Senja Dandelion

Senja Dandelion
Prolog


__ADS_3

 


Dia terlihat sangat rapuh, namun begitu kuat, sampai tak ada seorangpun yang tau tentang kisahnya. Kuat diterpa angin, terbang tinggi, dan menjelajah angkasa. Akhirnya berada di suatu tempat untuk tumbuh menjadi kehidupan yang baru.


Dia tak pernah menentang angin. Membiarkan hembusan angin membawanya entah kemana. Meninggalkan batang yang tegak.


Tumbuh dikelilingi ilalang jalanan, bahkan jarang yang dapat melihat. Ilalang senantiasa menyembunyikannya dibalik rerumputan. Namun pesonanya tak pernah pudar.


Dia tak bisa melawan angin yang membawa kelopaknya. Terbang tinggi di angkasa. Tak punya arah. Tapi suatu saat dia akan tumbuh menjadi bunga yang indah, meskipun setiap kali angin akan menggugurkan kelopaknya.


Dialah dandelion..


 



Dandelion tumbuh menjadi bunga yang kuat, meskipun terkadang merasa rapuh. Dandelion mampu bertahan dalam segala cobaan. Walaupun bentuknya tak seindah mawar merah, tak sewangi melati. Dandelion dengan tangkai kecilnya.


Dandelion tak pernah memilih dimana ia akan tumbuh. Kemana angin membawanya itulah rumahnya, tempat hidupnya.


Ketika dandelion mekar, itulah akhir dari hidupnya. Dia akan melepaskan semua kelopaknya bersama dengan hembusan angin. Tenang. Nyaman. Bersamaan dengan pergi nya kenangan.


Dandelion dengan segala kelebihan. Meski tak pernah ada yang menyadari kehadirannya di balik ilalang jalanan. Dandelion sosok yang kuat meski tampak rapuh. Selalu mencari kehidupan yang baru di luar sana. Mampu terbang tinggi, menjelajah luas di angkasa.


Tujuannya hanya satu. Setelah melintasi jagad raya, meniti kehidupan yang begitu sulit. Suatu hari nanti, sejauh apapun dia telah pergi, dia akan kembali. Dandelion akan kembali ke tempat seharusnya dia kembali.


Dandelion tak pernah sedih.


Biar ku ingat seberapa jauh aku melangkah. Meninggalkan segala kenangan bersamanya. Namun begitu sulit. Ingin rasanya menjadi Dandelion. Yang tak pernah menyesal meskipun berulang kali kecewa. Yang tak pernah sedih meskipun kehadirannya tak pernah dirasa.


Yang tak pernah iri meskipun ilalang menutupi nya. Yang selalu bertahan meskipun banyak ancaman. Yang selalu senang menebar kelopaknya. Meskipun dirinya tak punya apa-apa.


Sudah puluhan, ratusan, ribuan kata untuk menggambarkan perasaan.


Aku. Kamu. Semoga ada di kehidupan yang semestinya. Kenangan. Akan membawaku untuk hidup seperti biasa. Izinkan aku untuk menjadi dandelion. Sebentar saja. Akan ku nikmati semua.


 


Senja Paramita


 


 ****


"Ara!! Makan dulu nak."


Teriakan nyaring berasal dari dapur menginterupsi Ara untuk segera bergegas. Ara menutup buku bersampul coklat itu. Mencuci muka, lalu berjalan menuju ruang makan.


"Abang sama ayah dimana bun?" tanya Ara dengan lesu.


"Masih di kamar. Coba kamu bangun kan abang mu sana. Biar bunda panggil ayahmu dulu." jawab bunda sambil melenggang pergi dari ruang makan.


Ara melangkahkan kaki dengan gontai menuju kamar Arka.

__ADS_1


"Bang, makan malam dulu." kata Ara tak bersemangat. Tapi tak ada jawaban dari dalam kamar. Menyebalkan. Akhirnya Ara membuka pintu. Brak...


"Ih abang bangun, dasar kebo!!!" masih tidak ada jawaban. Ide jahil Ara muncul.


"Kebakaran.. kebakaran." Kata Ara sambil menarik kaki bang Arka.


"Eh kebakaran..tolong-tolong!!" teriak bang Arka sambil meloncat dari kasur.


"Hhaha... kebakaran mana bang?"


"Dasar kamu dek. Kirain Abang beneran tadi." titah bang Arka sambil memanyunkan bibirnya.


"Makanya sore-sore jangan tidur bang, kek kebo lagi tidurnya." jawab Ara sambil menampilkan deretan giginya.


"Kan ngantuk ya tidur lah."


"Cepet turun, udah di tungguin bunda buat makan malam." teriak Ara di balik pintu kamar sambil meninggalkan bang Arka yang masih melongo karena tingkah Ara.


"Malam yah bun, sama adekku yang paling jelek." ucap bang Arka sambil duduk di kursi.


"Too bang, tadi udah sholat belum?" tanya bunda.


"Udah kok Bun."


"Ishh..jelek kok bilang jelek." balas Ara sambil cemberut.


"Yee dasar, iri bilang boss!!" kata bang Arka tak mau kalah.


"Sudah..sudah. Mari kita makan dulu." cegah ayah melerai.


"Ara, ayah sudah mendaftarkan mu di SMA Permata Indah." kata ayah sambil memandang ke arahku.


"SMA Permata Indah bukannya itu sekolahnya bang Arka ya yah?" tanya Ara.


"Iya, biar abang mu bisa menjaga kamu sayang." jawab bunda sambil merapikan piring.


"Ya udah deh." kata Ara tak bersemangat.


"Seharusnya kamu seneng dek, bisa satu sekolah sama abang yang ganteng ini." bang Arka sambil menepuk-nepuk dadanya.


"Dihh..gantengan juga si Rafa."


"Siapa Rafa? Pacar kamu ya? Tuh yah bun, adek udah berani pacaran." kata bang Arka sambil menunjuk-nunjuk ke arah Ara.


"Sok tau banget sih bang, si Rafa itu kelinci punya tetangga depan rumah itu loh bun." jawab Ara polos.


"Hahaha..ya ampun dek. Masa kelinci di kasih nama." bang Arka sambil terpingkal-pingkal.


"Bodoamat bang." jawab Ara sambil meninggalkan ruang makan.


"Malam semuanya..." teriak Ara ketika menaiki tangga.


 ***

__ADS_1


"Besok udah mulai sekolah, semoga ini awal baru. Bismillah." gumam Ara sambil menarik selimut.


Tiba-tiba ada seseorang menaiki kasur dan duduk di samping Ara. Siapa lagi kalau bukan bang Arka.


"Dek, kamu marah sama abang ya?" tanya bang Arka sambil mengelus rambut Ara.


"Nggak kok bang, ngapain marah." jawab Ara malas-malasan.


"Katanya nggak marah kok jawabnya nggak ngeliat abang."


"Ara ngantuk bang."


"Ya udah, janji deh besok abang beliin es krim setelah pulang sekolah." tawar bang Arka.


"Beneran ya bang? Jangan boong." jawab Ara sambil mengganti posisi badan menghadap bang Arka.


"Iyaa..sekarang kamu tidur dulu." ucap bang Arka sambil mengecup kening Ara.


"Yee makasih bang. Sayang bang Arka." kata Ara sambil memeluk bang Arka.


"Semoga kamu bahagia dek, abang janji bakal jagain kamu." batin bang Arka.


"Sana tidur!" sambil mendorong Ara.


"Good night abang jelek."


"Good night too, adek nya abang."


Bang Arka pun meninggalkan kamar Ara dan menuju kamarnya. Kemudian merebahkan badannya di kasur dan memejamkan matanya. Namun nada dering telepon mengganggu aktivitas nya.


"Haloo, assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam, gimana jadi ikut nggak?" tanya orang di seberang telepon.


"Kayaknya nggak dulu Lon, besok aja deh kumpul di tempat biasa."


"Oke, gue kasih tau ke temen-temen yang lain dulu kalo gitu." jawab Elon.


"Siipp, pulang sekolah langsung aja. Soalnya mau ngajak adek gue juga."


"Ya udah kalo gitu, wassalamu'alaikum." sambung Elon.


"waalaikumsalam" jawab Arka dan mematikan sambungan telepon.


"Gila nih anak, ganggu orang aja." gumam Arka


Dia pun segera mencari posisi nyaman sambil menarik selimut dan mengistirahatkan badan serta otaknya untuk mencari tenaga esok hari. Setelah berdoa, dia pun terlelap dan sudah menjelajahi alam mimpinya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2