
Sinar matahari sudah menampakkan diri dibalik celah- celah jendela kamar. Ara segera bergegas keluar kamar, menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama dengan keluarga nya. Semua sudah berkumpul di ruang makan.
"Baru bangun lo dek?" tanya bang Arka.
"Udah dari tadi, ngerjain tugas dulu bang." sambil duduk di kursi.
"Sudah..sudah ayo makan, nanti keburu telat ke sekolahnya." lerai bunda.
Selesai sarapan, Ara dan Arka berangkat menuju ke sekolah karena sudah menunjukkan pukul 06.20. Perjalanan berlangsung seperti biasa. Hari ini jalanan kota Bandung sudah di padati dengan kendaraan yang berlalu lalang.
Motor melaju dengan kecepatan sedang, memasuki gerbang SMA Permata Indah. Sudah banyak siswa siswi yang berjalan memasuki area sekolah.
Ara berjalan di koridor untuk menuju ke kelas. Satu tangannya menyelipkan sejumput rambut panjangnya ke belakang daun telinga lalu memperbaiki jepit rambut yang dikenakan. Ketika melewati koridor, banyak pasang mata yang memperhatikan nya.
Tiba-tiba...
Brukkk..terdengar suara yang begitu keras dari dalam kelas 12 Mipa 2.
"Wadohhh!!" teriak Oji menggelegar.
"Berisik woi, bisa diem nggak!"
"Eh dodol, ini gara-gara elu. Pinggang gue jadi encok!" sarkas Oji.
"Kurang kerjaan banget sih lu. Ngapain nge-share nomer Wa gue ke embak-embak depan komplek yang dandanan nya kek badut." ucap Irga.
"Eits..selow bro!" Oji menghindari pukulan Irga.
"Lah daripada gue di kejar-kejar, mending gue kasih lah!!" kata Oji lagi.
"Halah..banyak bacot lho!!"
"Eh hai Ra." ucap Oji mengalihkan pembicaraan. Kedua tangannya di angkat dan melambai ke arah Ara yang melewati kelas 12 IPA 2.
"Jangan ngalihin pembicaraan ae Lo!" tutur Irga dengan kesal.
"Tuh..tuh..si Ara lewat depan kelas." sambil menunjuk ke arah pintu.
Ketika mendengar nama Ara disebut-sebut, Elon segera mendongakkan kepalanya ke arah pintu kelas. Elon dapat melihat Ara yang tersenyum sekilas, kemudian berlalu meninggalkan kelasnya.
"Si Ara cakep juga ya. Mana kalem lagi." ucap Oji sembari membayangkan.
"Iyalah cakep, kan abangnya juga cakep." jawab Arka yang memasuki kelas.
"Eh jangan bayangin yang enggak enggak Lo!
" kata Laskar menoyor kepala Oji.
"Sadisnya kau bwang, hati dedek sakit." kata Oji mendramatisasi.
"Jyjyk JI!!!" kata mereka serempak.
"Tega kau Roma."
***
"ARA!!" teriak Natasya dari bangku, ketika Ara baru saja memasuki kelas.
"Ngapain sih teriak teriak, ini kelas bukan hutan!" Febby sambil menutup kedua telinganya.
"Hehe..maap. Kan kangen sama Ara." ucap Natasya cengengesan.
"Tumben baru dateng Ra?" tanya Karin yang masih fokus pada ponsel nya.
"Iya, tadi kesiangan dikit."
"Nanti pulang sekolah nonton basket yukk!!" ajak Febby bersemangat.
"Emang ada pertandingan ya?" tanya Ara.
__ADS_1
"Enggak sih, cuma latihan. Sekalian ngeliatin kakak kelas yang cogan." jawab Natasya sambil menaikkan alisnya.
"Iya deh boleh"
Kringg...kringg..suara bel membuat semua murid segera duduk di bangkunya dan menjeda pembicaraan mereka.
Jam pelajaran berlalu begitu lambat, hingga membuat aura di dalam kelas begitu menyesakkan. Ditambah lagi dengan guru pengajar yang super killer, membuat atmosfer kelas begitu gelap. Menahan cacing-cacing mereka yang sudah berdendang didalam perut.
Hanya bisa pasrah, pasrah, pasrah.
"Huwaa, akhirnya istirahat juga." kata Karin sambil meregangkan tangan.
"Nggak kuat dedek, bangg!!" Natasya mendramatisasi.
"Gila aja tuh, 2 jam pelajaran kek satu abad rasanya." ucap Febby.
"Berlebihan benget sih." kata Ara cuek.
"Hehe..habisnya udah laper dari tadi nih Ra." Febby mulai berargumentasi.
"Yokk lah, ke kantin!!"
Seperti biasa, mereka akan menuju kantin dan duduk di tempat paling pojok. Katanya tempat yang paling strategis untuk mengamati kakak kelas yang lewat.
"Nanti jadi kan?" Natasya mulai bersuara.
"Jadi dong!"
"Bang Arka juga ikut latihan basket katanya, mau nggak mau ya harus nonton." cicit Ara.
"Udah kenyang nih, kuyy ke kelas!!" ajak Keysa.
Selepas memberi makan cacing cacing yang sedari tadi berdendang, kelas adalah salah satu penyebab cacing akan berdendang lagi. Jadi harus menyiapkan banyak energi lagi untuk berperang.
****
"Kita ke kantin dulu yuk, beli minum sama cemilan. Biar nanti kalo nonton nggak boring." ajak Ara kepada ketiga sahabatnya.
Mereka bergegas menuju kantin dan membeli apa yang mereka butuhkan. Tak perlu waktu lama, akhirnya mereka sudah berada di tribun lapangan basket.
"Ih gila gila gila, kak Elon manis banget."
"Ya ampun, kak Laskar cool banget pakai seragam basket."
"Liat-liat tuh kak Arka, gans bangeet."
"Eh kak Irga sama kak Oji, cute abisss.."
"Kumpulan para cogant nya SMA Permata nih"
"Nikmat mana yang engkau dustakan?"
"Meleleh hati dedek, bangg.."
"Pengen bungkus satu, bawa pulang!"
"Aaaaa ..nggak kuat sumpah!!"
Ara hanya memutar bola matanya malas, ketika mendengar teriakan-teriakan dari siswi yang menonton latihan basket. Dia malah sibuk dengan cemilannya yang beli dari kantin.
Tepuk tangan juga mengiringi di setiap bola basket yang memasuki ring. Tak lupa disana juga ada tim cheerleader yang sedang latihan.
"Ih ya ampun kak Elon ngeliat ke arah kita." kata Natasya gugup sendiri.
"Kak Elon, cute banget pas keringetan gitu." sambung Karin.
"Ya elah, kak Elon mah ngeliatin Ara bukan elu!" balas Febby.
"ARA WOY!!"
__ADS_1
"Ih ARA!!"
"Araaaa!!"
Panggilan ketiga teman Ara pun tak ada yang di hiraukan, dia masih sibuk dengan cemilannya.
Sebuah tepukan di pundak mengagetkan Ara.
"Ara"
"Eh iya, ada apa sih?" cicit Ara merasa tak bersalah.
"Dipanggil dari tadi juga nggak nyaut-nyaut, malah makan melulu." omel Natasya.
"Tuh..tuh..diliatin sama kak Elon." kata Karin sambil menunjuk ke arah lapangan.
"Ke lapangan yuk, kayaknya latihan basket nya udah selesai." ajak Febby dan menarik tangan Ara.
"Haii..kak Elon." sapa Febby.
"Oh haii."
"Aku kesana dulu ya, mau nyamperin kak Arka." kata Ara sambil menggoyangkan botol minum.
"Eh tunggu." cegah Elon.
"Ada apa kak?" tanya Ara.
"Emm..Ra kita kesana dulu ya." pamit Febby sambil menarik tangan kedua sahabatnya.
"Ada masalah kak?" tanya Ara lagi.
"Eh enggak kok." Elon sedikit gugup.
"Aku kesana dulu ya.." Ara meninggalkan Elon yang masih bergelut dengan pikirannya.
"Sial kenapa gue jadi gugup gini." batin Elon memberontak.
****
"Nihh.." kata Ara sambil menyodorkan botol minum kepada Arka.
"Makasih dek, sini duduk disamping abang." pinta bang Arka.
Ara pun duduk disamping Arka dan meluruskan kaki.
Dia kembali memakan cemilan nya, setelah terjeda oleh kejadian tadi. Arka yang mengamati adiknya yang fokus dengan cemilannya itu, dia mengeluarkan ide jahilnya.
Grepp...
Arka merangkul Ara. Dengan tubuh yang masih berkeringat.
"Ih abang, jorok tau. Lepasin nggak!" gerutu Ara karena terkena keringat abang nya itu.
"Keringat abang itu berkah dek. Banyak orang yang mau.." songong bang Arka.
"Hidihh, berkah apaan? Orang lengket gini juga." balas Ara.
"Ya maap maap." sambil menoel-noel dagu Ara.
"Ayo bang, pulang. Ara capek banget nih."
"Tunggu disini bentar, abang mau ganti baju dulu." ucap Arka meninggalkan Ara yang masih selonjoran di lapangan basket.
Sedangkan disana, seseorang sedang memperhatikan Ara dengan ekspresi datarnya. Tapi tak ada seorangpun yang tau, apa isi pikirannya saat ini.
Orang itu adalah Elon..
DELION KENNETH ADMAJA.
__ADS_1