
Karena tidak fokus saat menyetir Gama sampai tidak memperhatikan jika ada seorang wanita hamil yang tiba-tiba menyebrang jalan, sehingga pria itu hampir saja menabrak tubuh seseorang jika ia tidak cepat menginjak pedal rem.
Cit.
Suara ban mobil yang beradu di aspal akibat pengemudi menginjak rem secara mendadak terdengar nyaring.
"Oh astaga...aku hampir saja menabrak seseorang." gumam Gama dengan nada panik . pria itu segera melepas sit belt yang masih terpasang pada tubuhnya kemudian bergegas turun dari mobil untuk memeriksa kondisi wanita itu. begitu pun dengan Kheano yang segera menyusul langkah Gama.
"Maaf Nona, saya tidak sengaja. apa tubuh anda ada yang terluka??." tanya Gama cemas.
"Tidak ada tuan, maaf tadi saya sedang terburu buru karena harus segera kembali bekerja sehingga saya tidak melihat ke kanan kiri sebelum menyebrang jalan." sesal wanita itu yang tidak sepenuhnya mempersalahkan Gama dalam hal itu karena pada kenyataannya ia pun bersalah.
"Maaf tuan saya harus segera pergi bekerja jika terlambat saya takut di pecat." bukannya mencemaskan keadaannya yang hampir saja tertabrak oleh mobil Gama, wanita itu justru mencemaskan dirinya yang akan di pecat jika terlambat untuk pergi bekerja setelah jam istirahat siang yang hampir usai.
"Tapi Nona, apa anda yakin tidak perlu ke dokter lebih dulu??." tanya Gama dengan sedikit meninggikan suaranya karena wanita itu telah melangkah pergi.
Wanita itu menoleh sejenak seraya berkata. " Tidak perlu tuan, saya baik baik saja." ucapnya dengan sedikit mengeraskan suaranya sebelum kembali melanjutkan langkahnya dengan sedikit terburu-buru.
Berbeda dengan Gama yang kini bisa bernapas lega karena kondisi wanita itu tak terluka sedikitpun, Kheano justru terus memperhatikan punggung wanita itu hingga tak lagi terlihat olehnya.
"ada apa ??." tanya Gama saat tidak sengaja mengikuti arah pandang Kheano.
"Tidak ada apa apa, wanita itu hanya mengingatkan aku pada seseorang." jawab Kheano seadanya.
"Seseorang siapa yang kau maksud??." tanya Gama sebelum kemudian kembali masuk ke mobil dan begitu pun dengan Kheano.
Kini keduanya telah berada di dalam mobil Gama, sebelum kemudian Gama mulai menghidupkan mobilnya. kini mobil Gama kembali merayap menelusuri jalanan ibukota.
__ADS_1
" Seseorang siapa yang kau maksud??." Gama mengulang pertanyaannya karena Kheano belum juga menjawab pertanyaannya.
"Wanita itu mengingatkan aku pada salah seorang karyawati yang bekerja di pabrik papaku." ucap Kheano dan Gama spontan menoleh saat mendengarnya.
"Meski dalam kondisi hamil sekalipun wanita itu tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya." lanjut Kheano teringat akan cerita pak Rahman tempo hari tentang Malini.
"Memangnya kemana suaminya??." tanya Gama dengan kening berkerut, tidak habis pikir ada seorang pria yang tega melihat istrinya bekerja dalam kondisi mengandung, apalagi pekerjaan di pabrik pasti jauh lebih berat jika di bandingkan dengan pekerjaan kantoran.
"Aku juga tidak tahu, tetapi yang aku dengar dari staf pabrik wanita itu tidak memiliki seorang suami. tapi dari sikapnya aku tidak yakin dia memiliki sifat seperti yang selama ini di tuduhkan oleh rekannya sesama pekerja di pabrik." Kheano mencoba berpikir positif karena bagaimanapun dirinya memiliki seorang anak perempuan. dari kabar yang beredar di kalangan pekerja pabrik, Malini menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain.
Sedangkan Gama yang mendengarnya memilih diam tak berniat menimpali ucapan Kheano karena baginya tak begitu penting, Selain itu bukan urusannya ia pun sama sekali tak mengenal wanita yang di maksud Kheano.
*
Seminggu berlalu
Dengan semua bukti yang dimilikinya Gama tidak khawatir Malina akan mempersulit proses perceraian mereka.
Gama mendaratkan bokongnya pada sofa yang berada di ruang kerjanya lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. perlahan pria itu memejamkan matanya.
Seketika Gama kembali membuka matanya karena saat matanya terpejam bayangan Malini yang tengah menitihkan air mata terus melintas di benak dan pikirannya. mulai dari Malini menitihkan air mata ketika berada di bawah Kungkungannya malam itu akibat menahan rasa sakit hingga tangisan pilu wanita itu saat memohon padanya ketika di pengadilan tempo hari, terus melintas di benak dan pikiran Gama saat ini.
"Di mana saat ini wanita itu berada??." batin Gama kala teringat akan sosok wanita yang memiliki wajah sangat mirip dengan istrinya, Malina.
Setelah mengetahui kebusukan Malina selama ini di belakangnya, tiba tiba Gama berpikir jika kedatangan Malini ke tengah tengah keluarganya mungkin ada hubungannya dengan Malina.
"Apa mungkin Malina sengaja mengirim wanita itu ke tengah tengah keluarga Pradipta?? jika itu benar, tidak menutup kemungkinan Malina sengaja menjebak wanita itu." begitu banyak pertanyaan yang kini melintas di benak Gama hingga membuat kepalanya mulai terasa berdenyut.
__ADS_1
***
Di Kota yang berbeda.
Sudah seminggu Malini menumpang di rumah orang tuanya Ria. sejujurnya Malini merasa tidak enak meski kedua orang tua Ria begitu baik padanya.
Malini merasa tidak enak karena merasa menjadi beban di dalam keluarga sahabatnya itu.
"Nak Malini, kamu sudah ibu anggap seperti anak kandung ibu sendiri. jangan pernah merasa sungkan jika menginginkan sesuatu !!!." tutur ibunya Ria mengingat saat ini Malini tengah hamil.
"Terima kasih banyak sebelumnya Bu, maaf jika Malini sudah merepotkan ibu dan bapak." ucap Malini merasa sungkan.
Ibunya Ria yang mendengarnya sontak mengelus lembut puncak kepala Malini wanita itu melakukannya layaknya pada anak kandungnya sendiri. "Tidak perlu berterima kasih nak, bukankah sudah menjadi kewajiban orang tua direpotkan oleh putrinya." Dengan lembut wanita paru baya tersebut berucap pada Malini yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
"Apa aku bilang Mal, kamu tidak perlu sungkan. lagi pula aku anak tunggal orang tuaku sudah menganggap kamu seperti anak sendiri, jadi mulai sekarang kamu bukan hanya sahabatku tetapi juga adikku." ucap Ria saat ibunya telah meninggalkan kamarnya yang kini di tempati bersama Malini sejak seminggu terakhir.
Tak ada kata yang mampu mengungkapkan berapa bersyukurnya dirinya karena memiliki seorang sahabat seperti Ria, sehingga hanya tangisan haru yang kini membasahinya wajah cantik Malini saat memeluk sahabatnya itu.
"Sudah jangan menangis lagi, aku tidak ingin keponakanku jadi cengeng nantinya karena mamanya sering menangis." Seloroh Ria lalu tersenyum sembari membalas pelukan Malini sebelum beberapa saat kemudian melerai pelukan ketika Ria teringat akan sosok seseorang.
"Apa selama ini kau tidak pernah kepikiran tentang Leo, Mal??." dengan hati hati Ria bertanya.
Mendengar Ria menyebut nama mantan kekasihnya atau lebih tepatnya masih kekasihnya karena selama ini mereka tidak pernah mengucapkan kata perpisahan, wajah Malini berubah sendu.
"Aku tidak pantas untuk pria sebaik Leo, masih banyak wanita di luar sana yang pantas mendampinginya." entah mengapa mengatakannya hal demikian membuat Hati Malini terasa sesak. mungkin karena masih cinta atau justru karena merasa bersalah karena secara tidak langsung telah mengkhianati cinta dari pria sebaik Leo.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih Malini." kata Ria seolah menyesal karena telah membahas tentang sosok Leo.
__ADS_1