
Di perjalanan menuju rumah Malini teringat akan nasibnya yang tadi baru saja di pecat oleh mandor pabrik.
Malini hanya bisa menghela napas dalam, berharap di balik ujian yang di berikan sang maha kuasa akan tergantikan dengan kebahagiaan di suatu saat nanti.
"Kamu harus kuat Malini....!!! Ujian Ini belum sebanding dengan apa yang sudah kamu lewati selama ini." dalam hati Malini seakan menguatkan dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian akhirnya motor matic yang di kendarai Malini tiba di rumah.
"Kamu amu akan kembali lagi ke pabrik, nak??." tanya ibunya Ria yang berpikir setelah mengantarkan Fay, Malini akan kembali lagi ke pabrik.
Malini menggeleng.
"Sebaiknya kita masuk sekarang!!." ajak ibunya Ria yang bisa menebak telah terjadi sesuatu pada Malini.
Di sofa yang berada di rumah tengah, di sana Malini duduk setelah membantu Fay mengganti pakaian sekolahnya lalu menyuruh putranya tersebut makan siang sebelum kemudian kembali mengulang pelajaran di sekolah barang sejenak.
Ibunya Ria yang sudah menganggap Malini seperti putrinya sendiri, ikut duduk di sofa yang kosong yang berada di sebelah Malini.
"Ibu." Ujar Malini saat menyadari kedatangan ibunya Ria.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, nak??." tanya ibunya Ria dengan nada lembut.
"Malini di pecat dari pabrik Bu." wajah Malini berubah sendu saat mengakuinya di hadapan ibunya Ria.
Wanita paru baya tersebut menghela napas dalam sebelum kemudian mengulas senyum di wajahnya. "Tidak perlu bersedih, mungkin tuhan berencana lain, Mana tahu setelah ini kamu justru mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi, nak." ucapan wanita itu terdengar begitu hangat sehingga membuat Malini tak sanggup menahan haru.
"Terima kasih Bu, sudah begitu sayang pada Malini."
Ibunya Ria membawa Malini ke dalam pelukannya. "Seorang ibu pasti akan selalu sayang pada anak anaknya, meskipun kamu tidak lahir dari rahim ibu tapi ibu sudah menganggap kamu seperti anak kandung ibu sendiri, Malini." ucapnya seraya mengusap punggung Malini yang terlihat bergetar akibat menangis, sebuah tangis haru.
"Sebaiknya sekarang kamu makan nanti kamu sakit dan ibu tidak ingin sampai itu terjadi. Setelahnya istirahatlah !!." pinta ibunya Ria dan Malini pun mengangguk mengiyakan.
Meski pun tidak berselera untuk makan namun Malini tetap memaksakan diri untuk mengisi perutnya dengan beberapa sendok nasi, karena sedih sekali pun tetap membutuhkan tenaga bukan.
__ADS_1
Selesai makan Malini segera menuju kamar yang di ditempatinya dan juga Ria, sedangkan Fay sendiri sudah seminggu terakhir Fay menempati kamarnya sendiri.
Setelah beberapa menit menjatuhkan bokongnya di sofa Malini pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi terlentang.
"Lebih baik sekarang aku istirahat saja dulu sebelum besok mulai mencari pekerjaan baru." gumam Malini sebelum mulai memejamkan matanya.
Cukup lama siang menjelang sore hari itu Malini mengistirahatkan tubuh dan pikirannya sampai dengan pergerakan Ria yang baru saja memasuki kamar membangunkan Malini dari tidurnya.
"Maaf sudah membangunkan mu." ucap Ria yang telah duduk di sisi ranjang memandang sendu ke arah Malini.
"Aku sudah dengar dari ibu." lanjut ucap Ria yang mulai membahas berita tentang Malini yang baru saja di pecat dari pabrik.
Malini hanya tersenyum saja. "Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, besok aku akan mulai mencari pekerjaan baru." jawab Malini yang tak ingin membuat suasana menjadi sendu.
Tidak terasa waktu terus berjalan, sudah sebulan Malini berusaha mencari pekerjaan tapi sepertinya usahanya belum membuahkan hasil sampai detik ini ia belum mendapatkan pekerjaan. Malini semakin mencemaskan biaya sekolah dan juga kebutuhan sehari-hari Fay, mengingat sisa tabungannya hanya tinggal sedikit.
Selama sebulan terakhir pula Malini tak lagi memberi akses untuk Gama menemui Fay.
Malini mengusap dahinya yang kini dipenuhi Peluh akibat sengatan sinar matahari yang cukup membakar kulit.
"Membuka lowongan pekerjaan." Malini membaca sebuah kertas yang tertempel pada dinding kaca sebuah restoran. dengan secercah harapan Malini melangkah memasuki restoran tersebut berharap bisa mendapatkan pekerjaan di sana.
'Selamat siang mbak, apa benar restoran ini sedang membuka lowongan pekerjaan??." tanya Malini pada seorang wanita muda yang mengenakan seragam khas pelayan restoran.
"Maaf mbak, sudah terisi, baru saja setengah jam yang lalu." jawab wanita muda tersebut.
"Oh begitu ya...". Lagi lagi Malini harus menelan kekecewaan seperti yang sudah sudah.
Malini kembali mengayunkan langkahnya meninggalkan restoran itu.
Merasa tenggorokannya terasa kering, Malini lantas mampir ke sebuah warung untuk sekedar membeli sebotol air mineral, namun ketika merogoh kantong celananya ternyata uangnya tidak cukup untuk membeli sebotol air mineral.
"Ini airnya mbak." kata pemilik warung seraya menyodorkan sebotol air mineral pada Malini.
__ADS_1
"Maaf Bu, sepertinya saya tidak jadi membelinya karena uang saya tidak cukup." meskipun merasa malu untuk menyampaikan hal itu mengingat saat itu warung tersebut sedang ramai, namun apa daya Malini tetap harus menyampaikannya kepada pemilik warung.
"Sudah ambil saja mbak nggak usah bayar." kata pemilik warung yang merasa iba kepada Malini.
"Terima kasih Bu, semoga rezeki ibu semakin melimpah."
"Aamiin."
Dengan berbekal air mineral yang masih tersisa setengahnya, Malini kembali melanjutkan perjalanannya berharap hari ini bisa mendapatkan pekerjaan.
Di sela langkahnya tiba tiba ponsel Malini berdering. Malini merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.
Ternyata panggilan telepon dari pihak sekolah Fay.
"Halo."
"Halo, dengan ibunya Fay??."
"Iya saya sendiri."
"Apa??." tubuh Malini serasa lemas tak bertulang ketika pihak sekolah menyampaikan saat ini Fay tengah di larikan ke rumah sakit akibat mengalami kecelakaan di depan sekolah dan yang paling mengiris hati Malini, pengendara mobil sengaja melarikan diri dan membiarkan Fay terkapar begitu saja di tepi jalan.
Malini yang tampak panik meminta bantuan kepada seorang pengendara sepeda motor yang melintas untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Untungnya orang itu berbaik hati bersedia mengantarkan Malini menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit dari jarak yang masih lumayan jauh, Malini dapat melihat keberadaan ibu guru Fay di depan ruang IGD.
"Di mana anak saya Bu?? kenapa semua ini bisa terjadi, kenapa pihak sekolah membiarkan muridnya meninggalkan area sekolah??." dengan perasaan yang tak menentu serta wajahnya yang telah basah oleh air mata, Malini mencecar ibu guru Fay.
"Maafkan kami Bu, kami sudah melarang Fay untuk keluar dari halaman sekolah tetapi sepertinya Fay Sengaja mengendap-endap keluar." jawab ibu guru dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Fay sedang ditangani di dalam Bu, tetapi untuk saat ini dokter tidak mengizinkan pihak keluarga untuk masuk ke dalam.". Ujar salah satu guru lainnya.
"Oh tuhan selamatkan anakku, hanya dia yang aku punya di dunia ini." dengan linangan air mata Malini memanjatkan doa kepada sang kuasa.
__ADS_1