Semua Bukan Inginku.

Semua Bukan Inginku.
Merubah penampilan Lala.


__ADS_3

Hanya butuh beberapa jam Malini pun telah sadarkan diri, sebab tadi yang membuatnya sampai kehilangan kesadaran bukan karena luka serius, melainkan karena gadis itu Fobia pada darah. itulah yang membuat Malini pingsan, saat melihat lututnya berdarah akibat tergores di aspal.


Lala ikut menjaga Malini hingga sadar bersama sang kakak, Gama.


Ketika membuka mata, Malini sempat beberapa kali mengucak matanya saat melihat sosok Lala di sana.


"Apa aku sedang bermimpi??." seketika Malini membatin ketika menyadari kehadiran adik iparnya tersebut.


"Iya ini aku, tidak perlu menatapku seperti itu, aku bukan hantu." cetus Lala, seperti tahu apa yang kini ada di benak Kakak iparnya.


"Maaf, aku hanya tidak menyangka ternyata kamu peduli juga padaku." ujar Malini sengaja menyindir Lala.


"Aku manusia yang tahu terima kasih, makanya aku tetap di sini sampai kamu sadar." sahut Lala tak mau kalah, sementara Malini masih tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Lala. namun setelah sang suami menceritakan semuanya barulah gadis itu paham, mengapa Lala ada di rumah sakit.


"BTW thanks, sudah menyelamatkanku tadi." secara tidak langsung Lala telah membuka hati untuk memaafkan sosok Malina, meski sebenarnya yang telah menyelamatkan dirinya nyatanya bukanlah Malina melainkan Malini, seorang gadis yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Malina. kemiripan keduanya bagaikan pinang dibelah dua, sampai anggota keluarga Pradipta tak ada yang menyadarinya.


"Your welcome." jawab Malini seraya kembali mengukir senyum.


Sementara Gama hanya bisa diam saat melihat perdebatkan yang berakhir tak buruk tersebut, meski keduanya belum secara terbuka mengungkapkan secara terang terangan menurunkan bendera perang.


"Berhubung kau sudah sadar, aku akan segera kembali ke rumah Sintia pasti sudah mencari ku." Lala pamit dan Malini pun mengangguk begitu juga dengan Gama.


Sintia merupakan anak Lala.


Dokter melihat kondisi pasien tidaklah parah, dengan begitu pasien tidak memerlukan perawatan inap. sehingga beberapa saat setelah kepergian Lala, Gama pun memboyong sang istri kembali ke rumah.


🌹

__ADS_1


🌹


🌹


Seminggu kemudian Malini tengah bersiap joging keliling area mansion, Lala yang melihat mendekati Malini.


"Apa tidak lelah setiap hari joging seperti ini??." meski sedikit bisa membuka hati untuk memaafkan sosok Malina, namun intonasi Lala saat berbicara kepada Malini masih terdengar datar.


"Jika ingin tahu lelah atau tidak, kenapa tidak ikut saja sekalian!!." secara tidak langsung Malini mengajak Lala untuk ikut joging bersama, selain ingin lebih dekat dengan wanita itu, Malini juga ingin Lala mengembalikan bentuk badannya yang ideal seperti sebelum melahirkan. agar suaminya yang mata keranjang itu tidak jelalatan lagi dengan wanita di luar sana, kebetulan selama dua Minggu ke depan Gama menugaskan Tofan untuk mengurus perusahaan anak cabang di pulau Kalimantan.


Walau tidak mengiyakan secara lisan, namun Lala kini tengah mengenakan sepatunya. itu artinya ia setuju ikut joging bersama dengan kakak iparnya.


Sejak joging pertama tersebut, hubungan Malini dan Lala semakin membaik. bahkan selama tiga hari berolahraga rutin, berat badan Lala turun hingga dua kg. kegiatan itu terus di lakukan Lala hingga kini bobot tubuhnya hampir mencapai berat ideal.


"Sekalipun aku bersikap baik padamu, jangan berpikir aku akan membiarkan kamu merebut mas Tofan dariku." cetus Lala dan di tanggapi senyuman oleh Malini.


"Maaf La, aku berkata seperti ini bukan untuk membela diri dan menyalahkan kamu, tapi aku ingin mengingatkan kamu agar tidak terlalu lemah menghadapi sikap lelaki!! tapi aku bersumpah aku sama sekali tidak berniat merebut suami kamu." lanjut Malini agar Lala tak salah mengartikan ucapannya.


Meski tidak menimpali ucapan Malini, namun Lala berusaha mencerna dengan baik setiap perkataan kakak iparnya tersebut. dan menurut Lala apa yang di katakan Malini memang benar adanya.


"Aku memang tidak pernah berniat main gila dengan suami kamu La, tapi nyonya Malina yang memiliki niat seperti itu. itu sebabnya aku mengajakmu untuk rajin berolahraga agar badan kamu seindah dulu, agar setelah Malina yang asli kembali dia tidak akan bisa menggoda suami kamu lagi." batin Malini merasa iba kepada Lala.


Hampir dua Minggu berlalu, Kini Lala berhasil mengembalikan bobot ideal tubuhnya dan itu membuat Malini ikut bahagia.


"Kamu berhasil La." ucap Malini tersenyum manis dan Lala pun ikut tersenyum.


"Tapi sepertinya masih ada yang kurang." ujar Malini seraya mengetuk ngetuk dagunya dengan telunjuk, saat memperhatikan penampilan Lala.

__ADS_1


"Sepertinya rambut panjang kamu lebih cantik jika di potong sebahu, kamu akan terlihat lebih cantik dan lebih muda." ujar Malini beberapa saat kemudian.


"Kamu bisa saja." sahut Lala malu malu.


"Sungguh, aku tidak bohong, kalau tidak percaya coba deh!!." ujar Malini, secara tidak langsung meminta Lala untuk sedikit merubah penampilannya.


"Dan ini, sebaiknya ini di lepas saja, memakai lensa mata akan membuat kamu tampak lebih cantik." lanjut Malini seraya menunjuk ke arah kacamata yang kini di kenakan Lala.


🌹


🌹


🌹


Di sebuah salon ternama Malini mengajak Lala untuk sedikit merubah penampilannya.


Pagi tadi untuk pertama kalinya Malini meminta uang cash pada Gama, karena ia sudah merencanakan untuk mengajak Lala ke salon. meski pria itu merasa heran karena setahu Gama setiap bulan ia mentransfer ke rekening istrinya, bahkan itu bukan dengan jumlah sedikit. tapi mengapa hari ini istrinya itu justru meminta uang cash, meski begitu, Gama tidak menanyakannya pada wanita yang disangkanya sang istri, Malina tersebut.


Malini sengaja mengajak Lala merubah penampilannya hari ini, karena hari ini tepat dua Minggu setelah kepergian Tofan ke pulau Kalimantan. itu artinya hari ini pria itu akan segera kembali.


"Waaaaw,,,,kamu sangat cantik La, aku sampai pangling." Malini berkata jujur tidak mengada-ada tentang kecantikan Lala, karena pada kenyataannya wanita itu terlihat sangat cantik. rambut yang di potong pendek sebahu dengan tatanan Carli, di tambah lagi dengan di warnai dengan pirang berwarna brown, semakin menambah keanggunan Lala. apalagi kini kacamata yang sering di Gunakan Lala, tak lagi menghiasi wajahnya, karena telah di gantikan dengan lensa.


"Sepertinya kamu terlalu berlebihan dalam memuji aku Malina." ujar Lala tidak memakai embel embel kakak, sebab sebenarnya mereka seumuran. hanya saja Lala yang lebih dulu menikah di banding Gama, itulah sebabnya putri Lala lebih tua setahun di banding si kembar Nasya dan Mesya.


"Sungguh."~Malini.


"Meski aku sendiri tidak memiliki kesempatan untuk mendapat kebahagiaan dalam hidup ini, setidaknya aku bisa membuat orang orang di sekelilingku bahagia, sebelum aku pergi dan Malina yang asli kembali." batin Malini, meski merasakan sesak di dada, ketika mengingat takdir yang harus di jalaninya. namun gadis itu senantiasa mengukir senyum demi menutupi perih di hati.

__ADS_1


Kini Malini dan Lala nampak semakin akrab, bahkan ibu mertuanya juga telah bersikap baik padanya.


__ADS_2