Senja Dandelion

Senja Dandelion
Teka Tekinya


__ADS_3

Kadang harus memahami lebih agar bisa mengetahui apa yang dia inginkan.


-Senja Paramita


***


Ara berjalan menyusuri koridor dengan langkah santai. Sesekali dia membalas senyuman orang yang menyapanya.


Koridor nampak begitu ramai karena 20 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Ara segera berjalan menuju kelasnya.


Ternyata ketiga temannya sudah datang terlebih dahulu. Natasya yang sedang menyapu, karena hari ini adalah jadwal piketnya bersama Febby.


"ROBI." teriak Natasya.


Sedangkan Robi malah asyik bermain game di ponselnya. Natasya berjalan mendekati bangku Robi dan memukul meja dengan gagang sapu.


"Heh, malah enak-enakan lo!" kata Natasya dengan mata melotot.


"Ya di enakin aja lah, apa susahnya." jawab Robi santai tanpa memalingkan wajahnya.


Natasya yang sudah geram, akhirnya merebut paksa ponsel yang ada di tangan Robi. Robi pun berdecak kesal.


"Hape lo gue sita!" ujar Natasya.


"Ganggu aja lo kutil badak!" celetuk Ari. Cowok yang memiliki rambut kaku itu melotot ke arah Natasya. Karena merasa terganggu dengan suara cempreng milik Natasya.


"Kutu aer!"


"Dugong!"


"Kecoa sawah!" balas Robi.


"Mimi peri!"


"Ini pada ngapain sih?!" sentak Febby.


Mereka langsung kicep seketika. Robi memutar bola matanya.


"Piket dulu lo!" ucap Febby.


"Emang gue piket hari ini?" balas Robi mendadak lupa.


Ari menoyor kepala Robi, "Elo piket hari ini nyet! Pura-pura anemia ya lo!" kata Ari.


"Anemia?" ucap Natasya dan Febby bersamaan.


"Lah ****, amnesia bukan anemia!" Robi membenarkan perkataan Ari.


"Lah bodo amat, udah ganti ya?" Ari menelungkupkan kepala di lipatan tangannya di atas meja. "Sana lo! Gue mau tidur!" usir Ari.


"Heh Ribo piket dong lo, jangan seenaknya aja dong." kata Karin.


"Nama gue Robi. R-O-B-I. Robi!" Robi mengejah namanya.


"Ah terserah gue dong." ucap Karin melengos pergi.


Robi menggelengkan kepala melihat tingkah betina jaman sekarang. Walaupun dia yang salah tetapi selalu jantan yang di salahkan.


"Gue aduin Bu Rani juga lo!" Febby melanjutkan menyapunya yang tertunda karena ulah Robi.


"Ck, iya iya. Bawel lo semua, kuping gue budeg lama-lama dengerin suara toa lo." Robi berdiri dan berjalan ke arah depan kelas.


Natasya tersenyum kemenangan, dia mengira bahwa Robi akan mengambil kemoceng dan membersihkan meja guru.


Ternyata Robi melewati meja guru begitu saja. Hal itu membuat Natasya melongo.


"Heh mau kemana lo?" tanya Natasya.


"Mau ke toilet lah, lo kira gue mau piket gitu?" kata Robi dengan santai. "In your dream!" lanjutnya.


Seperti inilah suasana hati Natasya saat ini. Antara kesal dan malu. Bodohnya Natasya mempercayai Robi begitu saja.


Sementara Robi sudah keluar kelas dan sudah tidak terlihat lagi.


"Robi!" teriak Natasya.


Robi masih mendengar teriakkan Natasya yang memanggil namanya, namun dia hanya tersenyum sekilas dan melanjutkan langkahnya menuju ke toilet.


***


Cendol Dawet Seger😎


Oriza Pratama: Hai, para pecinta ukhti!


Dirgantara Aldito: Terserah lo Ji


Arkana Sanjaya: Kemana lo?


Oriza Pratama: Gue masih di rumah

__ADS_1


Oriza Pratama: Tolongin Nweng, babang Arka:(


Dirgantara Aldito: Jijik!


Oriza Pratama: Tolongin gue Ga:)


Delion Kenneth: Siapa yang ngerubah nama grup?


Dirgantara Aldito: Bukan gue Lon, tuh si Oji. Mati lo Ji!


Oriza Pratama: Ampun boss


Arkana Sanjaya: Heh masuk gak lo! Jam pertama pelajaran Bu Dayu!


Oriza Pratama: Jemput gue dong Ga. Kemarin si Lela ngambek sama gue.


Laskar Airlangga: Lela?


Oriza Pratama: MOTOR GUE NAMANYA LELA!


Dirgantara Aldito: Sorry Ji, gue jemput Karin


Arkana Sanjaya: Wkkk, kasian lo!


Oriza Pratama: Lo gak kasian sama gue apa? Bucin terosss!


Dirgantara Aldito: Suruh jemput si Laskar aja, dia kan satu jalur sama lo.


Laskar Airlangga: Ogah! Gue udah sampe sekolahan.


Oriza Pratama: Lon, tolongin gue napa


Delion Kenneth: Naik angkot aja Ji


Arkana Sanjaya: Mati lo. Bu Dayu udah masuk kelas, siap-siap di hukum lo. Wkwkwk


Oriza Pratama: Beneran gak bisa semua nih?


Oriza Pratama: DASAR TEMEN LAKNAT! AWAS AJA LO, MINTA BANTUAN SAMA GUE JANGAN HARAP GUE MAU BANTUIN!!!


Sementara Arka, Irga, dan Laskar cekikikan sendiri setelah membaca chat dari Oji. Mereka sengaja mengerjai Oji. Padahal di kelas sedang jam kosong, tadi Bu Dayu izin karena ada keperluan.


"Hahaha, rasain lo Ji!" kata Irga tertawa terbahak-bahak.


"Dia pasti kek orang di kejar-kejar hutang." balas Arka yang tertawa membayangkan wajah Oji saat ini.


"Pembalasan di mulai." Laskar menyandarkan tubuhnya di bangku, "Lagian kemarin macem-macem sama kita." ucapnya tersenyum sinis.


"Bodo amat!" balas keduanya serempak.


"Lah kok barengan sih."


"Terserah!" jawabnya Arka dan Laskar bersamaan lagi.


"Malah gue yang jadi korban, nasib-nasib." gerutu Irga dengan suara pelan dan langsung mendapat pelototan dari Laskar.


"Untung gue orangnya sabar, kalo enggak udah gue gibeng lo pada." batin Irga memaki.


"Lah emang gue berani, wkk"


***


Ara sedang berada di perpustakaan bersama Elon, karena tadi Elon datang ke kelas Ara. Ara sudah menolak, tapi Elon tetap di depan kelas Ara hingga menjadi tontonan banyak orang.


Mau tidak mau Ara mengikuti Elon menuju ke perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan Elon malah menyandarkan tubuhnya di dinding dan memejamkan matanya.


Kalau di suruh nungguin Elon tidur, lebih baik Ara di kelas saja. Mengerjakan tugas atau bercerita dengan teman-temannya.


"Kita ngapain di sini sih kak?" gerutu Ara.


Elon diam dan tak menjawab pertanyaan dari Ara. Ara mendekati Elon dan menarik seragam laki-laki tersebut.


Tetapi sebaliknya Elon menarik tangan Ara sehingga jarak mereka sangat dekat dan seperti orang yang sedang berpelukan.


"Mau ngapain lo?" Elon mulai membuka matanya.


"Ih, lepasin tangan aku kak." pinta Ara. Tetapi Elon malah merangkul pundak Ara.


"Gak."


"Nanti di liatin orang kak." pinta Ara memohon.


"Emang kenapa kalo diliatin? Orang gue pake baju lengkap juga." jawab Elon enteng.


"Terserah kak Elon." balas Ara dan memalingkan wajahnya.


Kenapa saat berdekatan dengan Elon jantung Ara seperti berdetak lebih kencang? Apa dia punya penyakit jantung?


Gak mungkin. Ara bahkan tidak punya riwayat penyakit jantung sama sekali. Lalu ini kenapa? Ara harus periksa ke dokter nanti.

__ADS_1


"Ra."


"Hmm"


"Kata mamah, dia kangen sama lo." Elon melirik ke samping, "Gue juga kangen sama lo." lanjutnya dengan suara pelan.


"Oh. Tante Sari apa kabar kak?"


"Baik kok."


"Eh tadi yang terakhir kak Elon ngomong apa?" tanya Ara yang tadi mendengar Elon berbicara lagi tetapi tidak jelas.


"Gak ngomong apa-apa."


Sudah tidak ada percakapan diantara mereka lagi. Ara yang sudah berkeringat karena dekat dengan Elon. Untuk menutupi kegugupannya, Ara memainkan jari tangannya.


Ada perempuan yang datang ke meja mereka dengan buku di tangannya.


"Hai, kalian ngapain disini?" kata Sonya yang duduk di depan Elon.


"Eh.." Ara mencoba melepaskan tangan Elon yang ada di bahunya. Namun Elon tidak mau melepaskan tangannya.


Ara melotot ke arah Elon, tetapi Elon membalasnya dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Gue boleh gabung disini kan?" tanya Sonya.


"Bo..boleh kak." jawab Ara sedikit gugup. Dia tidak mau nanti jika ada gosip yang tidak-tidak antara dia dan Elon. Apalagi kata Febby, Sonya adalah mantan dari Elon.


Sonya menatap ke arah Elon dengan tatapan bertanya. Sedangkan Elon menjawab dengan


mengendikkan bahunya.


"Mereka pacaran?" batin Sonya yang melihat tangan Elon ada di bahu Ara.


Kenapa rasanya sakit, sewaktu lihat lo sama orang lain? Padahal gue sendiri yang udah mutusin semua ini. Apa gue salah ngambil keputusan?


***


Oji sedang berlari menuju ke sekolahnya. Sialnya angkutan yang dia naiki mogok di tengah jalan, sehingga dia harus berlari.


Ternyata gerbang sudah di tutup, karena bel sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Oji menuju ke tembok belakang sekolah yang biasanya digunakan untuk membolos.


Oji melompat ke tembok tersebut.


Gedebuk!!! Oji terjatuh ke tanah karena salah pendaratan.


"Adoh, pantat gue yang seksi." ucap Oji sembari memegangi pantatnya.


Dia segera berlari ke koridor dan menuju ke kelasnya. Di tengah koridor dia bertemu dengan Riri dan 1 temannya.


"RI.." panggil Oji kepada Riri.


Riri dan temannya membalikkan badan. Disana terlihat Oji yang sedang berjalan ke arahnya.


"Apaan sih?"


"Di kelas ada Bu Dayu?" tanya Oji celingak-celinguk.


Riri hanya mengendikkan bahunya tak acuh.


"Bu Dayu izin gak masuk. Katanya ada keperluan keluarga." balas teman Riri.


Mulut Oji membola setelah mendapat jawaban dari teman sekelasnya ini. Berarti dia dikerjai oleh keempat teman curutnya itu? Emang teman laknat!


Oji segera berlari menuju ke kelasnya. Benar saja tidak ada guru yang mengajar. Dia melihat Irga yang sedang tertawa yang entah sedang membicarakan apa.


Oji menggebrak meja dan berkacak pinggang. Irga langsung menghentikan tawanya dan menoleh.


"Bagus ya lo. Enak-enakan haha hihi di sini." ujar Oji sambil berkacak pinggang.


"Udah sampe lo?" kata Laskar santai.


"Gara-gara lo gak mau jemput, gue terpaksa naik angkot." Oji menunjuk ketiga temannya. "Sial lagi, angkotnya pake mogok." sentak Oji.


Tawa ketiganya langsung meledak. Oji jadi melongo di tempat.


"Lo sengaja kan ngerjain gue?" tunjuknya pada Arka.


"Siapa yang ngerjain lo bambang." Arka sibuk memainkan ponselnya.


"Idih baperan amat lo!" cibir Irga.


"Tanggung jawab lo semua!" Oji mulai baper kawan.


"Emang gue ngehamilin elo? Pake acara harus tanggung jawab segala?" perkataan Laskar sontak membuat seisi kelas tertawa.


"Apa lo ketawa-ketawa." Oji melotot ke teman sekelasnya. Membuat mereka langsung diam dan melanjutkan aktivitas nya kembali.


"Makanya kalo punya hape jangan buat nonton duyung melulu!" celetuk Irga.

__ADS_1


"Lo aja yang oon, orang tadi malem udah dikasih tau di grup kelas." Arka menatap ke arah Oji yang masih berdiri.


"Oh jadi begini definisi teman laknat."


__ADS_2