Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Sahabat itu adalah dia yang selalu ada di saat suka maupun duka.


__ADS_3

Seminggu setelah kepergian Mbah Sumi. rumah yang hampir beberapa bulan ditinggalinya bersama wanita yang telah membesarkan dirinya sejak kepergian kedua orang tuanya menghadap sang pencipta terasa begitu sunyi.


Kini Malini seorang diri di kamar berukuran tiga kali tiga persegi nampak meratapi nasibnya, jika menghadapi penderitaan mungkin Malini sudah biasa merasakannya. tetapi kali ini rasanya begitu berbeda karena sosok nenek tercinta yang biasanya selalu ada untuk menjadi penyemangat serta penguat dirinya kini telah kembali kepada Sang pemilik kehidupan.


Menangis, rasanya air mata pun telah kering. di tepi ranjang Malini duduk menyendiri dengan sorot mata yang nampak kosong.


Seandainya menyudahi kehidupan tidak berdosa, mungkin saat ini hal itulah yang akan di lakukan wanita itu agar bisa kembali bersama dengan sang nenek tercinta dan tak lagi menanggung kesepian serta beratnya beban kehidupan hidup sebatang kara.


Hanya anak yang ada di dalamnya kandungannya saat ini yang akan menjadi calon anggota keluarganya kelak. seorang anak yang akan menemani kehidupannya yang kini terasa begitu kesepian dan juga hampa.


tok


tok


tok


Ketukan pintu dengan suara yang sedikit tak sopan membuat Malini seolah tersadar dari lamunannya.


Dengan tak bersemangat Malini beranjak hendak membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


Baru saja membuka pintu kontrakan Malini sudah di sambut tatapan sinis oleh para ibu ibu tetangga kontrakannya.


"Ada apa ibu ibu??." tanya Malini dengan wajah bingung saat melihat beberapa orang ibu ibu yang merupakan tetangga kontrakannya berdiri bersekedap dada tepat di depan kontrakannya.

__ADS_1


"Ayo dong Bu ngomong !!!." salah seorang wanita paruh baya yang juga merupakan salah seorang tetangga kontrakan Malini mendesak pemilik kontrakan untuk segera menyampaikan niat mereka mendatangi kontrakan Malini.


Sehingga Akhirnya pemilik kontrakan tak punya pilihan lain.


"Maaf nak Malini, sebenarnya ibu juga tidak sampai hati untuk mengatakan hal ini pada nak Malini, tetapi ibu tidak punya pilihan lain karena semua ini permintaan dari penghuni kontrakan yang lain. dengan terpaksa ibu harus mengatakan, mulai besok kamu harus segera meninggalkan kontrakan ini !!!." ucap pemilik kontrakan kepada Malini.


"Tapi Bu, apa salah saya, bukankah saya sudah melunasi pembayaran kontrakan hingga dua bulan mendatang??." tanya Malini dengan wajah bingung, namun beberapa saat kemudian ucapan seorang wanita di antaranya membuat Malini pun tahu alasan dirinya di usir dari tempat itu.


"Maaf Malini, berhubung Mbah Sumi telah meninggal dunia, kami tidak bisa lagi membiarkan seorang wanita yang tengah hamil Tanpa seorang suami tinggal di lingkungan kami. sebagai seorang istri tentunya kami tidak ingin mengambil resiko dengan hidup dengan seorang wanita ja_lang seperti kamu." ucapan wanita itu terdengar begitu menyayat hati Malini, sehingga kedua kelopak mata Malini kini nampak digenangi air mata.


"Baiklah ibu ibu, jika itu sudah menjadi keputusan ibu ibu maka saya tidak bisa berbuat apa apa lagi. tetapi sebelumnya saya mohon beri saya waktu untuk mencari tempat tinggal yang baru, setelah itu saya akan meninggalkan tempat ini." pinta Malini yang berusaha bersikap tenang meski saat ini rasanya hatinya begitu terluka dengan ucapan tajam dari salah satu ibu ibu penghuni kontrakan.


"Maaf tapi kami tidak bisa memberi kesempatan lagi, sebaiknya kamu segera pergi dari sini seka_" ucapan keberatan dari salah seorang ibu-ibu di antaranya terhenti begitu saja saat pemilik kontrakan kembali buka suara dengan menyela kalimat wanita itu.


Setelahnya pemilik kontrakan kemudian meminta semuanya untuk kembali ke kontrakan masing masing dan membiarkan Malini untuk kembali masuk ke dalam kontrakan.


Setelah kembali menutup pintu kontrakan luruh sudah air mata yang sejak tadi beranak sungai di pelupuk mata wanita malang itu. "Kenapa semua orang membenciku??? apa salahku???." tubuh Malini luruh bersamaan dengan air matanya. dengan memeluk kedua lututnya Malini bersandar pada daun pintu kontrakan. ketika mengatakan hal itu Malini kembali teringat akan wajah Gamara Pradipta yang selalu menyiratkan kebencian setiap kali melihat dirinya.


"Jika dunia serta isinya tidak menginginkan kehadiranku lalu kenapa aku harus ditakdirkan hadir di dunia ini??." tubuh wanita itu nampak bergetar dengan suara tangis yang tercegat.


Cukup lama Malini meratapi nasibnya dengan posisi yang sama sampai dengan beberapa saat kemudian wanita itu beranjak untuk mulai mengemasi barang-barang miliknya.


"Nek....Malini harus kemana??." Malini bergumam saat hendak memasukkan Pigura milik Mbah sumi ke dalam kopernya. "Malini lelah nek... kenapa nenek tidak mengajak Malini pergi saja bersama nenek, kenapa nenek tega meninggalkan Malini sendirian di sini?? kenapa nek...???." tangisan pilu Malini, seorang wanita yang kini harus menjalani hidup sebatang kara di dunia yang begitu kejam ini terdengar begitu menyesakkan dada.

__ADS_1


"Hei... ada apa ini??" Tanya Ria yang baru saja tiba di kontrakan Malini dengan wajah bingung saat melihat sahabatnya itu tengah mengemasi barang-barang miliknya.


Dengan cepat Malini mengusap air matanya agar tak nampak oleh Ria tetapi sayangnya Ria telah melihatnya.


"Aku harus segera meninggalkan tempat ini." jawab Malini dengan nada tenang.


"Tapi kenapa kamu harus meninggalkan tempat ini??? bukankah kamu telah melunasi pembayaran kontrakan hingga bulan depan??." tanya Ria masih bingung dengan Alasan Malini hendak meninggalkan kontrakannya Secara tiba-tiba.


Padahal saat dirinya mengajak serta sahabatnya itu untuk tinggal di rumah orang tuanya, Malini menolak dengan alasan ingin tetap tinggal di kontrakan yang menyisakan kenangan tentang Mbah Sumi. tetapi kenapa hari ini Malini justru ingin meninggalkan kontrakannya, itulah yang membuat Ria bingung.


Malini Nampak menghela napas dalam sebelum menjawab. " pemilik kontrakan terpaksa memintaku untuk meninggalkan kontrakannya karena para penghuni kontrakan yang lain tidak Sudi tinggal di lingkungan yang sama dengan wanita seperti diriku." saat berucap rasanya dada Malini terasa sesak namun ia tetap berusaha terlihat tegar di hadapan sahabatnya itu.


Ria yang mendengarnya sontak memeluk tubuh Malini, sebagai seorang sahabat Ria bisa merasakan bagaimana beratnya berada di posisi Malini saat ini.


"Menangislah !!! jika itu bisa sedikit mengurangi rasa sesak di dada." ucapan Ria di iringi dengan linangan air mata.


Meski Isak tangis Malini tak terdengar namun Ria bisa merasakan jika saat ini Sahabatnya itu tengah menangis, terbukti dengan bahunya yang nampak bergetar ketika berada di pelukannya.


"Terima kasih kau selalu ada bersamaku, Ria dan terima kasih karena kau tidak merasa malu memiliki sahabat sepertiku." Ria tak sanggup menahan Isak tangisnya saat mendengar ucapan Malini.


"Jangan pernah berkata seperti itu lagi, karena kau bukan hanya sekedar sahabat bagiku kau sudah seperti saudara


bagiku, Malini." suasana hari semakin terasa ketika kedua sahabat tersebut saling menguatkan.

__ADS_1


__ADS_2