
Di perjalanan menuju rumah, setelah kembali dari tempatnya bekerja Ria terus kepikiran dengan pengakuan Leo di perusahaan siang tadi.
"Jika tuan Gama akan menjadi investor di perusahaan milik Leo, tidak menutup kemungkinan tuan Gama akan sering berada di kota ini." dalam hati Ria yang kini tengah mengendarai motornya dengan membonceng Fay di depan.
"Tante cantik, kapan kapan Fay bisa main lagi sama om ganteng kan??." pertanyaan Fay seketika membuyarkan lamunan Ria.
Ria masih diam, bingung harus menjawab apa.
"Tante cantik..."Fay menggoyang goyangkan lengan Ria seakan menuntut jawaban.
"Iy_iya sayang tentu saja." dengan terpaksa Ria mengiyakan permintaan Fay, karena tak ingin merubah mood Fay menjadi buruk jika menolak.
"Asyik..." kebahagiaan begitu jelas terlihat di wajah Fay ketika mendengar jawaban Ria.
"Fay, boleh Tante minta sesuatu padamu??." tanya Ria dan Fay pun mengangguk. "Tentu saja boleh Tante cantik, memangnya apa yang ingin Tante cantik inginkan dari Fay??."
"Tante minta sama Fay untuk merahasiakan pertemuan kita dengan om ganteng dari mamanya Fay!! Gimana Fay bersedia kan merahasiakan hal ini untuk sementara waktu dari mama??.". pinta Ria dengan nada membujuk pada Fay, sembari mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan pertemuan tidak disengaja antara dirinya, Fay dan juga Gamara Pradipta.
Jika tentang Leo, Ria tidak keberatan untuk segera menyampaikan pada Malini jika pria itu ternyata pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Kini motor Ria telah memasuki pekarangan rumah.
Malini yang tengah menyapu diruang tamu segera keluar saat mendengar suara motor matic milik Ria.
"Assalamualaikum mah." ucap Fay ketika mamanya baru saja keluar dari dalam.
__ADS_1
"Waallaikumsalam anak ganteng mama." jawab Malini.
"Maaf Ri lagi lagi aku merepotkan dirimu." kata Malini dengan wajah bersalah.
"Sudahlah... tidak apa apa lagi pula aku lebih rela kehilangan pekerjaan daripada harus membiarkan keponakan pulang sendirian." jawab Ria yang kini tengah membantu Fay turun dari motor.
"Thank you Ri, kamu memang sahabat terbaikku. jika kamu tidak ada bersamaku entah apa yang akan terjadi padaku dan Fay sekarang." ucap Malini sebelum mengulurkan tangannya pada Fay.
Malini memang sudah mengajarkan sopan santun terhadap putranya sejak Fay berusia dini. termasuk Salim kepada orang yang lebih tua.
Karena hari hampir petang Malini mengajak Ria dan juga Fay untuk segera masuk ke dalam, sementara kedua orang tua Ria masih berada di toko milik mereka yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari rumah.
Saat berada di dalam kamar, sesekali Ria melirik ke arah Malini yang tengah sibuk membantu Fay mengganti pakaian sekolahnya.
"Ada apa Ri??." tanya Malini saat tidak sengaja melihat dengan ekor mata Ria sedang menatapnya.
Ria nampak menggaruk tengkuknya karena gugup saat Malini menatapnya curiga.
"Ada apa sebenarnya Ri, sikapmu aneh sekali." jika sudah begini, Ria tak bisa lagi menyembunyikan hal tentang Leo. Ya, Ria hanya berniat menceritakan tentang Leo pada Malini bukan yang lainnya termasuk pertemuan Fay dengan Gama siang tadi.
"kau tahu Mal, pemilik perusahaan yang aku maksud tadi pagi ternyata adalah Leo, mantan kekasihmu itu. dan kau tahu, ternyata selama ini Leo terus mencari keberadaanmu." kata Ria teringat akan pengakuan Leo siang tadi, saat pria itu sengaja memanggil Ria ke ruangannya.
"Leo???." Malini menampilkan reaksi biasa saja karena kabar tentang Leo tidak terlalu berpengaruh baginya.
Karena Kini Malini fokus untuk merawat dan membesarkan putranya sehingga tak ada lagi waktu untuknya memikirkan diri sendiri apalagi pasangan.
__ADS_1
"Ya, Leo sekarang sudah sukses, perusahaan tempatku bekerja ternyata adalah miliknya." lanjut Ria. meski sudah tahu jika Malini sama sekali tidak tertarik dengan hal itu namun Ria tetap menyampaikannya kepada Malini.
Inti dari niat Ria menyampaikan hal itu pada Malini adalah ingin menyampaikan jika Leo tidak pernah melupakannya. Leo bahkan terus berusaha mencari keberadaannya selama ini.
"Lalu apa hubungannya denganku??." tanya Malini dengan nada datarnya saat sahabatnya itu seolah sengaja membanggakan mantan kekasihnya tersebut dihadapannya.
Ria nampak menghela napas sebelum berkata. " Apa kau tidak berniat ingin kembali pada Leo?? aku yakin Leo benar benar mencintaimu dan dia juga pasti akan menerima kehadiran Fay." ucapnya.
Sepertinya ucapan Ria berhasil merubah mood Malini menjadi kurang ok malam ini. Malini memilih keluar dari kamar hendak menuju dapur sengaja untuk mengindari pertanyaan dari Ria.
Ria menyusul langkah Malini hingga kini keduanya berada di dapur. " Maafkan aku, bukannya aku ingin ikut campur dengan hubunganmu dan Leo. sebagai sahabat aku hanya ingin melihatmu dan Fay hidup bahagia dan aku rasa Leo adalah orang yang tepat untukmu." dengan hati hati Ria berucap tidak ingin Malini berpikir yang bukan bukan tentang niat baiknya.
"Aku tahu kau sayang padaku Ri, tetapi aku mohon jangan pernah berpikir jika aku ingin kembali bersama Leo karena sampai kapanpun itu tidak akan terjadi. saat ini aku hanya ingin fokus membesarkan putraku jadi kumohon mengertilah!!!." Malini menggenggam tangan Ria saat berucap, seolah ingin memberi pengertian pada sahabatnya itu agar tidak lagi membahas tentang Leo dihadapannya.
"Baiklah, tetapi sebelum itu tolong bantu aku untuk menepati janjiku pada Leo !!" Ria membalas genggaman tangan Malini penuh harap.
"Tolong....!!! untuk sekali ini saja temui Leo dengan begitu aku telah menepati janjiku padanya, setelah itu aku janji tidak akan membahas tentang pria itu lagi." pinta Ria. Tadi saat Gama pamit untuk mengabari ibunya jika ia telah tiba dengan selamat di Surabaya, Leo menggunakan waktu luang tersebut untuk meminta Ria segera ke ruangannya. dan saat Ria tiba di sana tanpa basa basi Leo meminta bantuan Ria untuk mempertemukan dirinya dengan Malini.
Awalnya Ria sempat berdusta dengan mengatakan jika dirinya tidak mengetahui keberadaan Malini namun pada akhirnya Ria merasa tak tega saat melihat wajah Leo berubah sendu.
Malini nampak menghela napas berat. "Baiklah katakan padanya besok aku akan datang ke kantornya setelah pulang kerja !!!." kata Malini dan Ria pun mengangguk namun sepersekian detik berikutnya ia baru tersadar, tidak tepat jika Malini mendatangi gedung perusahaan tersebut mengingat Gama selalu ada bersama Leo saat di kantor.
"Sebaiknya kalian bertemu di luar kantor saja Mal, tidak baik bertemu dilingkungan kerjanya akan banyak pegawai yang akan menggunjing mu nantinya dan aku tidak ingin itu sampai terjadi." ucapan Ria mengandung dusta. karena sebenarnya yang ia takutkan adalah Malini mengetahui keberadaan Gama di kota ini dan hal itu pasti akan membuat sahabatnya itu tak tenang.
Sebagai seorang sahabat tentunya Ria tidak ingin sampai Malini merasa tak tenang menjalani kehidupannya.
__ADS_1
"Terserah kau saja !!." kata Malini meyerahkan semua pada Ria.