
Di mansion keluarga Pradipta
Dengan pandainya Malina melakoni perannya layaknya seorang aktris, seolah dirinya baru saja terbebas dari penculikan yang membuatnya harus terpisah dari suami serta anak anaknya.
Dengan berbekal uang yang rutin di transfer Gama setiap bulannya ke rekening miliknya tidak sulit bagi Malina untuk menyewa jasa seseorang untuk berpura pura menculik dirinya, Hingga dengan mudahnya wanita itu kembali ke mansion keluarga Pradipta.
Dengan rencana yang sudah tersusun rapi, Malina menyuruh seseorang menghubungi suaminya untuk meminta tebusan. atas nama cinta, tanpa berpikir panjang Gama pun mentransfer sejumlah uang yang di minta oleh penelpon tersebut tanpa sedikitpun melibatkan pihak berwajib karena tidak ingin membuat nyawa istri tercintanya dalam bahaya.
"Sayang, siapa sebenarnya yang tega melakukan semua ini padamu??." dengan wajah yang masih nampak cemas Gama bertanya pada sang istri yang kini berpura pura seperti orang yang tengah ketakutan Usai di bebaskan oleh si penculik.
"Aku juga tidak tahu mas yang pasti sebelum aku di bawa oleh beberapa orang pria beberapa bulan lalu aku sempat bertemu dengan seorang wanita yang wajahnya sangat mirip denganku." dengan melirik Gama melalui ekor mata Malina kembali berdusta.
"Sudah ku duga wanita itu pasti ada hubungannya dengan semua kejadian yang menimpa istriku." gumam Gama dengan nada lirih namun masih terdengar jelas oleh Malina.
"Wanita mana yang kamu maksud mas??." tanya Malina pura pura bodoh.
"Ah... Tidak ada sayang, tidak perlu di pikirkan!!!." entah mengapa Gama seolah tidak ingin menceritakan apapun tentang Malini kepada istrinya.
"Apa maksud kamu mas dengan menyembunyikan semua itu, apa kamu tidak ingin menceritakan tentang Malini kepadaku??? atau kamu sengaja menyembunyikannya karena telah terjadi sesuatu Antara kamu dan wanita itu??." dalam hati Malina yang kini menatap curiga pada suaminya.
Setelahnya Gama pun memboyong sang istri tercinta untuk kembali ke mansion.
Nasya dan Mesya yang baru saja menyadari kedatangan mamanya dengan antusias berlari menyambut kedatangan Malina.
__ADS_1
"Mama...." kedua gadis kecil itu berlari kecil ke arah Malina yang masih berdiri di pintu masuk mansion.
Sayangnya Kedua gadis kecil itu harus menelan kekecewaan saat Malina sama sekali tidak menunjukkan perasaan gembira saat kedua gadis itu memeluk kakinya.
"Awas sayang ....!!! mama lelah mau istirahat." bukannya mengobati kerinduan di hati kedua putrinya, Malina justru berlalu begitu saja ke kamar tanpa peduli dengan gerakannya yang sedikit kasar sehingga mengakibatkan Nasya hampir saja terjerembab ke lantai.
"Apa yang kau lakukan Malina??." Bunda yang sejak tadi sudah merasa Geram dengan sikap menantunya akhirnya buka suara saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Malina memperlakukan cucunya seperti itu.
Mendengar ucapan ibu mertuanya sejenak Malina menghentikan langkahnya." Malina tidak sengaja bun, lagi pula Nasya saja yang tidak hati hati." bukannya merasa bersalah karena hampir saja melukai putrinya sendiri, Malina justru menyalahkan Nasya dalam hal ini.
Setelahnya Malina pun melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dan Gama berada, sedangkan Gama hanya bisa diam seraya meraih Nasya ke dalam gendongannya.
"Oh astaga..... wanita seperti apa yang telah kamu nikahi itu Gama??? sembur bunda dengan wajah kesal saat menyaksikan punggung menantunya yang hampir tak lagi terlihat.
Ceklek
Malina yang hendak menanggalkan pakaiannya karena ingin segera mandi nampak menoleh saat mendengar pintu kamar terbuka dari luar. "Mas, aku tidak suka jika bunda kamu terlalu ikut campur masalah aku dan anak anak. lagi pula aku ini ibunya mereka tidak mungkin aku melakukannya dengan sengaja." dengan memasang wajah sebal Malina berucap, sehingga membuat Gama yang tadinya ingin menasehati istrinya berubah pikiran.
"Baiklah, nanti mas akan coba bicara dengan bunda. senyum dong jangan cemberut lagi....!!!"
Mendengar ucapan suaminya membuat Malina dengan terpaksa mengukir senyum di wajahnya.
"Gitu dong, kalau senyum kamu semakin cantik." mendengar pujian Gama membuat Malina semakin melebarkan senyumnya sebelum kemudian beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1
Setelah melihat tubuh istrinya menghilang di balik pintu kamar mandi, Gama nampak menghela napas berat." wajah kalian memang sangat mirip, tetapi mengapa sikap kalian sangat jauh berbeda. kenapa kau tidak bisa bersikap lembut seperti wanita itu Malina??." tanpa menyadarinya, Gama teringat akan sosok wanita yang telah menemaninya selama beberapa bulan terakhir.
Di waktu yang sama di kota B, Malini tengah sibuk mengemas semua barang barang miliknya dengan di bantu oleh sang nenek.
"Apa kamu yakin neng, kita akan meninggalkan kota kelahiran kita??." dari wajahnya nampak jelas wanita tua itu berat meninggalkan kampung halamannya, namun demi cucu tercintanya yang di ketahui tengah mengandung tidak mungkin wanita tua itu tega membiarkan cucunya pergi sendiri tanpa dirinya.
"Maafkan Malini nek, maaf jika Malini sudah membuat nenek malu karena hamil tanpa seorang suami."ucap Malini dengan pandangan tertunduk seolah tak sanggup melihat wajah Renta neneknya.
"Jangan bicara seperti itu neng, sekalipun anak itu lahir tanpa seorang ayah nantinya, tetap saja seorang anak adalah anugerah terindah dari sang pemilik kehidupan." ucapnya seolah ingin menguatkan cucunya.
Malini pun membalas genggaman tangan neneknya.
"Terima kasih nek.... karena selalu ada di sisi Malini di saat suka maupun duka." Melihat kebesaran hati neneknya yang bersedia menerima kehadiran anak yang akan lahir dari rahimnya tanpa bertanya siapa dan bagaimana sampai dirinya bisa mengandung, membuat Malini semakin merasa bersalah pada wanita itu.
"Malini janji setibanya di kota Surabaya nanti kita akan memulai hidup yang baru hanya ada Malini, nenek dan juga anak Malini." Sejujurnya wanita tua yang akrab di sapa Mbah Sumi tersebut merasa sangat iba pada cucunya, dalam kondisi hamil tanpa suami tidak menutup kemungkinan nantinya Malini akan di pandang sebelah mata oleh orang orang sekitar.
Sebagai seseorang yang telah merawat Malini sejak kecil tentunya Mbah Sumi sangat mengenal sikap dan watak Malini. meski belum siap untuk berterus terang tentang siapa sebenarnya ayah dari bayi yang ada di dalam kandungannya, tetapi Mbah Sumi yakin Malini bukanlah gadis yang rela menjual harga dirinya demi sebuah benda yang bernama Uang.
Dengan menumpangi kereta listrik kini Mbah Sumi dan Malini bertolak menuju kota Surabaya.
Di kota tersebut Malini mulai memulai hidupnya yang baru, Malini sengaja pergi jauh untuk menghindari yang namanya keluarga Pradipta.
Bukannya ingin membela diri atau membenarkan apa yang telah di lakukannya pada keluarga Pradipta, namun Malini hanya tidak ingin keluarga Pradipta terutama Gama sampai melakukan sesuatu yang membahayakan anaknya karena rasa benci pria itu kepada dirinya.
__ADS_1
Sebab di rumah sakit Tempo hari dirinya memang sempat di rawat di ruang VVIP atas perintah dari Gamara, namun begitu pria itu tidak pernah mengutarakan secara terang terangan jika dirinya mengharapkan kehadiran anak yang lahir dari rahimnya.