Senja Dandelion

Senja Dandelion
Dua Puluh Lima Ribu


__ADS_3

Ara sedang bersiap-siap pergi ke sekolah. Karena festival bazar diadakan malam hari. Dia sudah siap dengan sweater berwarna cokelat susu dan jeans hitam serta sepatu converse.


Tak lupa dia memoles sedikit bedak dan memakai lipstin di bibir mungilnya. Ara memang sangat simpel dalam berpenampilan, dia jarang memakai make up seperti teman-temannya.


Ara menyemprotkan parfum ke bajunya. Dia melihat wajahnya dipantulan cermin, setelah dirasa tidak ada yang kurang. Ara segera keluar kamar dan menunggu Elon menjemputnya.


Tak lupa Ara membawa slig bag kesayangannya yang bergambar panda. Dan memasukkan ponselnya ke dalamnya.


"Bun, Ara berangkat dulu ya." kata Ara sambil menyalami tangan Fara.


"Berangkat sama siapa sayang?" tanya bunda.


"Sama kak Elon bun, tadi siang katanya mau bareng." Ara menyomot kue yang berada di piring.


Fara tersenyum melihat tingkah putrinya ini, "Kebiasaan banget kamu." kata bunda, "Oh ya, Elon nya mana?" tanya bunda mencari keberadaan Elon.


"Belum dateng bun, aku nunggu kak Elon di depan aja ya." Ara berdiri dan keluar dengan tergesa-gesa.


"Assalamu'alaikum." pamit Ara.


Ara menunggu Elon di teras rumah sambil menggerak-gerakkan kakinya. Beberapa menit kemudian Elon datang dengan motor KLX nya.


"Hai.."


Ara berjalan mendekati Elon, "Hai kak." balas Ara.


"Udah nunggu lama?" tanya Elon.


"Lumayan, baru beberapa menit kak. Mau berangkat sekarang?"


Elon mengangguk dan segera memakai helm. Kemudian Ara naik ke atas motor. Motor KLX hitam tersebut keluar dari pekarangan rumah Ara.


Kelap kelip lampu dan suara bising kendaraan bermotor yang menghiasi perjalanan mereka menuju ke sekolah.


Ditengah perjalanan tiba-tiba ada motor yang melaju dengan ugal-ugalan. Membuat motor Elon sedikit oleng. Hal itu membuat Ara refleks memeluk Elon karena dia takut jika terjatuh.


Elon yang mendapat perlakuan Ara, tersenyum dibalik helm full face nya.


Mereka sampai di area sekolah yang sudah ramai dengan orang.


"Gak mau turun nih?" ujar Elon membuat Ara jadi tersadar jika dia masih memeluk Elon.


Ara gelagapan dengan perkataan Elon dan langsung melepaskan pelukannya. "Eh..eh sorry kak." ucap Ara kikuk.


Elon sedikit menyungging senyumannya.


****


Ara berjalan menuju stand kelasnya untuk menemui teman-temannya. Natasya berlari menghampiri Ara.


"Ara." teriak Natasya.


"Waoo, lo cantik banget Ra." puji Natasya sambil memandang Ara.


Ara tersenyum menanggapi pujian dari Natasya. "Udah siap semua kan Na?" tanya Ara.


"Udah kok, tinggal eksekusi aja." jawab Natasya santai.


Mereka pun bergabung dengan teman sekelasnya yang lain. Malam ini di festival bazar sangat ramai karena bisa untuk umum.


Ada anak-anak dari sekolah lain juga. Ada yang datang bersama pacar, saudara, ataupun keluarga.


Makanan yang di jual di stand kelas Ara sudah mulai habis, hanya tinggal beberapa saja.


"Hai.." sapa seorang cowok yang datang ke stand kelas XI IPA 1.


"Eh ada cogan kesini" bisik-bisik heboh perempuan yang ada di stand.


Cowok tersebut merapikan rambutnya dengan tangan dan bergaya sok cool. Hal itu membuat teman-teman perempuan sekelas Ara memekik histeris. Kecuali Ara dan ketiga temannya tentunya.


Mereka malah menampakkan ekspresi datar dan terlihat muak.


"Gue mau beli dong." kata cowok itu.


"Beli tinggal beli aja kali." sahut Febby kesal.


"Jangan jutek-jutek dong nanti cantiknya hilang." gombal cowok itu sambil mengedipkan mata.


"Kalo mau ngegembel jangan disini." celetuk Natasya.


"Pembeli adalah raja. Jadi harus di hormati dong." ujar cowok itu. "Gue mau beli tapi yang ngelayanin harus dia." tunjuknya kepada Ara.

__ADS_1


Ara memutar bola matanya, masih ada saja orang yang mempunyai tingkat kepedean tinggi seperti cowok tengil itu.


"Boleh minta nomer whatsapp lo gak?" tanya cowok itu. "Soalnya buat mastiin keadaan ibu dari anak-anak gue baik-baik aja." gombalnya lagi.


"Huwekkk.." balas Natasya pengen muntah.


"Cepetan, jadi beli gak?!" geram Ara.


"Jangan galak-galak, nanti manisnya hil--"


"Dimas!" pekik seorang cewek berlari ke arah stand.


Mereka mengalihkan pandangan ke arah cewek tersebut yang berkacak pinggang disamping Dimas.


"Katanya mau ke toilet malah gak taunya lagi tenar pesona disini." gertak cewek tersebut.


"Emang tadi dari toilet yang." balas Dimas dengan memelas.


Cewek tersebut menjewer telinga Dimas, "Dasar gak bisa dipercaya." katanya.


"Aduh yang lepasin dong." respon Dimas kesakitan karena jeweran dari pacarnya.


Cewek itu melepas jewerannya, "Dasar fakboy!" ucapnya lalu pergi meninggalkan stand.


Semua yang ada di stand tertawa karena melihat drama dadakan itu.


"Haha..disir fikbiy!" kata Febby menye-menye.


Dimas langsung meninggalkan stand dan mengejar pacarnya. "Yang, tunggu yang." tak lupa dia juga mengedipkan matanya kepada Ara.


Tawa mereka seketika pecah.


"Sumpah ngakak." Natasya tertawa sambil memegangi perutnya.


***


"Kenapa stand kita sepi ya?" tanya seorang perempuan.


"Heh Oji, tanggung jawab lo! Lo yang udah bikin ide kayak gini!" kata Riri mulai naik satu oktaf.


Oji mengedarkan pandangannya, benar saja stand kelas mereka terlihat sangat sepi dibanding stand kelas lain.


Tidak mungkin juga es cendolnya di minum sendiri. Bisa-bisa nanti mabuk es cendol dan rugi.


"Palingan juga idenya gak bermutu." balas Irga tak percaya dengan ide Oji.


"Gue jamin pasti laris, tapi kalian harus setuju." kata Oji meyakinkan teman-temannya.


"Ya udah apa dulu ide lo." Laskar yang mulai geram dengan Oji.


"GUE UCAPIN SELAMAT MALAM BUAT SEMUA YANG UDAH HADIR DI FESTIVAL BAZAR SMA PERMATA INDAH. SIAPA YANG MAU BELI 5 CUP ES CENDOL GRATIS FOTO BARENG SAMA COGAN NYA KELAS XII IPA 2. AYOO..TINGGAL PILIH!"


Damn!


Oji emang otaknya udah gesrek. Dia rela menukar teman-temannya dengan 5 cup es cendol yang harganya hanya 25 ribu? Emang gak ada akhlak ini orang.


Semua berdatangan ke stand kelas XII IPA 2 setelah mendengar teriakan dari Oji. Kapan lagi bisa berfoto bersama cogan SMA Permata Indah, kalo enggak sekarang.


Ara dan ketiga temannya yang melihat ribut-ribut di stand kelas XII IPA 2 langsung mencari jalan agar bisa mendekat ke stand.


Arka, Laskar, dan Elon yang menjadi sasaran para cewek-cewek pembeli.


"Matilah kau Arka!" gerutu batin Arka.


"Oji sebleng!" maki Laskar dalam batin.


Sedangkan Elon terlihat tak acuh. Ekor matanya menangkap Ara yang berada tak jauh darinya. Elon segera menarik tangan Ara dan membawanya berlari menjauhi kerumunan orang-orang tersebut.


***


Elon membawa Ara mencari tempat persembunyian.


"Hahaha..ya ampun ngakak." Ara tertawa melihat ekspresi wajah Elon yang menurutnya sangat lucu.


"Bener-bener si Oji emang." balas Elon menetralisir napasnya.


"Aduh capek juga." kata Ara sambil mengelap keringatnya.


"Lagian kak Elon ngapain sih ngajak aku lari-lari?" lanjutnya.


Elon bergidik ngeri membayangkan jika dia dikerumuni banyak cewek alay seperti tadi. "Gue juga gak mau kali, bisa mati berdiri gue." kata Elon.

__ADS_1


"Ada-ada aja sih."


Suasana menjadi sepi karena tidak ada obrolan diantara mereka. Tiba-tiba Elon berdiri dan meninggalkan Ara.


"Lah kok ditinggal sih." gerutu Ara.


Ara tetap duduk di bangku yang terdapat di taman sekolah sambil memaki Elon dalam hati. Seseorang menempel es ke pipi Ara.


Ara merasakan dingin di pipinya dan segera mendongakkan kepalanya. Ternyata ada Elon yang membawa 2 cup minuman dan 1 plastik berisi sosis bakar.


"Nih minum." Elon menyerahkan 1 cup pada Ara.


"Thanks kak."


"Gue tau lo belum makan kan. Nih makan dulu, buat ganjel perut lo." Elon menyodorkan beberapa tusuk sosis bakar.


"Kak Elon gak makan?" tanya Ara yang mengambil plastik tersebut.


"Gak. Lo makan aja."


"Beneran nih? Aku siapin deh kak." kata Ara.


5 detik kemudian Ara baru sadar apa yang dia katakan kepada Elon tadi. Bisa-bisanya mulutnya mengatakan hal itu.


Ara sungguh malu.


Sementara Elon menatap Ara sekilas lalu berkata, "Boleh."


Ara terkejut dengan balasan dari Elon. Ara merutuki kebodohan mulutnya yang tidak bisa di rem ini. Sumpah! Dia sangat gugup.


Ara mengarahkan tusuk sosis ke mulut Elon, lalu Elon menerima suapan dari Ara. Kemudian dia mengambil alih sosis tadi dan memakannya sendiri.


Elon mendekatkan wajahnya ke arah Ara. Ara memundurkan kepalanya ke belakang.


"Eh.." refleks Ara.


Ternyata Elon membersihkan sisa saos yang ada bibir Ara. "Kayak anak kecil banget lo kalo makan." katanya. Lalu Elon kembali ke posisi semula.


Wajah Ara langsung memerah karena perlakuan Elon. Ara memalingkan wajahnya.


"Gak usah malu gitu kali." celetuk Elon.


"Nanti lo tambah cute." lanjutnya.


"Apa sih kak?" balas Ara.


"Hahaha.."


***


"Kurang ajar lo!" kata Laskar yang duduk disamping Oji.


Oji hanya cengengesan melihat Arka dan Laskar yang terlihat menahan amarahnya.


"Eh kalian udah balik." ucap Oji sok polos.


"Halah jangan sok polos lo!" sarkas Arka.


"Emang temen gak tau diri banget." sindir Laskar.


Oji sudah merasakan aura-aura macan bangun dari tidurnya. Dengan cepat Oji segera berlari. Namun bagian belakang kaosnya ditarik oleh Arka.


"Mau kemana lo?" tanya Arka dengan dingin.


"Hehe, mau beli minum haus." jawabnya sambil memegang leher.


Oji memang dari tadi duduk menyaksikan pentas yang diadakan di lapangan. Dia bahkan meninggalkan Arka dan Laskar jadi rebutan cewek bar-bar yang meminta foto.


"Gak! Enak aja lo!" jawab Laskar dengan cepat.


"Masa lo tega sama gue."


"Lo aja tega sama gue, kenapa gue enggak." balas Laskar tersenyum sinis.


"Itu kan demi kesejahteraan bersama." Oji mulai mengeles. "Coba tadi gak ada ide gue, pasti tuh cendol gak bakalan laku. Dan kelas kita jadi rugi bandar." lanjutnya.


"Rugi bandar your head!" balas Arka menoyor kepala Oji.


"Seharusnya lo berdua berterima kasih sama gue!" ujarnya songong.


"Mimpi lo!" kata Arka dan Laskar bersamaan lalu meninggalkan Oji sendirian.

__ADS_1


Oji mengelus dadanya, "Untung gue sabar, kalo enggak udah gue pecat jadi temen lo." ucapnya.


"Lah emang gue berani, wkkk." batin Oji.


__ADS_2