Senja Dandelion

Senja Dandelion
Warjum


__ADS_3

"WAH CURANG LO!!" teriak Oji yang menyangkal kekalahan. Dia sedang bermain catur dengan anak-anak Permata Indah yang sedang menongkrong di warung Bu Jum.


"Heh, elo aja yang gak bisa main!" sentak Ardan mulai jengah.


"Gue cuma ngalah aja." ucapnya sembari mengangkat kepalanya tinggi, "Gue gak mau dibilang sombong. Nanti fans gue tambah banyak, bisa berabe gue."


Ardan berdiri untuk memesan makanan, "Narsis banget lo!" dia berjalan menjauh dari Oji.


"Eh, mau kemana lo?" tanya Oji.


"Makan. Tenaga gue habis ngadepin kutil badak kek lo!" ucap Ardan tanpa menoleh.


Irga datang bersama Karin, disusul Laskar, dan paling belakang ada Arka yang membonceng Ara.


Oji berdiri menyambut, "Wah ada tamu cantik nih.." kata Oji mempersilahkan Ara untuk masuk.


"Ayo Ra." Arka menggandeng tangan Ara untuk masuk ke dalam warung Bu Jum atau biasa digunakan anak-anak Permata Indah untuk basecamp.


Warung tersebut berada di gang tak jauh dari SMA Permata Indah. Tidak terlalu besar, namun banyak yang datang ke warung tersebut.


Bu Jum memang mengizinkan warungnya sebagai basecamp. Anak-anak yang malas untuk pulang, biasanya langsung menuju ke sana. Tempat itu juga strategis untuk melarikan diri ketika membolos.


"Mau makan apa Ra?" tanya Arka yang menaruh tasnya di bangku.


Ara tersenyum lalu memandang ke arah Arka, "Apa aja deh bang." kemudian dia menengok ke Karin, "Mau makan apa Kar?" tanya Ara pada Karin.


"Samain aja deh bang." jawab Karin dan duduk disamping Irga.


"Bu, pesen mie spesial 3 ya!" teriak Arka menyebutkan pesanannya kepada Bu Jum.


"Siap, ditunggu sebentar mas Arka." balas Bu Jum sambil mengacungkan jempolnya. Disini memang sudah saling mengenal, bahkan Bu Jum sudah hafal dengan anak-anak yang selalu datang ke warungnya.


"Bu Jum." panggil Oji, "Pesen mie satu yang pedes sama minum kayak biasanya." lanjut Oji.


"Gak usah Bu, biar kena busung lapar aja." celetuk Laskar.


"Tega banget lo sama gue!" lirih Oji, "Kalo gue sakit mau tanggung jawab lo!" sinis Oji memandang Laskar.


"Bayar dulu tuh hutang lo, bejibun kek rumput tetangga!" kata Ardan.


"Mirror dong." jawab Oji.


"Utang gue cuma 210 ribu." lanjutnya.


Ardan menggeleng kepala pelan, "Ngakunya orkay tapi buat makan aja ngutang!"


"Elo emang bener-bener ya Ji." celetuk Arka. "Gak punya malu!" lanjutnya.


"Teh sisri ngutang, marimas ngutang, extra joss ngutang, semuanya serba ngutang." kata Irga sambil menghitung jumlah hutang Oji.


"Tega lo nyebar aib gue." Oji memasang wajah sedih. "Tapi gapapa, yang penting gue tetap ganteng!" lanjutnya sumringah.


"Bastrad lo! Lo kira warjum tempat ngumpulin utang." balas Ardan yang masih fokus pada mangkok mie.


Memang anak-anak menyebutnya dengan Warjum. Biar lebih gampang mengucapnya. Warjum juga sudah menjadi rumah bagi mereka.


Bu Jum keluar dengan nampan berisi mie dan minuman, "Monggo, dinikmati." ucap Bu Jum menyerahkan nampak kepada Arka.

__ADS_1


"Makasih Bu Jum." balas Arka.


"Eh neng geulis siapa ini?" tanya Bu Jum menunjuk Ara.


"Oh ini adek saya Bu, namanya Ara." Arka menjawab pertanyaan dari bu Jum.


"Oh yowes, ibu tak kebelakang dulu." Bu Jum pamit kembali ke dalam warung. Karena Arka dan yang lain sedang duduk di bangku yang disediakan warung Bu Jum didepan warung nya.


Mereka terbiasa duduk di depan daripada didalam, karena didalam biasanya tempat untuk orang lain yang ingin membeli makanan.


****


Semakin sore semakin banyak yang berdatangan ke warjum. Menghabiskan waktunya untuk bercanda tawa disana.


"Thanks Ka." ucap seorang yang bername tag Aji sambil menepuk pundak Arka.


"Santai aja kali, kayak sama siapa aja lo." jawab Arka. "Gimana keadaan adek lo?" tanya Arka.


Aji mencari bangku kosong lalu bersiap untuk duduk, "Udah sehat sih. Thanks banget, gue gak tau waktu itu harus minta tolong sama siapa lagi."


"Yoi, kita disini udah kayak saudara. Jadi gak usah sungkan-sungkan buat minta tolong."


Waktu itu ketika Arka sedang keluar bersama teman-temannya, Aji menelpon dengan suara yang khawatir. Setelah ditanya, ternyata adiknya sedang sakit.


Dia meminta bantuan kepada Arka untuk mengantarkan ke rumah sakit menggunakan mobilnya. Dan Arka dengan senang hati membantu Aji.


"Si El kemana kok gak kelihatan?" tanya Aji.


"Mana gue tau." balas Oji ogah-ogahan.


"Tadi katanya mau keluar bentar, ntar juga nyusul kesini." jawab Laskar sambil bermain game di ponselnya.


Semua pasang mata melihat ke arah Elon. "Baru di omongin udah muncul aja. Panjang umur lo!" kata Oji menyambut Elon.


Elon turun dari motor dan menuju ke arah temannya berkumpul, diikuti Sonya yang mengekor dibelakang nya.


Sonya mengulum senyumnya kepada orang yang berada di warjum, tetapi mereka merasa tak acuh akan kedatangan Sonya.


"Bu Jum!" teriak Oji.


Bu Jum keluar dari warung dengan tergesa-gesa, "Ada apa atuh mas Oji." tanya Bu Jum.


Oji mengangkat gelas es tehnya, "Tadi ini gulanya berapa sendok sih Bu?" matanya memandang ke arah Bu Jum.


"Ya seperti biasa atuh mas." jawab Bu Jum.


"Tapi kok manis banget." Oji menurunkan gelasnya. "Setelah ngeliat Bu Jum..eeeaa.." lanjut Oji.


Oji memang sering menggoda Bu Jum. Tidak lebih sebagai candaan semata. Tetapi dia juga tetap menghormati orang yang lebih tuanya.


"Dasar!" ucap Bu Jum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Oji dan meninggalkan depan warung.


"Gini nih kalo lelehan garem dikasih nyawa!" celetuk Irga.


"Sumpah, bukan temen gue!" kata Ardan sambil menjauh dari Oji.


"Kok kamu gitu sih yang.." Oji bergelayut ditangan Ardan.

__ADS_1


"Sana lo!" Ardan melepaskan tangannya dan mendorong tubuh Oji pelan hingga dia tersungkur dari bangku.


"Hahahaha." seketika tawa di warjum pecah melihat Oji yang terjungkal kebelakang.


"Rasain lo!" kata Irga yang masih memegang perutnya efek tidak bisa berhenti tertawa.


"Laknat lo semua! Untung gue ganteng, jadi gue sabar." Oji mengelus-elus dadanya.


Ara tersenyum melihat tingkah absurd dari teman-teman Arka. Sambil menggelengkan kepalanya, ekor mata Ara tak sengaja melihat ke arah Elon.


Elon sedang membersihkan seragam Sonya yang terkena kuah mie.


"Hati-hati dong kalo makan. Udah gue bilang pelan-pelan." kata Elon, tangan kanannya sibuk membersihkan seragam Sonya dengan tisu.


"Iya-iya bawel banget sih."


Semua itu tak luput dari pandangan orang-orang yang berada di warjum. Mereka menampilkan ekspresi yang berbeda-beda.


"Ekheemmmm... uhuk uhuk..aduh tolongin gue dong!" kata Oji pura-pura tersedak.


"Gerah banget disini." sindir Irga.


"Padahal lagi mendung kok panas banget ya." lanjut Oji.


Oji menatap ke arah Sonya dengan mata menyipit. Elon yang melihat itu langsung bersuara, "Ngapain lo?" ucapnya dengan nada dingin.


"Gapapa." kata Oji segera memalingkan wajahnya.


Ara melihat ke arah jam tangan yang berada di tangan kirinya. "Bang, pulang yuk!" ajak Ara. Ternyata sudah menunjukkan pukul 3 sore.


Bisa-bisa nanti bundanya khawatir jika mereka pulang terlambat.


Arka berdiri dan membayar makanan. "Ayoo." kata Arka.


"Gue duluan." pamit Arka kepada semua temannya yang ada di warjum.


"Kar, mau bareng gak?" tanya Ara.


"Gue nungguin Irga, Ra." jawab Karin.


"Gue udah selesai kok, ayok pulang." kata Irga segera menarik tangan Karin.


"Bye, duluan ya kak." pamit Ara. Semua langsung mengangguk menjawab pamitan Ara.


Laskar juga ikut berdiri, "Woii kok lo ninggalin gue sih!" gerutu Oji segera mengejar Laskar.


Mereka semua akhirnya pamitan pulang, menyisakan Elon dan Sonya yang masih di tempat.


"Ken.." lirih Sonya.


Elon menengok ke samping, "Kenapa?"


"Mereka gak suka ya, ada gue disini." ucap Sonya.


"Enggak kok, mungkin mereka belum terbiasa aja." Elon mengusap kepala Sonya, "Udah jangan dipikirin. Yukk pulang."


Sonya mengangguk mengiyakan ajakan Elon.

__ADS_1


"Apa gue gak pantes temenan sama mereka?"


Siapin napas dalam-dalam buat next part 😂


__ADS_2