Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 27


__ADS_3

Laras sempat murung, dia lebih pendiam dari biasanya. Tak ada lagi gerakan tangan atau suara ketukan di keyboard ponsel, bahkan ia sudah tak lagi tersenyum, kecuali untuk Adam. Ya, Laras tersenyum hanya untuknya, meskipun bukan senyum hangat seperti dulu.


Adam perlahan berjalan mendekat, suara langkah yang menggema tak membuat Laras menoleh. Ia masih menatap sayu rintikan hujan yang baru saja turun, seolah tergesa-gesa ingin bercumbu dengan bumi yang basah, ia biarkan rasa dingin membelit raganya yang kosong.


"Apa yang sedang kau lihat?" Adam mengecup pucuk rambut Laras yang tergerai.


Laras diam, ia memejamkan mata menikmati kehangatan yang terasa dari kecupan sang penguasa. Adam menghabiskan waktunya untuk menemani Laras menjalani operasi pita suara.


Laras bisu karena siksaan ayahnya, entah bagaimana dia memperlakukan gadis itu hingga membuat pita suaranya rusak dan membutuhkan donor. Seminggu setelah kejadian dimana Laras keguguran, Laras menjalani operasi. Kini dia dalam proses penyembuhan, dan masih dalam pengawasan dokter. Meskipun alat bantu pernapasan sudah diambil, tetapi Laras belum boleh bicara.


Adam menggeser posisi duduk Laras, agar menghadapnya. "Kenapa diam? Apa kau tidak suka dengan kedatanganku?"


Laras menggeleng pelan, ia tersenyum tipis. Tangan lentiknya terulur menyentuh rahang Adam yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Bersiaplah, aku akan mengajakmu pergi!" Titah Adam.


Laras mengerutkan keningnya, menatap wajah Adam dengan tanya.


"Frans! Bantu Laras bersiap!"


"Siap Tuan," sahut Frans.


Wanita cantik bertubuh tegap itu masuk dengan membawa kotak dan sebuah gaun. Laras hanya melihat kedatangan Frans dengan bertambah heran, Adam melangkah keluar meninggalkan Laras dan Frans tanpa sepatah katapun.


"Ehem, Ayo cantik aku bantu!"


Laras memegang tangan wanita yang hendak membuka baju pasiennya itu.


"Tunggu! Apa yang kau lakukan? Untuk apa aku bersiap?" Tanya Laras dengan gerakan tangan.

__ADS_1


"Udah nurut aja, aku juga nggak tahu. Hanya Tuan yang tahu kamu mau kemana? Mau ngapain? Tugasku hanya siapin kamu secantik mungkin, jadi kita mulai sekarang. Sebelum taring Tuan Adam keluar, ok."


Laras yang masih bingung melepaskan genggaman tangannya. Frans terkekeh geli melihat wajah Laras yang terlihat kebingungan. Dengan gaya terlihat kemayu Frans melepaskan baju yang Laras pakai, mengganti dengan dress warna biru langit, dengan hiasan berlian Swarovski yang disekitar leher. Terlihat manis membalut tubuh mungil Laras, perlahan kuas milik Frans menyapu wajah Laras nan ayu.


Tiga puluh menit berlalu, Laras terlihat sangat cantik dan anggun. "Ayo."


Frans mengulurkan tangannya, membantu Laras berjalan mengunakan sepatu hak tinggi, menghampiri seorang laki-laki bertubuh tegap yang berdiri di depan pintu, memunggungi mereka.


"Tuan, selirmu sudah siap!"


Adam menoleh, menatap Laras dengan takjub. Pesona Laras membuat Adam membiusnya untuk sesaat, Laras menunduk menghindar tatapan Adam yang begitu intens. Wajahnya memerah karena tersipu.


"Duh malu-malu kayak pengantin baru," sindir Frans.


Adam berrdehem, ia mengarahkan dagu. Mengisyaratkan agar Frans meninggalkan mereka. Tanpa kata, Adam mengait tangan Laras, menariknya lembut mengikuti langkahnya. Dalam diam, keduanya berjalan bersisian, Laras tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan pria itu atau akan kemana mereka pergi.


Mobil Adam melaju meninggalkan gedung rumah sakit. Keheningan memeluk erat keduanya, sesekali Laras melirik sekilas pada Adam yang sedang fokus menyetir.


Cukup lama perjalanan yang mereka lakukan, hingga akhir mobil Adam memasuki sebuah jalan kecil yang di apit pepohonan yang rindang. Suasana begitu sejuk dan hijau, tak lama mobil Adam berhenti di sebuah tempat yang hijau seperti banyak sekali bunga, tempat itu mirip seperti taman.


"Turunlah, aku akan mengajakmu menemui seseorang," ujar Adam setelah membuka pintu dan melepaskan kait sabuk pengaman Laras.


Laras hanya mengangguk, ia menerima uluran tangan Adam. Tak ada bangunan di sana, lalu dengan siapa mereka akan bertemu? Pertanyaan itu ingin sekali Laras ucapkan, tetapi ia lebih memilih diam.


Ada satu hal yang aneh, Laras bisa merasakan tangan Adam terasa dingin dan basah. Mereka melangkah memasuki sebuah gapura yang terbuat dari bunga mawar yang dibentuk sedemikian rupa, terlihat sangat indah.


Adam menghentikan langkah di sebuah gundukan tanah berbentuk persegi panjang, rumput hijau menutup gundukan itu seperti karpet yang indah.


"Bunda, aku membawa seseorang yang ingin aku kenalkan padamu," ucap Adam sambil menatap lekat gundukan itu.

__ADS_1


Mata Laras membulat sempurna, ia menatap Adam dan gundukan yang ia panggil sebagai bunda. Jadi, yang terbaring di sana adalah ibunya Adam.


Adam menarik Laras mendekat, kini kedua duduk bersimpuh di sebelah makan Lily. Adam mengusap baru nisan berwarna hitam yang bertuliskan nama Lily Valencia Mahadev dengan sayang, mata yang biasanya begitu dingin kini terlihat sayu. Untuk pertama kali, Laras melihat Adam seperti itu.


"Aku datang memenuhi janjiku Bunda, aku membawa seseorang yang akan aku jadikan ratu, menjadikan dia prioritas utama dalam kehidupanku, Aku harap Bunda merestui hubungan kami. Dia gadis yang manis, dan aku sangat mencintainya." Adam menoleh menatap wajah Laras yang sudah bersimbah air mata.


Laras begitu terharu dengan apa yang baru saja ia dengar, seperti mimpi. Dia memang mencintai Adam, tapi Laras tidak pernah mengharapkan balasan atas perasaannya itu. Dia cukup sadar dengan posisinya sebagai selir.


Seorang pria dingin dan kejam yang ditakuti oleh semua orang, kini bersimpuh dihadapan seorang wanita. Terdengar menggelikan, tetapi tidak bagi Adam. Dia ingin Laras menerima dia seutuhnya, sebagai wanita yang ia pilih untuk menemani perjalanan hidup yang pastinya tidak akan mudah.


"Laras aku bukan orang yang baik, aku bukan laki-laki yang baik, aku tidak bisa menjanjikan apapun untukmu,tapi aku_"


Tak ada lagi kata, Laras menempelkan bibirnya dengan milik Adam. Hanya menempel dan mengecup dengan sepenuh hati, Laras menarik wajahnya menjauh. Memberikan jarak agar dia bisa melihat dengan jelas wajah sang penguasa hati, meskipun tidak bisa karena air asin itu memenuhi mata lentiknya.


Laras menyatukan kening mereka, di raihnya tangan Adam, kemudian ia menuntun tangan itu menyentuh dadanya dan dada Adam secara bergantian.


Aku mencintaimu apa adanya kamu, tak perduli seberapa baik atau buruknya dirimu. Aku telah menyerahkan hidupku padamu, tiap helaan nafas ini hanya akan menyerukan namamu, aku tak pernah berharap kau akan membalas rasa yang tumbuh untukmu. Cukup bagiku mencintaimu dalam diam, cukup cintaku untuk kita berdua, tak pernah terpikirkan olehku jika rasa ini akan terbalas.


"Aku mencintaimu Adam," suara Laras terdengar lirih dan serak, ia memaksakan diri untuk berucap.


Bagaimana mendapatkan air di tengah gurun pasir, suara Laras terdengar sangat manis untuk Adam. Laki-laki itu memejamkan mata, merekam dan menyimpan erat momen ini.


Semilir angin membelai lembut, mengalir membelai dia insan yang baru saja saling mengungkapkan rasa. Semesta seakan turut memberikannya restu pada keduanya.


Keduanya pun pulang, sepanjang perjalanan Adam terus menggenggam erat tangan Laras.


"Kau satu-satunya wanita yang membuat aku gugup Laras," ujar Adam saat perjalanan pulang dalam mobil.


"Kenapa?" Ketik Laras dalam ponsel.

__ADS_1


Adam menggeleng, ia tersenyum kecil menertawakan dirinya sendiri.


__ADS_2