Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Memergoki.


__ADS_3

Pagi ini rencananya Kheano akan segera kembali ke Jakarta namun sebelumnya pria itu memilih untuk bertemu langsung dengan para karyawan dan karyawati pabrik dengan meminta pak Rahman untuk mengumpulkan mereka di pelataran pabrik yang cukup lapang mampu menampung bahkan seribu orang karyawan.


Tak banyak yang di sampaikan Kheano, hanya ucapan terima kasih atas kerja keras dan kegigihan para pegawainya selama ini, Kheano juga berjanji akan menaikkan gaji serta mensejahterakan semua pegawai termasuk karyawan dan karyawati yang turun langsung dalam kegiatan produksi pabrik.


Tetapi sayangnya wanita yang Tempo hari di lihatnya tengah di marahi oleh salah satu mandor pabrik, kata pak Rahman izin tidak masuk bekerja hari ini.


Setelah segala urusannya selesai Kheano pun kembali ke Jakarta.


*


Sementara di bandara Soekarno Hatta, Gama menanti salah satu penerbangan dari kota Surabaya. pria itu sengaja datang ke bandara untuk menjemput sahabatnya, Kheano.


Beberapa saat kemudian akhirnya yang di nantikan pun tiba.


"Maaf aku kembali terlambat dari perkiraan karena banyak yang harus aku selesaikan terlebih dulu di sana." tutur Kheano pada Gama yang hari ini sengaja datang untuk menjemput dirinya di bandara.


"Tidak masalah, aku mengerti." jawab Gama.


Sebelum kemudian keduanya meninggalkan bandara dengan menggunakan mobil mewah milik Gama.


Hari ini Gama sengaja menawarkan diri untuk menjemput sahabatnya itu karena ingin berbagi cerita dengan Kheano.


Sesuai dengan janji, keduanya kini Gama menepikan mobilnya di sebuah restoran yang jaraknya tak terlalu jauh dari bandara.


Setelah menempati salah satu meja restoran, Gama kemudian memesan makanan yang akan menjadi menu makan siang mereka hari ini sekaligus untuk menemani perbincangan keduanya karena waktu makan siang hampir tiba.

__ADS_1


Sambil menunggu pesanan tiba Gama memulai pembicaraan serius.


"Jujur aku hampir tidak sanggup lagi menahan diri untuk terus bersikap seolah tak tahu apa apa tentang istriku, Khe." tutur Gama, dari wajahnya Kheano bisa menebak jika pria itu benar-benar merasa terbebani.


"Kau tidak perlu cemas selama aku di Surabaya aku sudah meminta anak buahku untuk mengikuti Istrimu secara diam diam selama seminggu terakhir ini." kata Khe seraya mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya hendak menghubungi anak buahnya.


"Aku harap kau bisa mengambil keputusan yang tepat karena bagaimanapun ada dua orang malaikat kecil yang hadir di dalam pernikahan kalian. jika sebagai suami kau tak dapat mempertahankan keutuhan rumah tanggamu, setidaknya tetaplah menjadi papa yang baik untuk kedua buah hatimu !!!" tutur Kheano sedikit saat baru saja memutuskan Sambungan telepon dengan anak buahnya.


Gama hanya diam mendengarnya pria itu nampak diam seperti sedang berpikir.


Tak lama ponsel Kheano berdering tanda notifikasi pesan baru saja masuk ke aplikasi hijau miliknya.


Benar saja anak buahnya baru saja mengirimkan sebuah video hasil penyelidikan mereka selama seminggu terakhir.


Kecewa susah pasti, sakit hati tentu saja, terluka apalagi. pria mana yang tidak merasakan semua itu saat melihat Video yang menampilkan istrinya yang tengah beradegan tak senonoh bersama dengan pria lain. tetapi entah mengapa Gama tak lagi merasakan api cemburu seperti sebelumnya saat melihat semuanya. yang ada di hati Gama saat ini hanyalah sebuah kemarahan karena dikhianati dan di anggap bagai pria bodoh oleh istrinya, Malina, selama ini.


"Sepertinya sudah saatnya aku mengakhiri pernikahan tak sehat ini, Khe." meski dadanya di selimuti kemarahan yang amat sangat namun Gama berusaha untuk tetap tenang.


"Maafkan aku, bukannya aku mau ikut campur dalam urusan rumah tanggamu, tetapi aku hanya ingin menyampaikan padamu untuk menyelesai_" Kheano tak melanjutkan kalimatnya saat melihat raut wajah Gama berubah seketika, seperti seseorang yang tengah menahan emosinya agar tidak meledak bak bom waktu.


"Apa wanita itu Istrimu??." tebak Kheano saat melihat rahang Gama mulai mengetat saat memandang ke arah dua orang insan yang berbeda jenis tersebut nampak seperti dua orang muda mudi yang tengah dimabuk cinta.


Gama bangkit dari tempat duduknya hendak menghampiri meja yang baru saja di tempati oleh Malina dan seorang pria tersebut.


"Selamat siang, maaf jika saya menganggu Qualiti Time kalian." tanpa meminta persetujuan Gama menarik sebuah kursi lalu menjatuhkan bokongnya tepat di antara Malina dan seorang pria yang datang bersamanya.

__ADS_1


Tenggorokan Malina seakan sedang dihinggapi batu besar wanita itu nampak kesulitan menelan salivanya saking terkejutnya melihat keberadaan suaminya di sana.


"Gama ini tidak sep_." Malina tak melanjutkan kalimatnya saat Gama telah memposisikan tangannya di udara seolah meminta wanita itu untuk menghentikan omong kosongnya.


"Saya tidak akan menjadi penghalang untuk hubungan cinta terlarang kalian, untuk itu dengan besar hati saya akan melepas wanita ini untuk anda, karena tipe wanita Sepertinya lebih pantas untuk pria seperti anda. " meski nadanya terdengar datar tetapi terasa begitu menusuk hingga ke jantung Mike segala apa yang di ucapan Gama.


Setelahnya tanpa berpamitan Gama segera beranjak.


Namun sebelum benar-benar berlalu Gama lebih dulu mengucapkan sesuatu pada Wanita yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan istri baginya.


"Jangan pernah lagi menampakkan wajah munafikmu di mansion keluarga Pradipta!! dan satu lagi, sampai berjumpa lagi di pengadilan nanti." kata Gama dengan nada tenang meski hatinya kini terasa sakit karena semua kebohongan yang di ciptakan Malina selama hidup bersama dengannya.


Kheano segera menyusul langkah Gama saat melihat sahabatnya itu berjalan menuju pintu masuk dan keluar restoran, namun sebelumnya Kheano meletakkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah di atas meja, Meski belum sempat menikmati hidangan restoran.


Di dalam mobil, Jujur Gama sendiri merasa bingung dengan perasaannya saat ini. bagaimana tidak, kini ia tak lagi merasakan api cemburu ketika melihat Malina bersama dengan pria lain, yang ada hanyalah amarah karena selama ini merasa di bohongi. apalagi Meski marah sekalipun Gama masih mampu menahan amarahnya, sungguh bukan Gama yang biasanya.


Apa tak ada lagi cintanya untuk wanita yang telah melahirkan kedua putri kembarnya itu??? atau apalah Gama sendiri tidak paham dengan perasaannya saat ini.


Gama menoleh saat menyadari kehadiran Kheano yang baru saja membuka pintu mobil.


"Maafkan aku, aku tidak berniat meninggalkan mu, aku hanya_."


"Tidak masalah, aku bisa mengerti dengan perasaanmu." jawab Kheano kemudian menepuk pundak Gama seolah ingin menguatkan sahabatnya itu.


"Thank you." ucap Gama.

__ADS_1


__ADS_2