
"Mamah." Fay yang menyadari keberadaan Malini pun meminta turun dari gendongan Gama.
Fay pun berlari ke arah Malini dengan senyum manis di wajahnya.
"Kamu dari mana saja sayang ??" Malini yang telah memposisikan diri dengan tinggi badan Fay pun memeluk erat tubuh putranya dengan berlinang air mata, Sampai membuat Ria semakin merasa bersalah karena mengizinkannya Gama membawa Fay.
"Mama kenapa menangis??." Fay mengusap wajah Malini setelah pelukan mereka yang cukup lama akhirnya terlepas.
"Mama tidak apa apa sayang, mama hanya mencemaskan keberadaan kamu nak."
Setelahnya pandangan Malini pun tertuju pada sosok pria yang kini mengenakan stelan jas lengkapnya. Kini pandangan keduanya pun bertemu.
"Lain kali anda harus memastikan lebih dulu keberadaan anak anda nyonya, jika anak anda bersama dengan ayahnya sebaiknya anda tidak perlu sampai membuat laporan po_lisi" ucap Petugas yang mengira jika Gama dan Fay merupakan ayah dan anak mengingat raut wajah keduanya yang begitu mirip.
Tentunya hal itu membuat pandangan Gama dan Malini sontak terputus karena kompak menoleh ke arah petugas tersebut.
"Om polisi salah, Om ganteng bukan papanya Fay, papanya Fay sedang sibuk bekerja tetapi kata mama sebentar lagi papa pasti akan datang untuk menemui Fay. Iyakan mah..."
Bukan Malini ataupun Gama yang menjawab melainkan si kecil Fay dengan polosnya menjawab sesuai dengan jawaban yang selama ini di berikan oleh sang mama padanya setiap kali dirinya mempertanyakan tentang sosok ayahnya.
Dengan menahan tangis Malini menjawab pertanyaan putranya dengan sebuah anggukan kecil.
Jujur, saat ini rasanya begitu sakit saat mendengar putranya berkata demikian. Dari sorot mata putranya, Malini bisa melihat sebuah harapan di sana. Harapan suatu saat akan bisa bertemu dengan sosok pria yang akan di panggilnya dengan sebutan papa.
__ADS_1
Sedangkan Gama Masih berdiri terpaku sembari menatap putranya yang kini tengah memeluk sosok wanita yang telah berjuang melahirkan dirinya ke dunia ini. Seorang wanita yang terpaksa mengandung benihnya akibat keserakahan seseorang bernama Malina.
"Aku sudah membuatmu sampai menderita seperti ini Malini, maafkan aku." batin Gama kini di penuhi dengan penyesalan yang begitu mendalam.
Meskipun pada kenyataan dirinya dan juga Malini merupakan korban dari keserakahan dari mantan istrinya, Malina.
Merasa tak perlu melanjutkan laporan polisi karena kini putranya telah di temukan Malini pun segera meninggalkan kantor polisi. Di dalam benaknya, Malini merasa kecewa pada sikap Ria namun semua itu tidak sampai membuat Malini membenci sosok Ria yang telah begitu baik padanya dan juga putranya.
Tanpa sepatah katapun Malini meninggalkan Gama yang masih diam terpaku sembari menatap kepergiannya.
***
"Maafkan aku Malini, aku bersalah padamu. Maafkan atas kelancanganku Malini."
"Kau boleh menghukumku apa saja Mal, tetapi aku mohon jangan tinggalkan rumah ini." Ria bahkan sampai berlutut di hadapan Malini.
"Apa yang lakukan Ri, jangan seperti itu!!!." Malini membantu ria untuk kembali berdiri dan kini keduanya telah duduk di sisi tempat tidur.
"Sejujurnya sebagai manusia biasa aku merasa kecewa padamu, tetapi sayangnya sebagai seorang sahabat aku tidak bisa marah apalagi benci padamu Ria, kau terlalu baik padaku. satu kesalahan yang kau buat tidak akan mampu menghapus semua kebaikan yang pernah kau berikan padaku dan Fay. Aku yakin kau pasti melakukan semua ini karena ada alasannya, tetapi selanjutnya aku Mohon padamu Ria jangan pernah lagi mempertemukan putraku dengan pria itu karena aku tidak ingin istrinya sampai menyakiti putraku."
Ria yang tengah menangis pun spontan mangangguk pasti sembari mengangkat kedua jarinya ke udara. "Aku janji Malini, aku tidak akan melakukan hal itu lagi."
Malini yang melihat penyesalan serta kesungguhan di wajah Ria pun memeluk tubuh sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menjaga keselamatan putraku, Ria. Aku tidak ingin nyonya Malina sampai menyakiti Fay jika dia tahu Fay adalah putraku dan tuan Gama." pecah sudah tangis Malini kala memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Selain itu aku juga tidak ingin merusak rumah tangga tuan Gama dan istri tercintanya." lanjut Malina setelah pelukan keduanya terlepas.
"Aku tidak menyangka setelah meninggalkan ibukota, aku justru kembali bertemu dengan tuan di kota ini. Apa aku harus pergi meninggalkan kota ini??." Malini yang kini berbaring dengan posisi menyamping agar bisa memandang wajah putranya yang terlihat begitu tenteram saat terlelap.
Sampai beberapa menit kemudian Malini di kejutkan dengan Fay yang tengah mengigau dalam tidurnya. bocah lima tahun tersebut mengigau dengan memanggil kata yang menurut Malini sangat keramat di telinganya. "papa".
"Bahkan di bawah alam bawah sadarnya pun putraku begitu menginginkan papanya." gumam Malini. Tanpa sadar buliran bening kembali membasahi sudut mata indahnya.
***
"Pantas saja kata Kheano wajah Fay sangat mirip dengan wajahku."
Gama yang kini berdiri di balkon apartemen terdengar bergumam. bahkan pria itu terlihat masih mengenakan pakaian kerjanya yang dikenakannya pagi tadi.
"Apakah Malini bersedia menerima kehadiranku di antara dirinya dan Fay??." kembali Gumaman terdengar dari mulut Gama.
"Bagaimana jika dia menolak kehadiranku dan justru membawa Fay semakin jauh dariku??." kini Gama kepikiran akan kemungkinan yang mungkin saja akan terjadi ke depannya.
"Apa aku egois jika menginginkanmu di sisiku Malini??." Gama terlihat mengusap wajahnya kasar. Begitu banyak yang kini melintas di benak dan pikiran Gama tentang sosok Malini saat ini.
Rasa bersalah semakin menguak di benak Gama kala teringat tangisan Malini dulu permohonan wanita itu dulu pada dirinya.
__ADS_1