Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Fayadz Abidzar.


__ADS_3

Tujuh bulan kemudian.


Di sebuah klinik bersalin terdengar suara rintihan kecil dari seorang wanita yang tengah berjuang melahirkan buah hatinya ke dunia.


Peluh membasahi dahi Malini saat wanita itu berjuang melahirkan anaknya.


Untungnya ada Ria dan juga kedua orang tuanya yang saat itu selalu menemaninya sehingga keadaan Malini tidak terlalu nampak menyedihkan.


Sejak usia kandungannya berumur dua bulan hingga saat ini kedua orang tua Ria memperlakukan Malini layaknya anak kandung sendiri.


"Sakit..." rintih Malini saat pembukaan hampir sempurna.


Sementara bidan yang membantu persalinan Malini segera menyiapkan perlengkapan setelah memastikan pembukaan telah sempurna.


Dengan di bantu oleh beberapa orang bidan, Malini berjuang melahirkan anaknya sampai dengan rasa sakit yang di rasakannya Sirna begitu saja saat mendengar tangisan bayinya yang baru saja ia lahirkan.


Owek....


Owek....


Owek....


"Selamat Bu, bayi laki laki anda telah lahir dengan sehat tanpa kurang satu apapun." kata salah satu bidan sebelum meletakkan bayi di dalam dekapan ibunya.


"Selamat Mal... sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu untuk Putra tampan mu." Ria pun tak sanggup menahan air mata haru saat melihat Malini juga tengah menangis haru saat melihat wajah tampan putranya.


Saat pertama kali melihat wajah tampan putranya, Malini tak menampik jika ketampanan putranya sangat mirip dengan wajah Gamara Pradipta, pria yang merupakan ayah biologis putranya.


Hidung, bibir bahkan matanya sangat mirip dengan pria itu.


"Jangan cemas nak, mama akan menjadi ibu sekaligus ayah untukmu. mama akan berusaha melakukan apapun untuk kebahagiaanmu nak. mama bahkan rela menukarkan nyawa mama sekalipun demi engkau, putraku sayang." batin Malini mengusap kepala putranya.

__ADS_1


setelah beberapa saat kemudian ibu bidan mengambil alih kembali bayi laki-laki tersebut untuk segera di bersihkan dan di ukur tinggi serta berat badannya. setelahnya ayahnya Ria pun mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi Malini.


"Apa kau sudah memiliki nama untuk putramu??." tanya Ria dan Malini pun mengangguk sebagai jawaban.


"Aku sudah memikirkan nama untuk putraku sejak pertama kali aku tahu dia hadir di rahimku." jawab Malini dan Ria nampak manggut-manggut.


"Fayadz abidzar." lanjut Malini menyematkan sebuah nama pada putranya.


"Nama yang bagus." puji Ria dengan mengembangkan senyum di wajahnya.


**


Dua hari kemudian Malini telah di izinkan pulang oleh dokter mengingat kondisinya semakin membaik pasca melahirkan, serta kondisi anaknya yang juga sangat sehat.


Kedua orang tua Ria nampak begitu bahagia dengan kehadiran si kecil di rumah, mereka memperlakukan anak Malini layaknya cucu kandung mereka sendiri.


Sekembalinya dari rumah sakit kegiatan rutin Malini sekarang adalah mengurus dan merawat putranya. walaupun pengalaman pertama baginya dalam mengasuh bayi tidak membuat Malini kesulitan, mungkin sudah menjadi naluri seorang ibu memahami buah hatinya meski sejak dini.


Untungnya ibunya Ria bersedia mengasuh putranya jika nantinya ia akan kembali bekerja.


Sejujurnya Malini merasa tak tega meninggalkan putranya jika ia sedang bekerja, tapi mau bagaimana lagi Malini juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga putranya.


***


Waktu terus berlalu hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. kini Fay telah berusia lima tahun dan telah duduk di bangku Taman kanak kanak. semakin kesini wajah Fayadz pun semakin mirip dengan ayahnya, Gama Pradipta.


Malini tengah membantu Fay untuk bersiap berangkat ke sekolah sedangkan Ria nampak merapikan penampilannya di depan cermin.


"Mal, sepertinya hari ini aku tidak bisa menjemput Fay di sekolah karena pemilik perusahaan akan datang pagi ini. semua pegawai diharuskan tetap berada di tempat." kata Ria dengan wajah menyesal karena tidak sempat menjemput keponakan kesayangannya itu.


"Tidak apa apa, Nanti aku yang akan menjemput Fay di sekolahnya, sebelumnya aku akan minta izin pada Rahman." ujar Malini setelah selesai mambantu Fay mengenakan sepatunya, Ria pun mengangguk.

__ADS_1


Ria memposisikan diri dengan tinggi tubuh Fay. "Maaf ya sayang, hari ini Tante tidak bisa menjemput Fay di sekolah." kata Ria dengan raut wajah sesal.


"Tidak masalah Tante cantik, Fay bisa di jemput sama mama. iya kan mah....???." ucap Fay sebelum kemudian beralih memandang ke arah Malini dan Malini pun mengiyakannya.


"Keponakan ganteng Tante emang paling pengertian deh." kata Ria sembari mengusap rambut Fayadz sementara Fay yang merasa rambutnya jadi berantakan kini memasang wajah cemberut sehingga Ria dibuat gemas melihatnya.


"Tuh kan rambut Fay jadi berantakan kayak gini, gara gara Tante sih." seperti seorang pria dewasa yang begitu peduli dengan penampilannya, Fay kembali meraih sisir di atas meja rias kemudian merapikan lagi rambutnya yang sebenarnya masih sangat rapi.


Sikap Fay yang seperti ini yang selalu membuat Malini teringat akan sosok ayah dari anaknya itu.


"Bukan hanya wajahmu yang begitu mirip dengannya nak, tetapi sikapmu juga sangat mirip dengannya." dalam hati Malini yang kini memperhatikan putranya yang tengah menyaksikan penampilannya di depan cermin usai merapikan kembali rambutnya.


Sudah dua tahun terakhir Ria tak lagi bekerja di pabrik, wanita itu kini bekerja di Salah satu perusahaan anak cabang di kotanya.


Setelah semua siap kini ketiganya berangkat dengan menggunakan sepeda motor milik Ria. setelah mengantarkan Fay ke sekolah seperti biasa Ria lebih dulu mengantarkan Malini ke pabrik, setelahnya baru wanita itu menuju tempatnya bekerja.


****


Sudah lima tahun setelah resmi bercerai dengan Malina, Gama tak lagi terlihat dekat dengan wanita manapun. pria itu kini fokus dengan kedua putri kembarnya yang telah berusia delapan tahun.


Ya, hak asuh kedua putrinya jatuh ke tangan Gama. karena terbukti berselingkuh maka pengadilan menolak pengajuan hak asuh yang di ajukan pihak tergugat, Malina.


Pagi ini sebelum mengantarkan kedua putrinya ke sekolah Gama lebih dulu pamit pada Nasya dan Mesya karena hari ini ia harus ke luar kota karena ada urusan pekerjaan.


"Sayang, hari ini sampai dengan tiga hari ke depan papa ada urusan di luar kota. kalian tidak masalah kan harus papa tinggal beberapa hari??." ucap Gama mencoba memberi pengertian pada keduanya.


"Tidak masalah pah, lagipula papa kan kerja buat cari uang." Gama mengembangkan senyum di wajahnya saat mendengar jawaban dari salah satu putri kembarnya, Nasya, dan Mesya pun ikut mengangguk seolah setuju dengan perkataan saudari kembarnya.


"Thank you so much, sayang." Gama mengusap lembut puncak kepala kedua putrinya sebelum kemudian berjalan keluar menuju mobilnya berada untuk segera mengantar Nasya dan Mesya ke sekolah.


Sementara bunda nampak melambaikan tangan pada kedua cucunya yang akan berangkat ke sekolah.

__ADS_1


"Kurang lebih dua puluh menit lagi aku akan tiba di bandara." dengan menggunakan hand seat yang terpasang di telinganya Gama menerima panggilan dari asisten pribadinya usai mengantar Nasya dan Mesya ke sekolah.


__ADS_2