Senja Dandelion

Senja Dandelion
Sabtu malam?


__ADS_3

Ara mengeluarkan ponsel yang ada didalam tas dan melihat nama Elon berada paling atas.


Delion Kenneth:


Test.


Read.


Ia pun segera membaringkan tubuhnya yang terasa agak pegal.


****


"OMGGGG, RAAAA!!"


"Duh jangan teriak-teriak dong, Feb!"


"IH SERIUSAN KAK ELON MINTA ID LINE LOOO?! KOK BISA?!"


"Aku juga gak tau."


"Febby nyengir aneh pada Ara. "Jangan-jangan dia suka sama elo."


"Suka? Suka gimana sih? Enggak mungkin!"


"Loh kenapa enggak mungkin Ra?" tanya Febby begitu duduk di karpet kamar Ara. "Bisa jadi kan?"


"Idiw..Enggak mungkin lah!"


"Kenapa lo idiw-idiw?"


"Ya kali kak Elon suka sama aku."


"Tapi bisa jadi, kan? Cieee."


"Kan biasanya kalo cowok udah minta nomor telepon, ID Line. Itu artinya dia mau deket atau PDKT-an."


"PDKT?" Ara berdiri di dekat jendela, lalu menyibak gorden kamarnya.


"Lo sih enggak pernah PDKT-an. Makanya enggak tau."


"Jangan ngejek deh."


"Iya deh. Galak banget neng."


Ara hanya diam. Ia melipat tangan di dada sambil memandang keluar rumah. Febby kesini karena dia malas berdiam di rumah. Ketiga teman Ara memang sering main ke sini. Jadi, seluruh anggota keluarganya sudah tau dan kenal.


"Gue mau numpang tidur nih. Boleh nggak?"


"Iya terserah, Feb."


Febby langsung tiduran di atas kasur sambil memainkan ponselnya.


Ara mengambil ponsel di atas meja belajar lalu lagi-lagi dia melihat chat dari Elon tadi. Ara bukannya menunggu cowok itu mengirimkan chat lagi. Sama sekali bukan. Namun, perlakuan Elon di koridor tadi masih membekas di ingatannya. Ara tidak pernah merasa seperti sekarang dengan cowok jadi bagaimana bisa Ara tidak kepikiran?


Satu pesan masuk ke ponsel nya.


Delion Kenneth:


Kenapa cuma di read?


Ara terburu-buru keluar dari aplikasi Line. Dia merasa bodoh karena sedari tadi ia sedang membuka chat itu. Jadi, Ara harus balas apa?


****


Laskar yang berada di kamar Elon, terus memandang Elon dari kaca besar yang ada di kamar. Elon sedang fokus pada ponselnya. Sudut bibirnya tertarik, membuatnya terlihat seperti tersenyum kecil.


Delion Kenneth: Test.


Delion Kenneth: Kenapa cuma di read?


Senja Paramita: Kenapa kak?


Delion Kenneth: Kenapa malah balik nanya?


Senja Paramita: Kenapa emang?

__ADS_1


Delion Kenneth: Kan tadi gue nanya.


Senja Paramita: Terus aku harus jawab apa kak?


Delion Kenneth: Seenggaknya lo bales.


Senja Paramita: Ya kak.


Delion Kenneth: Ya.


"Kenapa lo senyum-senyum?" Laskar duduk disamping Elon sambil memperbaiki tali sepatunya. "Tadi gimana sama Ara?"


"Enggak gimana." Elon mematikan ponsel dan meletakkan di sofa.


"Lo suka sama dia, Lon?" pertanyaan Laskar membuat Elon menoleh.


"Enggak tau." nada suara Elon terdengar ragu.


"Yakin?"


"Mungkin."


"Ya itu sih terserah lo aja."


"Jadi berangkat gak nih?" tanya Elon sambil berdiri.


"Ntar. Nungguin si Irga sama Oji dulu."


Mereka keluar dari kamar dan menuju ke halaman rumah untuk mengambil motor.


"Tuh si Irga sama Oji." tunjuk Laskar.


"Ayo boss!" teriak Oji.


Mereka melajukan motornya menuju ke rumah Arka, karena tadi sepulang sekolah mereka sudah membuat janji.


****


"Dek! Ada tamu di bawah! Tungguin dulu ya sekalian buatin minum."


"Kenapa enggak bang Arka aja sih?"


Ara menghela napas. "Iya deh."


Dengan malas, cewek itu menuruni tangga lalu menuju ke ruang tamu. Ia membuka pintu rumahnya dan melihat ada 4 orang tamu.


"Masuk dulu kak."


"Arka mana Ra?" tanya Laskar.


Ara mencoba bersikap biasa saja. "Di kamar lagi ganti baju kak."


Dibalas dengan "Oh"oleh yang pembuat pertanyaan.


Setelah meminta mereka duduk dan menawari minum. Ara pergi menuju ke dapur, untuk membuat minum. Karena bunda tidak ada di rumah, katanya menemani ayah ke Jogja untuk urusan kantor dan sekaligus menjenguk nenek.


"Mereka mana dek?" Arka tiba-tiba muncul di belakang Ara.


"Tuh, di ruang tamu." tunjuk Ara.


"Sini biar abang yang bawa minuman nya."


"Bentar bang." Ara meletakkan cemilan di nampan.


"Weh boss, enggak usah repot-repot." kata Oji sambil menyomot cemilan yang di bawa Arka.


"Eh dodol, nggak punya malu lo. Main nyosor aja!"


"Lah gue kan menghormati yang udah nyiapin ini semua." balas Oji dengan santai.


"Jadi kita ngapain nih?" tanya Irga


"Maen PS aja lah." usul Laskar.


"PS gue ada di dalam kamar. Mau disini apa di atas aja?" kata Arka.

__ADS_1


"Di kamar elo ae lah. Lebih syahdu." timpal Oji.


"Betul tuh.."


"Eh Ra, mau kemana?" tanya Arka ketika Ara hendak menaiki tangga.


Ara berbalik badan dan menatap ke arah ruang tamu. "Ke kamar bang, soalnya di atas ada Febby."


"Oh. Bunda sama ayah kemana Ra? Kok tumben jam segini belum pulang?"


"Tadi katanya lagi di Jogja bang, jengukin nenek." balas Ara seadanya.


"Mungkin besok atau lusa baru pulang. Ara ke atas duluan ya bang." ucapnya meninggalkan Arka dan teman-temannya.


****


"Ra! Tadi katanya Natasya sama Karin mau kesini." Febby berganti posisi menjadi duduk di atas kasur.


"Mereka bentar lagi nyampe, tadi udah gue suruh langsung ke atas aja."


"Iya.."


Ara duduk di karpet dan fokus pada layar laptopnya.


Kebiasaan mereka ketika berkumpul di rumah Ara, kalau enggak nonton drakor, ya gosipin cogant depan komplek.


"YUHU ARAA KU SAYANG! I AM COMING!!" teriak Natasya memasuki kamar Ara.


"Woii bisa diem gak sih!!" gerutu Karin melihat tingkah absurd temannya ini.


Mereka pun memutuskan untuk duduk di karpet dan memilih drakor yang akan di tonton. Rencananya mereka akan maraton nonton drakor sampai pagi, katanya sih mumpung besok libur.


Mereka semua tenggelam dalam drakor. Sampai-sampai meneteskan air mata, karena saking menghayati.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Ara. Mau tidak mau Ara meninggalkan aktivitas nya menonton drakor.


Mona_ags:


Dek


Senja:


Iya mbak?


Mona_ags:


Besok mau main ke rumah, biasa lah.


Senja:


Pasti mau ketemuan sama bang Doni ya mbak?


Mona_ags:


Hehe iya.


Sekalian mau ngerjain tugas bareng.


Senja:


Oke mbak,


Ara tunggu di rumah.


Mona_ags:


Makasih Ara sayang:)


Read.


Ara hanya geleng-geleng kepala sambil membalas isi chat dari Mona. Mona merupakan tetangga Ara, sekaligus kakak sepupu yang tinggal di samping rumah Ara.


Mereka sudah dekat dari kecil. Dan setelah Ara kembali ke Bandung, kini Mona sudah kuliah di salah satu universitas di Bandung, baru semester dua.


Mona mempunyai teman dekat, Ara memanggil

__ADS_1


nya bang Doni. Bang Doni juga satu fakultas dengan Mona, tetapi beda semester. Ketika mereka akan keluar, maka yang jadi nyamuk adalah Ara.


Kalau tidak di suruh menemani, terkadang Ara juga yang selalu membuat alasan kepada Tante Ningsih. Ibunya kak Mona.


__ADS_2