Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Terjebak Sendiri oleh persyaratan gilanya.


__ADS_3

Semalaman Malini tak dapat memejamkan matanya dan itu terlihat jelas dari guratan hitam di bawah matanya.


Setelah mengantarkan Fay ke sekolah, tujuan utama Malini hari ini adalah Kembali bertemu dengan Gama di cafe kemarin.


Dengan menumpangi ojek online Malini menuju cafe di mana kini ia kembali membuat janji untuk bertemu dengan Gama.


"Apa kau kurang tidur???" pertanyaan pertama yang dilontarkan Gama ketika Malini baru saja tiba di cafe.


"Maaf, sepertinya itu bukan urusan anda." sahut Malini dengan wajah datar. Kini Malini telah menjatuhkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Gama.


Gama yang ingin membiarkan Malini lebih dulu membuka pembicaraan di antara mereka lantas memilih menyeruput secangkir kopi miliknya.


"Aku bersedia menjadi wanita simpanan anda." Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Malini hampir membuat Gama menyemburkan kopi dari mulutnya, saking terkejut dengan bahasa yang digunakan wanita itu.


"Wanita simpanan??." saking terkejutnya Gama sampai mengulang kosa kata yang baru saja digunakan Malini.


"Seorang pria beristri yang ingin memiliki wanita lain, apalagi sebutan yang paling pantas untuk wanita tersebut kalau bukan wanita simpanan??." ungkap Malini yang tampak menahan geram dihatinya.


"Wajar saja dia berpikir seperti itu, karena ia belum mengetahui jika aku telah bercerai dengan Malina." lirih Gama dalam hati.


Gama tetap menampilkan wajah datar di hadapan Malini.


"Tapi sebelum itu aku punya beberapa permintaan." lanjut ucap Malini, sebelum kemudian menyodorkan selembar kertas yang telah di isi oleh beberapa persyaratan yang ingin ia ajukan pada pria itu.


"Apa ini??." tanya Gama ketika Malini menyodorkan selembar kertas di hadapannya.


"Sebaiknya anda baca dengan teliti !! Jika anda setuju maka saya bersedia menuruti permintaan anda, sampai dengan kurun waktu yang akan kita sepakati." jawab Malini.


Gama lantas meraih kertas dihadapannya itu kemudian mulai membacanya.


"Tuan Gama pasti tidak akan setuju, dengan begitu ia pasti akan memberikan tambahan waktu untukku." dalam hati Malini tersenyum, namun di luar ekspektasinya ternyata Gama justru tidak menunjukkan raut wajah keberadaan dengan permintaannya. terbukti ketika pria itu mengeluarkan pulpen dari saku jasnya, lalu membubuhi kertas tersebut dengan tanda tangannya.


Kedua bola mata Malini melebar sempurna ketika melihat kertas tadi telah di tandatangani oleh Gama.

__ADS_1


"Apa anda yakin mampu memenuhi persyaratan dari saya??." tanya Malini meyakinkan, mengingat salah satu persyaratan yang di berikan Malini adalah meminta Gama untuk menikahi dirinya. Seingat Malini, Gama sangat mencintai istrinya lalu kenapa ia justru menerima salah persyaratan yang ia ajukan.


"Jika tidak yakin, mana mungkin saya akan menandatangani persyaratan yang kamu ajukan." jawab Gama dengan penuh tanpa ragu.


mendengar jawaban Gama, Malini merasa sekaan tulang tulangnya terasa lemas tak bertenaga. Niat hati ingin menjebak Gama dengan persyaratan yang ia yakini akan membuat Gama memberinya waktu tambahan, justru membuatnya terjebak sendiri dengan persyaratan gila yang dibuatnya semalam.


"Bagaimana dengan istri anda?? apakah anda tidak takut jika nantinya akan ketahuan oleh nyonya Malina??." Malini masih mencoba mempengaruhi Gama akan keputusannya, namun sepertinya usahanya sia sia karena Gama mengatakan itu akan menjadi urusannya. Gama tidak mengatakan pada Malini jika sebenarnya ia telah bercerai dengan wanita ular itu.


"Jika tidak ada lagi persyaratan yang ingin kau ajukan sebaiknya sekarang saya mengantarkanmu pulang, beristirahatlah !!! Karena malam ini saya akan datang melamarmu." peryataan Gama seakan membuat Malini kesulitan bernapas.


"Sepertinya kali ini aku kembali terjebak dengan permainanku sendiri." semakin putus asa rasanya Malini saat ini.


***


Beberapa saat kemudian mobil Gama tiba di depan rumah Ria.


"Masuklah!! saya akan kembali lagi ke sini nanti malam." tutur Gama, sementara Malini hanya diam saja tidak berniat merespon ucapan Gama.


Dengan langkah gamang Malini berlalu meninggalkan Gama yang masih terus menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


Untungnya saat ini kedua orang tua Ria sedang berada di toko sehingga tidak melihat kondisinya yang terlihat memprihatinkan.


***


"Apa??.". Ria benar benar dibuat terkejut dengan kabar yang baru saja di sampaikan Malini padanya.


"Sepertinya tuan Gama sudah tidak waras." lanjut komentar Ria. Ria yang baru saja kembali dari tempat kerjanya sudah mendapatkan kejutan dari Malini, yang menyampaikan jika malam ini Gama akan datang untuk melamarnya.


Singkat cerita, sore pun berganti malam dan kini kedua orang tua Ria tampak menyambut kedatangan dua orang pria yang tak lain adalah Gamara Pradipta yang ditemani oleh seorang pria yang sebaya dengannya. Ria yang malam itu bertugas mengantarkan teh untuk tamu lantas mengumpat dalam hati ketika mendengar pengakuan Gama di depan kedua orangtuanya.


"Saya pikir anda berbeda, ternyata anda sama saja dengan laki-laki di luar sana, buaya." umpat Ria di dalam hati ketika mendengar pengakuan Gama akan statusnya di hadapan kedua orang tuanya.


Setelah menampilkan senyum yang terkesan di paksakan, Ria lantas mempersilahkan tamu untuk menikmati teh buatannya, sebelum kemudian beranjak meninggalkan ruang tamu.

__ADS_1


"Ternyata semua laki laki di dunia ini sama saja, tuan Gama bahkan mengaku sebagai duda hanya karena ingin menikah lagi." sibuk dengan pemikirannya tentang sosok Gama sehingga membuat Ria tidak menyadari jika saat ini Malini telah berdiri di hadapannya.


"Kau ini, mengejutkan saja. Apa kau ingin membuatku jantungku meloncat dari tempatnya??." Ria memasang wajah sebalnya pada Malini.


"Habisnya kau berjalan sambil melamun." sahut Malini, sengaja mengecilkan volume suaranya agar tidak sampai terdengar oleh mereka yang berada di ruang tamu.


Ria menarik tangan Malini dari ruang tengah menuju ke dapur.


"Ada apa?? kenapa kau menarik tanganku seperti pencuri??." kini giliran Malini yang kesal pada Ria.


"Coba kau tebak apa yang baru saja aku dengar tadi??."


"Memangnya apa yang kau dengar??."


"Tuan Gama mengaku sebagai duda pada ayah dan ibuku." beritahu Ria tentang apa yang ia dengar tadi.


"Haaaahh??." Malini tidak dapat menyembunyikan keterkejutan di wajahnya.


"Apa kau yakin dengan apa yang kau dengar??." tanya Malini memastikan.


"Tentu saja aku yakin, lagi pula telingaku masih berfungsi dengan baik, aku mendengarnya dengan sangat jelas tuan Gama mengaku duda pada ayah dan ibuku." Malini sampai mengulang kalimatnya untuk menyakinkan Malini.


"Sepertinya akan ada masalah baru yang akan hadir dalam hidupku ke depannya jika seperti ini. Nyonya Malina bisa menguburku hidup hidup jika mengetahui suaminya menikahi aku." tadinya Malini masih berharap Gama akan mengakui jika sebenarnya ia telah memiliki seorang istri dan juga anak, dengan begitu kedua orang tua Ria pasti akan menolak lamarannya.


Percakapan di antara Ria dan Malini lantas terhenti begitu saja ketika mendengar suara ibunya Ria yang menyerukan nama Malini.


Malini pun beranjak menuju ruang tamu. Setibanya di ruang tamu, Malini di kejutkan dengan keberadaan mantan bosnya di sana.


"Tuan Kheano."


"Malini." tidak jauh berbeda dengan Malini, Kheano pun cukup terkejut dengan keberadaan mantan karyawannya itu di sana.


"Apa kalian saling kenal??." raut wajah Gama seketika berubah ketika melihat Malini dan Kheano tenyata sudah saling kenal.

__ADS_1


"Malini adalah mantan karyawan di pabrik papaku." jawab Kheano apa adanya, meskipun sebenarnya ia juga cukup terkejut jika ternyata wanita yang selama ini di ceritakan Gama adalah mantan karyawannya yakni Malini.


__ADS_2