Selir Ke-9 Sang Penguasa

Selir Ke-9 Sang Penguasa
Bab 36


__ADS_3

Apa yang di khawatirkan Laras menjadi. Sudah dua hari Adam ada di tepat ini tetapi ketua assasin itu masih belum datang menemuinya, padahal mereka adalah orang yang paling menepati janji.


"Dimana Rayden kenapa dia belum menemuiku?" tanya Adam pada salah satu orang yang menemani dia selama di vila itu.


Pria dengan rambut yang di kuncir kebelakang itu tersenyum penuh misteri, ia sedikit menunduk sebelum menjawab pertanyaan Adam.


"Tolong Tuan Adam sedikit bersabar, beliau sedang dalam perjalanan,"jawab Laki-laki bernama Ryuuto itu kemudian berlalu meninggalkan Adam.


Adm berdecih, ia menatap salju yang terhampar dihadapannya dengan rasa cemas yang ia sembunyikan. Sudah dua hari dia tidak memberi kabar pada Laras, ada peraturan tersendiri saat pertemuan penting seperti ini di adakan. Mereka tidak boleh memegang ponsel untuk menghindari bocornya rahasia mereka, dan Adam menghormati itu.


Suara langkah yang berat menggema di lorong, langkah itu mendekat ke arah Adam.


"Apa yang membuat Anda terlambat Rayden-san?" tanya Adam kemudian menoleh, matanya menyorot tajam pada laki-laki paruh baya yang berdiri di sampingnya.


"Maaf membuat Anda menunggu lama Tuan Adam, mari." Pria itu mengangkat satu tangannya, menunjukan ara kemana mereka akan membahas sesuatu yang serius.


Adam mengikuti pria itu ke sebuah ruangan ala jepang. Lantai yang berlapis tatami dam meja kecil, di sana sudah ada seorang wanita yang memakai kimono sedang meracik teh hijau khas negeri sakura itu.


Adam dan Rayden duduk berhadapan. Setelah sang wanita menyajikan teh untuk keduanya, dia pun pergi meninggalkan dua laki-laki yang saling menatap dingin.


"Bagaimana? Apa keputusanmu?" tanya Adam langsung to the point, dia sudah merasa banyak membuang waktunya di tempat terpencil itu.


"Sesuai kesepakatan awal Tuan, saya akan meninggalkan Yang jika anda bersedia memberikan apa yang kami inginkan," jawab laki-laki itu santai, dia tahu Adam akan memberikan pa yang ia inginkan.


"Apa yang membuatmu berpikir aku mau memberikan daerah utara untukmu, aku bahkan tidak yakin kau bisa meninggalkan Yang," sahut Adam dengan senyum smrik khas dirinya.


"Apa yang perlu saya lakukan untuk membuat Anda yakin Tuan penguasa?" kali ini nada bicara Rayden terdengar berbeda.

__ADS_1


"Aku ingin kepala Yang, ada di hadapanku."


Adm bangkit, dia membungkuk sebagai ucapan terima kasih atas jamuan teh. Baru dua langkah kaki Adam menapak, Rayden mencegah sang penguasa itu.


Bagaimana jika aku bisa melakukan itu besok!"


Adam berhenti dan menoleh, tatapannya seakan meremehkan pria yang sudah beruban itu.


Pri a itu melangkah mendekat, dan membisikan sesuatu pada sang penguasa itu. Rahang Adam mengeras, tangannya mengepal kuat sampai memutih. Mata Adam menyorot tajam pada pria yang baru saja membisikkan sesuatu yang membuat darah Adam mendidih.


.


.


.


.


"Bangun kau dasar Babi!" teriak seorang wanita yang tak lain adalah Anne, wanita itu menatap marah pada Laras. Api cemburu masih membara, bergejolak dalam dadanya.


"Anne apa yang kau lakukan? to-tolong turunkan aku!" Teriak Laras yang terdengar tidak begitu jelas karena angin laut yang menerpanya, mengombang-a tubuh mungil Laras yang tergantung terbalik.


"Haa apa? lepas, baiklah aku kan melepasmu. Terjun bebas ke laut dan bermesraan dengan hiu liar di sana, biar mereka mencabik , mengoyak tubuhmu itu!" teriak Anne menggila.


Laras yang mendengar ucapan baru adar jika di tergantung tepat di atas lautan lepas, tubuhnya di gantung dengan tali baja yang tersambung dengan crane yang biasa di gunakan untuk kontainer di dermaga.


Melihat wajah Laras yang ketakutan membuat Anne tertawa bahagia, bukan mudah menculik Laras yang di jaga bak putri Elisabeth, dia harus berakting penuh penyesalan dengan air mata buaya. Laras yang pada dasarnya berhati lembut tentu menerima permintaan maaf Anne yang menurutnya sangat tulus. Dia tidak tahu jika semua itu hanya sandiwara.

__ADS_1


Hari itu, Anne datang ke masi on dengan alasan ingin minta maaf dan memberi hadiah untuk Laras. Ginseng terbaik yang ia peroleh dari sekutunya Yang jiang, tak cukup itu ia pun mengajak Laras keluar dari mansion untuk mempermudah pekerjaan Anne. Laras yang tertipu oleh Anne menurut saja, sampai dia di bius dan pingsan, jangan tanya kemana para pengawal yang ada di mansion.


Saat itu, tak lama setelah Anne datang. Yang dengan sengaja menyerang mansion dengan ratusan anak buahnya. Tentu saja hal itu membuat mereka fokus untuk melawan musuh. Mereka sempat heran dengan mereka, letak mansion yang tersembunyi dapat begitu mudah mereka temukan. Adam yang sedang berada di mansion Rayden tak tahu menahu soal penyerangan mansion nya.


"Mau kau apakah wanita itu?" Tanya Yang yang sudah berdiri di belakang Anne.


Anne menyeringai. "Tentu saja membunuhnya, tapi aku menunggu Adam datang."


Yang mengangguk setuju, dia juga menunggu kedatangan sang penguasa itu. Tak butuh lama, Adam datang sendiri sesuai undangan yang diberikan Yang padanya.


Angin laut menyambut kedatangan Adam, mata laki-laki itu terus memperhatikan sang istri yang digantung di udara begitu saja. Hatinya sungguh sakit melihat itu, tetapi Adam mencoba untuk tenang.


'Bersabarlah sayang, aku akan segera menyelamatkanmu,' gumam Adam, menatap lekat pada Laras yang terlihat tak sadarkan diri.


Anne yang datang bersama Yang, menyambut kedatangan Adam merasa geram melihat Adam yang menatap Laras penuh cinta.


"A... Selamat datang Tuan Adam, apa yang membawa anda ke dermaga terpencil ini!" Yang merentangkan tangan menyambut Adam dengan senyuman penuh arti.


"Jangan terlalu banyak bicara Yang, apa mau mu?" Suara Adam pelan namun penuh dengan penekanan.


Senyum palsu di wajah Yang hilang seketika, berganti dengan seringai licik khas miliknya.


"Kau lihat istrimu, dia sudah semalaman aku gantung seperti itu. Mungkin sebentar lagi dia akan mati, aku akan melepaskan dia asal kau memberikan aku 7/8 daerah kekuasaan mu! Bagaimana? Cukup adil kan," Sahut Yang sambil melipat tangannya.


Tangan Adam mengepal dalam saku celana, dia berusaha untuk tetap tenang meski darahnya sudah mendidih. Dia akan memberikan balasan yang setimpal pada tangan yang berani menyentuh sang istri. Tak ada lagi toleransi, tak ada lagi balas budi.


Adam menaikan alisnya, menatap orang yang selama ini selalu menganggap dia musuh bebuyutan, padahal menurut Adam selama ini dia sudah memperlakukan Yang dengan baik, sebagai rekan bisnis.

__ADS_1


"Lakukan saja jika kau bisa," Ujar Adam dengan tenang. Tak ada satupun guratan cemas di wajah tampan penguasa itu.


__ADS_2