
Bu Pretty bertolak pinggang di depan kelas. Guru itu menatap tajam ke arah 5 anak muridnya yang sedang berjalan menuju ke kelas.
Mereka malah asyik mengobrol tanpa memperdulikan Bu Pretty yang sudah menahan amarahnya agar tidak meledak.
"Ekhem..ekhem.."
"Eh..eh..kok gue denger ada suara ya." kata Oji sambil celingak-celinguk.
"Salah denger kali lo." balas Irga dengan santai.
Memang mereka berada di depan kelas dan Bu Pretty berada di pintu agak ke dalam kelas. Jadi jika tidak memperhatikan dengan teliti maka terlihat tidak ada orang karena terhalang pintu.
"Ekhemmmmm...." Bu Pretty memanjangkan dehemannya.
"Eh kok gue merinding sih." Oji menggesek-gesek lengan tangannya.
Arka yang berhadapan dengan pintu, dia melihat Bu Pretty yang sudah berkacak pinggang. Arka memberikan kode kepada Oji dengan menaikkan sebelah alisnya. Namun Oji malah melanjutkan bicaranya.
"Kok gue gak lihat Bu Pretty ya?" tanya Oji.
"Udah pensiun kali.." jawab Irga.
Arka, Laskar, dan Elon sudah merasa was-was karena Bu Pretty semakin menampakkan wajah garangnya. Tetapi seperti biasa Elon terlihat cuek.
"Siapa yang pensiun?" balas Bu Pretty.
Oji dan Irga langsung membalikkan badan menghadap ke arah pintu.
"Eh ibuk..." kata Oji sambil menggaruk belakang kepalanya. Irga yang cengengesan tidak jelas.
"Apa kabar Bu?" tanya Irga dengan kikuk. Tangan Oji langsung refleks memukul lengan Irga.
"Kutil badak!" desis Oji.
"Siapa yang kamu bilang kutil badak?!" nada suara Bu Pretty mulai naik 2 oktaf.
Oji merutuki kebodohannya yang keceplosan mengucapkan kata-kata tadi. Dia melihat ke arah Bu Pretty yang sudah mendelik ke arahnya.
"Em..anu.." kata Oji sambil menggaruk tengkuknya.
"Apa!" sentak Bu Pretty.
"Bu, jangan galak-galak dong nanti saya takut." cicit Irga.
"Bilang apa kamu?!"
Oji langsung tersenyum kikuk ke arah Bu Pretty, "Dia bilang katanya Bu Pretty cantik." jawab Oji.
"Oh iya, saya tadi bilang gitu Bu." Irga membenarkan perkataan Oji.
"Kamu pikir saya budeg?!" ucap Bu Pretty, beliau menarik napas pelan, "Kalian dari mana saja?" tanya guru itu.
"Toilet."
"Kantin."
"Ruang guru."
"Lapangan."
"Di panggil kepsek." jawab mereka secara serentak namun dengan jawaban yang berbeda.
Bu Pretty memijat pelipisnya pelan, bingung dengan jawaban mana yang harus dipercaya.
"Kalian ngelawak?"
"Lah Bu, ngapain kita ngelawak? Ibu kan lihat kita lagi di sekolah." balas Oji dengan jujur.
"Kalian sedang mempermainkan saya?"
Kelimanya sama-sama menggeleng, kemudian mengangguk. Bu Pretty semakin jengah dengan tingkah mereka.
"Kenapa gerakan kalian selalu sama? Saya curiga ada konspirasi diantara kalian." dengus Bu Pretty.
"Bu, saya capek boleh duduk?" izin Elon dengan wajah datarnya.
"Bu, saya haus boleh minum?" lanjut Arka.
"Bu, saya laper boleh makan?" lanjut Laskar yang sedang memainkan kuku jari tangannya.
"Bu, saya kebelet boleh ke kamar mandi?" kata Irga.
"Bu, saya mau boleh--"
"APA!" sahut Bu Pretty melotot.
Bu Pretty menggelengkan kepalanya, "Kalian benar-benar bikin darah tinggi saya naik." ujarnya.
"Makanya Bu jangan suka marah-marah gak jelas." jawab Oji kelewat jujur.
"Sudah-sudah. Saya capek meladeni orang seperti kalian." jengah bu Pretty.
"Saya gak minta di ladeni Bu." celetuk Laskar.
Kelakuan mereka benar-benar membuat Bu Pretty semakin di landa hawa panas di sekujur tubuhnya.
"Bu Pret." panggil Oji.
Sedangkan keempat temannya menahan tawa karena panggilan nyeleneh dari Oji itu. Dia memang senang melihat ekspresi guru yang berperawakan cantik itu ketika sedang kesal.
"Namanya saya Pretty bukan Pret!" tegasnya.
"Kata Mbah Google arti kata pretty itu cantik Bu, kalem, pokoknya mantap deh." ucap Oji mengacungkan jempolnya, "Tapi..kok ibu galak sih? Suka marah-marah lagi." lanjutnya tanpa beban.
Irga langsung melongo mendengar penuturan dari teman sebleng nya itu. Dia emang sok polos atau benar-benar sinting? Karena dua julukan itu hampir beda tipis.
"Kamu menghina nama saya?" tangan Bu Pretty bersedekap di dada, "Secara tidak langsung kamu sudah menghina orang tua saya yang sudah memberikan nama itu kepada saya." ucap Bu Pretty pura-pura sedih.
Oji langsung gelagapan karena melihat ekspresi sedih dari Bu Pretty, "Eh eh Bu jangan nangis dong. Saya kan cuma bercanda." Oji mulai ketakutan.
__ADS_1
"SEKARANG KALIAN LARI KELILING LAPANGAN 10 KALI! SUDAH TELAT TAPI TIDAK TAU DIRI! MAU JADI APA KALIAN? SUDAH KELAS 12, BUKAN MEMBERI CONTOH YANG BAIK KEPADA ADIK KELASNYA MALAH MEMBERI CONTOH JELEK!" teriak Bu Pretty secara tiba-tiba.
"Ebusyet!" tutur Arka yang memegangi telinganya.
"Saya juga gak mau jadi contoh Bu!" celetuk Elon.
"SEKARANG CEPAT KE LAPANGAN!"
"10 kali kebanyakan Bu, nanti kalo saya capek gimana?" bantah Irga.
"15 KALI!"
Mereka melongo berjamaah. Oji semakin tidak terima karena itu terlalu banyak. Bisa-bisa dirinya jadi seperti cacing kepanasan.
"Bu jang--"
"20 KALI!" selak Bu Pretty.
Merekapun pasrah menerima nasib.
***
Ara sedang memperhatikan pelajaran dengan tenang. Natasya yang berada di samping mencolek lengan Ara beberapa kali. Namun Ara tak menghiraukan Natasya, cewek itu malah sibuk menatap ke depan.
"Stt..Stt..stt...Ra." bisik Natasya.
Ara yang jengah langsung menolehkan kepalanya, "Apa sih Nat?" tanya Ara.
"Gue kebelet." jawab Natasya sembari memegang perut.
"Ke kamar mandi lah." ucap Ara santai.
"Temenin dong Ra." pinta Natasya.
Ara mengangkat tangan, "Bu, saya izin ke toilet." Ara berdiri dan diikuti Natasya dari belakang. Setelah mendapat izin, mereka keluar kelas.
Ara menunggu Natasya di depan toilet sambil mengetuk-ngetuk kakinya di lantai. Natasya memunculkan kepalanya di balik pintu toilet.
"Ra.." panggil Natasya. Untung saja toilet perempuan sedang sepi.
"Udah selesai belum sih?" gerutu Ara.
"Beliin gue pembalut di koperasi dong Ra." cicit Natasya.
"Yayaya.." Ara keluar kamar mandi dan berjalan menuju koperasi sekolah.
Di tengah lapangan Ara melihat Arka dan keempat kawannya sedang berlari mengelilingi lapangan. Entah apa yang sudah di perbuat abang nya itu.
"Woii Lon.." teriak Oji.
Elon berlari tanpa memperdulikan teriakan Oji. Oji segera berlari menyusul Elon dan yang lain.
"Huftt..Huft..gila!" ucap Oji sambil mengelap keringatnya dengan tangan.
"Gara-gara lo nih." balas Irga.
"Enak aja lo! Lo juga ikut-ikutan!" Oji tak terima.
Laskar hanya menatapnya dengan datar. "Untung-untung pemanasan." jawab Laskar dengan santai.
"Tapi lucu juga ekspresi Bu Pretty tadi." Arka membayangkan ekspresi kesal Bu Pretty. Oji dan Irga langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Ara yang memperhatikan mereka dari koridor langsung menggeleng pelan. Dia melupakan tujuan untuk ke koperasi. Ara segera berjalan cepat, bisa-bisa nanti Natasya menunggunya.
Ara keluar dari koperasi sambil membawa tentengan plastik berisi pesanan Natasya tadi. Dan membawa 2 botol air minum.
Ara menyerahkan plastik itu kepada Natasya, "Nih."
Natasya sudah keluar dari toilet. "Thanks ya Ra." ucap Natasya. "Sumpah gue kira tadi kebelet eh gak taunya malah." lanjutnya.
"Iya, sama-sama." jawab Ara.
Mereka keluar toilet dan melewati lapangan. Ternyata kakaknya itu masih berlari. Ara baru saja ingat kalau dia tadi membeli minuman.
"Eh Ra, mau kemana lo?" teriak Natasya yang melihat Ara berjalan ke arah lapangan.
Ara mengangkat botol minum ke atas tanpa menoleh ke belakang.
***
"Widih, makasih neng Ara. Gak usah repot-repot." ucap Oji ketika melihat Ara menuju ke arahnya dengan membawa minuman.
Mereka langsung memandang ke arah Ara. Oji sudah berharap jika Ara akan mendekatinya, tetapi Ara malah melewatinya begitu saja. Oji langsung memberenggut kesal.
"Ngapain kesini Ra?" tanya Arka.
"Nih.." Ara memberikan 1 botol minum kepada Arka. Arka langsung tersenyum senang dan menerima botol minum tersebut.
Arka langsung menegak air minum sampai setengah botol. "Emang terbaik lo dek." ucap Arka sambil mengusap air yang ada di bibirnya.
Arka melempar botol minum ke arah Laskar dan di tangkap Laskar dengan baik. Lalu dia meminum air tersebut. Sementara Oji yang melihat itu hanya meneguk salivanya kasar sambil mengelus leher karena tenggorokannya terasa kering.
Laskar memberikan sisanya minum tersebut kepada Irga. Tanpa mau menyia-nyiakan kesempatan Irga langsung menghabiskan air minum tersebut.
"Ini pasti buat gue nih." Oji tersenyum senang.
Tangan Oji sudah bersiap untuk menerima botol itu, tetapi botol itu melewatinya begitu saja. Oji langsung diam di tempat.
Ternyata Ara memberikan botol minum itu kepada Elon dan membuat Oji mencebikkan bibirnya.
"Bahaha..kasian lo." tawa Irga.
"Udah berharap tapi cuma di anggap nyamuk..ngueng..ngueng..ngueng.." lanjut Arka.
"Harapan semu." celetuk Laskar.
Elon menerima botol itu dan segera meminumnya. Ara yang melihat itu hanya bisa terdiam tanpa berkedip, karena Elon minum seperti orang yang beberapa hari tidak pernah minum.
"Thanks ya Ra." kata Elon tersenyum ke arah Ara.
__ADS_1
"Iya kak, sama-sama."
Elon yang melihat wajah Oji seperti orang yang hampir menangis langsung melempar botol minuman. Hal itu membuat senyum Oji merekah. Tanpa ba-bi-bu Oji langsung menghabiskannya.
"Ahh..segerrr..." ucap Oji.
Natasya berlari terbirit-birit mengejar Ara. "Kok lo ninggalin gue sih Ra." gerutu Natasya sambil memegangi kedua lututnya.
"ITU YANG DI SANA KENAPA MALAH NGOBROL?!" teriak Bu Pretty yang berada di lantai 2 yang sedari tadi mengawasi Arka cs menjalankan hukumannya.
"KITA UDAH SELESAI BU!" balas Oji dengan berteriak.
"KITA KE KANTIN DULU YA BU. ASSALAMU'ALAIKUM." lanjut Irga yang berteriak dan berlari meninggalkan lapangan.
Merekapun segera berlari, takut jika Bu Pretty mengejar mereka lagi.
"Lah kok gue di tinggal sih?!" ucap Natasya kesal. Baru saja dia datang dan mereka malah pergi seenaknya.
***
Ketika Ara hendak menyusul Natasya ke kantin karena bel istirahat sudah berbunyi. Elon menarik tangan Ara menuju taman belakang sekolah.
"Eh..eh..siapa nih?" Ara yang kaget ketika seseorang menarik tangannya.
"Kak Elon ngapain sih, narik-narik tangan aku?" tanya Ara kesal.
"Thanks"
"Buat apa kak?" Ara yang bingung dengan ucapan Elon.
"Buat yang tadi."
"Oh.." Ara mengangguk paham.
"Kak Elon gak ke kantin?" tanya Ara.
Elon menatap Ara sekilas lalu menjawab, "Gak, gue pengen disini."
"Ih..tapi aku laper tau.." balas Ara sambil mengerucutkan bibirnya.
Elon mengeluarkan makanan yang sudah di pesannya tadi dan memberikan kepada Ara. "Nih makan." ujarnya.
Mata Ara langsung berbinar ketika melihat siomay yang ada di hadapannya. Dengan cepat dia langsung menerima makanan itu.
"Kok cuma satu?" tanya Ara.
"Sengaja cuma pesen satu." jawab Elon enteng.
"Emang kak Elon gak makan?"
"Makan."
Elon langsung merebut siomay tersebut dan menyendoknya lalu mengarahkan ke mulut Ara. Elon memberikan kode kepada Ara untuk membuka mulutnya.
Ara menerima suapan dari Elon dengan senang. "Enyakk." kata Ara dengan mulut yang masih penuh dengan siomay.
Kemudian Ara menyendok siomay dan mengarahkan ke mulut Elon. "Aaaa.."
Elon membuka mulut dan memakan siomay dengan ekspresi biasa saja sambil memperhatikan Ara.
"Kak Elon suka siomay juga?" tanya Ara.
"Biasa aja."
Ara hanya menganggukkan kepalanya setelah mendapat jawaban dari Elon.
"Kak Elon kenapa perhatian sama aku?"
"Emang gue terlihat perhatian sama lo gitu?" balas Elon.
Ara langsung menegang. Bodohnya dia menanyakan pertanyaan yang tidak bermutu. Mana mungkin Elon perhatian kepadanya! Mungkin Ara yang terlalu berharap.
"Hehe..enggak sih." jawab Ara tersenyum kikuk.
Kemudian tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Ara memang yang terlalu percaya diri.
"Kalo gue perhatian sama lo kenapa? Gak boleh?"
Suara Elon membuyarkan lamunan Ara.
"Emmm..boleh-boleh aja sih."
"Kalo gue perhatian sama lo, balesannya apa?" kata Elon mendekatkan wajahnya ke arah Ara. Refleks Ara langsung memundurkan kepalanya karena jarang mereka terlalu dekat.
"Ka..kak Elon mau apa?" kata Ara gugup.
Ternyata Elon ingin membuang sampah bekas wadah siomay tadi. Karena tong sampah tersebut berada di belakang Ara.
Wajah Ara langsung memerah karena mengira Elon akan mengatakan sesuatu kepadanya. Sial! Ara terlalu kegeeran lagi!
"Gak usah gugup gitu kali." celetuk Elon.
"Aku gak gugup kok." kata Ara sembari menegakkan tubuhnya.
"Pipi lo merah kenapa?" tanya Elon dengan nada usil.
Ara refleks memegang kedua pipinya, sontak membuat Elon tertawa. Dia rasa ekspresi Ara sangat lucu.
"Lo pake blash on berapa kilo?" tanyanya masih tertawa.
Ara langsung memalingkan wajahnya karena merasa malu. Bisa-bisanya Elon mengerjainya. Karena tidak tahan dengan suara tawa Elon, Ara segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Apa sih kak?"
Tawa Elon semakin meledak ketika mendengar suara Ara yang terlihat begitu malu.
"Menurut ku bahagia itu sederhana. Sesederhana aku melihat tawamu. Tawamu mampu mengisi hari-hariku menjadi lebih berwarna dari biasanya. Tawamu mampu membuat hatiku merasa lebih berpenghuni."
Senja Paramita.
__ADS_1
"Biar ku katakan siapa orang yang paling bahagia di dunia ini. Aku. Melihat mu tersenyum mampu merubah dunia ku lebih terang. Bersamamu mampu membuat waktuku berhenti sejenak. Biar ku simpan senyummu di dalam hatiku."
Delion Kenneth Admaja.