Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Di hadapkan pada Dua pilihan .


__ADS_3

Malini bergegas menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan di mana Fay tengah mendapat penanganan cukup intensif.


"Bagaimana kondisi anak saya, dokter??."


"Saat ini kondisi pasien sedang kritis, dari hasil pemeriksaan kami Sepertinya pasien mengalami pendarahan pada otaknya. untuk menyelamatkan Nyawa pasien kami akan segera melakukan tindakan operasi, namun sebelum itu kami sarankan untuk melunasi administrasinya lebih dulu, Nyonya."


"Saya akan berusaha mencari uang untuk biaya operasi anak saya dokter, tetapi say mohon Tolong selamatkan anak saya dokter!." Masih dengan wajahnya yang basah dengan air mata Malini mengatupkan kedua tangannya memohon di hadapan pria berjas putih tersebut.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Nyawa pasien Nyonya, tetapi sebelum itu sebaiknya lunasi dulu administrasinya agar pasien bisa segera mendapatkan tindakan operasi!!!."


"Baik dokter." jawab Malini, meski ia sendiri masih bingung harus mencari uang di mana untuk membayar biaya operasi putranya.


***


"Ada apa Mal, kenapa kamu menangis??? coba ceritakan sama aku!!." Percakapan Ria dengan seseorang melalui sambungan telepon mampu mengalihkan perhatian Gama yang kini tengah melintas di depan ruang kerja Ria.


"Apa Fay kecelakaan." akibat terkejut tanpa sadar Ria menaikan intonasi suaranya, sehingga terdengar jelas di telinga Gama yang kini melintas di depan ruang kerja Ria.


Deg.


Jantung Gama seakan berhenti berdetak ketika mendengar kabar tersebut. Tanpa banyak berpikir Gama masuk ke dalam ruang kerja Ria untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya.


"Apa yang terjadi dengan Fay??." cecar Gama dengan raut wajah tak terbaca.


"Fay baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang di rawat di rumah sakit XXX" Ria terpaksa menjawab karena merasa terintimidasi dengan tatapan Gama.


"Anda mau kemana, Tuan??." tanya Ria ketika melihat Gama beranjak meninggalkan ruang kerjanya.


"Tentu saja ke rumah sakit." jawab Gama tanpa berniat menghentikan langkahnya.


"Tuan, aku ikut dengan anda ke rumah sakit." tanpa menunggu jawaban dari Gama, Ria bergegas menyusul langkah Gama menuju di mana mobilnya berada.


Gama mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata sehingga membuat Ria merasa menyesal ikut bersama dengan pria itu.


"Apa dia ingin mengajakku bertemu dengan malaikat Izrail??? Ternyata benar kata Malini, tuan Gama benar benar Gila." dalam hati Ria terus menggerutu, bahkan sesekali ia melayangkan umpatan pada pria yang kini tengah fokus pada kemudinya.

__ADS_1


Barulah Ria bisa bernapas lega ketika mobil Gama telah tiba di basemen rumah sakit.


Ria sampai di buat kewalahan mengimbangi langkah lebar Gama.


Malini yang masih bingung memikirkan biaya untuk operasi Fay dibuat terkejut dengan kedatangan Gama di rumah sakit.


"Untuk apa anda kesini??." kalimat Malini lebih terdengar seperti protes bukannya pertanyaan.


"Ayolah Malini, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat, anak kita sedang kritis." Gama mengetahui kondisi Fay yang kritis dari Ria.


Malini diam saja tidak berniat merespon ucapan Gama.


Tanpa banyak bertanya Gama segera berlalu meninggalkan Malini yang masih terlihat bingung, bingung harus mencari uang kemana untuk membayar biaya untuk operasi putranya.


Tak berselang lama, Gama kembali.


"Lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan anak saya, dokter!! berapa pun biayanya saya tidak peduli asalkan anak saya bisa selamat." layaknya seorang ayah pada umumnya yang mengharapkan kesembuhan putranya, Gama meminta kepada tim dokter yang bertugas untuk menyelamatkan nyawa Fayadz.


Malini cukup terkejut ketika seorang dokter menyampaikan padanya jika sepuluh menit lagi Fay akan segera memasuki ruangan operasi dan itu artinya putranya akan segera di operasi. Tapi bagaimana bisa pikir Malini, sedangkan ia belum membayar biaya untuk tindakan operasi Fay.


"Untuk biaya tindakan operasi yang akan di lakukan pada pasien atas nama Fayadz abidzar telah di lunasi oleh tuan Gamara Pradipta, Nyonya." jawab petugas kasir rumah sakit ketika Malini bertanya.


"Terima kasih."


Malini pun berlalu.


"Aku ingin bicara dengan anda!!!." Gama yang kini tengah berdiri bersandar pada dinding rumah sakit sontak Mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


"Sekarang." lanjut Malini, sebelum kemudian mulai melangkah, dan di susul Gama di belakang langkah Malini.


Langkah Malini terhenti di sebuah koridor rumah sakit yang terlihat sepi.


"Memangnya apa yang ingin kau bicarakan??."


Sejujurnya Gama sudah bisa menebak apa yang akan di bahas Malini, wanita itu pasti merasa keberatan ia melunasi biaya untuk operasi Fay.

__ADS_1


"Terima kasih sudah melunasi biaya operasi anak saya. Saya janji akan mengganti uang anda jika nanti saya sudah mendapatkan pekerjaan."


"Kenapa kau bicara seperti itu, Fay itu juga anakku. sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang ayah untuk melakukan semua ini."


"Sepertinya anda salah sangka tuan, Fay bukan anak_." sanggahan Malini melayang begitu saja di saat Gama lebih dulu menyela.


"kenapa, Kau ingin mengatakan jika Fay bukan anakku, begitu kan??? apa kau lupa jika faktanya wajah Fay sangat mirip denganku.". Tidak ingin berdebat di saat seperti ini, Gama memilih berlalu meninggalkan Malini setelah berujar demikian.


"Tunggu!!."


Gama menghentikan langkahnya seraya menghembus napas kasar ke udara saat mendengar seruan dari Malini.


"Apalagi??.". Tutur Gama tanpa menoleh.


"Saya tidak ingin berhutang Budi kepada anda."


Kalimat Malini sontak saja membuat Gama membalikkan badannya menghadap Malini.


sebuah seringaian tipis terukir di sudut bibir Gama ketika sebuah ide tiba tiba terlintas di pikirannya.


"Baiklah jika itu keinginanmu. jika memang kau tidak ingin berhutang Budi kepadaku maka aku berikan kesempatan dalam satu bulan untuk mengembalikan uangku, tapi jika dalam waktu satu bulan kau tidak mampu mengembalikan uangku maka mau tidak mau kau harus menuruti permintaanku!!."


"Baiklah saya setuju." tanpa berpikir panjang Malini menjawab. Padahal ia sendiri bingung dari mana bisa mendapatkan uang dengan jumlah yang tak sedikit dalam waktu satu bulan.


Bukannya ingin mempersulit Malini akan tetapi Gama merasa tidak suka jika Malini merasa berhutang Budi padanya, sementara kenyataannya Fay adalah Putranya, maka secara otomatis sebagai seorang ayah Gama berkewajiban untuk menanggung biaya rumah sakit untuk putranya.


Tidak terasa dua jam berlalu, namun tindakan operasi pada Fay belum juga selesai. Gama yang sejak tadi diam diam memperhatikan wajah Malini, dapat melihat sebesar apa kesedihan yang kini dirasakan wanita itu.


"Apa kau sudah makan??." tanya Gama, mengingat sejak siang hingga hari hampir petang Malini masih saja berdiri cemas di depan kamar operasi menunggui putranya.


"Saya tidak lapar." jawab Malini dengan nada yang terdengar datar.


"Sebaiknya kau makan dulu karena bersedih sekalipun membutuhkan tenaga!!." Gama meletakkan kantong plastik hitam yang berisi makanan pada bangku kosong di sisi Malini.


Bukannya menerima kantong plastik tersebut, Malini justru menatap Gama dengan tatapan datar.

__ADS_1


__ADS_2