
Keesokan harinya Malini terlihat kurang fokus dalam bekerja, bahkan sudah beberapa kali wanita itu mendapat teguran dari mandor dalam kurun waktu beberapa jam saja.
"Maafkan saya pak." hanya permintaan maaf yang keluar dari mulut Malini setiap kali mendapat teguran dari mandor yang bertugas mengawasi pekerja.
Mulai hari ini bisa tidak bisa, Malini tetap harus menjemput Fay di sekolahnya karena jika Ria yang akan menjemput Fay sudah pasti wanita itu akan membawa Fay ke tempatnya bekerja, dan hal itu pasti akan membuat Fay kembali bertemu dengan sosok Gamara Pradipta. Tentu saja Malini tidak ingin sampai hal itu terjadi lagi.
"Mau kamu apa sih Malini?? sejak tadi pekerjaan kamu tidak becus sekarang kamu malah ingin meminta izin di waktu kerja."
Mandor terlihat memarahi Malini saat wanita itu meminta izin untuk menjemput putranya di sekolahnya.
"Tapi pak, saya harus segera menjemput anak saya di sekolahannya. Saya mohon, saya janji hanya dua puluh menit saja." dengan wajah memelas Malini memohon tetapi sayangnya mandor gembul tersebut sepertinya tetap tidak mengindahkan permohonan dari Malini untuk pergi pada jam kerja.
Melihat jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul sebelas siang, Malini pun kekeh pergi meninggalkan mandor yang masih menatapnya dengan tajam.
"Jika kau tetap kekeh ingin meninggalkan pabrik di saat jam kerja maka kamu saya pecat."
Bukannya gentar dengan ancaman pak mandor, Malini justru mantap melanjutkan langkahnya.
"Malini jika kau tetap kekeuh ingin pergi pada saat jam kerja maka mulai besok kau tidak usah lagi datang ke pabrik." dengan suara kerasnya pak mandor berucap demikian ketika melihat Malini tidak mengindahkan peringatan darinya.
Suara teriakan yang mampu mengundang tatapan hampir semua pekerja tertuju pada sosok Malini. Ada yang menatap iba padanya namun ada pula yang menatap dengan senyum seringai seolah bahagia saat mendengar dirinya di pecat dari pabrik.
Bagi Malini dirinya bekerja untuk Putranya, tetapi jika sampai terjadi sesuatu pada putranya akibat dirinya yang tidak di perbolehkan untuk izin menjemput sang buah hati, lalu apa gunanya dirinya banting tulang.
Dengan mengendarai motor matic milik Ria, Malini bergegas menuju sekolah putranya. karena jarak sekolah Fay lumayan jauh dari tempatnya saat ini maka Malini membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk tiba di sekolahan Fay, sehingga membuatnya terlambat sepuluh menit untuk menjemput putranya itu.
Malini terlihat berdebat dengan salah seorang tenaga pengajar di sekolah Fay ketika mengetahui putranya tak lagi berada di sekolah.
"Bagaimana bisa anda mengizinkan siswa pergi dengan di jemput oleh orang yang tidak di kenal??." perkataan Malini membuat wanita yang merupakan salah satu guru di sekolah tersebut terlihat bingung mendengarnya.
"Maaf Bu, tapi tadi Fay di jemput oleh seorang pria yang mengaku sebagai papanya Fay." jawaban Bu guru tersebut semakin membuat jantung Malini berdebar tak menentu.
__ADS_1
Dari pengakuan wanita itu, Malini bisa menebak jika pria yang di maksudnya tak lain adalah Gamara Pradipta.
"Tidak mungkin." Malini menggelengkan kepalanya saat membayangkan Gamara Pradipta membawa kabur putranya.
Saking paniknya, Malini sampai lupa berpamitan pada ibu guru Fay.
"Ya tuhan kemana tuan Pradipta membawa putraku??." batin Malini yang kini semakin cemas saja.
Sudah dua puluh menit berkeliling di kawasan dekat sekolahan Fay namun Malini tak kunjung menemukan keberadaan putranya. Hingga Malini yang diliputi perasaan cemas tersebut terlihat berdiri di tepi jalan sembari menyapu pandangan ke sekitar dengan harapan keberadaan putranya belum jauh dari kawasan sekolah.
"Mama." Malini spontan menoleh ke sumber suara saat mendengar putranya memanggil namanya.
"Fay."saking paniknya Malini sampai berlari dengan menyebrangi jalan raya tanpa menoleh ke kanan dan kiri.
Cit
Suara ban mobil yang beradu di aspal terdengar begitu nyaring.
Jika saja seseorang tidak tepat waktu menarik tubuh mungilnya mungkin kini Malini telah berada di alam yang berbeda dengan putranya.
"Apa kau sudah Gila hah..???." suara seorang pria terdengar sedikit meninggi terngiang di indera pendengaran Malini sebelum ia mengangkat pandangannya menatap pria yang ternyata adalah Gamara Pradipta.
"Di mana putraku??.". Tanya Malini dengan nada dingin.
"Aku lebih baik mati daripada harus berpisah dari putraku." dengan nada dingin Malini kembali berujar. Bahkan sikunya yang tadi tergores akibat Gama yang tadi menarik tubuhnya dengan sedikit kasar agar tak sampai tertabrak, sama sekali tak di pedulikan oleh wanita itu.
"Mama." kini Fay menangis sembari memeluk kedua kaki Malini sebelum kemudian Malini memposisikan diri dengan tinggi tubuh putranya.
"Hei...jangan menangis sayang, mama baik-baik saja." Dengan lembut Malini berucap mencoba menenangkan putranya yang tengah menangis mencemaskan keadaannya.
"Kalau baik baik saja kenapa tangan mama sampai berdarah." ujar Fay di sela tangisnya saat melihat siku Malini yang tergores kini mengeluarkan darah.
__ADS_1
Mendengar ucapan Fay barulah Gama tersadar jika saat ini siku Malini berdarah akibat tergores.
"Ayo Fay kita pulang!!." tanpa Mempedulikan perihnya luka di sikunya Malini membawa tubuh putranya.
Sesaat Malini menghentikan langkahnnya tanpa menoleh Malini berkata. "Sebaiknya mulai sekarang anda berhenti menemui putraku!!." ucap Malini masih dengan nada sopan namun terdengar tegas dalam setiap kata katanya.
"Bagaimana jika saya tidak mau menurutinya??."
Malini spontan memutar kepalanya ke arah Gama, dengan tatapan dingin wanita itu berucap. "Saya tidak sedang mengajak anda bernegosiasi tuan, tetapi saya sedang memberi peringatan kepada anda." tegas Malini sebelum kembali melanjutkan langkahnya
Sementara Fay yang saat ini menggenggam tangan Malini hanya bisa menjadi pendengar karena anak seusianya belum begitu paham dengan urusan orang dewasa. Sehingga tidak paham mengapa sampai ibunya melarang om gantengnya tersebut untuk kembali menemuinya.
Gama memilih diam, tak ingin putranya menyaksikan perdebatan di antara ia dan Malini. Gama juga tidak ingin gegabah dengan mengaku dirinya sebagai ayahnya Fay karena tidak ingin bocah itu merasa syok dan justru akan menghindari dirinya.
Setelah melihat motor matic yang di kendarai Malini yang membawa serta Fay tak lagi terlihat dari pandangan,Gama pun segera beranjak menuju mobilnya berada.
Cukup lama Gama duduk merenung di balik kursi kemudi sebelum kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Gama memutuskan untuk menemui Kheano di pabrik milik keluarganya.
Beberapa hari terakhir Gama merasa harinya terasa berat, mungkin dengan menemui sahabatnya, Kheano, bisa sedikit memberikan solusi.
Setibanya di pabrik, Gama segera menuju ruangan Kheano berada tanpa mengabarkan lebih dulu.
Di ruang kerja Kheano, Di sinilah Gama berada sekarang. Dengan wajah lusuh pria itu duduk di sofa yang berhadapan dengan Kheano.
"Ada apa denganmu?? apa kau sedang ada masalah??." tebak Kheano dengan mode serius dan Gama pun mengiyakannya.
Kheano menghela napas berat mendengarnya.
"Memangnya sebesar apa masalahnya sampai membuat seorang Gamara Pradipta nampak begitu frustrasi seperti ini???" lanjut tanya Kheano dan Gama pun mulai menceritakannya pada sahabatnya itu.
Jujur, Kheano sangat terkejut dan hampir tak percaya saat mendengar cerita Gama, ternyata di dunia ini ada seorang gadis yang memiliki wajah sangat mirip dengan mantan istrinya. namun Begitu, Kheano tetap diam tanpa menyela membiarkan Gama menyelesaikan semua ceritanya.
__ADS_1
Hal yang semakin membuat Kheano terkejut dan hanya bisa menggelengkan kepalanya adalah saat Gama mengaku telah merenggut sesuatu yang paling berharga dari wanita itu karena berpikir jika wanita itu adalah mantan istrinya, Malina, yang saat itu masih berstatus sebagai istri sahnya.