
HALOOOO AUTHOR YANG KECE BADAI INI KAMBEK!!!
KALIAN APA KABAR??
Kangen-kangenan nya nanti aja, yukkk stay with Senja Dandelion!😉
Selamat membaca!!!😋
***
Guru berhijab warna ungu itu menjelaskan materi dengan serius. Bahkan saking seriusnya tidak ada satupun yang berani berbicara atau mengobrol. Boro-boro mengobrol, berbisik-bisik saja pasti langsung kena sembur.
"Oke, ada yang ingin bertanya?" kata guru itu mengakhiri penjelasannya.
Krik..krik..krik.
Hening. Sepi. Bahkan semua penghuni di dalam kelas menahan napasnya. Berkedip pun tak berani. Badan yang tegak duduk di kursi dan tangan yang terlipat di atas meja.
Bu Dayu menghela napas, "Ini kenapa pada diam semua?" tanyanya.
Masih tak ada jawaban.
"Kalian mempermainkan saya ya?!" geram guru itu.
Melihat atmosfer yang terlihat semakin menyeramkan. Mereka semua tergesa-gesa membuka suara.
"Tadi katanya disuruh diam bu." jawab Zaka.
"Iya nih, ibu jangan plin-plan dong!" celetuk Arsa.
"Kita kan menghormati Ibu sebagai guru kita, makanya kita diam." sahut Febby.
Bu Dayu menggelengkan kepalanya. Sudah cukup.
"Maksud saya kalian diam saat saya menjelaskan materi, sewaktu ditanya ya kalian jawab. Bukan diam aja!"
Melongo itulah definisi para penghuni bangku kelas XI Mipa 1. Kan benar, katanya disuruh diam ya diam. Kok malah disalahin.
"Wahh Bu, tadi gak gitu." celetuk Arsa.
"Iya nih, gimana sih?"
"Gue udah susah payah nahan napas, eh gak taunya di PHP in gini."
"Heh dodol, lo nahan napas gak betah hidup lo?!" sahut Natasya.
"Gue kebelet berak gue tahan nih!" kesal Dirga.
Bu Dayu melotot garang. Tadi diam, sekarang malah gaduh seperti pasar.
"Kalian ini.." geram guru yang berdiri di samping papan tulis. "Sudah-sudah kita lanjutkan pelajaran nya!" lanjutnya.
Ara sedari tadi hanya memperhatikan tanpa minat berbicara. Perempuan itu memegang pulpen di tangan kanannya sembari di goyang-goyangkan.
"Siapa tokoh yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia?" tanya Bu Dayu mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. "Ara bisa tolong kamu menjawab pertanyaan saya."
Ara yang merasa dipanggil langsung mendongakkan kepalanya, lalu menghela sedikit napas "Ir.Soekarno dan Moh. Hatta Bu." jawabnya tanpa minat.
"Oke benar sekali."
"Bu, saya mau tanya." kata Dirga mengacungkan tangannya. Dia menjeda perkataannya, "Kenapa sih Bu kita harus mempelajari sejarah?"
"Pertanyaan yang bagus. Siapa yang mau membantu menjawab."
"Supaya kita bisa mengingat berbagai perjuangan atau perkembangan dari zaman dahulu hingga sekarang." jawab Nata.
"Perjuangan ngapain diingat sih?!" gerutu Arsa. "Orang yang diperjuangin aja gak peka!"
"Wah bucin lo!"
"Jawaban yang hampir tepat." kata Bu Dayu. "Kita sebagai anak bangsa yang baik harus mengetahui sejarah bangsa kita sendiri."
"Bu, masa lalu kan harusnya dilupain. Ngapain diingat segala coba." ucap Dirga menyisir rambutnya dengan tangan kanan.
"Masa lalu itu dijadikan pelajaran, agar kita bisa lebih berhati-hati di masa depan." Zaka menyengir dari bangkunya.
***
"Disini ada yang namanya Ara?" tanya cowok berambut sedikit gondrong yang memasuki kelasnya.
"Ara, woyyy. Dicariin tuh!" teriak Arsa yang hendak keluar kelas karena bel istirahat sudah berbunyi.
"Ada apa kak?" tanya Ara to the point.
"Lo ditungguin Arka di kantin." jawabnya nyelonong keluar kelas.
Ara membereskan semua bukunya lalu berjalan menuju kantin untuk menemui teman-temannya yang memang sudah ke kantin duluan.
"Kok lama sih Ra?" tanya Natasya ketika Ara hendak duduk.
"Biasalah." jawab Ara cuek.
"Nih udah gue pesenin, baik kan gue." Febby menggeser mangkuk siomay ke depan Ara.
__ADS_1
Ara memilih untuk tidak menjawab perkataan Febby. Dia menikmati siomay karena perutnya yang sudah tidak bisa di ajak kompromi.
"Eh kok gue gak pernah liat kak Adis sih?" Natasya menatap ketiga temannya.
"Sibuk mungkin, kan udah kelas 12 juga." balas Ara sambil mengaduk es teh di hadapannya.
"Sumpah gue kangen banget." sahut Febby.
"Alah sok-sokan lo!" Karin menjitak kening Febby. "Palingan kangen di ajak makan kan lo!?" desisnya.
Febby nyengir, "Hehe, itu sih alasan nomer sekian."
"Eh eh, hubungan lo sama kak Elon gimana Ra?"
"Apanya yang gimana?" tanya Ara bingung.
"Ih suka gitu deh." goda Febby.
"Apaan sih, orang gak ada apa-apa juga." kesal Ara. Kenapa semua orang selalu menanyakan Elon kepadanya. Emang dia siapa? Pacar bukan. Saudara juga bukan.
Eh eh kok ada yang sesak ya.
"Gila tuh kak Elon, anak orang di gantung." ucap Karin yang mengaca dengan kamera ponselnya.
"Uluh uluh kaciannya Aracu." Natasya mencubit kedua pipi Ara.
Ara menepis tangan Natasya yang masih di pipinya. Selalu ketiga temannya ini mengolok-olok tentang hubungan nya dengan Elon. Hal itu membuat mood Ara menjadi buruk.
"Gimana kalo kita girls time." usul Karin.
"Boleh tuh, suntuk banget gue di rumah mulu." Febby menopang dagunya di tangan kanannya yang berada di atas meja.
"Nanti gue ngajak kak Adis deh." sahut Ara.
"Wah Ara pake kata gue." kata Natasya sambil bertepuk tangan heboh.
"Kenapa sih, dari dulu emang gitu. Tapi emang udah biasa pake kata aku aja." Ara menyahut, "Biar lebih sopan tau." gerutunya.
Mereka berdiri dari bangku dan hendak kembali ke kelas. Ketika berbalik arah, Ara merasakan panas di seragamnya.
"Eh, kalo jalan liat-liat dong!" sentak Natasya.
"Ups, sorry gue gak sengaja." kata cewek itu.
"Gak sengaja mbahmu! Punya mata tuh di pake, bukan di taroh di dengkul." sahut Febby yang mulai emosi.
"Udahlah Nat, Feb. Lagian orangnya juga bilang gak sengaja." Ara menengahi perdebatan. Dia malas jika harus menjadi tontonan banyak orang seperti saat ini.
Karin mendorong bahu cewek itu hingga terhuyung ke belakang. "Heh, sengaja kan lo!"
"Kenapa lo! Sini kalo berani!" tantang Natasya yang sudah melipat lengan seragamnya.
"Udahlah Nat, kita jadi tontonan banyak orang." Ara segera menarik tangan Natasya untuk pergi dari kantin.
Natasya mengerucutkan bibirnya kesal. Lalu mengikuti Ara dan di susul kedua temannya.
"Awas lo!" ucap Febby melenggang pergi.
***
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Ara segera memasukkan bukunya ke dalam tas. Notifikasi dari ponsel menghentikan kegiatannya.
Kak Elon:
Sorry Ra, kita gak jadi pulang bareng. Gue ada urusan mendadak.
Ara menghela napas setelah membaca pesan dari Elon. Tiba-tiba mood nya menjadi buruk seketika.
"Dasar cowok! Seenaknya aja main batal-batalin." gerutu Ara sambil memasukkan bukunya dengan cepat.
Ketiga temannya sudah keluar kelas lebih dahulu. Hanya ada beberapa anak di dalam kelas.
"Ra, lo pulang bareng siapa?" tanya Tari yang berdiri disamping Ara.
"Emm..gue nunggu jemputan aja deh." balasnya.
"Bareng gue mau gak?" tawar Tari.
"Gak usah, gue tinggal nelpon bang Kevin aja kok." kata Ara tersenyum. Dia cuma tidak ingin merepotkan Tari karena rumah mereka tidak searah.
"Oh ya udah deh, gue duluan ya. Bye Ara." Tari melambaikan tangannya lalu keluar kelas.
Kini hanya tinggal Ara yang masih berada di dalam kelas. Cewek itu berjalan keluar kelas menyusuri koridor yang nampak sudah sepi.
Ara membuka ponselnya lalu menelpon seseorang.
"Bang, jemput Ara dong."
Sementara orang yang di telpon menguap sembari mengumpulkan nyawanya.
"Tadi kamu ngomong apa Ra?"
"Ih, jemput Ara sekarang juga!" kata Ara kesal.
__ADS_1
"Bentar-bentar 15 menit nyampe."
Telepon terputus seketika, Ara memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan melanjutkan langkahnya
Mata Ara menyipit melihat orang yang berada di parkiran. Seseorang sedang mamapah cewek masuk ke dalam mobil.
Disatu sisi...
Brak!
Cewek itu terjatuh ke lantai.
"Eh sorry gue gak liat." kata Elon yang buru-buru ingin ke kelas Ara.
Cewek itu mendongak melihat siapa yang menabraknya. Ganteng. Kemudian cewek itu tersenyum lalu berpura-pura kesakitan. "Aduh kaki gue.." katanya.
Elon harus segera ke kelas Ara, sedangkan cewek ini?
"Aduh, gue gak bisa jalan." ucapnya mengaduh kesakitan.
Elon yang merasa kasian langsung mengulurkan tangannya untuk membantu cewek itu berdiri.
"Sorry, gue buru-buru." Elon hendak meninggalkan cewek berambut ombre itu.
"Au..ah" ucapnya sambil memegang kakinya.
"Bisa minta tolong gak?" tanyanya. "Bisa anterin gue pulang? Gue gak bisa jalan."
Elon masih diam dan enggan menjawab.
"Please.." lanjutnya memelas.
Melihat itu Elon tidak tega. Biar bagaimanapun dia harus bertanggungjawab mengantar pulang meskipun itu bukan salahnya.
Dia mengeluarkan ponsel lalu mengetik sesuatu disana.
"Oke." kata Elon lalu berjalan mendahului cewek itu.
"Hei, gue gak bisa jalan." rengek cewek tersebut.
Dengan terpaksa Elon memapahnya menuju parkiran dengan hati yang sedikit khawatir memikirkan seseorang.
"Hei, kita belum kenalan." ucapnya tersenyum. "Gue Gheananda. Panggil aja Ghea." lanjutnya.
Elon masih tidak menanggapi ocehan cewek ombre itu.
"Lo gak dengerin gue ya." balasnya kesal.
Namun Elon tetap Elon. Dia hanya menampilkan muka cueknya. Cewek itu melirik name tag yang ada di seragam Elon.
"Delion Kenneth." ucapnya membaca nama Elon. "Gue panggil lo siapa?"
"Elon."
"Kok Elon sih, bagusan juga Delion." sahutnya yang masih tersenyum sambil melirik ke arah Elon.
Elon masih enggan untuk menjawab ocehan tak bermutu dari cewek disampingnya ini.
"Oh ya lo kelas berapa?" tanyanya yang hendak memasuki mobil Elon. "Kalo gue kelas XII IPS 2, lo boleh kok main ke kelas gue." ucap Ghea percaya diri.
"Ishh..kok lo diem terus sih." gerutu Ghea.
Elon menutup pintu mobil dan berjalan memasuki mobil.
Sedari tadi ada yang memperhatikan mereka dari balik dinding parkiran dengan perasaan yang berkecamuk.
Jangan baper Ra.
Jangan baper Ra.
Jangan baper. Dia bukan siapa-siapa.
Itulah kalimat yang selalu di ucapkan Ara di dalam hati. Meskipun hatinya merasa sesak melihat itu semua. Dia juga tidak bisa memungkiri, bahwa ada rasa ingin mengetahui siapa cewek tersebut.
Dia siapa?
Pacar?
Gebetan?
Saudara?
Ara menggelengkan kepala untuk menyingkirkan semua pertanyaan tidak bermutunya.
"Oh ternyata itu acara mendadaknya.."
***
Agak slow buat updatenya.ðŸ˜
Kasih semangat ke author dong!!
POKOKNYA HARUS SPAM LIKE, KOMEN, DAN VOTE BUAT UPDATE PART SELANJUTNYA!!!!
__ADS_1
😌