
Satu jam berselang, seorang dokter baru saja keluar dari kamar operasi. Malini menghampiri dokter untuk menanyakan kondisi putranya, begitu pun dengan Gama.
Mendengar dokter mengatakan jika tindakan operasi pada pasien berjalan dengan lancar, membuat Malini tak hentinya mengucap syukur.
"Kapan anak saya akan siuman dokter??.". Tanya Malini dengan perasaan kembali cemas.
"Untuk itu kami belum bisa memastikan Nyonya, sebaiknya kita sama sama berdoa agar pasien siuman secepatnya!!." pesan dokter, sebelum kemudian pamit kembali ke ruangan staf dokter.
Dari balik jendela kaca Malini menyaksikan wajah putranya yang kini berbaring tak sadarkan diri di ruang ICU. setelah mendapat tindakan operasi yang terbilang cukup besar, dokter lantas memindahkan Fay ke ruang ICU untuk memantau secara intensif perkembangan pasien.
Rasanya Malini tidak kuat Harus menyaksikan buah hatinya dalam kondisi seperti ini, seandainya bisa ia lebih memilih dirinya yang berada di posisi Fay saat ini.
"Sekarang sudah jam delapan malam, kau bahkan belum makan sama sekali sejak siang tadi." mendengar suara Gama yang tiba-tiba berada di sampingnya membuat Malini sontak mengusap wajahnya yang basah karena air mata.
"Bagaimana saya bisa makan di saat putraku terbaring tak sadarkan diri di dalam sana." jawaban Malini membuat Gama hanya bisa menghela napas dalam.
"Saya mengerti dengan perasaanmu, tetapi bukan berarti kau tidak mau mengisi perutmu barang sedikit saja. Bagaimana jika nantinya kau sakit, siapa yang akan menjaga Fay??." Gama mencoba mempengaruhi Malini agar bersedia makan walau hanya sedikit saja.
Malini hanya diam tak berminat menjawab ucapan Gama.
*
Tidak terasa sudah satu Minggu berlalu, selama satu Minggu itu pula Gama tak meninggalkan rumah sakit, namun begitu Fay belum juga menunjukkan tanda tanda akan siuman. Bahkan Untuk pakaian ganti saja Gama hanya meminta anak buahnya untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
Di tepi tempat tidur rumah sakit Malini duduk di sebuah kursi seraya menggenggam tangan putranya, berharap putranya segera siuman. siang dan malam dilewati Malini dengan berdoa untuk kesembuhan Fay, dan sepertinya hari ini Tuhan mengabulkan doanya.
Malini dibuat terkesiap ketika merasakan tangan mungil di dalam genggamannya mulia melakukan pergerakan, meskipun masih sangat lemah.
"Fay."
"Kamu sudah sadar, nak??." Malini berdiri dari duduknya hendak menekan tombol yang terhubung ke ruangan dokter ketika melihat Fay mulai membuka matanya pelan.
Sementara Gama yang tengah menatap layar ponselnya guna membalas pesan dari Sekretarisnya sontak saja beralih pada Malini, sebelum kemudian beranjak mendekat ke arah tempat tidur Fay.
__ADS_1
Tak berselang lama seorang dokter yang di temani oleh beberapa perawat tiba di ruangan ICU, untuk memeriksa kondisi Fay yang baru saja siuman.
Melihat kedatangan dokter, baik Malini maupun Gama beranjak untuk memberi ruang kepada tim medis untuk melaksanakan tugasnya.
"Ini sungguh keajaiban Nyonya, putra anda siuman lebih cepat. Biasanya pasien yang mengalami kasus seperti ini tidak kurang dari sebulan baru menunjukkan tanda tanda akan siuman." terang dokter berdasarkan kasus yang pernah terjadi sebelum sebelumnya.
Mendengar penjelasan dokter, Malini tidak hentinya mengucap syukur akan kebaikan tuhan yang telah mengabulkan doanya.
"Mama.". Kalimat pertama yang dilontarkan Fay.
"Iya Fay, mama di sini, sayang." Malini kembali mendekat pada putranya kemudian menggenggam tangan Fay dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya terulur mengusap lembut puncak kepala putranya.
"Om ganteng." kini pandangan Fay beralih pada sosok pria yang kini berdiri di samping Malini.
"Iya nak." sahut Gama. Sebagai seorang ayah tentunya perih rasanya ketika seorang anak memanggil ayahnya dengan sebutan Om, sekiranya hal itulah yang kini dirasakan Gamara Pradipta. namun begitu Gama tetap bersyukur karena tuhan masih memberinya kesempatan untuk bisa melihat putranya membuka mata.
*
Gama yang sudah kembali bekerja semenjak Fay siuman kini baru saja kembali dari kantor.
"Kemana mama kamu, Fay??." tanya Gama ketika mendapati Fay seorang diri di kamar perawatannya.
"Mama sedang berada di kamar mandi, Om ganteng." jawab Fay seraya menunjuk ke arah kamar mandi dengan telunjuknya.
Masih dengan pakaian kerjanya Gama mendekat pada Fay.
"Fay, apa boleh Om meminta sesuatu Sama kamu??." Gama yang telah duduk di tepi tempat tidur seraya menggenggam tangan mungil Fay tampak berujar dengan nada yang terdengar begitu lembut, sehingga membuat Fay bisa merasakan figur seorang ayah darinya. Meski kenyataannya Gama memang adalah ayah kandungnya, namun tentunya Fay sendiri tak tahu menahu tentang hal itu.
Fay membalas genggaman tangan Gama.
"Om ganteng sudah memiliki segalanya, lalu om Ganteng ingin meminta apa sama Fay??? Fay ini tidak punya apa apa Loh, om Ganteng, bahkan seorang papa saja Fay tidak punya." ungkapan hati Fay membuat rasa bersalah di hati Gama kian memuncak.
"Katakan om ganteng !! Apa yang om ganteng inginkan dari Fay??." lanjut Fay dengan menatap wajah Gama dengan tatapannya yang damai.
__ADS_1
"Bisakah mulai saat ini Fay tidak memanggil om dengan sebutan Om, lagi!! Om ingin Fay memanggil Om dengan sebutan papa!!." pinta Gama dengan raut wajah penuh harap.
"Tapi kenapa Om??." tanya Fay. Sesungguhnya Fay juga masih mengingat bagaimana nantinya perasaan Malini jika tahu dirinya memanggil pria lain dengan sebutan papa.
"Karena sesungguhnya aku adalah ayahmu, Fay, dan kau adalah putraku." tentu saja kalimat itu hanya terucap di dalam hati Gama.
"Om." Fay lantas melambaikan tangannya di depan wajah Gama ketika melihat Gama hanya diam seperti sedang melamun.
"Karena papa menginginkan Fay jadi anak papa!!." sahut Gama.
Sejenak Fay terlihat diam, seperti sedang berpikir.
"Baiklah Om ganteng, mulai hari ini Fay akan memanggil Om Ganteng dengan sebutan, papa." tutur Fay setelahnya.
"Papa." Fay mengulang satu kosa kata yang membuat sudut Gama tampak basah, untungnya tak sampai terlihat oleh Fay karena dengan sigap Gama mengusap sudut matanya.
Ceklek.
Pintu kamar mandi baru saja terbuka dan menampilkan Malini yang baru saja keluar dari dalamnya. Ia berjalan ke arah nakas hendak menyuapi Fay, namun ketika melihat ternyata tempat makan Fay sudah tampak kosong.
Malini beralih memandang putranya.
"Kamu sudah makan, nak??." tanya Malini ragu, mengingat salah satu tangan Fay masih menempel selang infus maka sangat sulit bagi Fay untuk bisa makan sendiri.
Fay menggeleng.
"Fay di suap sama papa." kalimat Fay membuat Malini tersentak.
"Papa??".ulang Malini.
"Saya baru saja selesai menyuapi Fay." kini Gama yang menjawab.
Cukup lama Malini menatap Gama dengan tatapan tak suka sebelum kemudian mengajak Gama bicara di luar.
__ADS_1