
"Dengan bekerja sama dengan perusahaan di ibu kota, semoga aku bisa menemukan keberadaan kamu di sayang." batin Leo yang kini menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursinya seraya memejamkan mata, membayangkan bagaimana bahagianya dirinya Jika bisa segera bertemu dengan pujaan hati.
Gama yang telah siap dengan stelan jas lengkapnya, menghampiri sang istri yang tengah sibuk menata sarapan di meja makan.
"Apa ini mas?." Malini nampak mengeryit Bingung ketika Gama memberikan sebuah amplop berwarna coklat padanya.
"Buka dong!!." ujar Gama yang sesekali mengedipkan sebelah matanya,. sehingga membuat Malini salah tingkah di buatnya.
"Mas, apa tidak sebaiknya aku fokus menjaga anak anak saja di rumah??." Ternyata amplop coklat tersebut berisi surat lamaran kerja yang dibuat atas namanya, dan telah di ACC oleh CEO perusahaan yang tak lain sang suami,Gama.
"Kebetulan sekertaris mas sedang cuti melahirkan untuk beberapa bulan ke depan, mas ingin kamu yang mengantikan posisi itu untuk sementara. dan mengenai surat ini, sebenarnya surat ini hanya sebagai Formalitas saja untuk di berikan ke bagian HRD. karena bagaimanapun ada mas Riko juga sebagai salah satu petinggi di perusahaan, jadi mas harus menghargai beliau, dengan mengikuti prosedur yang ada." terang Gama, namun Malini nampaknya belum yakin mampu berada di posisi itu, mengingat ia bukanlah Malina melainkan Malini. yang latar belakang pendidikannya hanya Diploma 3.
"Kalau urusan anak anak kamu tidak perlu khawatir, karena ada bunda Yang akan menemani mereka di rumah. lagi pula mereka punya baby sitter, jadi tidak berat untuk bunda menjaga kedua anak kalian." Nyonya Sisilia yang baru saja tiba dari kamarnya ikut menimpali obrolan anak serta menantunya.
Bukan hanya dengan Lala, Kini Malini bahkan mampu meluluhkan hati nyonya Sisilia. karena pada kenyataannya nyonya Sisilia bukannya benci pada menantunya itu, hanya saja wanita itu kurang senang dengan sikap Malina. jadi, pada saat Malini merubah mindset mereka tentang sosok Malina, tidak susah bagi wanita itu untuk menerima serta menyayangi menantunya tersebut.
"Tapi Bun, aku hanya tidak yakin sanggup ada di posisi itu." Ujar Malini tak percaya diri.
"Kalau masalah itu kamu tidak perlu khawatir sayang, di sana kan ada mas yang akan selalu membantu sang istri tercinta.".Jawab Gama dengan kalimat menggoda.
Sementara nyonya Sisilia yang berada di antara keduanya ikut merasa bahagia, saat melihat raut bahagia di wajah putranya.
Dan akhirnya Malini pun mengalah dan menerima tawaran pekerjaan yang di berikan Suaminya. Mulai hari ini juga Gama meminta Malini untuk ikut ke kantor.
"Selesai sarapan kita akan segera berangkat ke kantor!!." ucap Gama dengan wajah berseri seri. karena sebenarnya niat pria itu tak lain hanya karena ingin memiliki banyak waktu bersama sang istri, itu sebabnya Gama menyarankan sekretarisnya untuk Cuti lebih awal.
"Baiklah mas." jawab Malini pasrah.
Di dalam perjalanan menuju perusahaan Malini terus kepikiran dengan kemampuannya menjadi seorang sekretaris, apalagi sekretaris seorang CEO di perusahaan ternama.
Sampai gadis itu beralih memandang ke arah tangannya, saat Gama mulai menggenggam lembut jemari tangannya, seraya berkata.
"Tenang sayang jangan tegang seperti itu, karena ini bukan pengalaman pertama kamu kerja kantoran istriku sayang." ujar Gama kemudian tersenyum manis ke arah Malini.
__ADS_1
"Ini memang pengalaman pertama bagiku mas." batin Malini.
Setibanya di perusahaan Gama segera meminta sekretarisnya yang hendak cuti tersebut ke ruang kerjanya, untuk memberikan catatan jadwal meeting dan kegiatan lainnya kepada Malini selaku sekretaris baru CEO.
Berbekal kepintarannya meski tak sampai ke jenjang S1, Tidak terlalu sulit bagi Malini untuk memahami penjelasan yang di berikan Wanda padanya.
Pukul sebelas siang ini untuk pertama kalinya Malini mendampingi Gama untuk melakukan meeting dengan salah satu rekan bisnisnya yang berasal dari Korea Selatan.
Yang membuat Gama takjub bukan main adalah saat mendengar sang istri selaku sekretaris barunya, bisa dengan lancarnya berkomunikasi dengan bahasa Korea.
Bahkan dalam meeting tersebut rekan bisnisnya, terang terangan memuji kepintaran Gama dalam mencari sekretaris yang multitalenta, yang mampu menguasai bahasa asing.
Tetapi bukannya merasa bangga dengan pujian itu Gama justru merasa dongkol, apalagi rekan bisnisnya Tersebut masih sangat muda hampir seumuran dengannya yaitu dua puluh tujuh tahun. namun demi menjunjung profesionalitas kerja, Gama tidak menunjukkan rasa dongkolnya.
Sampai dengan pukul satu siang, meeting yang di rangkai dengan acara makan siang itu pun usai. kini keduanya kembali ke perusahaan.
Saat keduanya masuk ke mobil, bola mata Malini hampir membulat sempurna tubuhnya kaku seakan tak bisa bergerak, saat Gama meraih wajahnya kemudian mengecup bibirnya untuk pertama kali.
"Ciuman itu untuk mengingatkan, jika kamu hanyalah milikku. dan yang sudah menjadi milik Gama Pradipta tak bisa di miliki orang lain." Ucap Gama usai mengecup bibir Malini kemudian menghidupkan mesin mobilnya.
"BTW mas baru tahu sayang, kalau kamu fasih berbahasa Korea." Kata Gama dengan raut wajah takjub.
"Kapan kamu kursus bahasa Korea sayang, kenapa tidak pernah bilang sama mas??." lanjut kata Gama.
"Tidak kursus kok mas, mungkin karena keseringan nonton Drakor kali." jawab Malini sekenanya, karena tidak mungkin juga ia mengakui jika ia pandai berbahasa Korea sebab kekasihnya, Leo merupakan blasteran Korea, Jawa. dari Leo lah Malini belajar bahasa Korea.
"Oh gitu,,,,." Gama nampak manggut-manggut.
***
Meski seharian bekerja di kantor, tidak membuat Malini melepas tanggung jawabnya pada si kembar, buktinya setibanya di rumah Malini segera mencari keberadaan anak anaknya untuk segera di mandikan sendiri olehnya.
Meski dalam hati kecil, Gama juga sering bertanya tanya akan perubahan sikap sang istri, namun dengan cepat pria itu menepis perasaan tersebut.
__ADS_1
Setelah memandikan si kembar Malini menyuapi keduanya. pukul delapan malam, Malini membacakan buku cerita untuk menidurkan Nasya dan Mesya.
"Ya Tuhan, sekalipun mereka bukan anak anakku, kenapa hati ini terasa begitu menyayangi keduanya.apa aku akan sanggup jauh dari malaikat malaikat kecil ini, saat aku harus pergi nanti." entah kenapa membayangkannya saja sudah membuat hati Malini terasa begitu perih.
Malini mencium kening Nasya dan Mesya bergantian saat gadis kecil itu telah larut dalam mimpi indahnya masing masing, sebelum Malini beranjak menuju kamar, di mana sejak tadi seorang pria tengah menunggu kedatangannya.
"Apa anak anak sudah tidur sayang??."tanya Gama dan Malini pun mengangguk, sebelum perlahan ikut merebahkan tubuhnya di samping Gama.
"Sayang" Ujar Gama seraya mendekat ke arah sang istri yang kini berbaring membelakanginya.
"Hemt." Malini bisa merasakan pergerakan Gama yang semakin mendekati dirinya.
"Apa kamu belum berniat menambah momongan??." seketika tubuh Malini seakan menggigil, sebagai wanita dewasa tentunya ia paham ke mana arah pembicaraan pria itu, apalagi kini Gama mulai memeluknya dari belakang. Malini bahkan bisa merasakan hembusan nafas Gama mengenai tengkuknya.
Semakin tak menentu perasaan Malini saat ini, ketika pria itu memberikan kecupan lembut pada tengkuknya.
"Ya Tuhan, alasan apalagi yang harus aku katakan malam ini, untuk menolak pria ini??." dalam hati Malini seraya memutar otak untuk mencari alasan. tetapi sepertinya malam ini kinerja otak Malini tidak bekerja dengan baik, sehingga ia tidak menemukan alasan untuk menolak.
Pria itu pun nampak merubah posisi Malini menjadi terlentang, sebelum ia hendak mengukung tubuh gadis itu. tak ada lagi yang mampu di lakukan Malini saat ini, selain pasrah akan situasi yang sangat membuatnya ketakutan.
Namun sepertinya malaikat baik masih berada di pihak Malini, saat gadis itu pasrah seraya memejamkan matanya, suara tangisan terdengar di depan pintu kamar.
"Mas sepertinya itu Suara tangisan anak anak." Malini menggunakan kesempatan itu untuk segera bangkit dari posisinya, kemudian segera membuka pintu. sementara Gama nampak mengusap wajahnya Frustasi.
"Ada apa sayang, kenapa Nasya menangis ??." ternyata author mengirimkan anak kembarnya sebagai penolong bagi Malini.
"Nasya mimpi buruk Ma." Mesya yang ikut serta bersama kembarannya menjawab pertanyaan Malini.
"Nasya takut Ma." kini Nasya mulai berujar di sela tangisnya.
"Apa kami boleh tidur bersama mama dan papa malam ini??." tanpa menunggu lama Malini langsung menjawab, dan jawaban istrinya tersebut membuat wajah Gama nampak pias.
"Tentu saja boleh sayang, iya kan pa??." kata Malini dan Gama pun terpaksa mengangguk setuju.
__ADS_1
"Tentu saja boleh sayang." jawab Gama sebelum berlalu menuju kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya.
Flash back of.