
Setibanya di bandara internasional Juanda, Kheano di jemput oleh salah satu staf pabrik.
Kheano meminta bagian staf yang menjemputnya membawanya langsung ke pabrik tanpa mampir ke hotel tempatnya menginap terlebih dahulu.
"Apa semua karyawan pabrik mengetahui kedatangan saya???" tanya Kheano pada pria itu seraya mengetik pesan untuk istrinya guna memberi kabar jika dirinya telah tiba di kota Surabaya dengan selamat.
"Sepertinya tidak tuan, karena pihak pabrik memang sengaja merahasiakan kedatangan anda." jawab pria yang berusia sekitar dua puluh tujuh tahun tersebut.
"Bagus!!." tutur Kheano seraya memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya usai mengirim pesan pada Istrinya,Alisya.
Karena jarak dari bandara ke lokasi pabrik cukup jauh sehingga memakan waktu sekitar dua jam lebih untuk tiba di tujuan.
Setibanya kawasan pabrik, Kheano tak langsung turun dari mobil saat menyaksikan ada seorang wanita yang tengah di marahi oleh seorang pria bertubuh gembul di area parkiran pabrik.
"Siapa pria itu??." dari balik kaca mobil Kheano bertanya saat menyaksikan adegan kurang pantas di lakukan seorang pria pada seorang wanita, pria gembul itu nampak mencaci maki si wanita. karena posisi wanita itu membelakangi arah Kheano sehingga ia tidak dapat melihat wajah wanita itu.
"Pria itu merupakan salah satu karyawan yang bertugas sebagai mandor di pabrik tuan, sepertinya pria itu sedang memarahi karyawati karena datang terlambat hari ini." jawab pria yang bernama Rahman tersebut pada Kheano.
"Apa wanita itu sering terlambat seperti ini??." tanya Kheano sambil terus memperhatikan sikap pria itu terhadap seorang karyawati yang nampak menunduk seolah tak berani menatap pria itu.
"Tidak sering tuan, hanya sebulan sekali saat jadwal pemeriksaan kandungannya saja wanita itu biasanya datang terlambat." jelas Rahman dan itu sontak membuat kening Kheano di buat berkerut.
__ADS_1
"Wanita itu sedang hamil??." tanya Kheano dan Rahman pun mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa dia harus bekerja di saat sedang hamil, apa suaminya tidak bekerja sehingga wanita itu harus banting tulang di saat sedang hamil seperti ini??." tanya Kheano tidak habis pikir ada seorang suami yang tega melihat istrinya harus bekerja dalam kondisi hamil sekalipun.
"Maaf tuan, kalau untuk itu saya juga tidak tahu pasti, hanya yang saya dengar dari karyawati yang lain wanita itu tidak memiliki seorang suami." jawab Rahman seadanya sesuai dengan kabar yang beredar di kalangan pekerja yang sering menjadikan Malini sebagai bahan pergunjingan.
Kheano yang mendengarnya tiba tiba teringat akan istrinya yang dulu sempat mengandung Kesya tanpa dirinya di sisi wanita itu, sehingga membuat Kheano merasa iba pada wanita yang kini masih menerima amukan dari mandor di hadapannya tersebut.
"Katakan pada semua mandor yang bekerja di pabrik ini, jangan pernah berbuat kasar pada semua karyawati yang bekerja di pabrik ini terlebih jika mereka tengah mengandung." tegas Kheano sebelum kemudian turun dari mobil dengan sendirinya tanpa menunggu Rahma membukakan pintu lebih dulu.
"Baik tuan." dengan gelagapan Rahman segera turun dari mobil menyusul langkah Kheano.
"Setiap karyawati wanita yang sedang sakit ataupun tengah mengandung berikan waktu untuk bisa ke dokter dan jangan lupa untuk memastikan asuransi kepada semua pegawai pabrik terlaksana dengan baik dan benar." titah Kheano seraya melangkah memasuki gedung pabrik yang memiliki luas sekitar satu hektar tersebut.
Di waktu dan tempat yang sama namun di ruangan yang berbeda, Ria menghampiri Malini yang baru saja tiba dengan wajah seperti habis menangis.
"Ada apa denganmu?? apa pak Darwin memarahimu lagi karena datang terlambat??." tanya Ria dengan wajah khawatir.
"Sudahlah tidak perlu di bahas, lagi pula aku yang salah karena datang terlambat lagi hari ini." jawab Malini sekenanya, sebelum memulai kegiatannya bekerja sebagai karyawati di pabrik bagian pembuatan pakaian khusus wanita tersebut.
"Aku tahu memang kamu salah karena datang terlambat tetapi setidaknya sebagai seorang pria yang sudah berkeluarga setidaknya pak Darwin bisa mengerti jika kamu terlambat karena harus memeriksakan kandunganmu terlebih dahulu hari ini." ucap Ria merasa kesal dengan tindakan mandor yang menurutnya tidak punya hati nurani.
__ADS_1
"Oh astaga...aku sampai lupa, tadi pagi aku mampir ke minimarket kebetulan melewati rak susu buat ibu hamil, aku jadi ingat sama kamu." Ria mengambil sebuah kresek berisikan beberapa dos susu ibu hamil kemudian menyerahkannya pada Malini.
"Kamu tidak perlu repot-repot seperti ini Ria, hampir setiap Minggu kamu membelikan semua ini padaku dan alasan kamu selalu saja bilang kebetulan." tutur Malini sungkan, karena selama ini Ria sudah begitu banyak membantunya. bahkan tak jarang Ria memberikan beberapa jumlah uang untuknya demi menambah biaya untuk pemeriksaan ke dokter kandungan.
Meski Malini terus menolak tetapi Ria tetap kekeuh ingin meringankan beban sahabatnya itu, Ria tahu betul selain Mbah Sumi, Malini sudah tidak memiliki sanak saudara yang lain semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia.
"Jangan pernah merasa sungkan padaku Mal, kita ini sudah bersahabat sejak lama. aku tidak mungkin tega melihat sahabatku berjuang sendirian." Mendengar ketulusan Ria padanya membuat Malini merasa sangat bersyukur bisa memiliki sahabat seperti Ria.
Malini memeluk Ria. " terima kasih atas semuanya, maaf jika selama ini aku sudah banyak menyusahkan kamu Ri." tutur Malini seraya menggenggam kedua tangan Ria.
"Tidak perlu berterima kasih...!!! sebaiknya kita segera lanjut bekerja, jika tidak kita pasti akan mendapat amukan lagi dari pak Darwin." jawab Ria yang diakhir kalimatnya terlihat tersenyum karena teringat wajah lucu pak Darwin jika sedang marah marah ketika mereka melakukan kesalahan. dan Malini pun ikut tersenyum sebelum kemudian mengiyakan ucapan Ria dengan sebuah anggukan.
Tanpa terasa waktu terus berlalu kini waktu telah menunjukkan pukul lima sore sudah waktunya para karyawan dan karyawati pabrik kembali ke rumah masing masing.
Malini biasanya kembali ke kontrakan dengan menumpangi sebuah bis, walaupun Ria selalu menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang namun Malini menolak dengan lembut mengingat rumah orang tua Ria tidak searah dengan kontrakannya.
Cukup lama Malini menunggu di halte barulah sebuah bus yang akan di tumpanginya tiba.
Untungnya Malini masih kebagian tempat duduk, jika tidak bisa di pastikan lelahnya semakin bertambah karena harus berdiri hingga tiba di tujuan.
"Haaahhh...." Malini menghela napas lega ketika mulai menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi penumpang.
__ADS_1
"Kamu harus kuat Malini...harus....!!!! hampir setiap hari Malini berucap dalam hati demikian, untuk sekedar menguatkan dirinya akan kerasnya kehidupan ini apalagi sebentar lagi ia akan menjadi single parents setelah anaknya lahir.