Senja Dandelion

Senja Dandelion
Masa Lalunya


__ADS_3

Ara sudah bersiap dengan seragamnya. Saat ini dia sudah berada di teras rumah sambil menunggu Arka datang. Sudah 10 menit yang lalu tapi Arka tidak segera datang.


Sambil mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai teras dengan rasa kesal terhadap kakaknya itu.


"Bang Arka cepet dong! Nanti kita telat!" teriak Ara dari teras rumah.


Setelah itu Arka keluar rumah dengan santainya, dasi ada di bahu sebelah kiri, tas digendong di bahu sebelah kanan, dan sepatu yang di jinjing di tangan kirinya.


Ara yang melihat kakaknya langsung mencebik kesal, "Ih bang, kok belum siap-siap sih!" sambil mengerucutkan bibirnya.


"Santai ngapa dek." Arka duduk di lantai teras disamping Ara sambil memakai sepatunya.


"Nanti kalau kita telat gimana! Ara gak mau di hukum bang!" kesal Ara.


"Ya elah, baru di hukum satu kali gak bikin kamu jadi bodoh kali dek." Arka berjalan menuju motornya dan memakai helm, "Ngapain masih disitu? Mau berangkat gak? Abang tinggal nih." ucap Arka kepada Ara duduk di teras.


Arka segera mengegas motornya, "Ih abang tungguin!" kata Ara kesal dan naik ke atas motor.


Dari kejauhan terlihat pak Satpam sedang menutup pintu gerbang. Arka segera mengegas motornya dengan kecepatan tinggi.


"Pelan-pelan dong bang!" ucap Ara sedikit berteriak sambil memukul bahu agar pelan.


"Dek pegangan dek!" Ara segera memegang bahu Arka dengan kedua tangannya, karena dia sangat takut bisa-bisa nyawanya yang jadi taruhan.


Hampir saja gerbang tertutup, Arka langsung melewati gerbang dengan lincah.


"Aduh den, hampir aja tadi gerbangnya di tutup. Nanti kalau jatuh gimana." ucap Pak Ojan sambil geleng-geleng melihat tingkah anak zaman sekarang.


"Hehehe, udah telat mang." balas Arka cengengesan.


Anak-anak di SMA Permata Indah sudah terbiasa memanggil dengan Mang Ojan.


Ara turun dari motor dan menghentak-hentakan kakinya karena kesal dengan Arka.


"Woi dek tungguin!"


Karena teriakan Arka, sehingga guru piket yang sedang lewat mendengar suara tersebut.


"KALIAN KE LAPANGAN SEKARANG, HORMAT BENDERA SAMPAI JAM ISTIRAHAT." teriak guru itu sambil membawa sebuah tongkat dari bambu.


Arka dan Ara menuju ke lapangan. Ara sangat kesal dengan Arka, sudah dalam mode unmood. Ditambah harus kena hukuman gara-gara lama menunggu Arka.


Di lapangan ada anak-anak yang sedang menjalani hukuman, mungkin mereka telat sama seperti Ara.


"Telat juga lo Ka!" teriak Oji di tengah lapangan.


"Iya nih." jawab Arka berdiri di samping Oji dan mengangkat tangannya untuk hormat.

__ADS_1


"Waduh, ada neng Ara juga."


"Gara-gara bang Arka sih!" gerutu Ara, dia pun sudah siap dengan gerakan hormatnya.


Tiba-tiba teriakan seorang guru mengagetkan mereka, guru itu tampak kesal terhadap siswanya ini.


"ELON SUDAH BERAPA KALI IBU BILANG! JANGAN NONGKRONG DI PARKIRAN SEKOLAH! NGAPAIN KAMU MENUNGGU TEMAN-TEMAN KAMU HAA! SUDAH BEL BUKANNYA MASUK KELAS MALAH NUNGGU TEMEN KAMU YANG SERING TELAT ITU! teriakan Bu Dayu menggemparkan sekolah.


Sedangkan Elon hanya menampakkan wajah datarnya,"Saya solidaritas Bu, masa ibu gak tau semboyan kami. Solidaritas tanpa batas." ucap Elon dengan santainya.


"Kamu ini dibilangin ngeles mulu! Sekarang kamu hormat seperti teman-teman kamu, sana!" kata Bu Dayu geleng-geleng kepala melihat tingkah Elon.


"Bu hukum aja Bu!" teriak Oji.


"Diam kamu Oji! Kamu mau hukuman kamu ibu tambah?"


"Eh jangan dong Bu, maap Bu maap." balas Oji sambil menampilkan cengirannya.


Elon berjalan menuju ke lapangan dan berdiri disebelah Ara. "Telat juga Ra?" tanyanya.


"Iyalah, ngapain disini kalau gak telat kak. Aku juga ogah kali panas-panasan kayak gini." ucap Ara sewot.


"Oh" balas Elon sambil menganggukkan kepalanya.


"Kok oh aja sih, udah di jawab panjang lebar juga. Dasar kutub!" gerutu Ara.


"Eng..enggak kak." Ara salah tingkah ketika Elon memandangnya.


Elon tidak menjawab perkataan Ara lagi. Dia lebih banyak diam hari ini, eh biasanya sih emang gitu. Tetapi Ara tahu bahwa Elon juga dalam mood tidak baik, terlihat dari wajahnya dan sesekali dia menghembuskan napas dengan kasar.


Bel istirahat sudah berbunyi, membuat orang-orang yang ada di lapangan segera bubar.


"Gue cabut duluan." kata Elon pergi meninggalkan teman-temannya yang masih di lapangan.


"Woi Lon mau kemana lo?" teriak Laskar. Tetapi Elon malah mengacungkan jempolnya ke atas.


"Elon kenapa tuh?" tanya Irga bingung.


"Mana gue tau. Mending beli teh sisri di mbak Wati." jawab Oji menyolonong meninggalkan Irga.


"Heh main nyelonong-nyelonong aja lo." Irga dan Laskar berjalan mengejar Oji.


"Ra, mau ikut ke kantin gak?" tanya Arka.


"Gak deh bang, Ara mau ke kelas aja."


"Ya udah, abang ke kantin duluan ya. Nanti kalau laper nyusul aja." kata Arka mengacak rambut Ara dan berlari mengejar teman-temannya.

__ADS_1


***


Elon mengeluarkan rokok dari dalam kantung celananya dan mematik korek. Rokok itu berada di sela dua jarinya.


Dia menghembuskan asap rokok dengan pelan dari lubang hidungnya sambil memandangi jalanan dari atas rooftop dengan semilir angin yang menerbangkan rambutnya.


"ehemm.." ucap Ara dan duduk manis disamping Elon.


Elon yang mengetahui bahwa Ara duduk di sampingnya segera mematikan rokoknya yang tinggal setengah dan menginjaknya.


"Ngapain lo disini?"


"Gakpapa, cuma kebetulan lewat aja dan ngeliat kak Elon disini." jawab Ara dengan padangan lurus ke depan.


"Kak Elon suka ngerokok ya?" tanya Ara dengan hati-hati, takut jika nanti Elon tersinggung dengan ucapannya.


"Seperti yang lo liat." jawab Elon santai.


"Oh." Ara menganggukkan kepalanya.


Elon terus memandang Ara, sehingga membuat perempuan itu merasa sangat risih. Ara menoleh ke samping dan pandangan mereka bertemu. Kemudian Ara segera memutuskan dan beralih menatap jalanan yang terlihat dari rooftop.


"Emang ngerokok ada manfaatnya ya kak?"


"Ada. Dengan ngerokok gue bisa merasa tenang." jawab Elon sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Ngerokok itu gak sehat, malah bikin kita rusak. Kalau misalnya kak Elon ada masalah gak harus dengan ngerokok. Itu malah bikin kita hancur, kak Elon mau masih muda udah penyakitan?"


"Gue udah lama nggak ngerokok, gue ngerokok kalau lagi kalut aja." jawab Elon dengan wajah tenang. "Emang kenapa lo nanya-nanya? Lo siapa gue? Gue ngga butuh ceramah lo." ucap Elon dingin.


"Bukan siapa-siapa sih. Cuma mengingatkan sebagai sesama manusia." Ara langsung berdiri dan hendak meninggalkan Elon. "Aku juga cuma ngasih saran. Mau itu di pake atau enggak bukan masalah. Karena gak semua saran itu buruk." ucapnya lagi hendak melangkah.


Baru satu langkah Ara berjalan, tangannya di pegang oleh Elon dan menarik agar duduk kembali.


Ara duduk kembali dan menatap ke arah lain. Dia juga tak mau berbicara, nanti kalau dikira ceramah atau apalah. Dia juga tidak ingin mengingatkan Elon lagi, mau dia ngerokok 1000 batang pun, toh itu bukan urusan nya. Yang terpenting Ara sudah memberi saran.


Ara terperanjat kaget, karena tiba-tiba Elon meletakkan kepalanya di paha Ara sama seperti bantal.


"Thanks udah ngingetin gue, tapi elo gak perlu repot-repot." ucap Elon pelan.


Ara segera menormalkan degup jantungnya. Antara gugup, kesal, dan risih bercampur jadi satu. Pasalnya baru kali ini ada seorang cowok yang berani tiduran di pahanya.


Melihat Ara yang bergerak-gerak tak nyaman Elon segera berkata, "Sebentar aja, biarin gue tidur. Gue ngerasa nyaman." gumam Elon yang masih memejamkan matanya.


Akhirnya mau tidak mau Ara tetap berdiam dengan posisi seperti itu.


Disela-sela tidurnya Elon sering menggumamkan nama seseorang.

__ADS_1


"Sonya Diandara, siapa dia?"


__ADS_2