
Tanpa terasa waktu terus berlalu sampai dengan seminggu kemudian.
Hampir setiap hari Gama menyempatkan waktu khusus untuk mengajak Fay di tengah kesibukannya bekerja, walau hanya untuk sekedar bermain ataupun makan siang bersama. Entah mengapa Gama merasa sangat bahagia jika bersama dengan bocah itu.
Sama halnya dengan siang ini, Gama kembali mengajak Fay bermain di salah satu taman bermain anak yang berada di salah satu Mall ternama di kota Surabaya. Namun kali ini berbeda karena Kheano tidak bisa ikut serta sebab pria itu akan makan siang bersama kliennya.
Melihat Fay telah puas bermain, Gama mengajak bocah tersebut untuk makan siang di salah satu restoran yang letaknya tak jauh dari Mall tempat mereka menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya.
Setibanya di restoran yang di maksud, Gama meminta Fay untuk duduk di kursi menempati salah satu meja yang akan mereka tempati untuk mengisi perut yang sudah meronta ingin segera di isi, sementara dirinya hendak ke Toilet sebentar setelah usai memesan menu pada pelayan.
"Fay kamu tunggu sebentar di sini om mau ke toilet sebentar." pamit Gama Dan Fay pun mengangguk dengan senyum yang seakan tak ingin luntur dari wajah tampannya saat bocah itu bersama dengan sosoknya.
"Jangan lama-lama ya om ganteng!!."
"Siap anak ganteng." Gama pun berlalu menuju toilet berada.
Tak berapa lama Gama pun kembali dari toilet. Kedatangan Gama bersamaan dengan kedatangan pelayan restoran yang hendak menyajikan pesanan mereka di meja.
Setelah selesai menyajikan pesanan pelayan restoran pun mempersilahkan keduanya untuk menikmati hidangan.
"Selamat menikmati tuan dan tuan muda." ucap pelayan yang tentunya berpikir keduanya merupakan ayah dan anak mengingat wajah keduanya pun sangat mirip.
Setelah mendapat anggukan kecil dari Gama, pelayan restoran tersebut kemudian pamit kembali ke belakang.
Dua puluh menit kemudian makanan yang mereka pesan pun telah tandas.
Baru saja hendak berdiri meninggalkan tempat duduknya tiba tiba seorang pelayan restoran menghampiri meja mereka.
__ADS_1
"Maaf tuan, apa anda adalah pemilik mobil dengan plat xxxx??." tanya pelayan dan Gama pun mengiyakannya karena nomor plat yang di sebut pelayan restoran tersebut merupakan plat mobilnya.
"Di depan ada insiden yang membuat mobil anda menjadi korban perampokan." penjelasan pelayan restoran tersebut membuat Gama langsung melangkah keluar untuk melihat kondisi mobilnya. Namun sebelumnya tak lupa Gama membawa serta Fay bersamanya karena tidak ingin bocah itu sampai hilang dari pengawasannya.
"Astaga...kenapa mobil om ganteng jadi rusak begini??." tanya Fay dengan polosnya saat melihat kondisi kaca mobil Gama telah pecah dengan serpihan kacanya yang kini berserakan di mana mana.
"Awas hati hati Fay..!! Serpihan kaca bisa melukai kakimu nak." Gama lebih mengkhawatirkan Fay di banding kondisi kaca mobilnya yang kini telah tak beraturan akibat di pecahkan oleh sekelompok orang tak bertanggung jawab. Tetapi untungnya pihak keamanan restoran bertindak cepat dengan mengamankan pelaku sebelum kemudian menghubungi pihak yang berwajib.
Berhubung ini merupakan tindakan kejahatan dan harus berurusan dengan pihak yang berwajib maka sebagai korban mau tidak mau Gama harus ikut serta ke kantor polisi untuk memberi keterangan.
Sebagai masyarakat yang taat akan hukum yang berlaku maka dengan terpaksa Gama harus pergi menuju kantor polisi. Karena sangat tidak mungkin untuk Gama menitipkan Fay pada pelayan restoran maka mau tidak mau Gama membawa serta Fay bersama dengannya menuju kantor poli_si.
Karena pelaku cukup berbelit belit dalam memberi keterangan maka hal itu cukup memakan waktu yang cukup lama sehingga Gama harus mengorbankan waktunya untuk hal yang menurut pria itu tidak begitu penting.
Sebenarnya Bagi seorang Gama Pradipta tidak lah Sulit untuk memperbaiki bahkan mengganti mobilnya dengan mobil baru, namun demi mencegah hal yang sama kembali terjadi pada orang lain selain dirinya maka Gama dengan terpaksa mengikuti prosedur hukum yang berlaku di ne_gara ini.
Gama mulai memikirkan Ria, saat ini wanita itu sangat pasti mencemaskan keberadaan Fay. Ingin memberi kabar pada Ria namun daya ponsel miliknya habis.
***
"Kenapa kamu sampai membiarkan rekan bisnis Leo membawa Fay, Ria." Malini yang begitu mencemaskan keberadaan putranya terlihat tengah menahan tangis.
"Maafkan aku Mal, ini salahku." hanya itu yang bisa di katakan Ria saat motor matic miliknya melaju di tengah ramainya kota Surabaya.
Jantung Ria berdebar tak menentu, bagaimana sampai Malini tahu jika rekan bisnis yang di maksudnya itu tak lain adalah Gamara Pradipta.
"Sebaiknya kita laporkan saja pada pihak berwajib, bisa jadi orang itu berniat menculik putraku, Ria." berbagai pikiran buruk kini terlintas di benak dan pikiran Malini.
__ADS_1
Melihat Malini dari kaca spion motor mulai mengusap wajahnya yang dilinangi air mata akhirnya Ria memutuskan mampir saat melihat keberadaan kantor polisi terdekat saat ini.
***
"Sampai kapan saya harus terus berada di sini pak?? Saya juga memiliki kesibukan yang lain."
Gama yang sudah kehabisan kesabaran pun akhirnya mengemukakan protesnya pada petugas, saat pria itu hendak meninggalkan ruangan pemeriksaan untuk sejenak saat salah satu anak buahnya memberi kabar padanya jika di luar ada seorang wanita yang juga ingin membuat laporan pol_isi.
"Maaf tuan Pradipta, saya akan segera kembali, saya janji hanya sebentar dan akan kembali lagi dalam beberapa menit." jawab petugas yang mengenal siapa sosok pria yang ada di hadapannya tersebut.
Pada akhirnya Gama pun diam dan membiarkan pria itu keluar dari ruangan itu untuk. Namun karena telah menunggu lebih dari sepuluh menit petugas tersebut tak juga kembali akhirnya Gama pun memilih untuk keluar dari ruangan tersebut.
Baru saja Gama melangkah keluar dari pintu ruangan, indera pendengarannya sudah di suguhkan oleh suara tangisan seorang wanita.
Perlahan Gama yang kini membawa serta Fay dalam gendongannya melangkah ke arah sumber suara.
"Om ganteng kita mau kemana?? Apa kita akan segera pulang??." tanya Fay yang sebenarnya telah merindukan sosok Malini.
Pertanyaan Fay membuat Gama menghentikan langkahnya untuk sejenak.
"iya anak ganteng sebentar lagi kita akan segera pulang, tetapi sebelumnya kita harus menemui om pol_isinya dulu ya." ajak Gama sebelum kembar melanjutkan langkahnya.
"Ya tuhan, Fay..." Ria yang baru saja mengambil ponselnya yang tadi ketinggalan di bagasi motor sedikit mengeraskan suaranya saat melihat keberadaan Fay, tanpa menyadari jika saat ini Fay bersama dengan Gama akan berakibat fatal di mata Malini.
Sementara Malini dan juga beberapa orang petugas yang bertugas menerima laporan dari Malini pun segera memandang ke arah Sumber suara.
Bagaikan di sambar petir di siang bolong saat Malini melihat keberadaan putranya yang kini berada di gendongan seorang pria yang tidak asing baginya.
__ADS_1