
Keesokan harinya.
Malina nampak mondar mandir di dalam kamarnya menunggu kedatangan Gama yang kunjung kembali ke rumah padahal waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Kemana Gama, kenapa jam segini belum pulang juga??? aku harap pagi tadi aku salah lihat." gumam Malina di sela aktivitasnya yang masih mondar mandir bak setrikaan, sesekali wanita itu nampak menggigit jari telunjuknya mengusir kecemasan di hati.
Pagi tadi saat dirinya menjemput kedatangan kekasih gelapnya,Mike, di bandara sekilas ia melihat sosok pria yang persis sekali dengan Gama, tetapi Malina kurang yakin dengan apa yang dilihatnya mengingat jarak yang cukup jauh dari pria itu. lagi pula ia melihat sosok pria yang persis dengan Gama tersebut dengan posisi pria itu menyamping.
Pandangan Malina beralih pada sumber suara saat mendengar pintu kamar di buka dari arah luar.
"Sayang....kamu dari mana saja?? sejak tadi aku menunggumu." dengan manjanya Malina mengalungkan tangannya pada leher Gama.
"Maaf, tadi pekerjaan di kantor banyak sekali makanya aku pulang terlambat." sebenarnya Gama malas menjawab pertanyaan wanita itu, namun terpaksa ia menjawab serta menampilkan senyum manis di wajahnya.
Malina yang mendengarnya bersorak dalam hati. jika benar suaminya itu seharian sibuk di kantor itu artinya seseorang yang dilihatnya di bandara tadi sudah pasti bukan suaminya.
"Maaf sayang,,,,aku terlalu mencintaimu sehingga membuatku berpikir yang bukan bukan saat ponselmu tidak bisa di hubungi." dengan wajah dibuat buat merajuk Malina berucap. wanita itu bersikap layaknya seorang istri yang begitu mencintai suaminya, sehingga membuat Gama rasanya semakin muak melihatnya.
Kalau bukan karena pesan dari sahabatnya,Kheano, sudah pasti saat ini Gama sudah mempertanyakan siapa laki-laki yang bersama istrinya di bandara pagi tadi.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu." dengan terpaksa Gama membalas kalimat palsu istrinya, sebelum beranjak ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.
Sementara Malina nampak tersenyum penuh kemenangan saat melihat punggung suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar mandi. "Ternyata kau lebih bodoh dari yang aku kira Gamara Pradipta." Gumam Malina, sebelum kemudian meraih ponselnya yang bergetar dari dalam tasnya.
Malina menghela napas berat saat melihat pesan di aplikasi hijau miliknya yang ternyata pesan dari Mike. " Sayang, kapan kau akan berterus terang pada Suamimu tentang hubungan kita?? aku sudah tidak sabar ingin segera menjalani hidup berdua denganmu tanpa bayang bayang Gama Pradipta di antara kita." Malina membatin saat membaca pesan Mike.
"Aku juga sudah tidak sabar ingin Segera hidup berdua denganmu sayang, tetapi tidak semudah itu untuk berterus terang pada suamiku karena kau tahu sendiri bagaimana sifat suamiku, bisa bisa kamu meregang nyawa di tangannya jika mengetahui tentang hubungan kita." Malina segera memasukkan ponselnya ke dalam tas usai membalas pesan dari Mike karena khawatir Gama akan segera keluar dari kamar mandi.
Seperti dugaannya, baru saja Malina memasukkan ponselnya ke dalam tas, pintu kamar mandi pun terbuka di susul langkah Gama yang keluar dari kamar mandi dengan mengenakan selembar handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Gama bisa melihat wajah gugup istrinya namun Gama bersikap seolah tidak menyadari kegugupan di wajah Malina, dengan berlalu begitu saja ke ruang ganti.
Sementara di dalam ruang ganti, Gama tak langsung mengenakan piyama. pria itu terlihat seperti sedang melamun.
"Ternyata selama ini aku sudah dibutakan cintaku padamu, Malina, sehingga dengan bodohnya aku selalu percaya dengan apa saja yang kau katakan padaku. aku bahkan lebih mempercayaimu di banding keluargaku sendiri, tetapi kenapa kau tega melakukan semua itu padaku." batin Gama teringat kejadian di bandara pagi tadi.
Pagi tadi Gama hendak mengantar sahabatnya, Kheano, hendak bertolak ke Surabaya untuk mengecek perkembangan salah satu pabrik milik ayahnya di sana.
Tanpa sengaja Gama melihat sosok yang tidak asing baginya tengah berpelukan dengan seorang pria di bandara. awalnya Gama kurang yakin jika itu istrinya, tetapi setelah memastikan dengan jarak yang lebih dekat akhirnya Gama yakin seratus persen jika itu adalah istrinya, Malina.
__ADS_1
Saat dirinya ingin menghampiri istrinya bersama dengan seorang pria tersebut tiba tiba Kheano mencegahnya dan mengatakan. "Sekalipun kau marah bahkan mengamuk di tempat umum seperti ini tidak akan memperbaiki keadaan, karena bisa saja mereka mengelak dan kau tidak punya bukti cukup akan perselingkuhan mereka." mendengar ucapan Kheano pada saat itu akhirnya Gama pun mengurungkan niatnya.
Kheano pun mengatakan pada dirinya, "sekalipun kau berusaha sekuat tenaga untuk menjadi suami yang baik, tidak akan berharga di mata wanita yang tidak mencintai dan menghargaimu. dan jika tidak ada lagi cinta di hatinya untukmu, lalu untuk apa kau terus mempertahankan pernikahan yang tidak sehat ini." kalimat Kheano terus terngiang-ngiang di telinganya, namun Gama pun tak bisa bertindak terlalu jauh dengan menghindari apalagi sampai berbuat sesuatu yang membuat Malina sampai curiga jika ia telah mengetahui kecurangan istrinya selama ini.
Sayangnya Kheano tidak sempat melihat dengan jelas wajah istri dari sahabatnya itu karena saat itu posisi Malina membelakangi mereka, Kheano hanya bisa melihat dengan jelas sosok pria yang kala itu berpelukan dengan seorang wanita, Malina.
Rencananya sepulangnya dari Surabaya barulah Kheano memulai misinya untuk membantu Gama dalam mencari bukti tentang perselingkuhan istrinya.
Suara Malina yang tengah memanggil namanya membuat Gama tersadar dari lamunannya kemudian meraih sepasang piyama miliknya lalu mengenakannya, setelahnya Gama segera keluar dari ruang ganti menemui Malina dan kembali memasang senyum palsunya, agar tidak menimbulkan kecurigaan di hati wanita berhati ular tersebut.
Sesuai dengan pesan Kheano, Gama terus bersikap seperti biasa pada Malina meski pada kenyataannya hatinya kini ingin menolak berada dekat dengan istrinya itu.
"Sabar Gama sabar....!!! batin Gama, seolah memberi peringatan pada dirinya sendiri kala Malina terus bersikap manja padanya.
Gama mulai memejamkan matanya, setelah berhasil meyakinkan Malina jika saat ini kepalanya sakit hendak istirahat usai minum obat. Gama sedikit berdusta demi menghindari kontak fisik secara berlebihan dengan istrinya apalagi sampai berhubungan suami istri.
Jijik, itulah yang dirasakan Gama setelah kejadian malam itu dimana ia menemukan ada bekas kepemilikan di salah satu benda berharga milik istrinya dan itu bukan hasil dari perbuatannya. entah pria yang mana yang telah melukis kepemilikan di sana yang jelas hal itu begitu membekas di hati dan pikiran Gama, sehingga pria itu meminta bantuan dari sahabatnya untuk mencari tahu kebenarannya.
Jika dugaannya benar, Malina ternyata bermain api di belakangnya maka Gama tidak akan segan segan menceraikan wanita itu. cinta tidak akan pernah menemukan bahtera yang sesungguhnya jika cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan, apalagi di tambah dengan perselingkuhan maka apalah artinya ikatan suci pernikahan yang telah di nodai dengan perselingkuhan.
__ADS_1