
"Assalamu'alaikum..Ara anakmu yang imut ini pulang bunda." teriak Ara ketika memasuki rumah. Arka hanya menggelengkan kepalanya dan menutup telinga.
Sifat Ara yang satu ini, hanya akan muncul ketika di rumah. Arka sampai dibuat bingung dengan perbedaan sikap Ara antara di rumah dan di sekolah.
Ya meskipun gak jauh berbeda, tapi inilah Ara. Adik dari Arkana Sanjaya.
"Ara, bunda udah bilang kalau masuk rumah jangan teriak-teriak." bunda sudah jengkel dengan sikap anaknya ini.
Sedangkan Ara hanya cengengesan tidak jelas, "Bunda salam Ara kok gak di bales sih." Ara mencebikkan bibir.
"Iya, waalaikumsalam anak bunda yang ganteng dan imut ini." ucap bunda sambil memutar bola matanya malas.
"Kalian ganti baju dulu sana, bau." lanjut bunda sambil menutup hidungnya.
"Siap komandan!" jawab Arka dan Ara bersamaan.
Mereka berjalan ke kamar masing-masing.
Ara memasuki kamarnya dengan langkah gontai. Dia menaruh tasnya di atas meja. Kemudian membersihkan diri di kamar mandi.
Ara merebahkan diri di kasur sambil memandangi atas kamarnya. Tatapan menerawang jauh dari pikirannya.
Ada apa dengan dirinya?
Kenapa dengan sikap Elon?
Bisakah dia bersikap biasa saja?
Tanpa sadar Ara sudah memejamkan matanya dan terlelap ke dalam mimpi.
"Ra" panggil Arka dari depan pintu kamar Ara. Namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Ra.." Arka memegang gagang pintu dan ternyata tidak dikunci. Arka melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Ara tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Ternyata Ara sedang tertidur. Arka duduk disamping Ara dan tangannya terulur untuk membelai rambut Ara.
"Abang sayang sama kamu dek." gumam Arka.
Tanpa sengaja Arka juga ikut terlelap.
Hari sudah mulai sore dan senja akan menampakkan wujudnya. Ara terbangun dari tidurnya, lalu mengerjapkan matanya beberapa kali.
Ara menepuk-nepuk pipi Arka, "Bang bangun." Ara berdecak kesal, "Bang bangun, dasar kebo!"
Arka menggeliat tubuhnya, "Enghh..apa sih Ra. Abang masih ngantuk." katanya dengan mata terpejam.
"Bangun bang, udah sore. Gak baik tidur sore-sore, udah mau magrib." Ara menarik tangan Arka agar segera bangun.
Arka bangun dari kasur sambil mengucek-ngucek kedua matanya. Arka masih mencoba mengumpulkan nyawanya kembali.
"Bang, liat senja yuk." kata Ara yang sudah berjalan ke arah balkon kamar.
Di sana Ara bisa melihat senja yang sudah melukiskan warna jingga di langit. Senyum Ara terbesit ketika melihat hal itu.
"Kamu tau gak, kenapa nama kamu Senja?" tanya Arka yang sudah berada di samping Ara.
"Karena bunda suka sama senja.." jawab Ara sambil terkekeh pelan.
"Karena senja bisa memberi warna baru di hidup seseorang." ucap Arka mengusap kepala Ara pelan, "Setelah ada kamu, dunia ayah dan bunda lebih berwarna. Dunia abang juga lebih berwarna setelah kamu jadi adik abang." lanjutnya.
"Tapi bukannya senja itu pergi seenaknya dan kembali semaunya ya bang?"
Arka mengangguk, "Ya, tetapi hal yang indah itu layak di nanti." jawab Arka mencubit hidung Ara.
"Udah-udah mendingan kita mandi, nanti kita siapin buat nanti malem." ujarnya lagi.
Ara memeluk Arka, "Sayang abang." Ara mencium pipi Arka dengan cepat dan berlari meninggalkan Arka.
"Dasar.."
***
"Heh lo dari tadi makan mulu. Gak mau bantuin, enak aja lo!" gerutu Natasya yang melihat Oji sedang makan jagung.
Mereka semua sudah berkumpul sejak setengah jam yang lalu. Saat ini mereka sedang memanggang daging dan juga membakar jagung untuk menemani nanti sewaktu menonton film.
"Widih mantep nih." tangan Oji mencoba memegang daging yang sedang di panggang.
"Enak aja lo!" Laskar memukul tangan Oji dengan kipas bambu yang di bawanya.
Oji meringis kesakitan, "Tega kau Roma." lirih Oji mendramatisasi.
"Bodo amat Ani!" sahut Irga.
__ADS_1
Taman belakang Ara menjadi ramai karena kehadiran mereka. Saling melempar canda tawa dan kebahagiaan malam ini.
"Enak banget ya, cuma makan tapi gak mau kerja." sindir Natasya.
"Sumpah enak banget nih jagung bakar, manis lagi." Oji memanas-manasi Natasya.
"Jatah lo, habis Ji. Gak ada buat lo lagi!" kata Arka.
"Tega banget lo Ka." Oji memasang wajah sedihnya, "Lo gak kasian sama sahabat mu ini."
Arka celingak-celinguk seperti mencari seseorang, "Kayak ada yang ngomong siapa sih." Arka merinding, "Apa jangan-jangan ada tamu tak di undang ya.." lanjutnya.
"Kurang ajar lo!"
"Hahahahah.." tawa mereka pecah melihat Oji yang dijadikan bahan bercanda.
Mereka semua sibuk dengan tugas masing-masing. Yang cowok memanggang daging dan cewek membakar jagung.
"Kak Adis, disini tinggal sama siapa?" tanya Febby.
"Tinggal sama nenek Feb." jawab Adis yang sibuk mengipasi jagung.
"Kenapa pindah gak bilang sama Ara kak?" tanya Ara.
"Hehe, maafin kakak ya Ra. Kakak aja gak tau kalau satu sekolah sama kamu." jawabnya sambil memandang ke arah Ara.
Natasya berdiri dan berjalan ke arah Adis, "Gue kira kak Adis itu orangnya jutek eh gak taunya friendly banget."
"Sama gue juga." sahut Karin sambil tertawa.
"Eh udah kan, yuk bawa kesana aja." ajak Adis kepada keempat perempuan ini.
Mereka berjalan menuju tikar yang sudah di siapkan, disana juga sudah ada anak cowok yang sudah selesai memanggang daging.
"Wah ada apa ini rame-rame." kata Kana yang baru saja pulang dari kantor.
"Urusan anak muda om." jawab Oji.
Laskar segera memiting leher Oji, "Lagi BBQ an aja om. Sambil ngumpul-ngumpul." jawab Laskar.
"Ya sudah dilanjut, om mau kedalam dulu." ujar Kana yang hendak meninggalkan halaman taman.
"Om om." panggil Oji membuat Kana menoleh.
"Siapa? Arka? Ambil aja kalo mau." jawab Kana dengan enteng.
"Om kira saya gay?" ucap Oji sambil memanyunkan bibirnya.
"Maybe." balas Kana dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Bhahaha, kasian banget lo!" Irga tertawa terpingkal-pingkal.
"Bully teross!!"
***
Elon datang bersama Sonya dengan beriringan. Di tangan kanan Sonya menjinjing plastik berwarna putih.
"Sorry telat." ucap Elon.
"Santai aja, kita juga happy disini kok." jawab Oji dengan enteng.
Oji memandang ke arah lain, entah mengapa mood nya sering jelek ketika ada Sonya.
Ara yang merasakan hawa-hawa tidak enak segera bersuara, "Duduk aja kak. Daripada berdiri di situ terus."
Natasya menyenggol Ara dengan tangannya, "Kenapa elo nawarin mereka." bisik Natasya.
"Gak papa, kan mereka juga tamu Na." jawab Ara dengan berbisik juga takutnya terdengar oleh Elon atau Sonya.
"Ra, tolong ambilin kecap dong." pinta Arka.
Ara segera berdiri, "Dimana bang?" tanya Ara.
Arka menunjuk ke arah tepi kolam renang yang memang tadi digunakan untuk tempat memanggang daging.
Ara berjalan menuju ke sana untuk mengambil kecap. Namun Sonya menyusulnya.
"Hai Ra." sapa Sonya.
"Oh hai kak." jawab Ara agak kikuk.
"Kenal sama Ken udah lama?" tanya Sonya.
__ADS_1
Ara mengernyitkan alisnya, "Oh maksud gue Elon." kata Sonya lagi.
"Sekitar beberapa bulan ini kak, lagian kak Elon kan temennya bang Arka." jawab Ara.
Sonya mengangguk tanda paham akan jawaban Ara.
Ara sedang membawa kecap di tangannya.
"Gue bantu Ra." tawar Sonya.
"Eh gak usah kak." cegah Ara.
"Gapapa.." Sonya mencoba merebut botol kecap yang ada di tangan Ara. Karena Ara yang berada persis di pinggir kolam, dia terhuyung ke belakang dan masuk ke dalam kolam renang.
Ara mencoba tenang, tapi tetap saja dia tidak bisa. Karena dia terlalu syok, dan Ara tidak bisa berenang.
Semua yang melihat itu langsung berlari ke arah Ara. Tanpa ba-bi-bu Elon langsung melompat ke dalam kolam renang, lalu menarik Ara yang hampir pingsan.
Elon mengangkat Ara dan meletakkan di pinggir kolam. Dengan keadaan Elon masih memeluk Ara. Ara masih bisa merasakan pelukan Elon yang hangat dan nyaman.
Tapi beberapa detik kemudian pandangannya gelap dan terdengar orang yang memanggil namanya.
"Ra.."
"Cepet bawa masuk ke dalam." pinta Adis yang sangat khawatir.
Arka segera menggendong Ara dan memasuki rumah. Fara yang melihat anaknya tidak sadarkan diri langsung cemas.
"Bang, Ara kenapa?" tanya bunda dengan khawatir.
"Pingsan Bun, tadi tenggelam di kolam renang." jawab Arka tergesa-gesa dan segera membaringkan Ara di sofa.
Sudah setengah jam lebih tapi Ara tidak sadar juga. Bibirnya terlihat biru mungkin efek kedinginan. Mereka semua khawatir dengan Ara.
"Kenapa bisa kayak gini lagi..arghh." ucap Arka sambil menjambak rambutnya sendiri.
Adis mendekati Arka dan mencoba menenangkan. "Ini bukan salah lo Ka, kita disini juga khawatir."
"Kenapa Ara bisa tenggelem?" tanya Arka memandang Sonya dengan tajam.
"So.. sorry gue gak sengaja." jawab Sonya terbata-bata.
"Tadi gue niatnya pengen bantuin Ara, tapi dia gak mau dan gue ngotot. Gue coba buat ngerebut botol kecap di tangan Ara. Gu..gue beneran gak sengaja ngedorong Ara." lanjutnya sambil tertunduk.
"**** banget sih lo, kalo dia bilang gak usah ya gak usah!" bentak Arka.
"Sorry Ka, gue bener-bener gak tau kalau Ara gak bisa berenang." balasnya dengan air mata yang sudah menetes.
"Makanya jadi orang jangan pemaksa!" Arka yang mulai tersulut emosi.
"Dia kan udah minta maaf, bisa gak sih lo gak usah kasar." kata Elon yang menatap tajam ke arah Arka.
"Kenapa lo gak terima cewek lo gue bentak." ucap Arka dengan tersenyum sinis.
"Udahlah kalian ngapain sih. Berantem gak bakal bikin Ara cepet sadar! Bodoh!" gertak Laskar yang mencoba menenangkan Febby yang menangis.
Natasya yang berada disamping Ara masih sesenggukan menahan isakannya.
"Bang.." lirih Ara.
"Ara udah sadar." kata Natasya sambil mengusap air matanya.
Semua langsung mendekat ke Ara. Ara juga dapat melihat ketiga temannya yang mencoba menghapus air matanya. Adis juga terlihat habis menangis.
"Kalian kenapa?" tanya Ara serak.
"Kita khawatir banget sama lo Ra."
"Aku gakpapa kok." jawab Ara sambil tersenyum.
Fara berjalan menuju ke ruang tamu dengan membawa air hangat.
"Mendingan kalian pulang aja, Ara masih butuh istirahat." kata Fara duduk disamping Ara dan memberikan air hangat.
"Ya udah Tante, kalau gitu kita pamit pulang dulu."
"Ra, kita pulang dulu ya." pamit Febby sambil melambaikan tangan.
"Kak Adis disini kan?" tanya Ara.
"Iya kakak bakal nemenin kamu."
Mereka semua sudah pulang dan Ara diantar ke dalam kamar karena masih lemes dan butuh istirahat yang lebih.
__ADS_1