Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Mual serta pusing.


__ADS_3

Malini yang berbaring di ranjang rumah sakit nampak merasa tidak nyaman saat dua orang pria datang menjenguk dirinya.


Kedua pria itu adalah Gama Pradipta yang juga di temani oleh asisten pribadinya, Mahardika.


Saat Gama memberikan isyarat, Mahardika kemudian keluar dari ruang perawatan meninggalkan keduanya.


"Berapa bulan usia kandunganmu saat ini?? tanya Gama tanpa basa basi. sebenarnya Malini bisa menebak jika berita tentang kehamilannya pasti akan sampai ke telinga pria itu, sebab Gama merupakan pemilik tujuh puluh lima persen saham di rumah sakit tersebut. dan hal itu yang paling ditakutkan gadis itu.


Malina takut jika pria itu memintanya untuk segera menggugurkan janin dalam kandungannya.


"Saya tahu jika anda sangat membenci saya, dan Anda boleh melakukan apapun untuk membalas semua perbuatan saya, tetapi anda tidak punya hak untuk menyakiti anak yang ada di dalam kandungan saya, karena dia tidak bersalah." Ucap Malini, karena berpikir pria itu datang hendak memintanya untuk menggugurkan janin yang ada di dalam kandungannya.


Sementara Gama yang tidak mengerti maksud dari ucapan gadis itu hanya bisa mengeryit bingung.


"Lagi pula tuan, saya sudah menjalani hukuman di penjara, apa anda masih belum puas?? jika memang anda belum puas maka lakukanlah sampai anda benar benar puas tuan, tetapi sekali lagi saya mohon jangan sakiti janin dalam kandungan saya." Dari sorot mata gadis itu nampak jelas tengah menahan tangis.


"Apa maksud ucapan kamu??." tanya Gama yang masih tidak paham dengan maksud ucapan Malini.


"Anda kesini pasti ingin berniat meminta saya untuk menggugurkan janin yang ada di dalam kandungan saya bukan, tapi ingat tuan, jika niat anda datang kesini memang ingin menggugurkan janin ini langkahi dulu mayat saya!!." tegas Malini. karena menurut gadis itu meski ia sendiri belum sepenuhnya siap menjadi seorang ibu apalagi seorang single parents namun bagaimanapun anak yang ada di dalam kandungannya saat ini tetap memiliki hak untuk lahir ke dunia ini.


"Kamu pikir saya akan sekeji itu?? hewan saja tidak mungkin membunuh darah dagingnya, apalagi saya manusia." sanggah Gama mematahkan dugaan Malini.


Sehingga membuat gadis itu tak lagi berkata kata.


"Saya sudah berbicara dengan pihak rumah, sebentar lagi kamu akan di pindahkan ke ruang VIP." lanjut ucap Gama.


"Tidak perlu, saya tidak butuh ruangan itu." Malini menolak tawaran tersebut.


"Saya tidak sedang meminta persetujuan, karena mau tidak mau kamu akan tetap di pindahkan ke ruang VIP. Lagi pula saya melakukan semuanya bukan untuk kamu, tapi untuk calon anakku. saya tidak ingin calon anakku berpikir papanya pelit.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Malini berani menatap tajam ke arah pria itu, namun tampaknya tatapan itu sama sekali tidak mempengaruhi Gama.


Beberapa saat kemudian beberapa orang perawat tiba, hendak memindahkan Malini ke ruang VIP sesuai permintaan Gama Pradipta.


Setelah beberapa hari di mendapatkan perawatan di rumah sakit, pagi ini nampak beberapa sipir hendak menjemput Malini, karena dokter telah mengizinkannya meninggalkan rumah sakit.


Dua Minggu kemudian, saat di rumah sakit tempo hari terakhir kali Malini bertemu dengan Gama. tetapi Malini juga tidak berharap lebih, karena wanita itu tidak menyalahkan pria itu atas kehamilannya. karena biar bagaimanapun Malini sadar betul, jika saat itu Gama melakukannya karena berpikir dirinya adalah sang istri, Malina.


Kini hari demi hari di jalani wanita itu di balik jeruji besi, namun Malini tetap ikhlas akan takdirnya. yang akan menjalani kehidupan di dalam penjara sampai dengan dua tahun ke depan.


Untungnya setelah kembali dari rumah sakit, Malini tak lagi merasakan mual serta pusing. jadi dia bisa beraktivitas seperti biasa.


🌹


🌹


🌹


"Jika semua persyaratan guna pencabutan laporan sudah memenuhi syarat, segera bebaskan gadis itu dari penjara, saya tidak mau anak saya akan membenci saya karena sudah memenjarakan ibunya." Pria itu memberi perintah kepada pengacaranya sembari mengusap minyak angin di keningnya untuk mengusir rasa mual yang sudah seminggu terakhir terus di rasakan pria itu..


Setelah pembahasan selesai pengacaranya pun segera pamit undur diri, kini tinggallah Gama serta Asisten pribadinya, Mahardika di ruang kerja Gama.


"Sebaiknya kita segera ke dokter Tuan, sudah seminggu ini anda terus mual dan pusing!!" Mahardika mengutarakan idenya, untuk mengajak sang majikan memeriksa kesehatan ke rumah sakit dan Gama pun akhirnya setuju setelah seminggu lamanya ia menolak untuk pergi ke dokter.


Usai melakukan medikal cek up serta pemeriksaan laboratorium, kini saatnya dokter membacakan hasil pemeriksaan menyeluruh.


Namun yang membuat Gama heran, dokter menyatakan jika ia seratus persen sehat. namun pada kenyataannya, ia sering merasa mual dan pusing.


"Tapi dok, jika hasil pemeriksaan lab saya di nyatakan sehat, lalu kenapa akhir-akhir ini saya sering merasa pusing serta mual dok." mendengar curahan hati Gama, dokter kemudian tersenyum sebelum menjawab.

__ADS_1


"Berdasarkan pengalaman, kondisi seperti ini biasa terjadi pada pria yang istrinya tengah mengandung." Dokter mencoba memberi penjelasan berdasarkan pengalaman yang sudah sudah, sehingga membuat Gama serta Mahardika saling melempar pandangan.


"Jika dugaan saya benar, itu artinya anda tidak perlu khawatir, biasanya semua ini akan berhenti perlahan seiring bertambahnya usia kandungan istri anda. jadi anda tidak perlu terlalu khawatir tuan Pradipta, mungkin ini sebagai bukti dari kekuatan cinta anda terhadap sang istri." lanjut terang dokter, sementara Mahardika nampak menggigit bibir bawahnya menahan senyum.


"Benar kata dokter tuan, anda mencintai nona Malini, hanya saja ego anda yang terlalu tinggi untuk mengakuinya. lagi pula, jika sudah ada berlian di depan mata, untuk apa mencari kerikil jalanan" dalam hati Mahardika.


🌹


🌹


🌹


Seminggu kemudian pengacara menghubungi Gama yang tengah sibuk dengan urusan pekerjaan di kantor.


Gama segera menerima panggilan saat melihat panggilan tersebut dari pengacaranya.


"Bagaimana, apa semua sudah beres??." saat menerima panggilan, Gama langsung bertanya pada pengacaranya.


"Semua berkas sudah memenuhi syarat, namun ada kendala tuan_" belum lagi pengacara tersebut menuntaskan kalimatnya, Gama sudah menyela.


"Kendala apa maksud kamu, apa pengadilan menolak??." kembali cecar Gama.


"Bukan tuan, masalahnya saat ini Nona Malini sudah tak ada lagi di penjara, kata pihak lapas ada seseorang yang lebih dulu mengajukan hal yang sama ke pengadilan." lemas rasanya tubuh Gama saat mendengar penjelasan dari pengacaranya.


"Memangnya siapa yang melakukan semua itu??." tanya Gama lagi .


"Saya juga tidak tahu tuan karena pihak terkait tidak bersedia memberikan informasi." jawaban pengacaranya membuat perasaan Gama jadi tidak karuan.


Tanpa aba aba pria itu segera meraih kunci mobilnya kemudian pergi meninggalkan gedung pencakar langit milik Pradipta Group.

__ADS_1


__ADS_2