Senja Dandelion

Senja Dandelion
Nyamuk


__ADS_3

Ara terkekeh karena lelucon yang dilontarkan Natasya. Perempuan itu sampai terengah-engah karena ketiga temannya menggelitikinya. Bukan tanpa sebab, tetapi mereka terlalu gemas dengan Ara.


"Aduhh..aduhh...udah dong." kata Ara menyingkirkan jari tangan Natasya yang masih di perutnya.


Ketiganya menghentikan aksi mereka. Penampilan menjadi awut-awutan. Kamar Ara sudah seperti kapal pecah.


"Sakit banget perut gue." Natasya memegangi perutnya sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Heh, jangan ketawa mulu lo!" sahut Febby.


"Lah, emang gak boleh ketawa?" Karin menaikkan sebelah alisnya.


Febby mengerlingkan bola matanya ke kanan dan ke kiri. "Katanya tuh kalo kita terlalu ketawa, nanti kita bakalan nangis." ucapnya dengan serius.


"Apa hubungannya dodol!" Natasya memukulkan bantal ke kepala Febby.


"Bukan gitu maksudnya, kita itu gak boleh terlalu seneng atau terlalu sedih berlebihan. Mau seneng atau sedih harus secukupnya." kata Ara.


Natasya dan Karin manggut-manggut. Sedangkan Febby masih terlihat berpikir.


"Noh dengerin noh!" Natasya bersuara.


"Udah gue dengerin dari tadi!" Febby yang mulai ngegas.


"Kok lo ngegas sih?!"


"Apa lo gak terima?" Febby menyingsingkan lengan bajunya.


Ara hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Natasya dan Febby yang selalu mendebatkan hal yang tidak jelas. Sedangkan Karin menutup telinganya.


"BERHENTI!!!" teriak Karin.


Semua langsung kicep setelah mendengar teriakan nyaring dari Karin.


"Kalian itu kenapa sih?" gerutu Karin. "Daripada debat gak jelas mending kita main tebak-tebakan." lanjutnya melihat ketiga orang dihadapannya secara bergantian.


"Boleh juga tuh." balas Ara.


"Siapa yang mau mulai duluan?" tanya Karin.


"Gue." jawab Febby. "Oke gue kasih tau clue-nya, bumi itu bulat. 1+4+10+6+8+98 hasilnya berapa?" ucap Febby dengan bersemangat, dia sangat yakin bahwa teman-temannya tidak akan bisa menjawab.


"Gue tau, 127." jawab Natasya percaya diri.


"Salah!"


"Kok salah sih?"


Febby mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, pertanda dia yang akan menang.


"Em...7." kata Ara.


Febby langsung lesu setelah mendengar jawaban dari Ara. "Betull!!" Febby mengacungkan jempolnya. "Yah, gue kira gak ada yang tau." lanjutnya lesu.


"Ara kan emang pinter, gak kayak elo!" Natasya menoyor kepala Febby.


Sebelum perang debat mulai lagi, Ara segera mencegah mereka. "Udah-udah, sekarang giliran siapa?" tanya Ara.


"Gue gue." Natasya bersemangat. "Kalian harus nebak judul lagu yang gue nyanyiin." kata Natasya.


Natasya menarik napas dalam-dalam.


Kau..kau..hadir didalam hidupku


Dan hanya kau kau yang memahami ku

__ADS_1


Kita lewati bersama..aku dan kamu selamanya


Janjiku selalu ada, ketika kau gundah ataupun bahagia


Hei..ini masih sama rasa pertama kita berjumpa


Ini tak berubah, tak perlu resah, jalani semua, kau harus percaya..


Kau yang mengerti semua baik burukku


Kamu berarti disetiap langkah ku


Kau yang mengerti semua baik burukku


Aku tak bisa hidup tanpamu


Natasya mulai bernyanyi dengan suara cempreng nya, meskipun begitu tetapi terdengar lumayan bagus.


"Gue tau gue tau..." Karin meloncat kegirangan.


"Tentang dia." jawab Karin, Ara, dan Febby serentak.


"Ihh, kan gue yang mau jawab dulu." gerutu Karin.


"Markotop!!" Natasya bersemangat.


"Sekarang giliran gue." kata Karin. "Ada seseorang yang mau menembak burung di pohon. Burung itu ada 10 ekor. Orang itu berhasil menembak 3 ekor burung, berapa sisa burung yang masih hidup?" Karin tersenyum miring.


"Anak TK juga tau jawabannya kali." celetuk Febby.


"Ya udah jawab dong!" ucap Karin songong.


"Ada 7 lah." jawab Natasya percaya diri.


"Salah!"


Karin mencari posisi nyaman untuk duduk. "Ya gak ada lah."


"Kok bisa? Lo TK gak lulus ya?" tanya Febby kesal.


"Ya bisa lah, kan yang kena tembak 3 terus masih sisa 7. Burung yang 7 itu punya penyakit jantung, mereka kaget pas ada suara tembakan. Jadi mereka mati deh." Karin menjelaskan dengan percaya diri.


"Gublug!!" kesal Natasya.


Natasya tak habis pikir dengan pemikiran cetek Karin.


Sekarang giliran Ara yang akan memberi tebakan, dia sudah menyiapkan tebakan yang pasti sangat mudah.


"Sekarang aku ya, kenapa nyamuk suka minum darah?" tanya Ara dengan ekspresi serius yang membuat ketiga temannya berpikir.


"Ya karena itu makanan nya lah Ara." jawab Febby memutar bola matanya. Katanya pintar, tapi kok pertanyaan mudah begini harus ditanyakan.


"Salah." sahut Ara. "Karena kalau nyamuk minum darah suaranya jadi ngueng..ngueng..ngueng. Kalau nyamuk minum bensin, suaranya jadi ngeng..ngeng..ngeng." Ara menjelaskan dengan serius.


Natasya geleng-geleng kepala mendengar runtutan jawaban dari Ara. "Itu kata siapa Ara?" tanya Natasya sedikit menggeram.


"Kata bang Arka." jawab Ara polos.


"ARA!!!" teriak ketiganya bersamaan.


Sementara Ara hanya bisa menutup telinganya dengan bantal untuk menghindari lengkingan suara itu.


***


Perempuan berambut panjang itu sedari tadi memperhatikan Elon yang sedang bermain basket di lapangan dengan senyum yang tak pernah luput diwajahnya.

__ADS_1


Entah mengapa rasa tertarik itu semakin hari semakin bertambah.


Ara dan ketiga temannya menuju ke lapangan basket sambil membawa botol minum. Mereka menuju ke arah Elon dan yang lain yang tengah duduk di tengah lapangan.


Ara menyodorkan minuman kepada Arka dan Elon. Karin memberikan minumannya kepada Irga. Febby memberikan minumannya kepada Laskar. Lain dengan Natasya yang tampak terlihat santai.


"Thanks dek." ucap Arka sembari menerima botol minuman.


"Makasih Ra." kata Elon tersenyum ke arah Ara.


Deg!


Senyum itu mampu membuat jantung Ara berdetak dua kali lebih cepat. Bahkan senyum itu tak pernah diperlihatkan kepada siapapun.


Ara segera menepis semua pemikirannya. Lalu beralih menatap ke sembarang arah.


Sedangkan Oji terlihat jengkel karena dia sendiri yang tidak mendapat air minum.


"Lah minuman buat gue mana?" kata Oji kesal.


"Beli dong!" sahut Natasya.


"Itu pasti buat gue kan." ucap Oji melirik ke arah tangan Natasya yang memegang botol minum sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Yee geer banget lo! Ini buat gue sendiri."


"Gak usah malu-malu gitu kenapa? Biasanya juga malu-maluin." balas Oji.


Oji semprul!


Bisa-bisanya dia sudah membuat orang terbang ke atas kemudian menjatuhkannya kembali.


"Heh dugong! Lo tuh yang sukanya malu-maluin." Natasya mulai jengkel.


"Apa dugongku sayang?"


Natasya mendelik ketika Oji memanggilnya dengan kata sayang. Wajah Natasya mulai memerah karena menahan amarahnya yang siap untuk meledak.


"Bapak dugong sama ibu dugong jangan berantem terus dong." kata Arka terkikik geli.


"Ibu dugong juga nih, yang perhatian dong sama bapak dugong." sahut Irga.


Oji tersenyum senang ketika ada yang membelanya. Dia sangat senang ketika melihat wajah Natasya yang menurutnya sangat lucu ketika menahan kekesalannya.


Laskar yang jengah pun mulai bersuara, "Udahlah Nat, kasihin aja. Lo gak kasian apa sama gelandang satu ini." kata Laskar santai.


Oji melongo mendengar perkataan Laskar yang terlihat begitu santai namun menjatuhkan. Natasya tersenyum senang lalu menyerahkan botol minum kepada Oji.


"Kurang ajar lo Kar! Lo kira gue gelandang?" tanya Oji kesal.


"Maybe." balas Laskar.


"Wah gak terima gue!" Oji berdiri dan mulai ancang-ancang.


Laskar yang melihat itu hanya menatap tajam ke arah Oji sambil mengendikkan bahunya. Seketika wajah Oji pun berubah panik setelah mendapat tatapan tajam dari Laskar.


"Hehe.. ampun boss." Oji mengangkat 2 jari tangannya.


"Sok iye lo!" kata Irga tertawa.


Dari kejauhan seseorang mengamati mereka dengan tangan yang mengepal kuat. Seperti ada rasa hanya dialah yang boleh melihat tawa itu.


***


Siapakah orang itu?

__ADS_1


Ada yang bisa nebak? Tulis di kolom komentar!!


Jangan lupa like, komen, dan vote. Biar author tambah semangat buat up ceritanya!!!


__ADS_2