
Di hadapkan dengan situasi seperti saat ini membuat Malini tidak punya pilihan lain lagi selain menerima lamaran Gama. Meski menurut kesepakatan, mereka hanya akan menjalani rumah tangga selama satu tahun ke depan, tapi menurut Malini satu tahun bukan waktu yang singkat jika harus hidup bersama dengan seorang Gamara Pradipta.
Meskipun telah menerima lamaran dari Gama, namun satu yang masih mengganjal di hati ibunya Ria, yakni setelah memperhatikan wajah Gama yang begitu mirip dengan wajah Fay.
Setelah kepergian Gama dan Kheano, kini Malini dan Ria kembali ke kamar sedangkan Fay malam ini tidur lebih awal, bocah itu bahkan tidak mengetahui kedatangan Gama.
"Mal, pasti setelah tuan Gama menikahi mu, dia akan membawamu pergi dari rumah ini." Ria memberikan sedikit komentarnya tentang kehidupan sahabatnya itu setelah menikah nanti.
Malini lantas menoyor kepala Ria, seakan ingin menyadarkan sahabatnya itu agar tidak berekspektasi tinggi, berhubung pernikahannya dengan Gama hanyalah sebuah timbal balik dari kebaikan Gama pada putranya.
"Apa kau lupa karena apa kami sampai menikah?? Aku yakin tuan Gama tidak akan mengambil resiko dengan membawa kami pergi dari rumah ini, karena itu bisa saja membuat istrinya mengetahui pernikahan kami. Dan asal kau tahu, tuan Gama sangat mencintai istrinya dan sangat mustahil dia akan menyakiti hati nyonya Malina. lagi pula aku yakin tuan Gama hanya ingin dekat dengan Fay makanya dia rela menerima syarat gila dariku. tapi biarlah, setidaknya itu jauh lebih baik daripada nantinya dia berniat merebut Fay dariku. karena kenyataannya tidak sulit bagi seorang Gamara Pradipta untuk merebut Fay dari seorang ibu yang serba kekurangan seperti diriku." ungkap Malini dengan wajah yang berubah sendu setelah mengucap kalimat terakhirnya.
"Jangan bicara seperti itu, kau adalah ibu yang hebat. Kau mampu melawan kerasnya kehidupan untuk melahirkan serta membesarkan putramu sampai dengan saat ini." Ria mengusap punggung Malini, seolah ingin menyampaikan pada sahabat itu jika tidak semua orang sanggup melewati semua ujian seperti yang sudah di lewati Malini selama ini.
Malini hanya menarik kedua sudut bibirnya ke samping.
"Jika kau tidak ada bersamaku, mungkin aku juga tidak akan bisa sekuat ini, Ri." ungkapnya.
Kini kedua sahabat tersebut tampak saling berpelukan, seolah ingin saling mengungkapkan rasa keberuntungan karena bisa saling memiliki satu sama lain.
***
Tanpa terasa waktu terus berjalan, tiga hari pun berlalu. Sesuai dengan permintaan Gama, pernikahan mereka akan di laksanakan tiga hari setelah ia datang melamar dan tentunya hari itu jatuh pada hari ini.
__ADS_1
Gama yang terlihat sangat tampan dengan dengan stelan jas berwarna putih kini duduk di hadapan penghulu.
Namun Satu yang kini menjadi pertanyaan di benak Malini, yakni seseorang yang akan menjadi wali nikah dalam pernikahannya adalah wali hakim yang ditugaskan oleh KUA bagi seorang wanita yang tidak memiliki wali, contohnya Malini sendiri yang hampir hidup sebatang kara tanpa sanak saudara, kecuali Ria dan kedua orang tuanya.
"Apa sekarang aturan di negeri ini sudah berubah?? Apa sekarang KUA telah memperbolehkan seorang pria menikah lagi tanpa persetujuan dari istri pertamanya??." lirih Malini dalam hati. namun beberapa saat kemudian, kedatangan Ria ke kamar seolah mengalihkan pikiran Malini akan hal yang ia pikirkan tadi.
"Kau sangat cantik sekali, Malini. hari ini kau dan tuan Gama terlihat sangat serasi." puji Ria.
"Tidak perlu lebay, aku bukannya hendak menikah dengan pujaan hati jadi tidak perlu se-dramatis itu!!." sahut Malini dengan wajah malas.
"Kau ini." Ria lantas menepuk pelan pundak Malini.
**
"Sepertinya derita baru akan segera hadir di dalam kehidupanku." lirih Malini dalam hati setelah Gama mengucapkan ijab qobul dengan lancar. Bagaimana tidak, menikah dengan suami dari wanita lain pasti akan banyak mengalami goncangan terutama dari istri pertamanya. Setidaknya itu yang kini terlintas di benak dan juga pikiran Malini.
Kini tiba waktunya Malini keluar dari kamar untuk menemui pria yang telah sah menjadi suaminya.
Pandangan Gama tidak berpaling sedetik pun ketika menyadari Malini yang tengah berjalan ke arahnya dengan di dampingi oleh ibunya Ria.
Malini lantas mencium punggung tangan Gama sebagai tanda penghormatan kepada suami, dan kemudian di balas oleh Gama dengan mengecup kening Malini sebagai simbol kasih sayang suami terhadap istrinya.
Pernikahan yang hanya di hadiri oleh kedua orang tua Ria, Ria, Fayadz, Kheano selaku sahabat dari Gama dan juga petugas KUA serta beberapa orang saksi berjalan sangat sederhana sesuai dengan permintaan dari Malini. Bahkan bundanya Gama tidak hadir di pernikahan Putranya, namun begitu wanita paru baya tersebut telah mendengar kabar pernikahan itu dari Putranya, Gama.
__ADS_1
***
Sore harinya, Gama meminta izin kepada kedua orang tua Ria untuk memboyong Malini dan juga Fay ke apartemennya, yang berada di tengah kota S.
Tanpa memberatkan Gama, ayahnya Ria pun mengizinkan Malini yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri untuk ikut bersama dengan suaminya.
"Silahkan jika nak Gama ingin membawa Malini dan juga Fay bersama dengan nak Gama !!! Tetapi ayah hanya meminta pada nak Gama untuk menjaga serta melindungi Malini dan juga Fay dengan sepenuh hati. Ayah minta tolong pada nak Gama untuk memperlakukan Fay layaknya anak kandung sendiri, karena meski bukan cucu kandung ayah, tetapi ayah sangat menyayangi Fay. Sejak lahir hingga saat ini kami belum pernah berpisah dengannya." tanpa di sadari kedua kelopak mata pria paru baya tersebut tampak berkaca kaca ketika berpesan pada Gama.
"Saya berjanji ayah akan menjaga Malini dan juga Fay dengan sepenuh hati saya, Dan saya juga berjanji akan memperlakukan Fay layaknya anak kandung saya sendiri, Ayah." jawab Gama dengan tulus dan itu dapat dilihat oleh ayahnya Ria dari sorot mata Gama.
"Karena kenyataannya Fay adalah anak kandung saya, ayah." lanjut ungkap Gama dan tentunya itu hanya terlontar di dalam hatinya.
Sementara di kamar yang selama ini di tempati oleh Ria dan Malini, tampak Ria yang tengah membantu Malini memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Malini, Sepertinya kita akan jarang bertemu setelah kau ikut bersama dengan tuan Gama." kedua kelopak mata Ria mulai tampak digenangi air mata begitu juga dengan Malini, namun keduanya tetap berusaha menahan agar genangan itu tidak sampai jatuh membasahi pipi.
"Kau tidak perlu cemas, aku hanya pergi selama setahun !!! Lagi pula jika tuan Gama sampai menganiaya atau berbuat kasar padaku, aku pasti akan segera kembali ke sini, jadi kau tenang saja!!." canda Malini seolah ingin membuat Ria tersenyum, dan benar saja kini sahabatnya itu tampak mengulas senyum di bibirnya.
"Kau ini bisa saja, tapi jika tuan Gama benar benar sampai kasar padamu, sebaiknya kau segera kembali ke rumah ini !!!." pesan Ria dan Malini pun mengangguk seraya mengulum senyum di bibirnya.
Kini baik koper milik Malini ataupun Fay telah siap.
"Mal.". Sebelum beranjak meninggalkan kamar, Ria lantas memeluk tubuh Malini untuk waktu yang cukup lama, sebelum kemudian Keduanya kembali melerai pelukan dan Malini pun menemui Gama yang sudah menunggu di depan.
__ADS_1
Setelah pamit kepada Ria dan juga kedua orang tuanya kini Gama pun membawa Malini dan juga Fay menuju apartemen miliknya.