Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Perasaan Aneh.


__ADS_3

"Maaf, sudah membuat anda menunggu tuan Leo Kusuma." ucap Gama merasa tak enak pada rekan bisnisnya tersebut karena telah tiba lebih dulu di bandara.


"Tidak masalah tuan Gama, bukan anda yang terlambat tetapi saya yang datang terlalu awal." jawab Leo seadanya.


Kini keduanya di temani oleh asisten pribadi masing-masing berjalan menuju terminal keberangkatan.


Ketika tiba di kota tujuan Gama dan Leo serta dua orang pria yang merupakan asisten pribadi keduanya langsung menuju salah satu perusahaan anak cabang milik Leo.


Gama ikut serta ke kota tersebut untuk melihat kondisi perusahaan anak cabang milik Leo karena Gama akan membantu pria itu dalam mengembangkan bisnisnya di kota tersebut sebagai investor.


***


Waktu kini telah menunjukkan pukul sebelas siang, Malini sudah dibuat gelisah karena waktunya Fay di jemput di sekolahnya tetapi mandor tidak memberinya izin untuk meninggalkan pabrik.


Bahkan Malini telah memasang wajah memelasnya tetapi mandor pabrik tetap saja kekeh tidak memberi izin padanya. kebetulan pak Rahman selaku staf pabrik hari ini tidak ke pabrik karena ada pertemuan di luar dengan kolega.


Wajah cantik Malini sudah terlihat berkeringat dingin memikirkan putranya. "Tidak ada pilihan lain aku harus meminta bantuan pada Ria." Dengan terpaksa Malini menghubungi sahabatnya, Ria, padahal pagi tadi Ria telah memberitahu padanya ia tidak bisa menjemput Fay, tetapi sepertinya Malini tidak punya pilihan lain.


Jujur Malini sangat merasa tak enak tetapi selain pada Ria ia tidak tahu siapa lagi yang akan di mintai bantuan.


"Dasar pria gendut, tidak punya pengertian sedikitpun." umpatan Ria di tujukan kepada sosok mandor pabrik yang mengawas di pabrik, setelah menerima pesan dari Malini.


Tanpa pikir panjang Ria segera meraih tas serta kunci motornya kemudian berlalu menuju motornya berada.


wanita itu bahkan tidak berpamitan lebih dulu pada atasannya karena menurut Ria percuma jika ia meminta izin sudah pasti Bu Amel tidak akan mengizinkan dirinya untuk pergi dengan alasan apapun, mengingat sebentar lagi pemilik perusahaan akan tiba dari ibukota.

__ADS_1


Kurang dari Tiga puluh menit Ria pun kembali ke perusahaan dengan membawa serta Fay bersamanya, mengingat akan memakan waktu lebih lama lagi jika dirinya harus mengantarkan Fay ke rumah.


Lagi pula seperti sebelumnya setelah menjemput Fay di sekolah Ria akan membawa serta keponakannya tersebut ke tempat kerjanya sebelum kemudian kembali ke rumah secara bersama sama setelah jam kerja usai.


Rasanya Jantung Ria berpacu lebih cepat saat melihat hampir semua pegawai telah berkumpul dengan barisan rapi di lobby menghadap ke arah dua orang pria dengan setelan jas lengkapnya yang di temani oleh kepala cabang tengah memberikan arahan pada para pegawai.


langkah kaki Ria pun menjadi pusat perhatian semua yang ada di lobby tak terkecuali kedua pria tersebut.


Ria nampak menundukkan pandangan tak berani menatap wajah dua orang pria asing yang bisa di tebak Ria merupakan sosok yang sejak tadi di nantikan oleh semua pegawai. sedangkan Fay nampak berdiri di belakang punggung Ria dengan posisi menggenggam tangan wanita itu.


"Dari mana saja anda Nona Rianti, bukankah sudah saya peringatkan tidak ada pegawai yang boleh meninggalkan perusahaan saat jam kerja." dengan wajah tak bersahabat seorang pria yang menjabat sebagai kepala cabang perusahaan menegur Ria.


"Ria...kamu Ria kan??." Mendengar suara seseorang yang tidak asing di telinganya sedang menyebut namanya, Ria sontak mengangkat pandangannya.


"Leo." Ria memanggil nama pria itu tanpa embel-embel tuan atau pun bapak karena terkejut dengan keberadaan pria itu.


"Maaf maksud saya tuan Leo." kata Ria memperbaiki kosa katanya. sedangkan Fay yang kini berada di balik punggung Ria stay cool.


Berbeda dengan Leo yang begitu tertarik setelah mengetahui keberadaan sahabat dari kekasihnya ternyata bekerja di perusahaan miliknya, perhatian Gama justru terfokus pada anak laki-laki tampan yang berdiri di balik punggung Ria.


Berbeda dengan Leo, Gama sama sekali tidak mengenal sosok Ria berbanding terbalik dengan Ria yang begitu mengenal sosok Gama. sosok pria yang membuat sahabatnya kini memiliki seorang malaikat tampan bernama Fayadz Abidzar.


Deg


Belum habis keterkejutan Ria dengan keberadaan Leo, kini Ria semakin terkejut lagi saat memperhatikan dengan jelas wajah pria yang kini berdiri tegap di samping Leo.

__ADS_1


Saat menyadari itu, Ria semakin menyembunyikan wajah Fay di belakang punggungnya agar tak terlihat oleh keduanya terutama oleh Gama.


"Apa kau sudah menikah Nona Rianti?? apa anak laki-laki tampan itu putramu??." dengan bahasa Formal Leo bertanya mengingat saat ini mereka ada di tengah tengah pegawai yang lain.


"Ti_tidak.... maksudnya tidak salah_." jawaban Ria melayang begitu saja di udara saat Fay yang tadinya berdiri di belakang punggungnya kini telah berdiri tegap di depan mereka.


"Kenalkan namaku Fayadz Abidzar, om bisa panggil Fay saja sama seperti mama dan Tante cantik memanggilku!!." dengan percaya dirinya Fay memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya pada Leo dan juga Gama secara bergantian.


"Oh astaga...selain memiliki wajah yang tampan ternyata kamu juga sangat percaya diri ya jagoan." Gama yang sejak tadi hanya diam kini mulai bersuara, bahkan pria itu nampak mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Fay.


"Tentu saja om, Fay ingin jadi pria tampan, percaya diri, gagah dan juga sukses jika dewasa nanti agar bisa menjaga dan melindungi mama." ucapan Fay membuat Ria terenyuh mendengarnya.


"Fay ingin jadi orang sukses dewasa nanti agar mama tidak perlu lagi capek capek bekerja." lanjutnya dengan penuh percaya diri.


"Memangnya ibumu bekerja di mana??? kemana ayahmu, kenapa ibumu yang bekerja??." entah mengapa ada rasa hangat di hati Gama ketika berada di dekat anak itu, bahkan Gama merasa begitu penasaran dengan kehidupan Fay sampai begitu banyak pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.


Ria terlihat mulai gelisah saat mendengar Gama mencecar Fay dengan berbagai macam pertanyaan. namun begitu ia tak dapat berbuat banyak, setidaknya kehadiran Fay saat ini bisa sedikit mengalihkan perhatian bahkan mengurangi amukan atasan padanya.


"Sejak dulu Fay hanya tinggal bersama mama, kakek, nenek dan juga Tante cantik. sementara papa, Fay juga belum pernah bertemu papa karena mama bilang papa Fay sibuk bekerja sehingga belum sempat mengunjungi Fay." sikap Fay memang jauh lebih dewasa jika di bandingkan dengan anak seusianya.


Entah mengapa dada Gama terasa nyeri saat mendengar pengakuan seorang anak kecil di hadapannya itu, tanpa peduli dengan pandangan para pegawai Leo terhadapnya, Gama berucap. " Jika Fay tidak keberatan, Fay boleh menanggap om sebagai papanya Fay!!!" ucap Gama dengan raut wajah serius. bukan hanya Ria yang dibuat terkejut tetapi Leo pun tidak kalah terkejutnya.


"Benar om??." Fay tidak dapat menyembunyikan raut bahagia di wajah mungilnya dan Gama pun mengangguk pasti sebagai jawaban sebelum kemudian meraih tubuh Fay ke dalam gendongannya.


Mungkin itu salah satu keberuntungan Malini memiliki seorang anak Seperti Fay.

__ADS_1


Gama meraih dompet dari dalam saku jasnya kemudian mengeluarkan kartu namanya setelah menurunkan Fay dari gendongannya. "Ini kartu nama saya, jika Fay ingin bertemu dengan saya silahkan hubungi nomor yang tertera!!." tutur Gama saat meyerahkan kartu namanya kepada Ria.


sementara Ria yang menerimanya hanya diam tidak tahu harus menjawab apa.


__ADS_2