Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Kepergian Mbah Sumi.


__ADS_3

Setibanya di depan kontrakan Malini melihat pemandangan asing karena tidak biasanya Mbah Sumi tidak menyambut kepulangannya.


"Nek... nenek....Malini pulang." Malini mencari keberadaan Mbah Sumi namun tak kunjung menemukan keberadaan wanita itu baik di kamarnya bahkan juga di dapur.


Berapa terkejutnya Malini saat membuka pintu kamar mandi dan menemukan keberadaan Mbah Sumi yang sudah tergeletak di lantai kamar mandi.


"Nenek...nenek....buka mata nenek!!!." Malini menepuk pelan wajah Mbah Sumi berharap wanita itu segera sadar dan membuka matanya. tetapi setelah melakukannya beberapa kali wanita lanjut usia tersebut tak kunjung membuka mata, sehingga membuat Malini semakin cemas di buatnya.


"Tolong.... tolong.... tolong...." mendengar teriakan Malini para tetangga kontrakannya pun datang menghampiri.


"Ada apa ndok???" tanya salah seorang dari beberapa orang tetangga yang datang menghampiri kontrakan Malini.


"Sepertinya nenek saya terjatuh di kamar mandi pak." jawab Malini berdasarkan praduga karena menemukan keberadaan Mbah sumi tergeletak di lantai kamar mandi.


"Astaga....."


"Tolong bantu saya untuk mengantar nenek saya ke rumah sakit pak." pinta Malini dengan berurai air mata.


Para tetangga pun segera membantu Malini untuk membawa Mbah Sumi ke rumah sakit dengan menggunakan sebuah mobil pick up milik salah satu tetangga kontrakannya.


Di perjalanan menuju rumah sakit Malini terus mencoba membangunkan Mbah sumi berharap sebuah keajaiban terjadi dan wanita itu membuka matanya, tetapi sayangnya itu semua tidak terjadi sampai pick up yang mereka tumpangi tiba di sebuah rumah sakit.


Dengan di bantu oleh beberapa perawat rumah sakit serta dokter yang bertugas di IGD Mbah Sumi mendapatkan tindakan emergency. bahkan wanita lanjut usia tersebut sampai membutuhkan alat pacu jantung.


Di depan ruang tindakan Malini terlihat tak tenang. air mata Malini tak hentinya berurai tatkala memanjatkan doa agar Mbah Sumi bisa di selamatkan.

__ADS_1


Tetapi sepertinya tuhan berkehendak lain satu satunya wanita yang kini menjadi pelindungnya telah di ambil oleh sang pemilik kehidupan.


"Maaf nona, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi sepertinya tuhan berkehendak lain.nyawa pasien atas nama Nyonya Sumiati tidak dapat di selamatkan." mendengar penjelasan dokter yang baru saja keluar dari ruang tindakan membuat Malini membeku untuk beberapa saat seolah semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi dan ingin rasanya ia segera bangun dari tidurnya.


"Tidak mungkin dok.... dokter pasti hanya bercanda kan??? nenek saya masih hidup kan dok??." dengan berderai air mata Malini berucap berharap dokter membenarkan ucapannya.


"Sekali lagi maafkan kami nona, dokter pun hanya manusia biasa yang tidak mungkin bisa menentang ketetapan sang pencipta." jawaban dokter membuat tubuh Malini luruh begitu saja ke lantai.


"Nenek....kenapa nenek meninggalkan Malini sendirian??? bukankah nenek telah berjanji untuk selalu ada di sisi Malini." Gumam Malini di sela Isak tangisnya.


Untungnya beberapa saat kemudian Ria tiba di rumah sakit karena saat datang ke kontrakan Malini, wanita itu di beritahu oleh tetangga kontrakan jika Mbah Sumi di larikan ke rumah sakit.


"Mal, ayo bangun jangan seperti ini!!! jika nenek melihat kamu dalam kondisi seperti ini nenek kamu pasti akan sedih melihatnya." ucap Ria seraya membantu Malini untuk berdiri.


"Jangan bicara seperti itu Mal, masih ada aku di sini aku akan selalu ada bersamamu percayalah!!!." Ria pun ikut menangis saat memeluk tubuh rapuh Malini.


Entah mengapa saat motornya baru saja tiba di pelataran rumah orang tuanya setelah kembali dari pabrik, Ria merasa perasaannya tak enak wanita itu terus kepikiran sahabatnya, Malini. itulah sebabnya Ria segera menuju ke kontrakan Malini tanpa masuk lebih dulu ke dalam rumahnya. setelah tiba di kontrakan Malini, gadis itu justru di kejutkan dengan kabar dari para tetangga jika mbah Sumi baru saja di larikan ke rumah sakit.


Setelah membawa jenazah Mbah Sumi kembali ke kontrakan, Malini yang di temani oleh Ria serta di bantu oleh para tetangga kontrakannya segera mempersiapkan pemakaman untuk Mbah Sumi.


Setelah persiapan selesai jenazah Mbah sumi pun segera di kebumikan mengingat sebentar lagi waktu magrib tiba.


Hari sudah hampir gelap namun Malini enggan untuk meninggalkan pusara Mbah Sumi, wanita itu masih setia memeluk batu nisan yang bertuliskan nama neneknya tersebut dengan di sertai tangis pilu. wanita yang merawat Dirinya sejak masih kecil hingga sampai sekarang ini, kini telah berpulang pada sang pemilik kehidupan meninggalkan dirinya seorang diri.


"Malini, sebaiknya kita segera pulang sebentar lagi langit akan gelap dan sekarang pun mendung sepertinya akan turun hujan." tutur Ria dengan lembut pada Malini yang masih terlihat duduk bersimpuh di pusara Mbah sumi.

__ADS_1


"Aku masih mau di sini Ri, aku ingin bersama dengan nenekku aku tidak sendirian." Ria semakin tak tega melihat kondisi Malini seperti ini akhirnya Ria pun ikut memposisikan diri di sisi Malini.


"Aku mohon Mal, kamu sangat merasa kehilangan sosok nenek kamu tetapi kamu juga harus ingat ada nyawa seorang anak tak berdosa yang kini ada di dalam kandungan kamu yang harus kamu jaga. jika kamu tidak mau melakukannya demi aku setidaknya lakukanlah demi calon anakmu!!." dengan berderai air mata Ria berucap berharap Malini bisa menuruti permintaannya untuk segera meninggalkan tempat pemakaman umum tersebut mengingat langit hampir gelap


Deg.


Malini seolah tersadar saat Ria mengucapkan anak dalam kandungannya.


"Kau benar Ri, selain dirimu hanya anak ini yang akan menemaniku setelah kepergian nenek." Malini bangkit setelah sebelumnya pamit di pusara Mbah Sumi dengan wajah tak bersemangat.


Kini Baik Ria dan Malini telah kembali menuju kontrakan Malini dengan menggunakan sepeda motor milik Ria.


Dari pantulan spion motor Ria bisa menyaksikan jika saat ini Malini masih terus menangis, menangisi kepergian Mbah Sumi yang tiba tiba. padahal setahu Malini neneknya tersebut tidak mengalami penyakit apapun, atau wanita itu memang sengaja menyembunyikannya dari Malini agar tidak membuat cucunya tersebut jadi kepikiran tentang dirinya.


Setibanya di kontrakan Malini menyapu pandangan ke setiap sudut ruangan. setiap sudut ruangan yang mengingatkan dirinya tentang sosok Mbah Sumi dan hal itu kembali membuat Malini menangis sejadi jadinya.


"Apa Malini akan sanggup menjalani kerasnya hidup ini tanpa kehadiran nenek di samping Malini, Nek???." Ria membiarkan Malini meluapkan perasaannya mungkin dengan begitu sahabatnya itu bisa sedikit lebih tenang setelahnya.


Benar saja, setelah satu jam berlalu Ria tak lagi mendengar suara tangisan Malini tetapi hal itu justru membuat Ria semakin cemas karena pandangan Malini berubah kosong.


"Malini jangan seperti ini, aku percaya kamu wanita yang kuat kamu pasti bisa melewati semua ini, aku yakin itu Malini." ucap Ria yang sebenarnya merasa sangat iba dengan kondisi Malini saat ini.


"Aku lelah....aku sudah lelah dengan takdir hidupku, jika menyerah tidak berdosa aku ingin menyerah saja dengan semua ini." masih dengan tatapan kosong Malini berucap sehingga membuat Ria yang semakin tak tega langsung memeluk tubuh sahabatnya itu .


"Jangan bicara seperti itu lagi Mal, aku mohon padamu!!!." ucapnya setelah memeluk tubuh Malini sedangkan Malini hanya diam membeku tak membalas pelukan Ria, hanya air mata yang kini menjadi tanda berapa rapuhnya hati wanita itu saat ini.

__ADS_1


__ADS_2