
Dengan gurat wajah yang sulit di artikan Gama kembali ke Mansion, usai memastikan apa yang di katakan oleh pengacara keluarganya tentang Malini.
"Ada apa denganmu, Gama??." bunda yang melihat gurat wajah Gama terlihat tidak seperti biasanya itu pun bertanya.
"Wanita itu telah pergi." jawab Gama tanpa ekspresi di wajahnya.
Bundanya terlihat diam sejenak seperti sedang berpikir." Apa wanita yang kamu maksud Malini??." tebak bundanya teringat pembicaraan suaminya dengan pengacara keluarga mereka tadi pagi.
Gama pun mengangguk sebagai jawaban.
"Bukankah lebih baik jika wanita itu pergi, kamu bisa lebih fokus untuk mencari keberadaan istri kamu. lagi pula bunda kasian melihat Malini jika terus disakiti sama kamu, entah kenapa bunda yakin jika Malini wanita yang baik dan bunda juga yakin jika Malini melakukan semua itu karena ada alasannya." ucapan bundanya membuat Gama seolah tidak habis pikir, bisa bisanya bundanya membela wanita yang menurutnya jelas jelas bersalah.
"Jika dia wanita yang baik tidak mungkin dia berusaha mengelabuhi kita semua." Gama seolah tidak terima jika bundanya membela Malini.
"Ayolah Gama, jangan hanya karena cinta kamu terhadap istri kamu, Malina, membuat kamu sampai buta karena cinta!!! apa kamu tidak lihat kebaikan Malini selama ini kepada anak anak kamu, bahkan dia rela memberikan sesuatu yang paling berharga miliknya kepada pria seperti kamu, kalau bunda jadi Malini sudah pasti bunda tidak akan bersedia melakukannya." ucapan bundanya membuat ingatan Gama kembali teringat akan kejadian di malam dirinya tidur bersama dengan Malini. di mana malam itu pada akhirnya rahasia seorang Malini tak bisa ditutupi lagi.
Flash back on.
Malam itu Gama baru saja kembali setelah menghadiri sebuah acara yang diadakan oleh salah satu rekan bisnisnya.
Entah apa yang baru saja di berikan oleh seorang pria yang merupakan pemilik acara, namun yang jelas Gama merasa kepalanya sangat pusing dan pandangannya pun mulai berkunang-kunang. di tambah lagi dengan hasratnya yang tak mampu di bendung oleh pria itu, seluruh tubuh Gama terasa panas.
Tentunya hal itu tidak luput dari pandangan Mahardika yang selalu menemani Gama kemanapun.
Setelah mendekat dan mengecek kondisi tuannya, Mahardika bisa menebak jika saat ini Gama dalam pengaruh obat perang_sang.
__ADS_1
Jika dugaannya itu benar sudah pasti ada seseorang yang Sengaja melakukannya, dan bisa di pastikan orang tersebut memiliki niat buruk terhadap Gama.
Tidak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi kepada tuannya tersebut Mahardika memutuskan untuk segera membawa Gama kembali ke Mansion, dengan harapan pria itu akan segera mendapatkan penawarnya di sana.
Malini yang baru saja menidurkan si kembar segera kembali ke kamar, tiba tiba di kejutkan dengan suara pintu kamar yang di buka dari luar.
"Apa yang terjadi??." tanya Malini dengan wajah cemas saat melihat Mahardika menuntun tubuh Gama hingga ke kamar.
"Apa yang terjadi, kenapa mas Gama bisa jadi seperti ini??" Malini mengulang pertanyaannya saat Mahardika belum juga menjawab.
"Sepertinya ada seseorang yang Sengaja ingin menjebakku sayang." bukannya Mahardika yang menjawab melainkan Gama sendiri. meski kepalanya pusing dan pandangannya berkunang-kunang namun Gama masih sepenuhnya sadar.
"Aku sangat membutuhkan bantuanmu sayang??." tanpa peduli dengan keberadaan Mahardika di antara mereka Gama berucap. sedangkan Malini sendiri bukannya menjawab tetapi Justru memandang ke arah Mahardika dengan sorot mata penuh tanya.
Setelah kepergian Mahardika, tanpa menunggu lebih lama Gama segera melu_mat bibir Malini karena berpikir wanita itu adalah istrinya.
Tubuh Malini kian bergetar kala tangan kekar Gama mulai masuk ke dalam bajunya, ingin rasanya Malini menolak keinginan pria itu namun entah mengapa hatinya merasa tak tega melihat Gama tersiksa dalam kondisi seperti saat ini.
"Hug me please, baby!!." pinta Gama dengan sorot mata yang telah di penuhi gairah, tatkala Malini belum juga merespon perlakuannya.
"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan??." batin Malini di penuhi dilema. di satu sisi ia tak tega melihat kondisi Gama yang telah di selimuti ga_irah namun di sini lain Malini masih memikirkan nasibnya setelah malam ini.
Gama yang tidak sanggup menahannya lebih lama lagi akhirnya membawa tubuh Malini menuju ranjang. akhirnya ranjang dengan ukuran king size tersebut menjadi saksi di mana Malini kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, sekaligus menjadi bukti bahwa dirinya bukanlah istri asli dari seorang Gamara Pradipta.
Tentunya malam itu Gama menyadari semuanya karena dirinya masih sadar sepenuhnya, hanya saja pengaruh obat perang_sang yang tadi membuatnya tak sanggup menahan gairah.
__ADS_1
Dan malam itu juga tepat pukul satu dini hari Gama menghubungi pihak yang berwajib untuk segera membawa Malini, seorang wanita yang dianggapnya sebagai seorang penipu.
Tanpa sepatah katapun demi membela diri Malini meninggalkan mansion dengan di giring oleh pihak yang berwajib menuju kantor polisi.
Sebelum masuk ke mobil polisi Sejenak Malini menoleh, Malini menatap ke arah mansion dengan tatapan sendu."Maafkan aku, semua ini bukan keinginanku." batin Malini saat pandangan tertuju ke mansion, tanpa di sadari air mata kini beranak sungai di pelupuk matanya.
Setelah polisi membawa Malini pergi, Gama masih nampak syok seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, tatapan pria itu terus tertuju pada spray berwarna putih yang kini telah di nodai oleh darah kesucian Malini.
"Kenapa semua jadi seperti ini??." dengan penuh emosi Gama memporak porandakan spray yang masih terpasang hingga membuatnya berantakan.
Flash back of.
****
Di sebuah kota yang terbilang cukup jauh dari ibukota nampak seorang wanita tengah berbicara serius dengan lawan bicaranya.
"Sebaiknya anda segera kembali bersama dengan suami serta anak anak anda nyonya, mereka sangat merindukan kehadiran anda!!." tutur Malini kepada seorang wanita di hadapannya itu.
"Bagaimana bisa aku kembali jika suamiku telah mengetahui semuanya??kau pasti telah mengatakan yang tidak tidak tentang diriku, iyakan.....?? kau memang sangat keterlaluan." bukannya merasa bersalah karena akibat dari perbuatannya Malini merasakan dinginnya lantai penjara, Malina justru mempersalahkan Malini dalam hal ini.
"Sedikitpun saya tidak pernah menjelekkan anda dihadapan siapapun apalagi dihadapan suami anda, tetapi jika mengkambing hitamkan saya bisa membuat anda kembali bersama suami dan anak anak anda, maka lakukanlah nyonya Malina!!!saya iklhas....." entah mengapa kedua mata Malini mulai berkaca-kaca kala teringat akan sosok kedua gadis kecil itu, Nasya dan Mesya.
"Kau pikir aku bodoh, Jika Gama berhasil menemukan keberadaanmu tentu saja kau akan membongkar semua rencanaku saat itu." cetus Malina merasa jika Malini sedang berusaha mengelabuhi dirinya.
"Jika saya ingin membongkar semua rencana jahat anda, tidak mungkin sampai saya bersedia menjalani hukuman hingga beberapa bulan terakhir ini nyonya Malina. dan anda juga tidak perlu cemas, karena sebentar lagi saya akan segera meninggalkan kita ini dan tidak akan pernah kembali lagi ke sini" tutur Malini sebelum beranjak pergi meninggalkan Malina yang masih nampak kesal padanya.
__ADS_1