Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Hamil.


__ADS_3

Sadar jika semua perlakuan manis Gama Pradipta sama sekali bukan ditujukan untuk dirinya, namun Malini tetap merasa bahagia pernah masuk ke dalam keluarga Pradipta, meski semua itu harus membuatnya merasakan dinginnya jeruji besi.


Malini yang kini tengah berdiri seraya menggenggam besi penjara merasa pusing, beberapa gadis itu mencoba mengedipkan matanya berharap rasa pusing itu segera sirna. namun sayangnya, pusing yang di rasakan gadis itu terasa semakin menjadi. sehingga membuat Malini kehilangan kesadaran.


"Brug." sipir yang bertugas segera menghampiri ketika mendengar Malini terjerembab ke lantai.


Pihak lapas kemudian membawa Malini ke rumah sakit dengan pengawalan yang ketat, layaknya penjahat kelas kakap. mungkin begitulah sekiranya gambaran orang kecil saat mendapat hukuman, terasa begitu tajam dan begitu pun sebaliknya.


Beberapa saat setelah mendapatkan penanganan dari dokter, Malini pun segera sadarkan diri.


Saat pertama kali membuka mata, yang pertama kali di lihat gadis itu adalah beberapa sipir penjara yang di tugaskan untuk mengawal tahanan.


"Di mana aku sekarang, apa yang terjadi denganku Bu??." Dengan suara yang masih terdengar lemah Malini bertanya pada salah satu sipir wanita.


"Biarkan dokter yang akan menjelaskan padamu Malini." sahut Bu sipil profesional, meski sebagai perempuan ia bisa ikut merasakan kepedihan yang kini di rasakan gadis itu. karena selama menjadi tahanan Malini cukup dekat dan baik padanya.


Tidak lama kemudian, seorang dokter memasuki ruangan perawatan Malini.


"Selamat siang Nona." ~sapa dokter


"Selamat siang dokter." Malini menjawab.


"Begini Nona, anda mangalami hipotensi sehingga membuat anda pingsan. tapi itu biasa terjadi di awal kehamilan." Dokter mulai menerangkan tentang kondisi pasien, sementara Malini sendiri mencoba menelaah kata demi kata yang baru saja di lontarkan dokter tersebut.


Air mata pun kini beranak sungai di pelupuk mata Malini, gadis itu hanya bisa diam mematung, berharap semua itu hanyalah mimpi.


"Aku hamil dok??." kembali tanya Malini meyakinkan diri sendiri dan dokter tersebut pun mengiyakan ucapannya.


"Benar Nyonya, usia kandungan anda saat ini telah memasuki usia lima Minggu." lanjut terang dokter, sementara Malini nampak tersenyum getir mengingat takdir yang harus di jalaninya.

__ADS_1


Gadis itu tak banyak memberikan reaksi, Malini hanya diam nampak seperti orang yang sedang syok. tetapi air mata terus berlinang begitu saja, membasahi wajah cantiknya. sehingga membuat salah satu Sipir yang dekat dengan Malini, segera memeluk tubuh gadis itu, seperti ingin memberikan semangat agar Malini tidak putus asa.


"Sabar Malini, kamu harus kuat!! ibu percaya kamu pasti bisa melalui ini semua." mendengar nasehat wanita itu membuat Malini memejamkan matanya sejenak, layaknya tengah merasakan pelukan kasih sayang dari seorang kakak.


Lisa, sipir wanita tersebut bernama Lisa, semenjak Malini berada di tahanan Lisa selalu memperlakukan Malini dengan baik, Mungkin karena Malini anaknya sopan. atau mungkin karena Lisa sempat mendengar kabar yang beredar, tentang kasus yang tengah menjerat Malini. seorang gadis yang sengaja di jebak demi memuaskan ambisi seseorang, kini bahkan harus mendekam di balik jeruji besi dalam keadaan hamil.


🌹


🌹


🌹


Di perusahaan Pradipta Group.


Gama nampak tengah memarahi beberapa pegawainya, karena tak becus membuat laporan tentang beberapa perusahaan anak cabang yang berada di luar ibu kota.


"Maaf tuan." beberapa orang pegawai nampak menunduk, tak berani menatap wajah atasan mereka, sebelum kemudian Mahardika memberi kode dengan sorot mata, sebaiknya mereka meninggalkan ruangan tersebut agar tidak semakin memancing amarah tuan Gama.


"Mungkin terjadinya kesalahan akibat pekerjaan tersebut bukanlah tugas yang biasa mereka kerjakan tuan." secara tidak langsung Mahardika mengingatkan Gama pada sosok wanita yang selama ini menyamar menjadi sang istri yaitu Malini.


"Saya dengar Nona Malina, maksud saya gadis itu tengah di rawat di rumah sakit." Ujar Mahardika yang siang tadi mendapat kabar dari salah satu rekannya yang bertugas sebagai sipir.


"Cari tahu di rumah sakit mana Gadis itu di rawat, dan tanyakan pada dokter yang merawatnya, apakah gadis itu benar benar sakit atau hanya berpura pura sakit untuk menghindari hukumannya!!." Titah Gama, tanpa sedikitpun pandangan pria itu beralih dari layar laptopnya.


"Baik tuan." Mahardika meraih ponselnya dari saku jas miliknya, kemudian melakukan panggilan melalui aplikasi hijau miliknya.


Setelah panggilannya tersambung Mahardika kemudian berbincang tak lama dengan seseorang yang entah siapa, hanya pria itu yang tahu. usia mematikan sambungan telepon, Mahardika kembali melakukan panggilan ke nomor kontak yang berbeda.


"Halo." ~Mahardika.

__ADS_1


"Apakah benar pasien bernama Malini Ayunda sedang di rawat di rumah sakit tempat anda bertugas??." tanya Mahardika melalui sambungan telepon.


Entah apa yang di bicarakan seseorang di seberang telepon pada pria itu, yang jelas raut wajah pria itu nampak begitu serius.


"Apa kamu yakin??." tanya Mahardika menyakinkan yang entah apalah itu, sebelum pria itu mematikan sambungan teleponnya dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jas miliknya.


"Gadis itu memang sedang berada di rumah sakit tuan." kata Mahardika menyampaikan berita yang baru saja di dapatkan kepada Gama.


"Dan gadis itu tidak sedang menderita suatu penyakit." lanjut terang Mahardika.


Gama yang sejak tadi mendengar penjelasan Asisten pribadinya tersebut nampak tersenyum getir, masih dengan posisi menatap ke layar laptop miliknya.


"Sudah kuduga gadis itu memang sedang menghindari hukumannya, apa dia pikir dengan berpura-pura sakit dia akan bebas dari hukuman, saya rasa gadis itu terlaku banyak membaca novel." Ujar Gama di sisa senyum getirnya.


"Gadis itu memang tidak menderita penyakit tuan, tetapi_" Mahardika nampak ragu melanjutkan kalimatnya.


"Tetapi gadis itu di rawat di rumah sakit, karena sedang hamil tuan." lanjut Mahardika dengan hati hati.


Sontak Gama memandang ke arah Mahardika, seolah bertanya tentang kebenaran dari ucapan pria itu.


"Dokter yang merawatnya sendiri yang memberi penjelasan pada saya tuan." Meski tak bertanya secara lisan, namun Mahardika bisa menebak dari sorot mata Gama.


"Saya sudah pernah tidur dengannya, tetapi saya melakukannya karena saya berpikir dia adalah istriku." kata Gama, seperti sedang memberikan penjelasan pada Mahardika, padahal sebagai Majikan dari pria itu, Gama sama sekali tidak perlu memberi penjelasan.


"Saya mengatakannya pada kamu, karena saya tidak ingin kamu berpikir yang tidak tidak tentang saya." lanjut ujar Gama,, yang kini nampak mengacak rambutnya Frustrasi.


"Maaf jika saya sudah lancang tuan, tetapi apapun alasan yang anda katakan, bayi yang ada di dalam kandungan gadis itu tetaplah darah daging anda. sekali lagi saya mohon maaf atas kelancangan mulut saya tuan." Mahardika memilih menunduk tak menatap wajah Gama, secara tidak langsung pria itu sedikit memberi pembelaan pada Malini.


"Antarkan saya ke rumah sakit tempatnya di rawat!!." titah Gama dan Mahardika nampak mengangguk patuh seraya mulai beranjak.

__ADS_1


__ADS_2