Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Jangankan menatap, meni_kmati pun boleh!!


__ADS_3

Kurang dari satu jam akhirnya mobil Gama tiba di kawasan apartemen elit yang berada di tengah kota.


Sebelum turun dari mobil, Malini lebih dulu menoleh ke bangku belakang, di mana kini Fay sudah tertidur sejak beberapa saat yang lalu.


"Tidak perlu membangunkannya !! aku bisa menggendongnya." tutur Gama, seolah tahu apa yang ada di pikiran Malini saat ini.


Malini yang sebenarnya Tidak tega membangunkan Fay lantas mengangguk setuju, Sebelum kemudian turun dari mobil hendak mengambil kopernya di dalam bagasi.


Malini terkesiap ketika genggaman tangan Gama mengenai tangannya yang juga hendak mengeluarkan koper dari bagasi. dan itu sontak saja membuat Malini menarik tangannya menjauh.


"Jangan terlalu berlebihan, lagi pula sekarang kita sudah sah menikah." ungkap Gama ketika menyadari Malini menjauhkan tangannya darinya.


"Hanya setahun." jawaban Malini yang terkesan jutek membuat Gama menyungging senyum di sudut bibirnya.


"Kita lihat saja nanti!!." Ujar Gama tepat di telinga Malini dan itu membuat Malini kembali terkesiap dibuatnya.


Gama yang baru saja mengeluarkan semua koper dari bagasi mobilnya lantas meminta bantuan kepada seorang petugas kebersihan di apartemen, untuk membawakan koper koper tersebut ke unit apartemennya sementara dirinya menggendong tubuh Fay yang tampak lelap.


"Di Lantai berapa apartemen anda??." berhubung saat ini Gama tengah menggendong tubuh Fay maka Malini berinsiatif untuk menekan tombol pada lift.


"Lantai 20."


Malini lantas menekan tombol dengan angka dua puluh. Setelahnya pintu lift pun terbuka, baik Gama, Malini dan juga petugas kebersihan tadi pun segera masuk ke dalam lift.


Ting.


lift berbunyi serta pintu lift yang kini terbuka pertanda kotak besi tersebut telah mengantarkan mereka ke lantai yang di tuju.


Setibanya di depan unit apartemen milik Gama, petugas kebersihan yang tadi membantu membawakan koper lantas pamit.


"Tunggu!!." ucap Gama yang ingin memberi tips kepada pria itu.


Dahi Malini tampak berkerut bingung ketika pandangan Gama justru beralih padanya.

__ADS_1


"Tolong ambilkan dompet di saku celanaku!!." tutur Gama, seolah ingin menjawab kebingungan di wajah Malini.


Sadar jika saat ini Gama kesulitan untuk mengambil dompetnya karena tengah menggendong Fay maka dengan terpaksa Malini pun tidak menolak. ia lantas mengarahkan tangannya ke arah saku celana Gama untuk mencari keberadaan dompet yang di maksud.


"Jangan menyentuh bagian itu, kau bisa membangunkannya. Dompetku ada di kantong belakang." ucapan Gama terdengar ambigu ketika tangan Malini justru merogoh saku bagian depan celananya.


Kedua mata malini berubah memicing ketika mendengar kalimat Gama, sementara Gama sendiri hanya menarik sudut bibirnya ke samping.


Setelah berhasil menemukan keberadaan dompet milik Gama, Malini lantas menyerahkannya pada Gama. Namun Gama justru meminta Malini untuk mengambilkan dua lembar uang merah untuk diberikan pada pria tadi.


Merasa tidak enak pada petugas kebersihan yang sudah menunggu lama, Malini pun lantas menuruti ucapan Gama.


"Terima kasih, tuan...nyonya...." setelahnya petugas kebersihan tersebut pun pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


Setelahnya, Gama pun menyebutkan beberapa angka untuk akses masuk kedalam apartemen.


Setelah berada di dalam apartemen, Gama lantas mengajak Malini menuju lantai dua.


"Tunggu di sini sebentar, saya akan membawa Fay ke kamarnya." Gama pun segera memasuki salah satu kamar yang berada tepat di samping kamar utama.


Tak berselang lama, Gama pun kembali setelah merebahkan serta menyelimuti tubuh Fay.


Gama lantas melangkah ke arah kamarnya.


"Kenapa kau masih berdiri di situ??." tanya Gama dengan wajah bingung ketika melihat Malini belum juga beranjak dari posisinya.


"Di mana kamarku?." pertanyaan Malini kembali membuat dahi Gama berkerut.


"Tentu saja kau akan menempati kamarku." jawab Gama dengan santainya.


Tanpa curiga Malini lantas saja mengayunkan langkahnya memasuki kamar Gama.


Malini menyapu pandangan ke seluruh kamar yang terkesan mewah dengan nuansa yang dominan dengan warna putih tersebut. Namun seketika Malini menoleh ketika mendengar suara pintu kamar yang baru saja ditutup.

__ADS_1


"Kenapa anda masih ada di sini??." tanyanya bingung.


"Karena saya juga akan tidur di kamar ini." jawab Gama seraya melepaskan jas serta kemeja yang ia kenakan. Hingga kini hanya tersisa kaos dalam saja yang membungkus tubuh atletisnya.


"Maksudnya aku dan anda...."


"Tepat sekali, kita akan tidur di kamar yang sama." ujar Gama seolah ingin membenarkan dugaan Malini.


Malini di buat terperangah dengan ucapan Gama, hingga wanita itu nampak tak bisa berkata apa-apa.


"Sudah tidak perlu dipikirkan !! Lagi pula kau telah melahirkan seorang putra untukku, lalu apa lagi yang harus kau malu kan padaku." kalimat Gama terlontar begitu ringan dari mulutnya sehingga membuat Malini ingin sekali rasanya merobek mulut dari pria itu.


Seolah tidak peduli dengan kegeraman yang tercetak jelas di wajah Malini, Gama berlalu begitu saja menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hampir setengah jam Gama berada di kamar mandi, sebelum kemudian ia keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk di pinggangnya.


Glek.


Dengan susah payah Malini meneguk Salivanya ketika melihat tubuh Gama yang nyaris sempurna. bentuk tubuh Gama dengan otot otot yang tercetak dengan jelas di bagian perut dan juga dadanya tentu saja menjadi dambaan semua kaum hawa, tak terkecuali Malini.


Sadar jika saat ini ia ketahuan menatap kagum pada tubuh Gama, Malini lantas mengalihkan pandangannya ke arah lain sehingga membuat Gama tampak menahan senyum di bibirnya.


"Tidak perlu malu begitu, jangankan hanya untuk menatap, menikmatinya pun boleh." ungkap Gama yang di sertai senyum tertahan.


"Apa yang anda bicarakan?.". Tutur Malini berpura pura tak paham dengan maksud ucapan Gama, sebelum kemudian Malini berlalu begitu saja ke kamar mandi.


"Jangankan menjadi objek pemandangan bagimu, jika kau ingin kembali mengulang kegiatan kita malam itu, aku pun akan dengan senang hati memberikannya." gumam Gama dengan senyum sempurna di bibirnya ketika melihat tubuh Malini telah menghilang di balik pintu kamar mandi.


Sementara di dalam kamar mandi, Malini yang tengah menyadarkan tubuhnya pada daun pintu lantas memukul pelan kepalanya. " Ingat Malini, tuan Gama sangat mencintai istrinya, jadi jangan coba coba berharap lebih darinya, Dia menikah denganmu hanya karena Fay!!." Malini bergumam, seolah tengah mengingatkan diri sendiri.


Merasa lebih tenang, Malini pun beranjak untuk menghidupkan shower untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.


Sementara Gama yang baru saja kembali dari balkon kamar usai teleponan dengan Kheano, tampak seperti sedang berpikir.


"Sepertinya apa yang di katakan Kheano ada benarnya, lagi pula kami telah menikah, lalu apa salahnya jika aku meminta hakku sebagai suami." gumam Gama dengan seribu rencana yang telah tertata rapi di otaknya.

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, vote, give,and subscribe ya sayang sayangku.....


__ADS_2