Senja Dandelion

Senja Dandelion
Bikin Geger Otak


__ADS_3

Gedung yang menjulang tinggi tersebut sudah ramai dengan pengunjung. Hilir mudik orang keluar masuk area mall. Termasuk Ara dan ketiga temannya sudah berada di toko pakaian yang terdapat di mall.


"Pilih baju yang simpel aja deh." usul Ara.


"Gimana kalo yang ini." Natasya membawa dress berwarna biru muda.


"Jangan deh. Ya kali kita mau pake dress." ujar Febby memutar bola matanya.


"Gimana kalau yang ini?" Karin membawa long dress berwarna pink dengan motif bunga.


"Lo kira kita mau ngapain?" Febby merebut dress tersebut dari Karin. "Hidih, warnanya pink lagi." lanjutnya bergidik ngeri.


Sementara Ara sibuk mencari sweater dan tidak menghiraukan teman-temannya yang sibuk berdebat. Pandangan Ara tertuju pada sweater berwarna cokelat susu yang menurutnya sangat simpel.


"Gimana kalau yang ini aja." usul Ara yang menempelkan sweater di tubuhnya.


"Boleh juga nih." jawab Febby yang melihat-lihat sweater tersebut.


Natasya manggut-manggut, "Bagus sih. Selera lo keren juga Ra."


"Gimana Kar?" tanya Ara.


"Boleh deh Ra. Gue juga lagi males buat pake dress." jawab Karin.


"Warnanya mau samaan apa gimana nih?" tanya Natasya sembari memilih sweater.


"Terserah kalian aja deh. Kalo aku sih yang ini aja." balas Ara sambil menatap ketiga temannya.


"Samaan aja deh." celetuk Karin.


"Lo kira kita anak panti." geram Febby.


Karin hanya cengengesan tidak jelas. Merekapun kembali memilih sweater mana yang cocok untuk di pakai.


Sedangkan Ara memilih duduk di sofa yang disediakan di toko pakaian tersebut sembari menunggu teman-temannya.


Notifikasi panggilan masuk ke ponsel Ara. Tertera nama Arka disana. Ara menggeser tombol hijau tersebut.


"Haloo bang, kenapa?"


"Elo dimana dek?" terdengar sahutan dari Arka.


"Lagi di mall, tadi kan udah bilang bang." gerutu Ara.


"Gue kan khawatir sama elo dek." balas Arka yang cengengesan.


"Pasti ada maunya nih."


"Enggak ada. Nanti mau dijemput gak?"


"Gak usah bang. Lagian tadi di anter sama supirnya Natasya, masih di tungguin dibawah kok."


"Ya udah. Kalau ada apa-apa cepet telpon abang, oke?"


"Iya."


Ara segera mematikan sambungan teleponnya dan beranjak mendekati teman-temannya.


"Habis ini kita mau kemana?" tanya Ara.


"Cari makan dulu dong, laper banget." Febby menampilkan deretan giginya.


"Setuju." teriak Natasya.


Banyak orang yang menoleh ke arah mereka. Karin segera menabok lengan Natasya. "Gak usah teriak-teriak bisa gak sih." kesal Karin.

__ADS_1


"Hehe, ya maap."


Ara menggelengkan kepala melihat tingkah absurd Natasya, "Udah selesai kan?" tanyanya.


Ketiganya mengangguk. Kemudian mereka menuju ke kasir untuk membayar pakaian.


****


Senyum Elon terbesit saat mendapat jawaban chat dari Ara. Elon mengirim pesan kepada Ara. Kenapa dia merasa gugup? Padahal hanya berbicara lewat chat bukan bertemu langsung.


Delion:


Hai


Ara:


Ada apa kak?


Delion:


Nanti malam gue jemput.


Delion:


See you


Entah mengapa ada perasaan yang bergejolak di dalam hatinya. Tetapi dia masih ragu. Apakah dia mulai melupakan Sonya?


Memikirkan semua itu membuat Elon mengacak kasar rambutnya. Kemudian dia mengambil sebatang rokok dan menyalakan pematik. Rokok itu terselip di kedua jarinya.


Elon menghembuskan asap rokok dari kedua lubang hidungnya. Semilir angin di balkon merasuk ke kulitnya.


Tok..tok..tok..


Suara pintu di ketuk dari luar kamar. Elon segera menginjak rokoknya dan membuang dalam tong sampah.


Sari melihat anaknya yang sedang berada di balkon kamarnya. Lalu dia menghampiri Elon dan duduk di kursi yang ada di balkon.


Elon memang sengaja menaruh kursi, karena ketika teman-temannya bermain atau menginap di rumahnya, mereka bisa duduk di kursi tersebut dan menikmati pemandangan.


"Kamu ngerokok lagi ya Lon?" tanya Sari dengan suara tegas.


Elon hanya diam. Sari sudah tahu jika anaknya itu memilih diam berarti dia menjawab iya. Sari menghembuskan nafas kasar.


"Sudah berapa kali mama bilang, jangan ngerokok. Mungkin sampai suara mama serak juga kamu gak bakal dengerin." kata Sari melihat ke arah Elon yang sedang membelakanginya.


"Oh iya mama lupa. Besok ada acara makan malam yang dihadiri semua kolega bisnis papa. Jadi, kita harus nemenin papamu. Mama harap kamu ngerti karena kamu sudah besar." lanjutnya lalu berdiri dari kursi.


Sari melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Elon. Sebelum keluar kamar, dia membalikkan badan. "Satu lagi, mama kangen sama Ara." kata Sari langsung keluar kamar.


Kata terakhir dari mamanya membuat Elon berpikir. Memang sudah lama Ara tidak pernah berkunjung ke rumahnya. Mungkin mamanya juga merasa bosan, karena tidak ada teman untuk bercerita.


Papanya yang sibuk bekerja dan Elon yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Karena Elon memang anak tunggal di keluarga Admaja. Seharusnya Elo mempunyai seorang kakak, tetapi ketika kandungan mamanya berumur 2 bulan dia mengalami keguguran.


Sejak saat itu hanya Elon yang hadir mewarnai keluarga Admaja.


****


"Ra, elo kenapa sih?" tanya Karin.


"Elo sakit Ra? Mana yang sakit Ra? Bilang sama gue." ucap Natasya beruntun.


"Heh, udah kayak wartawan aja lo." balas Febby.


"Udah-udah ribut mulu. Aku gakpapa Natasya sayang." jawab Ara memutar bola matanya.

__ADS_1


"Gue kan khawatir." kata Natasya. "Gue cuma gak mau ada apa-apa sama kalian." lanjutnya.


"Uluh uluh uluh, jadi tambah sayang." Febby mencubit pipi Natasya.


Natasya yang diperlakukan seperti itu langsung menurunkan tangan Febby dari pipinya. Enak saja dia! Dipikir ini pipi, squishy apa yang bisa di uyel-uyel.


"Turunin tangan lo! Tangan lo tuh bau!" kesal Natasya.


"Heh Dugong! Seenaknya lo kalo ngomong. Belum pernah ngerasain di tabok pake sepatu ya lo." Febby semakin tidak terima.


"Emang lo pikir gue mau gitu?" balas Natasya. "Sepatu murah aja bangga lo." ejeknya.


"Gelot yok!!" tantang Febby.


Febby sudah menggulung lengan bajunya ke atas dan mengambil ancang-ancang. Sementara Natasya mengikat rambutnya yang tadi memang di gerai.


Perang dunia pun terjadi. Mereka menggunakan bantal yang ada di kamar Ara untuk lempar-lemparan. Sekarang kamar Ara sudah menjadi kapal pecah.


"STOP!!" teriak Karin.


Tetapi keduanya masih tidak menghentikan aksinya. Ara hanya bisa pasrah dengan keadaan kamarnya saat ini. Dia benar-benar jengah. Bukan memperbaiki mood nya malah semakin menambah moodnya menjadi buruk.


Arka yang berada di kamar merasa terganggu dengan suara berisik dari kamar Ara. Apa ada yang terjadi dengan adiknya?


Tanpa berpikir panjang Arka segera lari dan mendobrak pintu kamar Ara.


Brakk!!


Semua menghentikan aktivitasnya dan memandang ke arah pintu. Disana ada Arka dengan napas yang tersenggal-senggal.


"Abang ngapain?" tanya Ara dengan cengonya.


"Huftt..Huft..Huft..Lo gapapa dek?" tanya Arka dengan napas yang masih ngos-ngosan.


"Ara gak kenapa-kenapa bang." jawab Ara yang masih bingung dengan Arka yang tiba-tiba mendobrak pintu kamarnya.


"Tadi ada ribut-ribut, gue kirain tadi lo sakit dek." balas Arka yang masih berada di pintu.


"Bukan bang. Itu tuh si Natasya sama Febby lagi baku hantam." Karin menjelaskan kepada Arka.


Arka melongo. Usahanya untuk mendobrak pintu sia-sia? Bahkan dia rela mempause game nya yang hampir menang karena ingin memastikan keadaan.


Setelah mendapat jawaban Arka keluar kamar tanpa mengatakan apapun.


"Lah, bang Arka kenapa tuh?" tanya Karin yang bingung dengan sikap Arka.


"Gara-gara lo tuh!" tunjuk Natasya kepada Febby.


"Lo"


"Lah kok gue sih? Ya elo lah!"


"Elo."


"Lo."


"PULANG!" teriak Ara saking jengkelnya.


Ketiga temannya langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


"Ya udah deh Ra. Gue pulang dulu, disini bikin gue geger otak." ucap Karin yang sudah berdiri dan mengambil tasnya.


"Kita juga pulang deh Ra. Sampai ketemu nanti malem." kata Febby. Ketiga perempuan itu pun keluar dari kamar Ara.


Ara menghembuskan napas kasar.

__ADS_1


"Sabar.."


__ADS_2