
"Jadi selama ini Nyonya Malina menjalin hubungan terlarang dengan tuan Tofan? Jika Nyonya Lala sangat membenci Nyonya Malina, itu artinya Nyonya Lala mengetahui hubungan mereka." dalam hati Malini yang kini merebahkan tubuhnya di balik selimut.
Kini Malini bisa menebak apa yang sudah membuat Lala begitu sinis kepada dirinya, yang di anggap Lala sebagai Malina.
"Kenapa anda begitu jahat kepada orang orang yang begitu menyayangi anda Nyonya Malina?? apa anda tidak takut jika tuan Gama sampai mengetahui semuanya??." lanjut batin Malini sebelum gadis itu beralih menatap ke arah pintu saat terdengar suara pintu terbuka.
Senyuman manis itu lagi lagi membuat Malini seperti terhipnotis, namun dengan segera gadis itu menepisnya.
"Ingat Malini, senyum itu di tujukan untuk nyonya Malina bukan untukmu!!." Malini membatin, seolah tengah memperingatkan dirinya sendiri.
Gama melangkah mendekati sang istri kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
"Tangan kamu kenapa sayang??." tanya Gama saat melihat telapak tangan Malini di plester. nampak jelas ke khawatiran di wajah pria itu.
"Apa kita perlu ke dokter sayang??." lanjut pria itu.
"Tidak perlu mas, sebentar lagi juga sembuh kok, luka kecil seperti ini sih sudah biasa." lagi lagi jawaban istrinya sanggup menciptakan sebuah senyum manis di wajah Gama, sehingga membuat detak jantung Malini semakin tak menentu.
"Ya Tuhan, ada apa dengan jantungku??." batin Malini saat merasa detak jantungnya semakin tak beraturan. bahkan saat bersama Sang kekasih, Leo, Malini belum pernah merasakannya.
Meski begitu sebagai seorang gadis perawan tentunya Malini merasa takut bukan main, apalagi saat pria itu mulai membuka kaosnya sebelum tidur.
"Mas."
"Hemt."
"Bisa tidak kamu tidurnya pake baju saja!!." Gama tersenyum lebar saat mendengar ucapan istrinya.
"Kamu kenapa sayang, malu?? bukannya kamu sudah melihat lebih dari ini." jawaban Gama seketika menyadarkan Malini, jika apa yang di katakan Gama memang benar. mana mungkin ia mengakui jika ia masih malu, sementara Gama tahunya dirinya adalah sang istri, Malina.
"Tidak mas, bukan begitu, aku hanya takut kamu masuk angin." ujar Malini beralasan dan untungnya Gama percaya begitu saja dengan alasan yang di buat gadis itu.
__ADS_1
Malam pun berlalu tanpa ada adegan spesial terjadi di malam itu, meski butuh tenaga ekstra untuk Gama meredam hasratnya.
Pagi harinya saat terbangun dari tidurnya, Gama tak lagi menemukan sang istri di sisinya.
Gama pun segera mengambil handuk yang nampak sengaja di siapkan untuknya.
Beberapa saat Gama menatap handuk itu seraya tersenyum, yang ada di pikiran pria itu adalah wajah cantik sang istri.
"Terima kasih sayang." gumam Gama sembari meraih handuk putih kemudian berlalu ke kamar mandi.
Di dapur.
Mata Lala membulat sempurna saat melihat sesuatu yang tidak pernah di bayangkan sebelumnya.
"Astaga, apa Malina sedang sakit??." dalam hati Lala saat melihat Malini tengah memasak sarapan pagi.
"Rencana apa lagi yang sedang di rancang wanita ular ini, apa dia sengaja ingin mengambil hati bunda??." lanjut batin Lala.
"Lala aku sudah menyiapkan sarapan, silahkan panggil anak serta suami kamu!! aku juga akan memanggil anak anakku serta mas Gama, sekalian panggil Bunda !!." ujar Malini seolah tidak tersindir dengan tatapan tak suka dari Lala padanya.
Saat hendak ke kamar lengan Malini di cegat oleh Lala dengan kasarnya.
"Apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan, jangan bilang kamu sengaja bersikap baik seperti ini untuk menggoda suamiku??." Habis sudah kesabaran Malini ketika Lala mengatakan sesuatu yang sangat membuat gadis itu tersinggung.
"Bukankah rumah yang tengah di tinggali suamimu adalah milik suamiku, perusahaan tempat suamimu bekerja juga milik suamiku. lalu dari sisi mana saya harus merebut suami kamu, sedangkan suamiku jauh lebih baik dan kaya di banding suami kamu itu??." entah kenapa kalimat yang baru saja di lontarkan gadis itu membuat Lala tak sanggup menimpalinya. Lala pun segera menarik Cegatan tangannya dari lengan Malini, sehingga membuat gadis itu bisa kembali melanjutkan langkahnya. baru beberapa langkah Malini menghentikan langkahnya, namu,
"Daripada kamu membuang waktu cemburu kepadaku, lebih baik kamu bertanya kepada suami kamu itu, siapa sebenarnya yang mengejar siapa!!." ujar Malini kemudian kembali melangkah menuju kamar untuk memanggil suami serta si kembar.
Lala yang masih berdiri mencoba mencerna setiap kata yang baru saja di ucapkan Malini.
"Apa mas Tofan berbohong jika Malina yang sengaja ingin menggodanya, mungkin kah mas Tofan juga menginginkan wanita itu??." batin Lala.
__ADS_1
Saat kepergok berpelukan mesra dengan Malina tempo hari Tofan mengaku jika Malina lah yang terus berusaha menggodanya, dan pria itu juga berdalih menolak Malina, namun wanita itu tetap kekeh mengejarnya.
"Ternyata masalah di rumah ini benar benar pelik." ujar Malina, Setibanya di depan pintu kamar Malina menghela napas dalam sebelum membuka handle pintu.
"Ceklek".
"Sayang kamu dari mana saja??." Tanya Gama ketika Malini baru saja membuka pintu kamar. pria itu masih mengenakan sebuah handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Aku baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi mas." jawab Malini sembari mengukir senyum, Gama yang merasa gemas dengan senyum manisnya tanpa aba aba langsung memeluk gadis yang selama ini di sangka sang istri.
Tubuh Malini diam tak bergerak ketika merasakan sesuatu yang menegang mengenai belakang tubuhnya. setelah mencoba mencerna bagian apa yang kini mengenai bokongnya, Malini segera beralasan untuk sedikit memberi jarak.
"Mas sarapannya sudah siap, sebaiknya mas sarapan dulu sebelum berangkat ke kantor!!." Ujar Gadis itu dengan wajah nampak memerah.
"Baiklah sayangku." Gama pun mengambil stelan jas miliknya yang sebelumnya telah di siapkan Malini untuk dirinya.
"Sayang." Gama yang merasa ada yang kurang dengan pakaiannya sedikit berteriak, sehingga membuat Malini yang tengah merapikan tempat tidur pun memberi sahutan.
"Iya mas."
"Sepertinya kamu lupa sesuatu." kata Gama.
"Memangnya apa yang aku lupa mas??." tanya Malini sedikit bingung.
"Pakaian dalam aku nggak ada sayang." seketika mata Malini membulat sempurna.
"Tolong ambilkan pakaian dalamku sayang!!." seru Gama, sementara Malini kini sudah bingung harus memberi alasan apa untuk menolak, dan akhirnya gadis itu pun terpaksa mengambilkan pakaian dalam pria itu di dalam lemari.
Awalnya Malini merasa risih namun kemudian gadis itu berpikir ini adalah salah satu dari tugasnya selama menggantikan posisi Malina di Mansion tersebut.
"Baik mas." setelah beberapa saat berusaha mencari cari barang Kramat itu akhirnya Malini pun menemukannya, kemudian dengan segera memberinya kepada pemilik.
__ADS_1