Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 26


__ADS_3

Laras semakin merapatkan matanya, seiring tarikan nafas dalam Laras, ia menarik wajahnya sedikit menjauh agar bisa melihat wajah Adam. Manik mata Adam menatapnya dengan penuh arti, Laras mengangguk. Ia kemudian berganti menoleh melihat Frans, setelah mengambil nafas dalam, Laras mulai menggerakkan tangannya.


Mata Frans melebar melihat gerak isyarat Laras.


"Jangan diam Frans, katakan apa yang Laras katakan!" Sentak Adam membuat Laras terjingkat.


Meski enggan Frans menterjemahkan isyarat Laras. " Apa aku hamil?"


"Itu yang Laras tanyakan," ujar Frans.


Adam menoleh, menatap wajah Laras yang juga menatapnya dengan penuh harap. Namun, juga tersimpan ketakutan yang teramat. Adam tersenyum getir, ia menyisipkan rambut Laras ke belakang telinga.


"Sebelum aku menjawab pertanyaan mu. Apa kau bisa mengatakan apa yang Anne lakukan padamu?" Sorot mata Adam berubah dingin saat menanyakan hal itu.


Laras menunduk, menghindar dari tajamnya sorot mata sang penguasa. Kedua tangan Laras meremas kuat selimut yang menutupi separuh badannya.


Kamera pengawas sengaja di matikan oleh Anne, agar dia bisa leluasa menyiksa Laras tanpa adanya barang bukti yang bisa memberatkan. Dia tidak takut pada polisi, dia takut Adam tahu dan marah.


Adam meletakkan tangan di kedua pipi Laras, sedikit memaksanya mendongak ke atas. Mata bening Laras sudah mengembun, dalam sekali kedip saja genangan air asin itu akan tumpah. Laras bingung bagaimana dia harus bercerita, Anne pernah mengancamnya untuk tidak mengatakan apapun pada Adam atau dia akan melakukan sesuatu yang buruk pada seseorang yang berarti bagi Laras.


"Jawab aku Laras!" Bentak Adam.


"Tuan, sebaiknya Anda tidak memaksa dia, Laras masih butuh istirahat," ujar Frans, yang mulai khawatir melihat tubuh Laras yang gemetar.


Adam melemparkan tatapan tajam pada Frans, membuat wanita bertubuh pria itu tak berani lagi bersuara.


"Apa kau tidak percaya padaku?" Laras segera menggeleng cepat.


'Bagaimana bisa Anda bicara seperti ini Tuan, tak ada seorangpun yang bisa saya percaya dalam hidup saya selain Anda,' gumam Laras dengan menatap lekat manik coklat terang itu.


"Jangan hanya melihatku seperti itu, katakan apa yang terjadi. Jangan membuat aku seperti orang tidak berguna, yang bisa melindungi wanitanya sendiri," ujar Adam dengan nada yang lebih lembut.


Laras mengangguk pelan, pilih yang sulit. Namun, ia tak ingin Adam punya pikiran seperti itu. Laras menuruni tangga Adam yang menempel di pipinya, ia kemudian menoleh menghadapkan diri pada Frans.


Wanita cantik yang baru saja kehilangan janin yang belum ia ketahui itu mengambil nafas dalam.

__ADS_1


"Awalnya dia datang membawa makanan, dan menyuruh kami semua untuk memakannya. Lalu dia menyuruh beberapa orang untuk menjemput saya dari mansion kecil saat semua orang sudah tergeletak," ujar Frans mengartikan isyarat Laras.


Laras berhenti sejenak, ia seolah kembali ke masa itu walaupun hanya menceritakannya, rasa sakit di ujung-ujung jemarinya.


"Saya di seret dari mansion oleh beberapa orang, Tuan Kim sudah berusaha menoleh. Tapi dia terlihat lemah, dan tak bisa melawan. Tuan Kim juga di seret masuk ke dalam kama di mansion. Saya di paksa untuk ikut mereka, nyonya menyuruh mereka untuk mengikat saya."


Tangan Laras gemetar hebat, ia tertunduk dengan nafas memburu.


"Tuan sebaiknya -," ucapan Frans berhenti saat Laras mengisyaratkan dia baik-baik saja.


Frans tidak tega melihat wanita yang sedang duduk di samping Adam itu, rasa takut yang teramat membuat Laras seperti itu.


"Saya di ikat, di kurung dalam kamar."


Laras menunduk, mengehentikan gerakan tangannya. Ia terlihat sangat enggan untuk meneruskan ceritanya.


"Lalu apa yang terjadi? Apa yang dilakukan Anne setelah itu?" Cerca Adam dengan penuh penekanan, suaranya terdengar berat karena menahan gemuruh yang ada di dadanya.


"Dia selalu datang selalu datang mengunjungi saya dengan membawa jarum, untuk menusuk ujung jemari dan bagian lain, dia juga me,-"


"Cukup!"


Adam memegang keningnya, ia merasa tidak bisa lagi menahan amarahnya jika Laras meneruskan ceritanya. Frans dan Laras saling berpandangan.


"Frans keluar," titah Adam tanpa menoleh.


"Baik Tuan." Tanpa banyak bicara lagi, Frans bangkit dan keluar dari kamar itu.


Laras mengusap pipi Adam yang terlihat sangat kesal perlahan, Adam membuka matanya saat merasakan sentuhan lembut sang selir.


"Kau pasti sangat kesakitan, maaf aku terlambat datang."


Laras menggeleng, Adam menarik tubuh mungil itu dalam pelukannya.


"Sekarang giliranku menjawab pertanyaan mu tadi. Jawabnya iya, kau sedang mengandung anak kita, tapi dia sudah pergi. Dokter sudah mengeluarkan dia dari rahimmu, dia tidak bisa bertahan." Adam semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Hancur sudah, tubuh Laras terkulai lemas dalam pelukan Adam. Seakan di jatuhkan dari atas awan ke dalam jurang neraka terdalam, Laras meremas erat baju Adam, berteriak tanpa suara. Air mata Laras jatuh berdesakan, berlomba keluar untuk membasahi pipi, mewakili serpihan jiwa yang hancur.


Seorang malaikat yang bahkan belum sempat Laras rasakan kehadirannya telah pergi begitu saja, ia bahkan tidak sadar jika malaikat itu bersemayam dalam dirinya.


"Tenanglah, aku akan membalas kematian anak kita," ujar Adam dengan penuh dendam.


Laras tak menyahut, ia terlalu tenggelam dalam sedihnya. Ia merasa bersalah, sakit sangat sakit rasanya seperti ada yang teremas dalam relung jiwanya.


Adam memegang bahu sang selir, sedikit mendorongnya menjauh agar bisa melihat wajah Laras yang sembab.


Adam merasakan kesedihan yang sama, meskipun ia tak pernah berpikir untuk punya seorang anak. Namun, kehadirannya yang begitu singkat, membuat Adam merasakan sentuhan yang ikut hilang.


'Tuan, Tuan. Tolong kembalikan dia, kembalikan anakku! Aku ingin dia, aku ingin anakku!'


Laras berteriak dalam keheningan, ia menatap Adam dengan memohon sorot matanya menyorotkan kesedihan yang mendalam. Tangan Adam terulur, mengusap pipi Laras yang basah. Ia sungguh tidak tega melihat wanita kesayangannya bersedih seperti ini. Ia mencium kedua kelopak mata Laras, kemudian memeluknya erat.


Sementara itu di tempat lain.


Marquis kang duduk berhadapan dengan sang putri Anne, anak semata wayang yang sangat ia manja.


"Anne, kali ini Daddy tidak bisa membantumu," ujar Marquis, mengusap wajahnya kasar.


Anne berdecih ia memalingkan wajahnya, tak ingin melihat laki-laki yang selama ini begitu mendukung dan menyayanginya.


"Kenapa Dad? Apa Daddy juga menyukai wanita bisu itu," ketus Anne.


"Tutup mulutmu, Anne! Bagaimana kan bisa kau berkata seperti itu!" Hardik Marquis dengan marah.


"Lalu kenapa Daddy tidak mau membantuku! Aku ingin kembali ke sana, aku ingin Adam Dad!" Teriak Anne dengan nada tinggi.


"Cukup Anne, kembali ke kamarmu! Kita akan bicara jika kau sudah lebih tenang," ujar Marquis sambil memijit pelipisnya.


"Bukan aku tapi Daddy, sampai kapanpun perdebatan ini akan berakhir dengan jawaban yang sama Dad!" Tegas Anne, wanita cantik itu bangkit dan berlalu dari hadapan Marquis.


Pria paruh baya itu menghela nafas panjang, melihat nanar pada punggung putrinya yang berlalu. Malam itu Marquis membawa Anne kembali ke kediamannya dengan paksa, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan Adam lakukan pada putrinya itu.

__ADS_1


Apalagi sekarang Marquis mendengar kabar dari Frans, jika Laras mengandung tetapi janinnya meninggal karena siksaan dari Anne.


'Hon, bantu aku meluluhkan hati putri kita,' lirih Marquis dalam hati.


__ADS_2