
Satu-satunya hal yang bisa memperlambat waktu adalah rindu.
Jarak telah membuat kita hingga tak pernah bertemu. Jarak telah menghadirkan ruang-ruang sepi di dalam dada. Seakan semuanya terasa hamba tanpa kehadiran mu.
Hanya satu kata saat ini. RINDU.
Arka sekarang sedang berada di balkon kamarnya. Menikmati dinginnya semilir angin bersama dengan pantulan cahaya bulan.
Lamunan Arka seketika buyar karena pelukan hangat seseorang dari belakang. Pelukan itu berlangsung beberapa detik. Nyaman. Ya, terasa nyaman walau hanya sekilas.
"Abang kenapa?" tanya Ara beralih duduk di samping Arka.
"Emang abang kenapa?" Arka berbalik bertanya.
"Emang apanya yang kenapa bang?"
"Dasar.." Arka mengusap rambut Ara kasar, hingga berantakan.
"Ishh.. berantakan tau." ucap Ara sambil mengerucutkan bibirnya.
Arka dan Ara kembali memandang bulan. Sunyi. Sepi. Dingin.
"Disini dingin Ra. Masuk gih, nanti kamu masuk angin." kata Arka.
"Ke pasar malam yuk bang!" ajak Ara.
"Gak ah! Enakan juga tidur." jawab Arka santai.
"Ayolah bang!"
"GAK!!"
"Bodoamat deh. Kalau abang gak mau Ara pergi sendiri." ucap Ara hendak pergi.
Arka menarik tangan Ara agar duduk kembali. Tetapi dia tidak mengatakan apapun. Dia malah sibuk mengamati bulan yang mulai tertutup dengan awan.
"Ra?"
"Hmm.."
"Ra?"
"Hmm.."
"Ara?"
"Apa sih bang?!"
"Kamu marah sama abang?" tanya Arka pelan.
"Nggak!" jawab Ara memalingkan wajahnya.
"Iya nanti kita ke pasar malam. Abang udah kasih tau temen-temen abang tadi. Kamu chat aja temen-temen kamu, biar tambah rame."
"Yeee.." cicit Ara sambil memeluk tubuh Arka dari samping.
Ara mengeluarkan ponselnya dari saku. Dia segera mencari kontak teman-temannya dan mengetikkan pesan.
Grup Ciwi-Ciwi😘
Senja:
Assalamu'alaikum:)
Peee
Natasya:
Waalaikumsalam Ara ku sayang:'
Tumben nih
Febby:
Wah tumben nih Ara ngechat duluan.
Ada apa nih?
Karin:
Wih wih wih
Febby:
Keyboard lo rusak ya Kar?
__ADS_1
Natasya:
Ribut ae lo ayam!
Karin:
Natasya kalau ngomong kasar:(
Febby:
Berisik!
Natasya:
Lah ngegas nih orang
Karin:
(2)
Febby:
Ara mana nih?
Tumben, ada reason apakah ini?
Natasya:
Gue boring:(
Senja:
Ke pasar malam yuk!!
Ada bang Arka sama temen-temennya juga
Karin:
Otewee deh
Febby:
Langsung kumpul di rumah Ara aja, biar fast.
Ara menutup room chat dengan teman-temannya. Ara beralih menatap abangnya yang masih di sampingnya.Dia juga sibuk dengan ponselnya.
Arkana.S: Woii, kumpul di rumah gue sekarang!
OrizaP: Wah asyik, makan-makan nih
Dirgantara_Al: Pikiran lo makan mulu!
LaskarA: Bukan temen gue!
OrizaP: Aku yang selalu ternistakan:(
Delion Kenneth: Jijik banget gue
OrizaP: Teganya diri mu bwang Elon:
Arkana.S: Buruan! Kita ke pasar malam, gue tunggu!
Arkana.S : NGGAK PAKE LAMA!!
Dirgantara_Al: Jebol nih keyboard
Mereka pun segera bersiap-siap, sambil menunggu teman-teman mereka datang.
Setelah beberapa menit, akhirnya semua sudah berkumpul di depan rumah Arka. Arka dan Ara pun sudah berpamitan dengan bunda dan ayah.
***
Sekarang sudah pukul 20.00, mereka sudah tiba di pasar malam. Pasar malam terlihat begitu ramai. Banyak orang yang menghabiskan waktunya di sini, entah bersama keluarga, teman atau pasangan masing-masing.
"Wadoh rame bener nih!" kata Oji celingak-celinguk.
"Ya rame lah dodol! Kuburan mah sepi!" balas Irga pada Oji.
"Ya udah, lo pada mau main apa?"
"Kita cari makan dulu aja deh." usul Laskar.
"Tuh..tuh..tuh.. tinggal pilih! Boleh makan sepuasnya!" kata Oji songong, dia menggerakkan telunjuk ke arah stand-stand penjual makanan.
"Halah, sok lo!" sahut Natasya.
__ADS_1
"Sewot mulu lo dari tadi. Ayok, kalo mau gue beliin!" tantang Oji.
"Prett..sok-sokan mau beliin. Utang lo sama mbak Dewi aja belom lo bayar, pake acara beliin segala!" celetuk Arka.
Mbak Dewi merupakan salah satu penjual di kantin sekolah. Dia masih muda, belum menikah. Jadi banyak anak-anak sekolah yang menggoda mbak Dewi.
Kalau di tanya mbak Dewi suka menjawab dengan santai, "Saya masih menunggu jodoh datang."
"Dasar lo, kutil anoa!" cibir Natasya.
"Apa Nana ku sayang." balas Oji genit sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Cie..yang punya panggilan khusus." ledek Febby.
"Eh neng Febby, kalo mau minta aja sama babang Laskar."
"Babang Laskar sekarang najkal." ucap Irga sambil mencolek dagu Laskar.
Saat ini mereka sudah duduk di tikar, sambil menunggu pesanan sate mereka datang. Ledekan-ledekan dan canda tawa yang mengiringi.
"Jijik gue Ga!" Laskar kesal dan menoyor kepala Irga.
"Maunya kan si Laskar digituin sama Febby." cibir Arka.
Ara dan Elon yang sedari tadi diam, hanya menyimak obrolan dari teman-temannya.
"Neng Ara diem-diem bae," celetuk Irga. Irga beralih tempat duduk di samping Karin yang sibuk memainkan ponselnya.
Karin yang merasa kaget, akhirnya menolehkan kepalanya. Pandangan mereka bertemu beberapa detik. Irga menyunggingkan senyum yang sangat manis kepada Karin.
Karin pun tak paham apa arti senyuman Irga kepadanya. Karena meskipun Irga humoris, dia jarang tersenyum ketika ada cewek yang mendekatinya.
Dia juga jarang terlihat bersama dengan perempuan. Bahkan lebih sering bersama dengan teman-temannya.
Deg!
"Duh kok gue deg-degan sih." kata Karin sambil memegangi dadanya.
Karena Irga yang melihat ekspresi Karin berubah, "Elo lucu."
Wajah Karin semakin memanas karena perkataan dari Irga, walaupun hanya sedikit tapi mampu membuat detak jantungnya berdegup lebih cepat.
Karin segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia malu kalau sampai Irga tahu wajahnya saat ini.
"Ehemm..PDKT-an jangan disini kali." sindir Laskar.
"Apa sih?!" gerutu Karin.
"Harus ada pajak nih." celetuk Febby.
"Santai..kalau udah resmi." ucap Irga dengan sombong.
"Emang Karin mau sama lo?" tanya Natasya.
"NGGAK!" teriak Karin.
"Waduh! Ditolak! Ahahha.." tawa Oji seketika pecah.
"Sabar bro, cewek emang gitu." kata Arka memberi semangat pada Irga.
"Yoi, mulutnya sih emang bilang enggak tapi hatinya bilang iya." respon Irga.
"Bodoamat!" ucap Karin berdiri, dia pergi sambil menghentak-hentakan kakinya.
"Lah kok pergi, kejar bro. Jangan kasih kendor." kompor Oji.
Irga segera berlari dan mengejar Karin yang sudah pergi entah kemana.
***
Karin sedang duduk di taman dekat pasar malam. "Nyebelin banget sih tuh orang." gerutu Karin.
"Gue emang nyebelin." kata Irga duduk di sebelah Karin.
"Ngapain sih lo ngikutin gue?"
"Siapa yang ngikutin? Taman ini juga bebas untuk umum." timpal Irga. Dia tahu kalau saat ini Karin sedang kesal kepadanya.
Tak ada obrolan di antara mereka. Sama-sama diam dan tak mau mencairkan suasana.
"Kar?"
"Hmm.."
"Elo marah sama gue?" tanya Irga pelan.
__ADS_1
"Gue enggak marah kok."