Senja Dandelion

Senja Dandelion
Memendam


__ADS_3

Elon memandang Ara dengan tatapan intens membuat cewek yang rambutnya dicepol ke atas itu merasa risi. Entah mengapa sejak tadi Elon memandangnya terus menerus tanpa mengatakan apapun.


Setelah kejadian di malam festival bazar itu, Elon dan Ara semakin dekat. Bahkan rasa canggung ketika berdekatan sudah lenyap seiring berjalannya waktu.


Elon yang dulu dingin berubah menjadi menyebalkan ketika bersama dengan Ara. Rasanya Ara ingin menyolok mata Elon yang tak berhenti menatapnya.


"Kak Elon kenapa sih?" ucap Ara jengah.


"Emang gue kenapa?" balas Elon tak acuh.


"Terserah" Ara mengerucutkan bibirnya lucu.


Tadi Elon menjemputnya dan mengajak bermain di taman kompleks perumahan Ara. Taman tidak begitu ramai malam ini. Hanya terdapat sedikit orang yang berlalu lalang.


Elon berdiri dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan Ara. Lalu kembali dengan es krim yang terdapat di kedua tangannya.


Elon duduk disamping Ara, "Mau makan es krim gak?" tanya Elon.


"Gak." ketus Ara.


"Ya udah." Elon memakan es krim cokelatnya dengan santai tanpa mempedulikan Ara.


"Nyenyenye.." gumam Ara menye-menye.


Ara melirik Elon yang tengah asyik dengan es krimnya. Manusia es itu benar-benar menyebalkan. Kenapa sikapnya itu berbanding terbalik ketika dengan orang lain.


Bahkan Elon pun tidak peka bahwa Ara juga ingin makan es krim.


"Dasar kutub gak peka!" gerutu Ara.


"Katanya tadi gak mau ya udah gue makan sendiri, daripada mubadzir." balas Elon dengan santai.


Ara merebut es krim dari tangan Elon dengan paksa dan memakannya.


"Kalo mau ya bilang mau jangan diem aja." Elon menyindir Ara, "Jadi cewek gengsian banget." lanjutnya.


"Dasarnya aja yang gak peka." cibik Ara.


Elon melanjutkan memandang Ara tanpa berkedip. Entah sejak kapan Elon memiliki hobi baru melihat cewek jutek ini.


"Bisa gak sih, gak usah ngeliatin aku kayak gitu?!" kata Ara.


"Mata mata siapa?" tanya Elon. "Ya terserah gue lah." lanjutnya dengan ekspresi yang menyebalkan.


"Yayaya terserah!" Ara mengibaskan tangannya.


Suasana sepi di taman menambah kesan akward diantara mereka. Kelap kelip lampu yang terpasang di pepohonan menjadi penerang ke akward an mereka.


"Kak Elon." cicit Ara.


Elon menghadap ke samping, "Kenapa hmm?" balasnya singkat.


"Aku mau tanya boleh kan?" Ara mencoba memberanikan diri, "Tapi kak Elon jangan tersinggung." lanjut Ara pelan.


"Tergantung."


Ara menegakkan posisi tubuhnya, "Emm.." dia menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan kegugupannya. "Sebenernya kak Sonya itu siapa sih?" tanya Ara.


"Orang." balas Elon.


"Bukan gitu maksudnya." Ara memukul lengan Elon. Sebenarnya Elon sudah tau arah pertanyaan Ara tapi dia memilih untuk mengerjai Ara terlebih dahulu. Karena menurutnya melihat ekspresi jutek dan kesal Ara menjadikan cewek itu lebih terlihat cute.


Ara mencebik bibirnya lucu dan kedua tangannya bersedekap di dada. Elon mengacak rambut Ara.


"Ish.. berantakan tau." kata Ara menyingkirkan tangan Elon dari kepalanya.


"Dia cuma bagian kenangan dari masa lalu gue." Ekspresi Elon berubah serius.


"Tapi bukannya kenangan akan selalu di ingat ya kak?"


"Gak selalu kenangan harus di ingat, cukup kita jadiin pelajaran buat ke depannya aja." balas Elon tersenyum simpul. Ara bahkan tidak pernah melihat Elon yang tersenyum tulus seperti ini sebelumnya.


"Kenapa sih kak Elon jarang senyum?" tanya Ara dengan hati yang was-was.


"Kenapa ya?" Elon mencoba berpikir sebentar, setelah mendapat jawaban dia bersuara lagi, "Karena belum tentu orang yang suka senyum itu isi hatinya seperti senyuman nya. Ada dua tipe senyuman." lanjutnya.

__ADS_1


Ara mendengarkan penuturan Elon dengan baik, sambil memahami setiap kata yang di ucapkan oleh laki-laki bernetra biru tersebut.


"Apa?" tanya Ara.


"Senyuman untuk menutupi luka dan senyuman yang memang bener-bener dia bahagia." jawab Elon.


Elon menatap lurus ke depan, "Terkadang orang lebih suka menampilkan senyumannya agar orang lain gak tau kalo dia sedang terluka."


Ara mengangguk paham.


"Ternyata tidak semua senyuman itu benar nyata. Kadang hanya sebuah topeng yang menutupi agar terlihat baik-baik saja."


***


Seorang gadis baru saja turun dari ojek sambil membawa paper bag di tangan kanannya. Dia berjalan memasuki pekarangan rumah dan tersenyum kepada satpam yang berjaga.


Langkahnya membawa untuk menuju ke depan pintu dan memencet bel. Pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya yang sedang tersenyum.


"Assalamu'alaikum, tante." sapanya sambil menyalami punggung tangan kanan Fara.


"Waalaikumsalam, eh kamu sayang. Ayo masuk." Fara mengajak Adis untuk memasuki rumah.


Mereka duduk di sofa yang terletak di ruang tamu. Adis memberikan paper bag nya kepada Fara.


"Ini tan, dari nenek." kata Adis menyodorkan paper bag.


"Eh ya ampun, kok repot-repot banget." Fara menerima paper bag tersebut.


"Enggak kok tan, kebetulan tadi nenek bikin kue banyak banget." Adis mengedarkan pandangannya, "Oh ya tan, kok aku gak lihat Ara sih?" tanya Adis.


"Ara lagi keluar sama Elon, belum pulang." jawab Fara tersenyum.


Adis mengangguk pelan. "Ya ampun tante sampai lupa belum nawarin kamu minum." ucap Fara.


"Gak usah repot-repot tan." balas Adis.


"Arka ada di atas, gih kalo mau kesana. Masa kamu kesini mau ngobrol sama tante." Fara tertawa pelan.


"Emang gapapa aku ke atas tan?"


Adis melangkah kakinya menaiki anak tangga satu persatu dan mencari letak kamar Arka. Kamar tersebut bersebelahan dengan kamar Ara namun berbeda warna pintunya.


Tok..tok..tok


Adis mengetok pintu kamar Arka. Namun tidak ada jawaban dari dalam.


Dia memberanikan diri untuk memegang gagang knop dan memutarnya. Pintu terbuka. Adis melangkah masuk ke dalam kamar.


Namun tidak ada si pemilik kamar. Dia mencium asap rokok dari balkon kamar dan berjalan menuju balkon.


Arka mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya dan duduk di kursi yang ada di balkon. Tetapi dia tidak menoleh untuk melihat siapa yang datang. Sudah pasti adiknya si pengacau.


"Udah pulang Ra?" tanya Arka sambil menghembuskan asap rokok.


"Sejak kapan kamu suka merokok?" tanya perempuan itu dengan nada santai namun terdengar tegas.


Arka yang mendengar suara itu langsung mengernyitkan keningnya. Bukan. Itu bukan suara adiknya.


Arka menoleh dan mendapati Adis yang sedang duduk di kursi yang berada di belakangnya.


"Sejak kapan di situ?" tanya Arka.


"Sejak kamu gak denger ada suara orang ngetok pintu." jawab Adis.


Adis berdiri mendekati Arka yang berada di ujung balkon kamar. "Aku tanya sejak kapan kamu suka merokok?" tanya Adis menekan setiap kata yang di ucapkan.


"Baru beberapa bulan ini." Arka memalingkan wajahnya.


"Kenapa?"


"Cuma pengen coba-coba aja." jawab Arka enteng.


"Kamu kan tau kalau aku sama Ara gak suka bau asap rokok."


Arka langsung mematikan rokoknya dan membuang ke tempat sampah yang berada di balkon.

__ADS_1


Adis memang memanggil Arka dan Ara dengan aku-kamu. Hal itu sudah terbiasa sejak mereka hampir berpisah karena Arka harus pindah.


Adis mengeluarkan permen dari saku celananya dan memberikan kepada Arka. "Nih, buat gantiin rokok. Mending makan permen daripada ngisap asap rokok yang cuma bikin kita gak sehat." kata Adis.


Arka menerima permen dari Adis, "Banyak makan permen juga gak sehat." tutur Arka sambil membuka bungkus permen dan memasukkan ke dalam mulutnya.


"Seenggaknya gak bikin jantung sama paru-paru kamu rusak." balas Adis.


Terpaan angin malam menerbangkan ujung-ujung rambut mereka. Keduanya sibuk memperhatikan jalanan dari balkon kamar.


"Aku boleh peluk?" ucap Arka.


Adis yang mendengar perkataan Arka terdiam sejenak. Lalu mengangguk pelan. Arka langsung menarik Adis dalam pelukannya.


Banyak hal yang dia rindukan dari perempuan ini. Banyak hal yang hilang setelah mereka berpisah. Tetapi semuanya sudah kembali bersamaan dengan kedatangan perempuan yang sangat Arka rindukan.


Adis membalas pelukan dari Arka. Tidak bisa di pungkiri bahwa dia juga merindukan laki-laki yang cuek ini. Laki-laki yang mampu menerobos pintu hatinya.


Air mata Adis menetes tanpa dia sadari. Arka mendengar Adis yang sedikit sesenggukan.


Arka melepas pelukannya dan menghapus air mata Adis dengan kedua tangannya. "Jangan nangis air mata kamu terlalu berharga." ucap Arka.


Adis menunduk dan menggeleng pelan.


"Jangan nunduk, aku gak mau mahkota kamu jatuh." Arka mengangkat kepala Adis dan menatap lekat wajah perempuan tersebut.


"Maaf."


"Gak perlu minta maaf." Arka memegang kedua tangan Adis dengan lembut. "Maafin aku selama ini gak bisa jujur dengan perasaan ini. Aku emang cowok pecundang, yang gak bisa langsung ngutarain apa yang aku rasain selama ini. Aku juga bukan cowok romantis yang bisa ngertiin semuanya."


Jantung Adis berdetak dua kali lebih cepat. Dia harus mempersiapkan diri apa yang akan di katakan Arka selanjutnya.


"Aku gak bakalan bikin janji yang gak bisa aku tepatin suatu hari nanti. Tapi izinin aku buat mencoba belajar untuk buktiin." Arka menarik napas panjang, "Aku sayang sama kamu Dis. Aku gak mau ngekang dalam status yang bisa bikin kita jauh suatu saat. Tapi aku bakalan serius sama hubungan kita di masa depan. Kamu mau kan?"


"A..aku mau." balas Adis gugup.


"Thanks. Aku harap kamu mau negur aku, di saat aku salah dan ngingetin aku."


Hal romantis itu tiba-tiba sirna begitu saja sejak Ara berdiri di tengah Arka dan Adis sambil tersenyum polos.


"Hai kak Adis." sapa Ara tak tau situasi.


Arka langsung menurunkan melepaskan tangannya yang tadi menggenggam tangan Adis dan menggeram pelan.


"Dasar adek laknat, gak tau situasi banget!" maki batin Arka.


"Eh hai Ra, udah pulang?" balas Adis gugup.


"Ngapain kesini sih Ra?" tanya Arka menatap tajam Ara. Sementara Ara hanya tersenyum polos.


"Kenapa? Emang gak boleh." Ara mengerjapkan kelopak matanya lucu.


"Eh eh bukan gitu maksud Abang kamu Ra." balas Adis dengan cepat dan melotot ke arah Arka.


Adis mengelus puncak kepala Ara. "Udah makan?" tanya Adis.


Ara mengangguk, "Udah kok." balasnya tersenyum manis.


Adis memang sangat menyayangi Ara seperti adiknya sendiri. Ara yang bisa menjadi temannya walau mereka berbeda usia.


"Bang, Ara tidur disini ya?" tanya Ara menatap Arka dengan memohon.


"Gak! Gak!" tolak Arka.


"Abang jahat! Awas aja gak bakal aku restuin sama kak Adis." balas Ara sambil memeletkan lidahnya.


"Ck, iya iya."


Adis melihat jam tangan yang berada di tangan kirinya, "Aku pulang dulu deh, udah malem banget." kata Adis.


"Kak Adis gak nginep aja?" tanya Ara.


"Kapan-kapan deh kak Adis nginep. Nanti kasian nenek gak ada temennya." balas Adis tersenyum.


"Ya udah deh." Ara melirik ke arah Arka. "Sana bang anterin kak Adis pulang!" titah Ara.

__ADS_1


"Elo emang mengerti gue dek." batin Arka senang.


__ADS_2