
Malini mengembangkan senyumnya saat melihat Mbah Sumi berdiri di depan pintu kontrakan menyambut kedatangannya.
hampir setiap hari Mbah Sumi melakukan hal itu, menunggu kedatangan cucunya yang baru kembali dari bekerja.
tetapi bedanya hari ini Malini tidak pergi bekerja ia Sengaja meminta izin tidak masuk kerja karena hari ini jadwalnya untuk memeriksakan kandungannya di PKM.
"Bagaimana kondisi bayi kamu neng??." tanya Mbah Sumi sebelum beranjak ke dapur untuk membuat segelas susu khusus ibu hamil untuk Malini.
"Alhamdulillah nek kata dokter kondisi Malini dan anak di dalam kandungan Malini dalam keadaan sehat." meski saat ini Malini berada di ruang tamu namun masih terdengar oleh Mbah Sumi yang kini tengah membuat susu di dapur, karena ukuran kontrakan mereka yang hanya berukuran lima kali tujuh persegi.
Setelah selesai membuat susu Mbah Sumi kembali ke depan dengan membawa nampan yang berisi segelas susu di tangannya, kemudian memberikannya kepada Malini.
"Terima kasih nek." kedua mata Malini nampak berkaca kaca karena terharu saat melihat begitu besar kasih sayang Mbah Sumi untuknya.
"Ada apa neng, kenapa wajahmu sedih??." tanya Mbah Sumi saat melihat perubahan di wajah Malini yang kini nampak sendu.
Dengan cepat Malini menggeleng sebagai jawaban jika dirinya baik baik saja, namun berbeda dengan air matanya yang kini mulai turun tanpa aba aba.
"Kenapa kamu menangis neng??." Mbah Sumi jadi cemas saat melihat Malini menitihkan air mata. kini tubuh Renta Mbah Sumi memeluk tubuh Malini dengan penuh kasih sayang.
"Jangan menangis lagi !!! neng tidak sendiri ada nenek di sini, selama tuhan masih mengizinkan nenek untuk bisa bernapas selama itu juga nenek akan terus berada di sini neng." suasana haru pun tercipta di ruangan tersebut kala Mbah Sumi memeluk tubuh Malini dengan penuh kasih sayang seraya mengusap lembut rambut panjang Malini.
"Terima kasih atas semua yang telah nenek lakukan untuk Malini dan maafkan jika sampai saat ini Malini belum bisa membahagiakan nenek." ucap Malini di sela tangis haru yang kini dirasakannya.
Beberapa saat kemudian Mbah Sumi kembali teringat akan tawaran Ria kemarin pada cucunya.
"Sebaiknya kamu terima saja tawaran Ria kemarin!!! akan lebih baik kamu bekerja di pabrik konveksi daripada harus bekerja sebagai cleaning service karena itu cukup berat untuk wanita yang sedang hamil neng. walaupun jam kerjanya lebih lama tetapi pekerjaannya tidak semelelahkan menjadi seorang cleaning service." Malini Nampak diam setelah mendengar usulan neneknya karena apa yang di katakan neneknya tidak salah.
__ADS_1
"Baiklah nek, nanti Malini akan menghubungi Ria dan mengatakan jika Malini bersedia menerima tawarannya kemarin." setelah menimbang nimbang akhirnya Malini memutuskan untuk menerima usulan Mbah Sumi.
Sore harinya Ria datang ke kontrakan Malini karena tadi sahabatnya itu menghubunginya dan menyampaikan jika ia bersedia menerima tawarannya kemarin.
Ria dan Malini memang berada di kota yang sama atau lebih tepatnya Malini yang ikut merantau ke kampung halaman Ria di Surabaya.
"Aku senang Malini, kamu menerima tawaranku. aku yakin untuk wanita sepintar kamu tidak akan di sia siakan sama bos, bahkan mungkin bos akan mengangkat kamu sebagai pengawas atau bahkan lebih dari sekedar pengawas karyawan." ucap Ria dengan angan penuh sementara Malini hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu yang terlalu membanggakan dirinya.
"BTW, apa ayah dari anakmu tidak pernah mencoba menghubungi kamu Mal??." pertanyaan Ria membuat raut wajah Malini berubah sendu.
"Mana punya waktu tuan Pradipta untuk mencoba menghubungi aku, mungkin saat ini tuan Pradipta tengah berbahagia dengan istrinya." entah mengapa membayangkan ayah dari bayinya bahagia bersama istrinya membuat hati Malini terasa sesak seolah ada bongkahan batu besar yang kini menghimpit dadanya, padahal hal itu sudah sewajarnya jika seorang suami hidup bahagia bersama istrinya.
Ria yang kini melihat wajah Malini berubah sendu membuat Ria seolah menyesali pertanyaannya tadi.
"Sudahlah tidak perlu di pikirkan !!! wanita secantik kamu pasti tidak sedikit laki-laki yang suka padamu, kenapa harus membuang buang waktu untuk memikirkan seseorang yang sama sekali tidak peduli dengan kita." ucapan Ria membuat Malini tersenyum miris seolah membenarkan ucapan sahabatnya itu, bukan perkataan yang mengatakan dirinya cantik akan tetapi ucapan Ria yang mengatakan seseorang yang tidak peduli pada kita.
Bahkan kehadiran anak di dalam kandungannya saat ini diakibatkan pria itu yang menyangka dirinya adalah sang istri. Malini kembali tersenyum miris mengingat takdir hidup yang harus ia jalani, takdir hidup yang seolah memaksa dirinya untuk selalu kuat dalam hal apapun termasuk kuat dalam menghadapi cacian dan juga hinaan karena mengandung tanpa seorang suami.
***
Di kota yang berbeda, Gama baru saja tiba di sebuah restoran di mana ia telah membuat janji dengan sahabat lamanya saat di luar negeri ketika kuliah dulu.
Saat berada di depan pintu masuk restoran, Gama menyapu pandangan ke seisi ruangan untuk mencari keberadaan sahabat itu.
Gama tersenyum saat melihat seorang pria yang tengah menempati sebuah meja mengangkat tangan ke udara seolah ingin memperlihatkan keberadaannya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu tuan Kheano putra admaja." seloroh Gama sengaja memanggil sahabat lamanya dengan nama lengkap pria itu.
__ADS_1
"CK...jadi kau mengajakku ke sini hanya untuk meledekku??." dengan wajah di buat sebal Kheano berucap.
"Katakan, angin apa yang membuatmu mengajakku bertemu di sini??? bahkan setelah beberapa tahun kembali ke tanah air baru kali kau punya waktu bertemu denganku." ucap Khe dengan wajah dongkol.
"Come on khe...tawari minum atau apa gitu."
"Apa kau sedang punya masalah dengan seseorang atau semacamnya sehingga kau memintaku untuk membantumu???." cecar Kheano seolah skakmat dan Gama pun tak bisa mengelak.
"Bagaimana kau bisa tahu tujuanku mengajakmu bertemu??" ucap Gama saat Kheano dengan mudahnya menebak maksud dan tujuannya mengajak pria itu bertemu.
"Mana mungkin seorang Gamara Pradipta yang merupakan salah satu pengusaha sukses di tanah air mengajakku bertemu karena ingin meminjam uang." kelakar Kheano sehingga membuat Gama kembali tersenyum.
Setiap kali bertemu sikap dua orang papa muda itu memang sangat mengkhawatirkan, omongan ngelantur terkadang masih menghiasi obrolan di antara keduanya.
Setelah beberapa saat kemudian Kheano dan Gama pun terlibat pembicaraan serius.
"Saat menikah kau bahkan tidak mengundangku setelah kau bermasalah dengan istrimu baru kau ingat padaku." seloroh Kheano sehingga membuat Gama tak bisa berkata-kata.
"Apa kamu yakin jika Istrimu bermain api di belakangmu???."
"Aku curiga begitu, tapi aku tidak memiliki bukti untuk itu." jawab Gama teringat akan lukisan abstrak di tubuh istrinya, namun begitu Gama tak mengatakan secara gamblang tentang itu semua karena bagaimanapun saat ini Malina masih berstatus istrinya.
"Baiklah, aku akan mencoba membantumu tapi ingat jangan melakukan sesuatu yang membuat istrimu sampai merasa curiga!!!.". pesan Kheano sebelum pembicaraan mereka harus terhenti saat seorang wanita yang membawa serta putrinya menghampiri meja mereka.
"Kenalkan...ini istriku, Alisya dan ini putriku, Kesya." Gama mengangguk ramah pada istri dari sahabatnya itu sebelum memberi cubitan gemas di pipi gadis berusia enam tahun tersebut.
"Sayang, kenalkan ini sahabat kakak sewaktu di Amerika dulu." tutur Kheano memperkenalkan Gama pada istrinya. Alisya pun membalas anggukan Gama dengan senyum kecil, sebelum ikut bergabung bersama suaminya.
__ADS_1
Tadi Kheano datang bersama sang istri dan juga putrinya sedangkan putranya lebih memilih ikut dengan kakeknya. di sebabkan Kesya kebelet pipis akhirnya Alisya pun mengantar putrinya ke toilet dan meninggalkan suaminya tetap menunggu di meja untuk menunggu kedatangan sahabatnya.