Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Mungkin pertemuan terakhir.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Malini tengah bersiap kembali ke rumah setelah jam kerja pabrik usai.


"Astaga, bagaimana aku bisa lupa jika hari ini aku harus menepati janjiku pada Ria untuk menemui Leo." Malini nampak bergumam saat membaca pesan dari Ria yang mengingatkan dirinya akan janjinya semalam.


kurang dari Lima menit ponsel Malini kembali bergetar tanda notifikasi pesan baru saja di masuk.


Ternyata notifikasi pesan dari Ria yang baru saja mengirimkan alamat sebuah cafe padanya.


Malini meraih tas jinjingnya sebelum hendak meninggalkan pabrik menuju sebuah alamat yang baru saja di kirimkan Ria. setelah menumpangi bus sekitar empat puluh lima menit kini Malini tiba di halte.


Karena lokasi cafe tersebut jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi bus berhenti Maka malini memilih berjalan kaki.


Kurang dari sepuluh menit kini Malini tiba di alamat cafe yang di maksud Ria.


Saat memasuki pintu masuk cafe pandangan Malini menyapu ke isi ruangan untuk mencari keberadaan Leo. sampai dengan pandangan Malini berhenti ke arah seorang pria yang kini nampak melambaikan tangan padanya.


Pria itu tak lain adalah Leo, mantan kekasihnya. meski tidak pernah ada kata perpisahan di antara mereka, namun kini Malini telah menganggap pria itu hanya seseorang yang pernah hadir di masa lalunya.


Senyuman di wajah Leo perlahan memudar saat melihat raut wajah Malini tak sedikitpun menampilkan kerinduan seperti yang ia rasakan pada wanita itu.


"Maaf Jika sudah membuatmu menunggu terlalu lama." Kata Malini. tak banyak kata yang di ucapkan Malini di pertemuan pertamanya setelah setahun lebih berpisah dengan pria itu.


Membayangkan pertemuannya dengan Malini akan berakhir manis sepertinya hanya sebuah harapan yang harus di kubur Leo dalam dalam saat mendengar kalimat Malini yang terdengar begitu dingin.


"Apa yang terjadi padamu sayang??? kenapa kau banyak berubah tidak seperti Malini yang kukenal??." Kini Leo merasa hatinya seakan hancur berkeping melihat perubahan sikap Malini padanya.

__ADS_1


"Maafkan aku Leo, aku tidak sebaik yang kau kira. aku hanya wanita kotor yang tidak pantas bersanding dengan pria sebaik dirimu. aku harap setelah hari ini kau tidak lagi berniat menemuiku dengan alasan yang sama!!." Jujur saat mengatakan hal itu pada pria yang pernah mengisi relung hatinya, membuat Malini merasa dadanya terasa sesak bagai di himpit batu besar namun begitu Malini masih menampilkan wajah tenang.


"Apa maksudmu??." dengan kening berkerut Leo bertanya karena tidak sepenuhnya paham dengan maksud ucapan Malini.


"Bukankah selama ini hubungan kita baik baik saja. bahkan saat kau meminta izin dariku untuk melanjutkan kuliah di ibukota aku tidak keberatan tetapi kenapa sekarang kau malah ingin aku menjauh darimu??? tolong Malini, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi sehingga kau bersikap seperti ini padaku!!!." lanjut Leo. dari sorot mata pria itu nampak jelas kekecewaan yang mendalam.


"Aku rasa tidak ada lagi yang perlu di jelaskan Leo. jika memang selama ini kau menganggap hubungan kita masih terjalin maka saat ini aku ingin hubungan kita berakhir cukup sampai di sini." tak bisa di pungkiri Malini belum bisa sepenuhnya melupakan kenangan indah yang dilalui bersama Leo. memang tak mudah melupakan seseorang yang pernah menjalin kasih cukup lama dengan kita dan itu juga yang kini di rasakan Malini.


"Kenapa kau Setega ini padaku Malini?? apa kesalahan yang pernah aku buat padamu?? jika ada tolong sampaikan biar akan aku perbaiki. aku tidak ingin berpisah denganmu sayang." Leo masih berpikir jika mungkin dirinya telah melakukan kesalahan yang tidak ia sadari pada wanita itu.


"Tidak ada Leo, Kau pria yang sempurna. justru aku yang tidak pantas untukmu. sekali lagi tolong maafkan aku, Leo. sampai kapanpun aku akan selalu mengingat kenangan indah kita. aku doakan agar kau segera menemukan wanita yang pantas bersanding dengan pria sebaik dirimu." Genangan air mata yang sejak tadi beranak sungai di pelupuk mata Malini kini luruh sudah di hadapan Leo.


Kini keduanya nampak berurai air mata.


Malini yang sadar akan pandangan pengunjung cafe lainnya yang tertuju pada mereka segera berdiri dari duduknya dan meninggalkan cafe setelah sebelumnya mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya.


"Apa yang membuat sikapmu jadi berubah seperti ini Malini??." gumam Leo saat di perjalanan kembali ke perusahaan.


*


Sore ini sebelum kembali ke hotel Gama menyempatkan diri untuk membeli beberapa keperluan pribadinya di sebuah supermarket, tidak sengaja pria itu mendengar celotehan anak kecil di saat tengah mencari sesuatu pada deretan rak.


"Fay." Gama ingat betul dengan nama dari anak yang dikenalnya sebagai keponakan dari pegawai di perusahaan Leo.


Gama melangkah ke arah Fay dan Ria yang kini nampak Tengah memilih beberapa barang di sebuah deretan rak.


"Fay sedang belanja juga ya??." suara bariton milik Gama membuat Ria dan juga Fay sontak menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


"Om ganteng." ucapnya dengan mata berbinar saat menyadari keberadaan Gama di sana.


Gama yang mendengarnya langsung mengusap gemas puncak kepala Fay.


Sementara Ria terlihat mengangguk ramah saat menyadari keberadaan Gama.


"Bagaimana tuan Gama bisa ada sini??." batin Ria kemudian. padahal seharian ini ia bahkan sengaja menghindari pria itu agar tidak bertemu dengan Fay tetapi kenyataannya mereka malah bertemu di sini.


"Apa takdir memang Sengaja ingin mempertemukan Fay dengan ayah kandungnya??." Ria sibuk membatin sehingga wanita itu tidak menyadari jika Gama telah membawa Fay dalam gendongannya menuju sebuah rak yang berisikan deretan mainan anak anak.


"Astaga kemana Fay?? Fay...Fay..." Ria yang menyadari Fay tak lagi berada di sisinya nampak menyerukan nama anak itu sampai kemudian terdengar suara Fay yang menyahut.


"Fay di sini Tante cantik." sahut Fay yang kini berada di deretan rak yang tak jauh dari Ria saat ini.


Mendengar sahutan Fay membuat Ria segera melangkah ke sumber suara.


"Anaknya sangat tampan ya pak, sangat mirip dengan ayahnya." pujian salah seorang pengunjung lainnya sehingga membuat jantung Ria seakan bertalu-talu.


Sementara Gama hanya menanggapi pujian tersebut dengan sebuah senyuman kecil.


"Oh astaga.... bagaimana aku bisa lupa jika wajah Fay begitu mirip dengan wajah tuan Gama. Bagaimana jika tuan Gama sampai menyadarinya??? mati aku..." Merasa cemas akan hal itu Ria Segera meraih Fay ke dalam gendongannya sebelum kemudian berpamitan pada Gama.


Meski Gama sempat merasa bingung dengan perubahan sikap Ria namun setelahnya Gama tak lagi memikirkan hal itu. mungkin karena hari hampir gelap sehingga Ria segera mengajak Fay untuk segera kembali ke rumah.


Namun sebelum motor matic Ria meninggalkan area supermarket, Gama nampak berjalan ke arahnya kemudian menyerahkan sebuah paper bag yang berisi sebuah mainan robot robot pada Fay.


"Ini buat Fay." kata Gama saat menyerahkan sebuah paper bag pada Fay dan di sambut senyum gembira oleh Fay.

__ADS_1


__ADS_2