Senja Dandelion

Senja Dandelion
Sedikit Berbeda


__ADS_3

JAM istirahat adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu semua murid. Jam dimana mereka bisa terbebas dari pelajaran yang tak mereka pahami. Ara beserta teman-temannya langsung menuju ke kantin. Meja kantin merupakan hal yang sering di rebutkan, telat sedikit saja pasti tidak akan kebagian.


"Eh, itu ada meja kosong!" Karin menunjuk ke meja yang kosong, karena meja di pojok sudah ditempati orang lain. Letak meja itu berdekatan dengan meja milik Arka cs berkumpul.


"Ih nggak mau ah! Deket banget sama kakak kelas, Sa!


"Ayolah, Ra. Enggak apa-apa!"


"Iya Ra. Yuk kesana, nanti keburu diambil orang" Febby menarik Ara menuju meja kantin, Natasya dan Karin mengikutinya dari belakang.


"Lo berdua di sini aja. Jaga tempat. Biar gue yang pesenin. Kalian mau makan apa?" tanya Karin setelah mencapai meja kantin. Teman-temannya pun menyebutkan pesanan mereka masing-masing serta memberikan uangnya.


Karin dan Natasya akhirnya berjalan menuju pedagang untuk memesan makanan. Ara dan Febby menunggu keduanya. Pedagang itu sudah dikerumuni, anak-anak yang tidak sabaran pun terdengar berteriak-teriak.


"DUH MAS! CEPET DONG! Udah laper nih."


"MASSS CEPET DONG MASS! SAYA BELUM MAKAN DARI KEMARIN NIH! Dari dua bulan yang malah!" katanya melebih-lebihkan sambil menggoyang-goyangkan gerobak tukang bakso kantin, "MAS KAN SAYA DULUAN YANG BAYAR! KOK JADI DIA DULUAN YANG DAPET?!"


Teriakan nyolot-menyolot itu terus saja terdengar. Namun Mas pedagang kantin pasti akan menjawab dengan kalem, "Iya sabar. Tangan saya cuman dua."


Para murid siswi pun mau tak mau juga berdebat dengan murid cowok. Urusan makanan gini mereka juga tidak mau kalah. "EEHHH! LADIES FIRST DONG! MAS SAYA DULUAN AJA!"


"ENAK AJA LO! Gak ada istilah gituan!" balas para murid cowok, tidak terima dengan semboyan andalan para murid cewek. "Pokoknya siapa yang bayar duluan. Dia yang dapet dong!"


Dan begitu seterusnya sampai mereka mendapatkan pesanan.


Teriakan ricuh dari kantin, ketika Arka cs memasuki kantin. Termasuk Elon didalamnya. Mereka berjalan menuju ke meja yang biasa mereka gunakan untuk berkumpul, tepatnya dibelakang meja Ara dan teman-temannya.


Laskar tersenyum ketika melihat Febby. Ia menyapa sambil melambaikan tangan, Irga yang berada disampingnya menyenggol lengan Laskar.


"Kar, Lo kalau punya rahasia bagi-bagi sama gue kenapa."


"Rahasia? Rahasia apa?" Laskar kebingungan.


"Tuh cincin Laskar rahasianya." Elon menunjuk cincin yang dipakai Laskar.


Irga langsung mengambil tangan Laskar dan berdecak sambil geleng-geleng kepala.


"Ternyata lo pake jimat. Pantes gak kayak biasanya."


"Apaan dah lo!" Laskar menoyor kepala Irga. "Nih cincin biasa kali."


"Oh, cincin hadiah yang di chiki-chiki tah?" tanya Oji.


"Bukan elah! Dugong!" Laskar menuju ke Febby. Diikuti semua teman-temannya.


"Nggak bawa bekal Ra?" tanya Arka.


"Enggak, tadi kan buru-buru bang."


"Abang pesenin makanan ya?"


"Enggak usah. Udah dipesenin sama Febby. Tuh dia."


Arka melihat arah pandang Ara.


"Ya udah pesen lagi aja."


"Apa sih bang."


Arka hanya cengengesan mendengarnya.


Ara mengalihkan pandangannya. Ia menopang dagunya dengan tangan, berharap Natasya dan Karin cepat datang.


"Eh Feb, kita gabung disini aja ya?" tanya Laskar kepada Febby.


"Iya gapapa. Gabung aja. Masih lega juga." wajah Febby berubah malu.


Oji menaikan sebelah alisnya mendengar ucapan Febby. "Ehemm. Duduk-duduk."


"Kalian gak pesen makanan kak?" tanya Febby.


"Udah tadi, tinggal nunggu di anter."


Arka duduk disamping Ara dan di depannya ada Elon yang duduk sambil bersandar di dinding kantin.


Beberapa menit kemudian, Natasya dan Karin datang. "Nih udah gue beliin minum sekalian. Baik kan gue?"


"Bukannya gue yang nyuruh?" kata Febby. Karin tidak mau membahasnya lebih lanjut karena perutnya sudah tidak bisa diajak berkompromi.

__ADS_1


"Eh ada bang Arka juga?" tanya Natasya cengengesan.


"Ya elah, emang dari tadi disini." Oji bersuara.


Merekapun menikmati pesanan masing-masing. Sampai Ara membuka suara, "Bang, Ara balik ke kelas duluan ya."


"Kok cepet-cepet sih neng Ara?" goda Oji.


"Ayok Ra, jangan dengerin ucapan si kadal." Natasya segera menarik tangan Ara.


"Eits..mau kemana lo?" cegah Oji.


"Minggir gak lo!" Natasya menyingkirkan tangan Oji yang menghalangi jalan.


"Kita duluan kak." pamit Febby sambil tersenyum ke arah Laskar.


***


"Ya ampun, gedeg banget gue liat Oji tadi." Natasya sedang berjalan di sebelah ketiga temannya.


"Dia emang gitu kali Sya" ujar Febby


"Tetep aja gue gedeg lihat dia, bawaannya pengen ngajak berantem mulu."


"Tadi kak Elon kenapa diem bae ya?" tanya Karin.


Seketika Ara langsung mengalihkan pandangannya, menatap Karin.


"Dari tadi ngeliatin Ara mulu perasaan deh." cicit Natasya.


"Atau jangan-jangan kalian ada sesuatu ya?" tanya Febby sambil menaikan sebelah alisnya.


"Ih ya ampun, temen kita udah gak jomblo."


"HAAHHHH???" Febby dan Karin menoleh ke Ara. Natasya yang hanya menebak pun langsung diam.


"Maksud lo, Sya?" tanya Karin, meneliti wajah Ara.


"Emang kalian pacaran?"


"Enggak." Ara mengelak. "Si Natasya emang sok tau."


Natasya hanya bisa cengengesan tidak jelas. "Kan gue cuma nebak doang. Kok kalian langsung ngegas sih."


"Yee kampret lo!"


Ara baru ingat kalau ia disuruh ke ruang. "Aku lupa nih kalau tadi disuruh ke ruang guru sama Pak Maman. Mau ngambil spidol. Ya udah ya! Aku kesana dulu!"


"Eeh tapi, Ra--"


Ara sudah pergi menuju ke ruang guru. Ia menghela napas lega karena terlepas teman-temannya yang akan menanyakan tentang Elon.


***


Elon berada di tengah-tengah koridor dekat kelasnya begitu melihat Ara berjalan menuju ke arahnya. Ketika pandangan mereka bertemu, Ara menunduk dan sengaja menatap lantai putih koridor.


"Lo kenapa lihat ke bawah terus? Enggak ada uang di bawah." kata Elon. Ara memandangnya sekilas, tetapi tetap berjalan melewati Elon.


Elon mengerutkan keningnya lalu mengejar cewek itu. Menarik seragam sekolah Ara. "Lo kenapa sih?"


"Apa kak?"


"Ya elo yang kenapa?"


"Enggak kenapa kok."


"Eh ntar dulu." Elon mencegah perempuan itu pergi. Ada sedikit rasa tidak rela yang tengah dirasakan Elon. "Ikut gue bentar."


"Aku kak?" Ara mendadak serak. Elon terus menatapnya.


"Menurut lo siapa lagi?" Setelah mendengar nada menyebalkan itu, rasa takutnya hilang digantikan oleh rasa kesal.


Elon mengajak Ara menuju pojok koridor yang sudah sepi karena kegiatan pembelajaran sudah di mulai 10 menit yang lalu.


"Sini aja. Gue enggak makan manusia."


"Mau ngomong apa kak?" kata Ara setelah menghampiri Elon.


Elon memastikan ponselnya di dalam saku celana. Cowok perawakan tinggi itu mendekatkan tubuhnya hingga membuat Ara mundur.

__ADS_1


"Cepetan kak. Mau ngomong apa?"


"Gue minta nomor HP lo," kata Elon. Perkataan itu membuat Ara menatapnya. "ID Line juga."


"Nomor telepon? Buat apa kak?" kata Ara.


"Menurut lo buat apa?"


Sebenarnya Elon bisa saja meminta kepada Arka atau teman-teman Ara. Namun, Elon merasa akan lebih bagus meminta kepada orang nya langsung.


"Tenang. Enggak gue teror." Elon melihat Ara yang memandangnya penuh kecurigaan.


"Buat apa sih kak? Enggak bakal di kasih kalau kak Elon enggak bilang."


Elon berdecak. "Jadi intinya mau ngasih atau enggak?"


"Emang buat apa?"


Elon hanya diam.


"Buat apa kak?" Ara mengulangi pertanyaannya.


"Ya buat gue chat lah. Emang buat apa lagi?"


Sejenak Ara diam. Enggak salah denger kan? "Nge-chat Ara, kak?"


Elon bergumam. "Nih lo ketik di sini." Elon memberikan ponselnya.


Ara awalnya ragu. Berkali-kali ia bolak-balik memandangi ponsel lalu wajah Elon. Cowok ini tidak sedang bercanda. Ara akhirnya mengambil ponsel cowok itu dan menulis nomor telepon serta ID line-nya.


Ara mengembalikan benda itu kepada pemiliknya. Elon mengambil dan mengeceknya. Kemudian manggut-manggut.


"Udah ya kak, Ara mau ke kelas." Ara takut ketahuan mengobrol di lorong oleh guru-guru.


"Hati-hati, Ra!"


Ara terdiam sebentar lalu menoleh. Ia mengangguk lalu meninggalkan Elon yang masih memperhatikan Ara. Untuk sekarang, Elon tidak paham kenapa ia merasa ada yang berbeda saat berinteraksi dengan Ara.


****


"Ra?" Ara yang sedang memasukkan buku ke dalam tas mengangkat pandangannya agar bersitatap dengan Febby yang memanggilnya. Cewek itu menarik kursi agar mendekat kepada Ara. Ara suka bentuk wajah Febby yang oval serta rambut sedikit cokelat yang alami. Banyak yang suka kepadanya, hampir sama seperti Karin, tetapi Febby hanya suka pada satu orang, Laskar.


"Ra?"


"Apa?"


"Lo ada apa sama kak Elon?" Ara berhenti menutup tas. Kedua tangannya berada pada tali tasnya. Ia mengerutkan keningnya.


Ara mengangkat bahunya. "Hah? Enggak ada apa-apa Feb."


"Oh, ya?"


"Apa sih, Feb?" kata Ara. "Kenapa emang?"


"Laskar bilang ke gue. Katanya lo ditunggu bang Arka di parkiran sekarang."


"Oh itu. Mau bareng ke parkiran nggak?" tawar Ara kepada Febby.


"Iya deh. Ayok. Udah di tungguin Laskar juga soalnya."


"Ada apa kamu sama kak Laskar, Feb?" Ara memicingkan matanya, mencoba mencari tau.


"Eh enggak ada apa-apa kok. Ayok. Mereka nungguin dari tadi kasian." Febby melenggang pergi meninggalkan Ara.


Benar saja, di parkiran sudah terdapat bang Arka dan teman-temannya yang berada di atas motor masing-masing.


"Haloo neng Febby, di tungguin babang Laskar nih." goda Oji kepada Febby yang menuju ke arah mereka.


"Uhuy..uhuyy..lagi anget-angetnya nih." tambah Irga.


"Eh nanti, jadi kan?" Laskar mengalihkan pembicaraan.


"Jadi dong, kumpul di rumah Arka aja. Udah lama gak main kesana." timpal Oji.


"Oke gue tunggu di rumah." kata Arga memakai helm dan menaiki motornya. "Ayok Ra!"


"Kita duluan ya kak, Feb." pamit Ara dan meninggalkan sekolahan.


"Hati-hati neng Ara." teriak Oji dan Irga bersamaan.

__ADS_1


Merekapun segera menstater motor dan pergi meninggalkan parkiran sekolahan menuju ke rumah masing-masing.


__ADS_2