
Saat makan malam bersama, Malini merasa kurang nyaman saat pandangan seorang wanita terlihat tak ramah terhadap dirinya, lebih tepatnya pada sosok Malina. karena setahu mereka yang saat ini hadir di hadapan mereka adalah Malina.
"Saya pikir kamu tidak akan kembali lagi ke rumah ini." cetus Nyonya Sisilia dengan nada sinis, sehingga membuat Malini semakin berpikir jika hubungan wanita bernama Malina itu dan sang mertua kurang harmonis.
Malini memilih tersenyum tipis tanpa menimpali apalagi membantah kalimat yang di lontarkan nyonya Sisilia, sehingga membuat mertuanya itu mengeryit heran. karena biasanya Malina pasti akan dengan sombongnya menimpali kalimat ibu mertuanya, ketika di perlakukan seperti saat ini.
"Maafkan Malina Bun, jika selama ini Malina sudah banyak merepotkan bunda menjaga anak-anak selama Malina tidak ada." Permintaan maaf wanita itu sanggup membuat Gama bersedak.
"Uhuk,,,,uhuk,,,,uhuk,,,,." Gama yang tengah mengunyah makanannya sontak tersedak saat mendengar sang istri meminta maaf. bukan tanpa alasan, semua itu karena Malina baru pertama kalinya mengucapkan permintaan maaf selama menjadi istrinya.
"Mas, pelan pelan makannya!!." Malini segera menuangkan segelas air saat mendengar Gama batuk akibat tersedak makanan.
Sikap Malina tersebut membuat semua yang ada di meja makan tersebut saling melempar pandangan, sebab menurut mereka sikap Malina malam ini sangat aneh, tidak biasanya ia begitu perhatian pada suaminya, Gama.
Yang semakin membuat anggota keluarga Pradipta merasa heran saat wanita yang di sangka mereka adalah Malina tersebut tidak ikut makan malam bersama, melainkan mengutamakan menyuapi kedua anak kembarnya dengan telaten. sebuah kegiatan yang sama sekali tidak pernah di lakukan Malina sebelumnya.
"Dasar wanita licik, rupanya kamu mulai bersikap baik di depan kak Gama. apapun yang kamu lakukan tidak akan membuatku berhenti membencimu, dasar wanita berhati iblis." batin Lala, adik bungsu Gama yang begitu membenci sosok kakak iparnya,Malina. Lala membenci Malina karena pernah secara tidak sengaja memergoki suaminya sedang berpelukan mesra dengan kakak iparnya itu. yang lebih membuat Lala semakin emosi pada sosok Malina adalah wanita itu bersikap seolah Lala sedang memfitnah dirinya, sehingga membuat kakaknya, Gama, justru marah pada Lala.
Sementara Malini yang sejak tadi menyuap si kembar, merasa terus di perhatikan oleh Lala.
"Ya Tuhan, sepertinya hidupku akan seperti di neraka selama berada di rumah ini, kenapa semua orang yang ada di rumah ini seperti tidak menyukai sosok Nyonya Malina?? sejahat apa wanita itu sampai sampai hampir seisi rumah ini tidak menyukainya??." dalam hati Malini seolah tak menyadari tatapan Lala yang terus tertuju sinis padanya.
Selesai menyuapi si kembar, Malini kemudian mengisi piringnya dengan nasi dan lauk kemudian memakannya. meski sulit rasanya menelan makanan karena merasa kurang nyaman, namun gadis itu tetap memaksa menelan makanannya. karena saat ini cacing cacing yang ada di perut Malini sudah berdendang ria, ingin di beri makan.
Saat hampir semua penghuni rumah meninggalkan meja makan, Malini dengan telaten membersihkan meja makan yang seharusnya di kerjakan oleh ART. hal itu semakin membuat ibu mertuanya merasa heran, sebab sebelumnya jangankan membersihkan meja makan menuangkan air minum ke dalam gelasnya pun akan di lakukan oleh ART.
Malini membawa piring piring bekas makan malam itu ke dapur kemudian mencucinya, meskipun ART sudah melarangnya namun Malini tetap saja mengerjakannya dengan senang hati.
"Prang." Malini tidak sengaja menjatuhkan piring ketika mencuci, saat merasa ada yang menyenggol tangannya.
__ADS_1
"Argh" Malini merintih saat salah satu serpihan Piring yang pecah melukai telapak tangannya.
"Makanya kalau tidak bisa mengerjakan pekerjaan seperti ini, tidak perlu sok Sokan." cetus Lala.
"Maaf, saya tidak sengaja." Hanya itu yang terlontar dari mulut Malini saat merusak piring yang harganya sudah pasti tidak murah, meski saat ini telapak tangannya telah mengeluarkan darah segar.
Malini hanya bisa menghela nafas dalam, sebelum memungut pecahan piring kemudian membuangnya ke tong sampah.
Lala merasa sangat heran dengan sikap Kakak iparnya, bahkan di saat tangannya terluka ia sama sekali tidak marah. padahal biasanya hanya dengan masalah kecil saja kakak iparnya tersebut sudah membuat drama dengan menangis dan Langsung mengadu pada sang suami, dan jika itu sudah terjadi sudah pasti Lala yang akan menjadi sasaran amarah Kakaknya, Gama.
"Sebenarnya ada Masalah apa wanita itu dengan adik iparnya, sepertinya Lala sangat membencinya??." dalam hati Malini saat membuang serpihan Piring ke dalam tong sampah, sementara Lala telah beranjak meninggalkan dapur.
"Dasar wanita ular, kamu pikir dengan berakting seperti ini akan membuat aku berhenti membencimu, jangan mimpi kamu Malina.".Gumam Lala saat menapaki anak tangga hendak kembali ke kamarnya.
Namun saat beberapa anak tangga di tapaki ibu muda itu, ia berpapasan dengan sang suami yang hendak menuruni anak tangga.
"Mau kemana kamu??." cecar Lala dengan nada Sinis.
Lala tersenyum sinis "Jangan pikir aku ini bodoh Tofan, apa kamu pikir selama ini aku tidak tahu jika kamu dan Malina bermain api di belakangku dan kak Gama??." Ucapan istrinya membuat senyum palsu di bibir Tofan perlahan memudar.
"Maka dari itu berhati hatilah!! karena jika kak Gama sampai mengetahui semuanya, aku pastikan kamu tidak akan melihat sinar matahari lagi besok." lanjut Lala sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Setibanya di kamar Lala hanya bisa menangis dalam diam, kala teringat saat ia tidak sengaja memergoki suaminya dengan Malina.
"Apa karena bentuk tubuhku yang tidak seindah dulu lagi, sehingga kamu tega bermain api di belakangku Mas Tofan?? jika kamu melakukannya dengan wanita di luar sana, Mungkin hatiku tidak sesakit ini. tapi ini, kamu malah bermain api dengan kakak iparku sendiri, dengan Malina istrinya kak Gama." Gumam Lala di sela tangisnya.
Kini bobot tubuh Lala memang agak berisi setelah ia melahirkan anak pertama mereka, Mungkin itu sebabnya dengan mudah Tofan berpaling pada wanita lain.
Namun meski memiliki tubuh yang sedikit berisi, sebenarnya sama sekali tidak mengurangi kecantikan Lala. hanya dasarnya saja Tofan pria brengsek.
__ADS_1
***
Sementara di dapur, Tofan terlihat tersenyum nakal saat melihat Malini yang tengah mencuci piring, sebab meski tangannya tangannya tadi sempat terluka ia tetap menyelesaikannya.
Tatapan nakal pria itu tertuju dari ujung kaki hingga ujung rambut Malini, namun gadis itu tidak menyadari kehadiran pria itu.
Sampai dengan salah satu anggota ART menyapa Tofan.
"Apa anda menginginkan sesuatu tuan??." tanya salah satu ART, karena tumben Tofan masuk ke dapur.
"Tidak, maksud iya, saya ingin mengambil segelas air." jawab Tofan salah tingkah, karena saat ini Malini pun ikut memandang ke arahnya.
"Sebentar tuan biar saya ambilkan." Kata ART memberikan tawaran mengambil segelas air untuk Tofan, namun dengan cepat pria itu menolak.
"Tidak perlu, maksud saya biar saya ambil sendiri saja." Ujar pria itu sebelum melangkah hendak mengambil sebuah gelas, namun anehnya pria itu malah meraih gelas yang ada di genggaman Malini, sehingga membuat Malini dan juga ART yang ada di antara mereka menjadi heran. apalagi pria itu nampaknya sengaja menggenggam tangan gadis itu.
"Maaf, gelasnya masih basah, anda bisa ambil yang di sana!!." Malini menunjuk ke arah gelas yang telah tersusun rapi.
"Aku sangat merindukanmu sayang, apa kamu tidak merindukan aku??." Jantung Malini seperti di hantam batu besar saat mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari mulut kotor pria itu, pria yang merupakan suami dari adik iparnya atau lebih tepatnya adik ipar Malina.
"Jaga ucapan anda, saya bisa melaporkan kejadian ini kepada polisi dengan dugaan pelecehan!" Ujar Malini yang merasa jijik dengan kalimat yang terlontar dari mulut kotor Tofan.
"Ada apa denganmu Malina, kenapa sikapmu sangat berubah saat kembali dari liburan??." Tofan masih kekeh hendak meraih tangan Malini, namun dengan sigap gadis itu menepisnya.
"Sekali lagi anda berani menyentuh atau berkata tidak sopan pada saya, saya akan teriak." tegas Malini sebelum beranjak meninggalkan Tofan yang masih berdiri mematung. Tofan memberi tatapan tajam pada salah satu ART yang tadi sempat melihat kejadian itu.
"Awas saja sampai kamu melaporkan kejadian ini pada istri saya, apalagi kakak ipar saya, Gama!! jika sampai itu terjadi saya pastikan kamu tidak akan melihat anak dan ibu kamu lagi." tubuh salah satu ART tersebut nampak gemetar saat Tofan melayangkan ancaman padanya.
"Baik tuan." jawab ART tersebut dengan suara bergetar akibat ketakutan.
__ADS_1
"Bagus." Ujar Tofan sebelum beranjak pergi.