Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Permintaan Gamara Pradipta.


__ADS_3

"Apa maksudnya Semua ini??." dengan tatapan tak suka Malini bertanya.


"Bukankah kenyataannya Fayadz adalah putraku, lalu apa salahnya jika Fay memanggilku dengan sebutan papa." Gama sengaja menekan kata papa pada kalimatnya.


"Jangan cemas, saya belum mengatakan yang sebenarnya padanya, saya hanya meminta Fay untuk memanggilku dengan sebutan papa saja." lanjut ungkap Gama seolah tahu apa yang kini ada di benak Malini.


Malini bisa sedikit menghela napas lega setelah mendengarnya.


"Untuk saat ini mungkin saya masih bisa menyembunyikannya, tetapi saya tidak janji untuk ke depannya." baru juga bisa bernapas lega untuk beberapa saat, kini Malini kembali di buat tak tenang dengan kelanjutan kalimat Gama.


"Jangan berani macam macam, anda !!." tegas Malini, dan itu bukannya membuat Gama gentar, pria itu justru menarik sudut bibirnya ke samping hingga menciptakan sebuah senyum seringai di bibirnya, sebelum kemudian Gama kembali ke dalam kamar perawatan Fay, meninggalkan Malini yang kini menatapnya dengan tatapan geram akibat ditinggal begitu saja ketika ia masih ingin menyampaikan beberapa peringatan pada pria itu.


***


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, di mana waktu yang pernah di tentukan hampir tiba, namun sampai detik ini Malini sendiri belum tahu harus mencari uang sebanyak itu dari mana, untuk mengembalikan biaya rumah sakit yang telah dikeluarkan Gama.


"Mal, seharusnya kamu tidak perlu merasa harga dirimu rendah hanya karena tuan Gama membayar biaya rumah sakit,Fay !!! Karena biar bagaimanapun tuan Gama adalah_." Ria tidak menyelesaikan kalimatnya ketika menyadari tatapan Malini.


"Maaf." hanya itu yang kembali diucapkan Dia ketika melihat Malini menatap tak suka dengan kalimatnya tadi.


"Bagaimana pun, aku tidak ingin sampai berhutang Budi pada tuan Gama, aku tidak ingin sampai dia bertindak sesuka hatinya pada putraku." ujar Malini, sebelum kemudian ia menitipkan Fay pada Ria, sementara ia sendiri kini hendak menuju sebuah cafe di mana semalam ia membuat janji bertemu dengan Gama siang ini.


Dua puluh menit kemudian ojek online yang ditumpangi Malini tiba di cafe. Setelah membayar ongkos ojek, lantas Malini beranjak masuk ke dalam cafe. Di depan pintu utama cafe, Malini dapat melihat dengan jelas sosok pria yang kini tengah duduk di meja yang berada di sudut ruangan.

__ADS_1


Malini menghela napas dalam dalam seolah mempersiapkan diri, sebelum kemudian melanjutkan langkahnya menghampiri Gama.


"Maaf sudah membuat anda menunggu." sadar jika dirinya terlambat beberapa menit, Malini pun meminta maaf untuk itu, dan gama hanya menanggapinya dengan anggukan sekilas, sebelum kemudian mempersilahkan Malini untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


Kini Malini dan Gama duduk saling berhadapan.


"Ada apa kau mengajakku bertemu??." tanya Gama dengan nada dan wajah datar, berbeda jauh dengan suasana hatinya yang merasa sangat senang ketika ibu dari Putranya itu mengajaknya bertemu, bahkan semalaman Gama sulit memejamkan matanya membayangkan pertemuannya besok dengan Malini.


Malini memasang wajah tenang di hadapan Gama, meski kenyataannya ia ingin sekali menangis karena belum mendapatkan uang untuk mengembalikan biaya operasi yang telah di keluarkan Gama untuk putranya.


"Bisakah anda memberikan saya waktu sebulan lagi untuk mengembalikan biaya yang telah anda keluarkan untuk putraku ??." Malini berucap sembari menundukkan pandangannya, seolah tak kuasa terlihat menyedihkan dihadapan Gama.


Gama menghela napas mendengarnya.


"Saya tidak ingin berhutang Budi pada anda apalagi dikarenakan putraku." sahut Malini seraya mengangkat pandangannya menatap Gama.


"Baiklah, jika kau tetap kekeuh ingin menggantinya, maka aku ingin kau menggantinya sesuai dengan keinginanmu di awal, dengan begitu waktu tersebut jatuh besok dan tidak ada waktu tambahan. Jika kau tidak bisa menggantinya besok maka tidak perlu lagi membahas tentang masalah ini selamanya!!." tegas Gama.


"Berapa kali harus aku katakan, jika aku tidak ingin berhutang Budi pada anda, terlebih untuk keperluan putraku. Sekarang katakan saja apa yang bisa saya lakukan untuk anda jika besok saya belum bisa mengembalikan uang anda, karena itu jauh lebih baik daripada saya harus berhutang Budi pada anda."


Helaan napas Gama terdengar berat melihat keras kepala Malini.


"Apa kau yakin akan menuruti permintaan saya??." tanya Gama meyakinkan, pria itu tampak mengukir seringai di sudut bibirnya, saat Malini pun mengangguk tanpa ragu.

__ADS_1


Gama pun menyampaikan permintaannya di hadapan Malini, dan tentunya permintaan Gama membuat kedua bola mata Malini nyaris keluar dari wadahnya, tak habis pikir dengan permintaan dari pria itu.


Merasa geram dengan permintaan Gama yang menurutnya tidak masuk akal, Malini lantas pergi begitu saja meninggalkan Gama yang terus menyaksikan dirinya berlalu meninggalkan cafe.


Di perjalanan kembali ke rumah, Malini terus dibayang Bayangi permintaan Gama. "Kau tidak perlu bekerja keras, kau hanya perlu menjadi wanitaku !!!." kalimat yang di ucapkan Gama di cafe tadi terus terlintas di benak dan pikiran Malini, bahkan ketika ia telah berada di rumah.


Tidak ingin gila memikirkan permintaan pria itu, Malini pun memilih berbagi cerita dengan Ria, tidak jauh berbeda dengan dirinya, Ria pun terkejut bukan main mendengarnya.


"Gila...benar benar gila, seorang tuan Gamara Pradipta memintamu menjadi simpanannya??." Malini berusaha membungkam mulut Ria dengan telapak tangannya, tidak ingin sampai suara Ria terdengar oleh ayah dan juga ibunya Ria.


"Kepalaku sudah seperti mau pecah, jadi jangan sampai kepalaku benar benar pecah jika sampai ayah dan ibu mendengarnya!!." pinta Malini setelah menjauhkan telapak tangannya dari mulut Ria.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?? Apa kau akan tetap berusaha mencari uang itu atau kau justru menerima tawarannya??." tanya Ria setelah merasa cukup tenang usai mendengar kabar mengejutkan dari Malini.


"Aku juga tidak tahu, Ri. Jika aku tidak mengembalikan uangnya aku khawatir suatu saat nanti dia berusaha merebut Fay dariku, tapi jika aku ingin membayarnya pun dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu. Menjual di_ri sekalipun rasanya tidak mungkin." jawab Malini merasa putus asa.


"Apa itu artinya kau akan menerima permintaan dari tuan Gama, Mal??." tanya Ria yang sejujurnya merasa iba pada sahabatnya itu, karena menjadi wanita simpanan sangatlah menyedihkan sekaligus memalukan.


Wajah Malini tampak tidak bersemangat.


"Aku juga tidak tahu, RI." sahut Malini yang kini menyandarkan tubuhnya pada bahu sofa, sebelum kemudian memejamkan matanya untuk beberapa saat.


"Ya tuhan...kenapa takdirku sesulit ini ??? jika aku tidak bersedia menerima permintaan dari tuan Gama, apakah suatu saat nanti aku akan kehilangan putraku??.". Lirih Malini dalam hati. Membayangkan berpisah dengan putranya saja sudah membuat buliran bening lolos di sudut mata indahnya.

__ADS_1


__ADS_2