!" Yang kembali menoleh dba menatap Adam dengan marah.
Rahang Yang Jian mengeras, matanya memerah, begitu marah. Tanpa banyak bicara laki-laki bermata sipit itu mengambil senjata api dan mengarahkannya pada Adam.
"Tidak!" Anne yang dari tadi hanya berdiri disamping Yang, seketika memasang badan. Merentang tubuh didepan Adam.
"Bukan seperti ini, kau berjanji tidak akan menyakiti Adam!" Marah Anne pada sekutunya.
"Ah... Jadi kau membantunya Anne, tadinya aku mengira kau juga tawanan Pria brengsek ini," Ucapan ubah langsung membuat Anne menoleh.
"I-Ini tidak seperti yang kamu kira, ak -aku di ancam, aku...," Anne gelagapan, i tak bisa mencari alasan yang tepat.
Adam tentu saja sudah mengira hal itu, dia tahu bagaimana Anne terobsesi padanya. Namun, Adam juga tidak bisa memaksakan cintanya untuk Anne. Selamanya dia hanya menganggap Anne adik.
"Jangan membuang tenagamu untuk bicara omong kosong, " ujar Adam dengan dingin, pria itu mampu membuat Anne ketakutan hanya dengan tatapan matanya.
"Kau yang membuatku melakukan ini Adam, kau dan wanita itu!" Aku Anne, dia tidak bisa lagi mencari alasan untuk menutupi perbuatannya.
Melihat perdebatan Adam dan Anne, Yang mengambil kesempatan itu untuk menarik pelatuk.
"Agh!" Pria bermata sipit itu mengerang kesakitan, karena disaat yang sama sebuah samurai menebas tangan yang ia gunakan untuk memegang pistol.
Anne menoleh, wanita itu berteriak histeris melihat tangan Yang yang tergeletak menggelepar di tanah. Adam hanya tersenyum miring penuh kemenangan.
__ADS_1
"Kau! penghianat!" pekik Yang dengan marah sambil memegangi lengan yang sudah tumpul dan penuh darah.
"Aku hanya melakukan apa yang akan orang kain lakukan," sahut Rayden dengan seriangainya.
Pasukan bertopeng milik Rayden tentu saja dapat dengan mudah melumpuhkan anak buah Yang. Karena notabenya, mereka semua adalah pembunuh bayaran yang sangat terlatih, meski mereka kalah jumlah dari anak buah Yang, mereka bisa menang telak karena kemampuan mereka yang di atas rata-rata.
"Bereskan mereka berdua, janaan sampai mati, aku kan bermain saat di markas nanti," titah Adam sambil melangkah pergi, dia tidak memperdulikan teriakan ketakutan Anne yang memanggilnya meminta tolong.
Anne tahu benar dengan siapa Adam berkerja sma, pembunuh berdarah dingin bernama Rayden itu tentu akan membuatnya lebih baik mati daripada hidup.
"Ck, jangan berteriak Nona Kang, kau membuat telingaku sakit!" bentak Rayden padaa Anne yang langsung membuat wanita itu terdiam.
Adam melangkah lebar, menghampiri sang istri yang sudah di turunkan oleh anak buah Rayden. Namun wanita itu belum sadarkan diri, tubuh mungilnya terasa dingin saat Adam memeluknya.
"Sayang, bangunlah, buka matamu," bisik Adm lembut sambil mengusap wajah pucat yang ada di pangkuannya.
Kini keduanya dalam mobil mewah milik Adam, mereka dalam perjalanan pulang. Adam menyerahkan sepenuhnya pada Rayden untuk membuktikan ucapan Assassin itu tempo hari.
Dengan mata sayu. Namun, penuh amarah Adam memperhatikan wajah Laras. Wanita itu sungguh terlalu baik, dia tidak pernah memiliki pikiran buruk meskipun pda orang yang telah menyakitinya. Antara bodoh dan baik memang kadang berbeda tipis, kepolosan hati Laras selalu membawanya dalam bahaya.
Mobil yang membawa Adam dan Laras masuk ke sebuah bangunan yang di kelilingi pagar tembok yang sangat tinggi berwarna hitam, di setiap sudutnya ada pos penjaga dengan tiga orang yang membawa senjata laras panjang.
Derit gerbang besi yang digeser menyambut kedatangan mereka. Mobil hitam nan mewah itu berhenti di bangunan utama, Adam segera turun saat sopir sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Laras!" pekik frans, wanita yang sudah terlihat seperti wanita itu berlari menghampiri Adam, ia tak perduli meskipun dirinya sendiri penuh luka.
Mansion Adam di serang dari udara, bom berkekuatan besar dijatuhkan. Ledakan-ledakan tak dapat di hindarkan. Frans mengalami luka bakar di lengan dan kaki, sementara Kim laki-laki itu masih terbaring tak berdaya begitu pula Jason.
"Apa yang terjadi padanya, Adam?" tanya Fans dengan cemas, dia merasa bersalah karena tak bisa melindungi wanita itu.
__ADS_1
Adam tak menjawab, pria itu mempercepat langkanya menuju kamar yang biasa ia gunakan saat di markas. Dengan sigap frans membuka pintu untuk pria itu, sebuah ruangan bernuansa serba hitam menyambut mereka. Dengan hati-hati ia merebahkan Laras di atas ranjang.
Tanpa bicara, Frans langsung memeriksa denyut nadi Laras, membuka sedikit kelopak mata yang masih terpejam. Wanita itupun keluar kamar untuk mengambil peralatan medisnya, tak berapa lama Frans kembali dengan membawa sekantong infus.
"Dia hanya mengalami dehidrasi, aku akan memasak sup untuknya dan menyuruh orang kemari untuk mengelap tubuh Laras," ujar Frans sambil memasang jarum infus dipunggung tangan Laras.
"Tidak usah, aku bisa melakukan itu untuknya," sahut Adam sambil menatap lekat sang istri yang terllihat pucat.
Frans tersenyum kecil, tentu saja bagaimana dia bisa lupa jika Adam akan memotong tangan siapapun yang berani menyentuh wanita kesayangannya itu.
"Baiklah, aku pergi dulu kalau begitu." Frans pun meninggalkan Adam dan Laras dalam kamar bernuansa hitam putih itu.
Dengan lembut Adam mengusap wajah Laras yang masih terpejam, puas memandangi wajah cantik itu, Adam pergi ke kamar mandi untuk mengambil handuk dan air hangat. Dengan perlahan dan hati-hati Adam melepaskan baju yang melekat di tubuh Laras, mengusap tiap lekuk tubuhnya dengan handuk yang sudahi basahi dengan air hangat.
Adam melakukan itu dengan sangat hati-hati, seolah Laras adalah kaca tipis yang sangat rapuh. Setelah selesai membasuh tubuh sang istri, Adam pun mengenakan piyama tidur pada Laras yang sudah ia siapkan sejak lama.
Adam memang sudah berencana membawa Laras ke markas utama, hanya saja dia tidak mengira dia akan membawa Laras dengan cara seperti ini.
Suara ketukan pintu membuat Adam Mempercepat jemarinya untuk mengancingkan piyama Laras.
"Masuk."
Pintu pun terbuka, seorang laki-laki bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam masuk, ia menunduk hormat sebelum bicara.
"Umpan sudah disiapkan Tuan," lapornya.
"aku akan ke sana, Suruh Frans kemari menemani istriku," titah Adam tanpa menoleh.
"Baik Tuan." pria itu menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Adam mengusap lembut pipi sang istri yang pucat, lalu di kecupnya kening Laras dengan penuh penuh kasih.
"Lihat Sayang, aku akan membuat mereka menyesal, karena telah berani menyentuhmu."