
Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Ara dan Natasya masih berada di dalam kelas. Sedangkan Febby dan Karin sudah pulang. Dia sangat senang hari ini, karena dia akan menghabiskan waktu bersama kedua kakaknya. Tetapi dia baru ingat jika hari ini ada jadwal ekstrakulikuler.
"Ra, nanti jadi kan?" tanya Natasya melihat ke arah Ara.
"Jadi kok." jawab Ara yang masih sibuk menyalin materi di papan tulis.
"Udah selesai belum Ra?"
"Bentar tinggal dikit." balasnya, "Udah kok." lanjut Ara segera memasukkan buku ke dalam tas.
Mereka keluar kelas berdampingan, di tengah koridor, Ara teringat sesuatu.
"Eh Nat, kita ke kelas bang Arka dulu ya." ajak Ara.
"Ngapain Ra?"
"Aku lupa belum ngasih tau bang Arka kalo hari ini ada ekstra." Ara menjelaskan kepada Natasya sambil melanjutkan langkah menuju kelas Arka.
"Kok sepi banget sih Ra?" tanya Natasya celingak-celinguk.
"Mungkin di dalam kelas masih ada orang." ujar Ara. Mereka memasuki kelas Arka dan benar saja masih banyak murid yang belum pulang.
Ara melihat ke tempat duduk Arka, tetapi abangnya itu tidak ada disana. Semua teman-temannya pun tidak ada.
"Kak, lihat bang Arka gak?" tanya Ara pada Riri.
Riri langsung menegang ketika melihat Ara ada di kelasnya. Dia berusaha bersikap biasa saja. "Lagi keluar bentar Ra. Tadi katanya suruh nunggu dulu." jawab Riri.
"Emang bang Arka kemana kak?"
"Eh anu.." Riri mencoba mencari alasan, "Ada tugas mendadak. Iya ada tugas." ucapnya kikuk.
"Kok temen-temennya bang Arka gak ada juga." kata Natasya.
"Mamp*s kau Riri" batin Riri.
Nita datang menghampiri Riri dan langsung berbicara tentang Arka dan teman-temannya. Padahal Riri sudah memberikan kode bahwa ada Ara di belakangnya. Tetapi Nita tidak menghiraukan kode dari Riri.
"Eh Ri, itu di luar beneran ada yang berantem?" tanya Nita.
Keringat dingin sudah membasahi kening Riri. Tadi dia mendapat pesan dari Arka kalau Ara bertanya tentang keberadaannya jangan sampai mengatakan kalau dia sedang mengurus perkelahian dengan anak SMA Taruna.
"Tadi si Oji juga langsung keluar kelas sama yang lainnya juga." lanjut Nita.
Riri hanya diam dan tak menjawab perkataan dari Nita.
Ara yang mendengar perkataan Nita langsung mengeluarkan suara.
"Emang yang di luar ada apa kak?"
"Ada yang berantem Ra." jawab Nita santai. "Tadi juga Arka sama yang lain langsung keluar."
Riri menepuk keningnya ketika Nita menjaawab dengan jujur. Ara segera menarik tangan Natasya untuk segera keluar kelas Arka dan menuju ke depan gerbang.
"Makasih kak." kata Ara sambil berlari.
"Ra, jangan lari-lari dong." ucap Natasya.
"Ra..mau kemana?" teriak Riri ketika Ara berlari keluar kelas.
"Kok lo malah ngasih tau dia sih." gerutu Riri.
"Elo juga sih gak ngasih tau gue dulu." jawab Nita.
***
"Eh eh mau kemana?" cegah seorang kakak kelas.
"Mau ke depan kak." balas Ara.
"Jangan! Disana bahaya, ada anak SMA Taruna, mereka semua bawa senjata." jelas kakak kelas tadi.
"Ah yang bener kak?" tanya Natasya.
"Iya.." kakak kelas itu berlari masuk ke dalam area sekolah lagi.
"Aduh Ra, ini gimana?" tanya Natasya panik.
Ara berpikir sejenak, "Kita lewat tembok belakang aja." jawab Ara.
"Lo yakin Ra?"
Ara mengangguk lalu menarik tangan Natasya menuju tembok belakang. Natasya langsung melongo ketika melihat tembok tersebut.
"Caranya naik gimana Ra?"
"Tinggal ikutin aku aja deh." Ara segera memanjat tembok. Untung saja tembok tersebut ada yang berlubang jadi bisa digunakan untuk panjatan.
"Ra, gimana caranya turun?" Natasya mulai panik.
"Nanti kamu ikutin aku ya." balas Ara langsung melompat ke bawah.
"Gak berani gue Ra, nanti kalo jatoh gimana?"
"Aku tangkep deh."
Natasya mulai was-was, jika Ara tidak berhasil menangkapnya maka dia akan terjatuh ke selokan.
"Ayo Nat buruan!" titah Ara.
Natasya memejamkan matanya lalu melompat ke bawah. Dia tidak merasakan menyentuh tanah? Dia membuat sedikit matanya. Ternyata dia terjatuh di tubuh Ara.
"Aduh Nat, cepet bangun!" Ara yang mulai kesakitan karena Natasya ada di atasnya.
Natasya segera berdiri dan membersihkan seragamnya yang kotor, lalu membantu Ara berdiri.
"Ih Ara beneran lo mau kesana?" tanya Natasya yang melihat perkelahian di depan gerbang.
"Aku mau lihat bang Arka." kata Ara.
"Tapi bahaya Ra, mereka bawa senjata semua."
__ADS_1
Ara mengarahkan pandangannya mencari-cari Arka. Disana ada Arka yang sedang beradu dengan 3 orang. Terdapat sedikit lebam di wajah Arka.
Semua teman-teman Arka juga ada disana. Elon bahkan menghadapi orang yang sedang memakai kayu balok. Ara juga melihat Kevin ada disana. Ara jadi bertanya-tanya kenapa Kevin ikut berantem juga. Apa dia membantu Arka?
Ara segera berlari ketika melihat orang di belakang Kevin yang akan memukul kepala Kevin dengan balok kayu.
"Ra, mau kemana?" teriak Natasya yang sudah mulai panik.
Ketika balok kayu itu hampir mengenai Kevin, Ara langsung menghadang orang itu. Sehingga Ara yang terkena pukulan. Ara memang sedikit bisa bela diri tapi dia dalam keadaan tidak siap, jadi kepala Ara langsung pusing dan mengeluarkan darah.
"Ara!" teriak Natasya dari pinggir jalan.
Arka dan Kevin langsung menoleh dan mendapati adiknya itu ada di belakangnya dengan kepala yang penuh darah.
Elon yang melihat itu langsung mengumpat dan menyerang musuhnya dengan bertubi-tubi.
Kevin segera berlari dan menangkap Ara. Kevin panik ketika melihat banyak darah.
"Kamu ngapain kesini Ara?!"
"Aku mau li...lihat a..bang." jawab Ara tersendat-sendat.
"Bawa Ara ke rumah sakit bang." emosi Arka yang mulai tidak terkendali ketika melihat Ara yang sekarat.
"Bangs*t lo!" umpat Arka dan langsung menyerang orang yang memukul Ara.
Tiba-tiba suara sirine polisi mengagetkan mereka. Anak-anak SMA Taruna langsung melarikan diri.
Kevin langsung menggendong Ara yang sudah tidak sadarkan diri.
"Buka mobil cepet!" bentak Kevin.
Arka segera membuka mobil dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
***
"Suster tolong sus." teriak Kevin sambil menggendong Ara.
Suster yang berjaga langsung membawa brangkar Ara menuju UGD. Kevin dan Arka langsung mengikutinya dari belakang.
"Maaf, kalian tunggu di luar saja. Pasien harus segera ditangani." kata suster menutup pintu UGD.
Kevin langsung duduk di kursi tunggu sedangkan Arka terlihat sangat kacau. Dia mondar-mandir tidak jelas.
"Kenapa bisa kejadian lagi!" umpat Arka."Arghh!" Arka menjambak rambutnya sendiri.
Dari arah berlawanan datang keempat temannya bersama dengan Natasya yang sudah menangis.
"Bang, gimana keadaan Ara?" tanya Ara.
"Masih di tangani di dalam." jawab Kevin.
"Kenapa lo gak cegah Ara!" bentak Arka.
"Tadi aku udah cegah Ara tapi dia gak mau denger bang." jawab Natasya. "Ara liat orang yang mau mukul bang Kevin pake balok kayu, terus dia lari kesana." lanjutnya yang sudah menangis.
Kevin langsung tertegun setelah mendengar jawaban Natasya.
Pintu UGD terbuka dan menampakkan seorang dokter yang keluar dari sana.
"Keluarga pasien?"
Kevin segera berdiri, "Saya kakaknya dok." ucap Kevin.
"Bisa ikut saya untuk menyelesaikan administrasi." kata dokter. Kevin mengangguk dan mengikuti dokter.
Kevin sudah kembali. Dia mendekati Arka dan mengatakan sesuatu.
"Telpon bunda, nanti Ara bakal di pindahin ke ruang rawat inap." ucap Kevin.
Arka segera menelepon bundanya dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana.
"Assalamu'alaikum, Bun."
"Waalaikumsalam, kalian kemana kok belum pulang?."
"Bun, Ara masuk rumah sakit."
Tut.
Panggilan tertutup sepihak. Arka menghela napas panjang.
Ara sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Tetapi dia belum sadar.
"Mending kalian pulang aja." kata Kevin.
"Ayok kita pulang!" kata Laskar.
"Tapi Ara, dia--"
"Pulang Nat, gue anterin." selak Oji. Akhirnya Natasya menurut.
"Bang, nanti kalau Ara udah sadar kasih tau ya." kata Natasya kepada Arka. Dan langsung dibalas anggukan kepala oleh Arka.
***
Sudah sejak sehari yang lalu tetapi Ara belum sadarkan diri. Hari ini Arka tidak sekolah karena menunggu Ara, dia benar-benar khawatir dengan keadaan adiknya itu.
Kevin yang terus merenung, kenapa adiknya tidak berpikir dengan kondisinya sendiri dan malah membahayakan nyawanya demi menyelamatkan diri Kevin. Kevin sangat bersyukur bisa mempunyai adik seperti Ara.
"Makan dulu dek." kata Kevin.
"Gak bang." tolak Arka.
"Makan!" bentak Kevin.
Arka yang mendengar bentakan dari Ara langsung mengangguk dan menuju sofa. Kevin membuka makanan yang di bawa bunda nya tadi dan menyodorkan kepada Arka.
Namun Arka hanya mengaduk-aduk makanan sambil melamun. Kevin berdecak kesal melihat Arka yang seperti itu.
"Ck, lo jangan nyusahin gue kenapa!" Kevin merebut makanan tersebut dan menyendokkan makanan ke mulut Arka.
__ADS_1
"Gue takut bang." lirih Arka.
"Bukan lo yang cuma takut tapi gue! Ara yang udah nyelamatin gue." lirih Kevin.
"Kalo kita gini, nanti Ara marah sama kita. Yang penting kita berdoa supaya Ara baik-baik aja." lanjut Kevin.
Jari tangan Ara bergerak sedikit demi sedikit. Matanya mulai menyesuaikan cahaya yang ada di ruangan.
"Bang.." panggil Ara dengan suara parau.
Kevin dan Arka langsung berlari menuju brangkar Ara. "Kamu udah sadar dek?"
"Aku dimana?"
"Jangan banyak gerak dulu, istirahat aja." kata Arka.
Ara jadi bingung kenapa dia bisa ada di rumah sakit. Seingatnya dia baru pulang ke rumah dan baru sampai dari Jogja, karena dia akan pindah sekolah disini. Lalu kenapa ada Kevin disini? Bukannya abangnya itu ada di London?
Pintu kamar terbuka. Menampakkan ketiga teman Ara dan teman-teman Arka.
"Ara!" teriak Natasya langsung memeluk Ara.
Ara merasa tidak nyaman. Kenapa orang yang tidak dia kenal langsung memeluknya begitu saja.
"Bang, mereka siapa?" tanya Ara.
"Mereka temen-temen kamu dek." jawab Kevin.
"Temen? Aku gak kenal sama mereka."
Semuanya langsung melongo mendengar penuturan dari Arka.
"Gue Natasya Ra."
Ara menggelengkan kepala yang terasa pusing, lalu memegangi kepalanya.
"Dek, Lo beneran gak inget siapa mereka.?" tanya Arka.
Ara menggelengkan kepalanya. Arka langsung syok seketika. Apa yang terjadi dengan adiknya itu?
"Haii neng Ara.." sapa Oji.
"Kalian siapa?" tanya Ara.
"Ra, lo bercanda kan?" kata Febby.
Ara menggeleng lagi.
"Bercandaan lo gak lucu Ra." sahut Karin.
"Bang, kenapa Ara gak ngenalin kita?" Natasya menatap ke arah Arka.
"Lo kenal sama dia, dek?" tunjuk Arka pada Elon.
"Emang dia siapa?"
Dokter masuk ke ruangan Ara. Dia memeriksa Ara dan menyuntikkan obat.
"Dok, kenapa adik saya gak ngenalin teman-temannya?" tanya Kevin.
"Sepertinya Ara mengalami amnesia, karena benturan di kepalanya." jelas dokter.
Mereka semua langsung menegang di tempat.
"Amnesia yang dialami Ara mungkin hanya sementara. Tapi bisa saja dia mengingat kembali atau melupakan kejadian beberapa bulan ini." lanjut dokter.
"Saya harap jangan ada yang memaksanya untuk mengingat karena itu berakibat buruk bagi kesehatan nya." kata dokter. "Kalau begitu saya permisi."
"Terima kasih dok."
Sekarang Ara sudah tidur karena tadi dokter menyuntikkan obat bius kepada Ara. Dia masih butuh istirahat karena kondisinya masih sangat lemah.
***
Mereka semua sudah pulang. Kini hanya tinggal Kevin, Arka, dan Elon. Elon tadi pulang lalu kembali ke rumah sakit lagi.
"Lo siapa?" tanya Kevin pada Elon.
"Gue Elon bang, temennya Arka." jawab Elon.
Kevin mengangguk paham. Mereka sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Sementara Ara belum bangun dari tadi siang.
"Bangg.." cicit Ara.
"Udah bangun dek." Arka menata bantal Ara agar dia bisa bersandar.
"Haus."
Arka mengambil minum dan memberikan kepada Ara.
"Dia siapa kak?" tanya Arka menunjuk ke arah Elon.
"Gue Elon, temen abang lo." jawab Elon.
Arka yang mendengar nama Elon langsung mengingat sebuah kepingan memori. Semakin dia mengingat semakin sakit kepalanya.
"Dek, dek. Lo kenapa?" Arka yang panik ketika melihat Ara yang kejang-kejang.
Kevin langsung menekan tombol darurat. Dokter datang dan langsung menyuntikkan obat bius lagi.
"Tolong jangan memaksa pasien untuk mengingat apapun. Biarkan dia mengingat seiring berjalannya waktu. Kalau di paksa akan mengakibatkan seperti tadi." kata dokter.
Kana dan Fara memasuki ruangan.
"Gimana keadaan anak saya?" kata Kana.
"Dia baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat yang lebih dan jangan paksa untuk mengingat sesuatu." jawab dokter Bima.
"Saya permisi." pamit dokter Bima. "Jangan khawatir dia bakalan cepet sembuh." dokter Bima menepuk bahu Kana pelan.
Dokter Bima merupakan teman dari Kana. Jadi mereka sudah mengenal satu sama lain.
__ADS_1
"Bahkan lo ngelupain kenangan sama gue Ra. Kenapa semudah itu? Tapi gue bakal tetep berusaha agar lo bisa inget semuanya lagi." batin Elon.