
Kini motor matic milik Ria telah tiba di pekarangan rumah. Malini yang satu jam lebih dulu tiba di rumah terlihat menyambut kedatangan Fay dan Ria.
"Mama..." Fay yang baru saja turun dari motor Langsung memeluk kaki Malini.
"Sayang." Malini kemudian memposisikan tubuhnya dengan tinggi badan putranya. Malini mengecup kedua pipi putranya bergantian.
Malini menatap ke arah Ria setelah melihat paper bag yang berada di tangan putranya.
"Tidak perlu memanjakan Fay dengan sering membelikannya mainan baru untuknya." kata Malini karena mengira paper bag yang berisikan robot robot tersebut dibelikan oleh Ria.
Sejenak Ria menatap ke arah Fay sebelum menjawab. "Tidak masalah, kebetulan hari ini aku gajian." lagi lagi Ria terpaksa berdusta. untungnya secara kebetulan hari ini ia sedang gajian sehingga membuat Malini percaya begitu saja dengan ucapannya.
Malini menghela napas. "Lain kali tidak perlu memanjakan Fay dengan mainan mahal Ri !!!." pinta Malini dan Ria pun hanya bisa mengangguk setelahnya.
Saat di perjalanan kembali ke rumah Ria meminta Fay untuk menyembunyikan kebenaran jika mainan tersebut pemberian dari seorang pria yang akrab di panggilnya dengan sebutan om ganteng.
"Maafkan aku karena telah berbohong padamu Mal."sesal Ria dalam Hati saat kini melangkah di belakang Malini dan Fay menuju ke dalam rumah.
Setelah menemani Fay belajar untuk beberapa saat, Malini pun menemui Ria yang kini tengah membersihkan wajahnya di depan meja rias.
Ria menatap Malini yang tengah duduk di tepi ranjang dari pantulan cermin meja rias. "Terima kasih Karena kamu sudah bersedia menemui Leo." ucapnya. kala teringat akan pesan singkat yang dikirimkan Leo padanya saat ia berada di supermarket tadi.
"Jika tidak bisa kembali menjalin hubungan dengannya, setidaknya kau bisa berteman dengannya Mal!!." lanjut Ria mencoba memberi saran. Meski begitu Ria hanya sekedar memberi saran tidak berniat untuk memaksakan kehendak kepada sahabatnya tersebut. apapun yang akan menjadi keputusan Malini tentu saja sebagai sahabat Ria akan mendukungnya.
Malini yang mendengarnya nampak menghela napas. "Bukannya aku tidak ingin berteman dengannya, aku hanya tidak ingin membuatnya semakin terluka dengan hal itu." jawab Malini seadanya.
"Malini." Malini yang melangkah keluar dari kamar hendak menemui Fay menghentikan langkahnya sejenak.
"Ada apa??." tanyanya.
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan berdusta pada putramu dengan terus mengatakan papanya sedang sibuk bekerja di luar kota??." pertanyaan Ria sontak membuat Raut wajah Malini berubah seketika karena sejak Fay lahir baru kali ini Sahabatnya tersebut menanyakan hal semacam itu.
"Aku juga tidak tahu sampai kapan. mungkin sampai putraku jenuh dan tidak ingin bertanya lagi tentang keberadaan papanya." jawabnya dengan nada tenang meski dadanya seakan bergemuruh hebat saat berucap demikian.
Malini pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah dimana putranya saat ini berada usai mengatakannya.
"Maafkan aku Malini, aku telah jahat padamu karena secara tidak langsung telah mempertemukan putramu dengan ayah kandungnya. meski keduanya tidak menyadari jika mereka adalah ayah dan anak setidaknya Fay sudah bertemu dengan ayah kandungnya." gumam Ria saat Malini telah melangkah keluar dari kamar.
*
Seminggu berlalu, sudah menjadi rutinitas Ria untuk menjemput Fay di sekolahnya, sebelum kemudian membawa anak laki laki tersebut bersamanya ke tempatnya bekerja dan pulang bersama setelah jam kerja usai.
Siang ini ketika baru saja kembali ke kantor setelah menjemput Fay di sekolahnya. Ria yang kini berjalan bersama Fay hendak menuju ruang kerjanya tak sengaja berpapasan dengan Gama di depan Lift.
"Om ganteng." saat menyadari keberadaan Gama, Fay sontak menyapa pria itu dengan senyum lebarnya.
"Hai Fay." Gama balik menyapa Fay. entah apa yang membuat hati Gama terasa begitu hangat saat melihat senyuman manis di wajah Fay.
Gama beralih memandang Ria yang sejak tadi nampak diam mematung. "Apa boleh saya mengajak Fay keluar sebentar??." meskipun Fay pasti tidak akan menolak ajakannya tetapi Gama tetap harus meminta izin dari Ria selaku Tante dari anak itu.
"Silahkan !! tetapi jangan jauh jauh aku cemas jika mamanya menelepon dan akan mencari keberadaan Fay" jawab Ria seadanya. karena setiap kali menelpon Malini pasti ingin bicara dengan Fay walau hanya sejenak.
Gama mengangguk sebagai jawaban. "Saya Janji tidak akan membawanya jauh. aku hanya rindu padanya karena sudah dua hari ini selama kembali ke Jakarta aku tidak bertemu dengannya." jawab Gama jujur.
*
"Om ganteng memangnya kita mau kemana??." tanya Fay saat keduanya berada di mobil.
"Om ingin mengajak Fay main ke Mall tetapi sebelumnya kita akan menjemput teman om dulu ya." jawab Gama seraya mengelus lembut puncak kepala Fay. sedangkan Fay nampak mengangguk sebagai jawaban pada Gama.
__ADS_1
Kurang lebih empat puluh lima menit mobil Gama telah tiba di area pabrik milik keluarga Kheano.
Kemarin saat kembali ke Surabaya Gama kembali bersama dengan Kheano karena kebetulan Kheano memiliki urusan yang harus di selesaikan di pabrik ayahnya.
Gama yang kini berjalan bergandengan tangan dengan Fay langsung menuju ruang kerja Kheano berada karena sebelumnya ia telah mengirimkan pesan pada Kheano.
Kheano menatap Gama dan Fay bergantian saat keduanya baru saja tiba di ruang kerjanya.
"Ada apa??." tanya Gama saat melihat tatapan mencurigakan Khe padanya.
"Jangan bilang sebelum menceraikan istrimu kau telah menghamili anak gadis orang??." seloroh Kheano lirih saat jarak Gama telah dekat dengannya.
"Apa maksudmu??." dengan kening berkerut Gama bertanya.
Namun belum sempat Kheano menjawab, Fay lebih dulu melangkah mendekati Kheano. "Kenalkan om, nama saya Fayadz Abidzar. Om bisa memanggil saya Fay sama seperti om ganteng!!!" kedua mata Kheano membulat saat melihat kepercayaan diri seorang anak laki laki yang kini berdiri di hadapannya.
"Jadi nama kamu Fay." kata Kheano dengan senyum di wajah tampannya.
"Iya om." Fay pun mengangguk.
Setelah menutup berkas di hadapannya Kheano segera berdiri dari duduknya kemudian mereka pun segera meninggalkan pabrik menuju sebuah mall untuk makan siang padahal awalnya Kheano dan Gama hanya janjian makan siang di restoran yang letaknya tak jauh dari Pabrik tetapi karena gama sudah telanjur mengatakan ingin mengajak Fay bermain ke mall maka Kheano pun tidak keberatan.
Selesai makan siang sesuai janjinya Gama mengajak Fay menuju taman bermain anak yang masih berada di Mall yang sama.
"Apa maksud pertanyaanmu tadi??." karena masih merasa penasaran dengan pertanyaan Kheano sewaktu di pabrik tadi, Gama pun kembali bertanya maksud sahabatnya itu.
"Bukan apa-apa, aku hanya menebak saja karena melihat kemiripan wajahmu dengan anak itu." ucap Kheano tanpa beban sedikitpun dan justru membuat Gama baru menyadari hal itu.
Gama meraih dompetnya kemudian menatap satu foto yang berada di dalam dompetnya.
__ADS_1
"Tidak mungkin." dalam hati Gama saat melihat foto masa kecilnya yang begitu mirip sekali dengan wajah Fay saat ini. apalagi saat ini Fay tengah tersenyum ke arahnya, menampilkan sebuah senyum yang bak pinang di belah dua dengan foto dirinya yang juga di abadikan saat Gama tengah tersenyum.